NovelToon NovelToon
Lingerie Merah Dikamar Adikku

Lingerie Merah Dikamar Adikku

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Penyesalan Suami / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:10.9k
Nilai: 5
Nama Author: Septi.sari

Pulang dari rumah sakit sehabis melahirkan, Alena di kejutkan sebuah Lingerie Merah yang tergeletak di atas ranjang adiknya. Alena terkejut bukan tanpa alasan. Sementara Tiyas - adiknya itu masih lajang. Lalu, Tiyas gunakan untuk apa pakaian vulgar itu.

Setelah Alena menyelidiki, ternyata Lingerie itu Tiyas gunakan untuk memuaskan....????

Tak hanya hati Alena yang hancur. Masa depan putranya juga ikut terpatah. Di tengah himpitan masalah ekonomi, datanglah sosok Juragan cukup matang bernama~Danu Albiru. Pria berusia 38 tahun itu tidak hanya menawarkan pernikahan KONTRAK. Tapi membantu Alena bangkit, menjamin masa depan putranya.

Akankah Alena tetap mempertahankan pernikahannya dengan Dewantara? Ataukan bersedia cerai, dan memilih tawaran menggiurkan Juragan Danu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septi.sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 11

Malam pun tiba. Alena meras bersalah harus meninggalkan putranya yang masih berumur hitungan hari itu. Ia kini duduk di kursi di samping ranjang sang Mertua. Tatapan Alena kosong. Antara lelah, sakit, kebencian, bagaikan hujan tanpa reda yang mengguyur pikirannya.

Tapi bagaimana pun, Alena sudah menganggap mertuanya seperti sang Ibu sendiri. Tangannya sejak tadi menggenggam tangan Bu Sarah dibalik infusnya. Sejak pukul 3 sore, Mertuanya itu di nyatakan koma. Terjadi masalah serius yang menyebabkan sumbatan pada jantungnya.

Sementara Fauzan, Alena terpaksa mengabari Iparnya itu. Fauzan masih dalam perjalanan dari Jakarta. Mungkin jika tidak terjadi kemacetan, tengah malam sudah bisa tiba di Gunung Kidul.

Tok!

Tok!

"Permisi, Mbak...." ucap seseorang sembari membuka pintu.

Alena menoleh. Mukti~tangan kanan suaminya datang sambil membawa satu kotak tas Asi. Alena bangkit, menerima kotak Asi tadi.

"Mukti, tunggu sebentar ya. Saya mau pompa dulu. Tolong jagain Ibu dulu!"

Mukti, pria muda itu mengangguk patuh cukup segan. Ia mengambil duduk di sofa, menatap sekilas ke arah Nyonya besarnya cukup iba. Bu Sarah orang baik, pasti banyak pekerja Putranya yang mendapat kebaikan dari wanita tua itu. Salah satunya Mukti.

Alena sudah keluar. Ia berjalan menuju sebuah ruangan khusus yang di persilahkan oleh Suster tadi.

Di sana, ia mulai mengeluarkan pompa Asinya. Asi yang biasanya keluar melimpah, kini hampir 10 menit berlalu, setengah botol pun tak penuh. Sejak siang pun, Alena belum kemasukan apapun. Apalagi harus mengurus semuanya sendiri. Sekedar menggigit roti saja belum sempat.

Air matanya kembali berlinang. "Delan... Maafkan Ibu. Ibu janji, setelah ini Ibu akan makan yang banyak agar Delan bisa nen yang kenyang," gumamnya dengai deraian air mata.

Di balik ruangan putih itu, Alena kembali menangis. Rasa sesaknya masih menyeruat masuk. Mencoba tersenyum, Alena mengusap sisa air matanya. Perlahan, hatinya memekik kalimat 'Alena semangat!!!'

Setelah setengah jam memompa, Alena hanya mampu menyetorkan satu botol Asinya. Setelah membaginya di wadah khusus Asi. Alena juga menuliskan tanggal, dan memasukan Asi tadi ke dalam tasnya.

Pintu ruangan kembali terbuka. Mukti langsung bangkit kala Majikannya masuk. Sembari menyodorkan tas Asi tadi, Alena bertanya-

"Apa Juragan tadi pulang?"

Mukti menggeleng lemah. Ia tak mampu menjawab lebih. Namun hal itu cukup menjawab semua pertanyaan Majikannya. Sebagai orang kepercayaan, Mukti juga tak menyangka, Juragannya akan main dengan Iparnya sendiri. Dan secara nyata di dalam rumah itu sendiri.

"Kalau begitu saya permisi, Mbak!" Mukti sudah akan membuka pintu, namun Alena menahanya dengan ucapan kembali.

Mukti menoleh. Alena mendekat selangkah. "Mukti... Tolong nanti malam jika Putra saya menangis. Datanglah ke kamarnya. Kamu gendong dia. Delan sangat merindukan sosok hangat Ayahnya."

Dada Mukti berdesir nyeri. Bayi se kecil Delan harus menangung rindu terlalu dini. Anggukan kecil lah yang mampu pria muda itu berikan.

"Permisi, Mbak...."

Alena mencoba menghela napas berat. Lalu beranjak ke sembarang arah. Alena berhenti di depan dinding kaca yang membentang. Di lantai 8 itu, Kabupaten Gunung Kidul memancarkan gemerlap indah yang membentang. Namun yang Alena tatap hanyalah sebuah kehampaan.

Semuanya terasa berubah semenjak kedatangan Adiknya. Bukan sebuah rasa janggal. Tapi Alena rasa, pengkhianatan itu bukan hanya terjadi dalam akhir waktu itu. Tapi keduanya sudah merangkai sudah cukup memakan waktu lama.

*

*

Sebuah mobil X-pender baru saja berenti di depan halaman rumah sakit. Dengan langkah tergesa, Fauzan menyambar ransel untuk ia letakan pada bahunya, lalu sedikit berlari menelusuri lorong rumah sakit.

Hampir pukul 1 malam, Fauzan baru saja tiba.

Di lantai 8, di depan ruangan nomor 12A, Fauzan mengendurkan langkahnya. Pria berusia 33 tahun itu perlahan masuk, deritan pintu membuat wanita yang tertidur di atas bangku menggeliat kecil.

Saking nyenyaknya atau kah saking lelahnya memikirkan semua masalah hidup, Alena tak menyadari kedatangan Adik Iparnya.

Fauzan berdiri di samping ranjang sebelah kanan Ibunya. Ia menatap wajah Alena sekilas, lalu menundukan setengah badan untuk mencium kepala Ibunya.

"Cepat sadar ya, Bu...." bisiknya.

Meskipun terlihat tegar, tapi batin Fauzan menangis melihat pahlawan hidupnya terkapar tak berdaya. Kedua sudut mata itu sudah berair. Namun cepat-cepat Fauzan mendongak, sekuat apa pun ia tahan meskipun berimbas pada rasa sesak hatinya.

Pandangan Fauzan jatuh kembali pada Alena. Tatapan itu sangat dalam. Tatapan yang sulit ia ungkapkan secara wajar. Tapi, ada rasa perih tersendiri melihat Alena menahan luka.

Fauzan menyingkir. Ia keluarkan dua kotak makanan, lengkap dengan air putih, buah dan beberapa cemilan dari bungkus plastik tadi yang ia bawa.

Sejenak, Fauzan menatap arloji di pergelangan tanganya.

"Aku bangunkan saja Alena. Pukul segini biasanya Ibu menyusui pasti lagi lapar-laparnya."

Dengan hati-hati dan sikap lembutnya, Fauzan mulai menyentuh bahu Alena. Agak segan, namun tangan itu menggoyangkan bahu Alena secara teratur.

"Alena... Bangun dulu! Ayo makan!"

Alena mengeliat. Mulai menegakan badannya. Lalu menoleh ke arah sumber suara. Masih sambil mengerjabkan matanya, menyingkirkan anak rambut yang menghalangi pandanganya. Dahinya mengernyit menatap kearah Fauzan.

Belum sepenuhnya tersadar, Alena sangka Dewan lah yang membangunkan dirinya.

"Mas Dewan?!"

Fauzan menundukan setengah badanya. Satu tanganya menekan batas ranjang, satu tanganya lagi menekan pinggiran kursi. Wajahnya meyakinkan.

"Saya Fauzan! Alena... Ayo kita makan," lirihnya lagi. Fauzan tahu jika Alena belum sepenuhnya bangun. Maka dari itu tak mungkin ia manaikan nada suaranya.

Alena perlahan bangkit, Fauzan menarik langkahnya ke belakang.

"Oh... Maaf, Mas Fauzan. Aku nggak sadar kalau Mas Fauzan udah pulang," balas Alena merasa tak enak hati.

Fauzan berjalan kearah sofa, yang dimana suda tertata beberapa makanan serta minuman di atas meja. Fauzan duduk. Tanganya sibuk membuka kotak nasi.

"Saya tahu kalau jam segini Ibu menyusui itu pasti lapar. Dan saya sengaja pesankan makanan ini, karena saya tadi juga belum sempet mampir buat makan."

Alena cukup tercengang dengan sikap antusias Adik Iparnya itu. Padahal, semenjak ia melahirkan putranya, tak sekali pun suaminya memiliki pemikiran seperti itu.

Fauzan mendongak. "Lena... Ayo di makan! Saya nggak mau kalau keponakan saya sampai kekurangan Asi, hanya karena Ibunya banyak pikiran!"

Alena cukup terkekeh tanpa suara. Lalu menjatuhkan tubuhnya diatas sofa. Kebetulan perutnya sejak tadi juga lapar. Di atas nakas juga ada makanan, tapi tiada selera hanya sekedar membukanya.

Nasi padang. Makanan kesukaannya itu hampir ia lupakan dari ingatannya.

Fauzan kini mengupas dua udang ukuran besar. Begitu selesai, pria itu menaruh dua udang tadi di atas nasi Alena.

"Selain mengenyangkan buat kamu, udang mengandung protein, tinggi omega3, vitamin, dan sudah lengkap akan mineralnya. Dan nanti pasti berguna sekali buat kelancaran Asi kamu."

Alena cukup terkekeh. Lalu segera menggigit udang itu.

"Dokter Fauzan memang yang terbaik!" ledek Alena sambil mengunyah.

Fauzan yang menatap lamat, hanya mampu manggut-manggut sambil tersenyum.

"Alena masih ingat kalimat itu," batin Fauzan.

1
Mundri Astuti
yeeee dewan ga ada otak ...cepet urus surat cerainya alena
Soraya
lanjut thor
Machmudah
Ayo Danu....maju terus jgn kasih kendor...💪💪💪
Dew666
💟💟💟💟
nunik rahyuni
cepat urus perceraian nya lena ..rasa muak aq sama dewan ...g tau diri tebal muka...dulu pas ngeloni gundik ja terbang melayang g ingat anak bini duit milyaran raib di slangkangan gundik...dan skrg g mau nglepas lena..maunya apa sih...rasa mau ta tabok pke kawat beduri beracun...kok kya sok cakep aja😡😡
Ariany Sudjana
Dewantara aja ga tahu diri, sudah menikah siri dengan pelacur murahan kok masih kepo sama Alena? sudah urus saja pelacur murahan kesayangan kamu itu Dewantara 😂😂🤣🤣
nunik rahyuni
thor hilang g ada kabar🤔🤔🤔🤔
nunik rahyuni
emang bener kan apel istri orang...kan
nunik rahyuni
nama nya sering tetukar thor..dewan kan bspaknya
tinie
hihiii Hasbi
emang mulutnya lemes banget
nunik rahyuni
lanjuuuut jut jut juuuut
nunik rahyuni
seru ni klo lena sama daru...ly tikus dan kucing jd rame
Soraya
lanjut
tinie
jika kamu sudah menikahi Tiyas
maka kamu harus melepaskan alena
Marko Taik
lagi seru ni Thor lanjuttt thorrt
Meri Meri
♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️
Ig:@septi.sari21: macihhh akak😍😍
total 1 replies
Kusmini Kusmini
Iiih bkin greget crita nya,lnjut trus 👍
Ig:@septi.sari21: stay tune akak😍✋
total 1 replies
Dew666
🪭🪭🪭
Ig:@septi.sari21: kak dew macihhh😍😍
total 1 replies
Dew666
🪭🪭🪭🪭
tinie
semangaatt Lena


aku bingung mau komen apa tentang Fauzan ini🤔🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!