NovelToon NovelToon
Imam Untuk Adelin

Imam Untuk Adelin

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Chicklit / Perjodohan
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Larasatii

Adelin Azzura tak pernah menyangka hidupnya akan berakhir dalam sebuah pernikahan dengan seorang ustaz bernama Afwan Zaid, setelah masa lalunya ternoda oleh kekerasan seksual dari seorang lelaki asing.

Hidup Adelin yang penuh luka dan drama begitu bertolak belakang dengan cara pandang Afwan yang selalu memegang teguh prinsip Islam, bahwa setiap takdir telah diatur oleh Allah.

Namun Adelin tak pernah benar-benar jujur tentang masa lalunya. Ia memendam trauma itu sendirian.

Sampai akhirnya Afwan mulai dilanda konflik batin ketika Adelin selalu menolak disentuh.

Akankah rumah tangga mereka bertahan?
Ataukah berakhir dengan kalimat cerai yang sering dikaitkan dengan godaan jin dasim?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasatii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20 Antara Hasrat dan Trauma

Mas Afwan menatapku heran. Ia menjauh perlahan sambil memasang kembali pakaian dalamnya. Kulihat, raut wajahnya menampilkan tanda tanya. Napasku memburu, kutarik selimut tebal itu. Kututupi tubuhku dengannya. Tiba-tiba sebuah tangisan memenuhi kamar. Tangisanku.

“Sayang! Kamu kenapa menangis?” Saat tangan Mas Afwan hendak menggapai selimutku di balik sana, aku segera merapatkan selimut itu. Aku memejam rapat mataku. Kemudian, sebuah tamparan melesat di pipiku. Lagi … aku menampar diriku sendiri.

“Hey! Sayang! Ada apa? La! Kamu nggak boleh menyakiti diri sendiri,” tegur Mas Afwan seraya menahan tanganku.

“Lepas! Aku layak diperlakukan demikian!” Kuulangi menampar pipiku. Hingga tiba-tiba, Mas Afwan memelukku erat.

“Sudah! Kubilang hentikan!” teriaknya keras. Teriakan itu, spontan menciutkan nyaliku untuk kembali menyakiti diri sendiri. Aku, kini menelan tangisanku sendiri. Menatap nanar tirai jendela di depan yang kini ditiup oleh angin dari ventilasi kamar.

“Kamu udah tenang?” Mas Afwan bertanya pelan. Kemudian menyerahkan segelas air putih yang telah ia sediakan di atas nakas. Aku mengambilnya lantas meneguknya sekali teguk.

“Sayang, tiga kali te ….”

“Aku haus,” selaku.

“Baiklah. Kalau kamu memang lagi capek, kita lanjut besok, ya.”

“Mas!” Aku memanggilnya dengan nada keras. Seolah tak ingin kejadian serupa kembali terjadi.

“Aku lelah. Aku ingin tidur. Mana bajuku?” Mas Afwan lantas memberikan pakaianku kembali.

“Sayang, apa aku tak boleh menjamahmu? Kita dari kemarin belum melakukannya. Apa aku salah? Kita sudah sah bukan?”

Aku tertunduk diam. Sesekali senyum tipis terbit dari bibirku.

“Aku takut, Mas. Aku takut dengan masa laluku yang terbongkar saat pertama kali kau menjamahku. Aku takut mengingatnya lagi. Aku ….”

“Nggak apa. Mungkin lain waktu, saat aku siap,” ucapku kemudian seraya menebar senyum padanya. Kini, pakaian itu kembali terpasang di tubuhku.

“Kalau kamu nggak mau, izinkan aku menciummu. Apa juga nggak boleh?”

Lagi … aku terdiam untuk kesekian kalinya. Kupandangi wajah penuh keheranan itu saat menatapku. Wajahnya, tampan. Tak ada cacat sedikit pun. Harusnya, aku berhasrat dengan suamiku. Tapi … aku tak tahu sebab apa yang membuatku enggan.

Aku mengangguk perlahan. Mempersilakan ia menciumku. Dengan canggung, ia mengucapkan bismillah. Dadaku terasa sesak. Jantungku kian berdetak kencang saat pertama kali bibir kami bertemu. Kupejamkan mata, kubiarkan ciuman itu larut bersamaku malam ini.

Hingga tiba-tiba, sebuah tangan menyentuh sesuatu yang berharga dari tubuhku. Aku berusaha menepisnya. Tapi, tenaganya jauh lebih kuat. Aku mengerang, kurasakan panas dan dingin menjalar di tubuhku dalam satu waktu. Hingga kini, kecupan di bibir merambat menuju leherku. Ia menggigitnya hingga meninggalkan rasa sakit.

Tiba-tiba, tangannya kini hendak menuju sesuatu yang lebih dari itu. Mataku membelalak. Tidak mungkin! Ini bukanlah Mas Afwan yang kukenal. Ia lembut, dan tidak segila ini. Kurasakan perutku seolah diguncang sesuatu. Rasa mual yang kentara terasa menyiksa lambung dan tenggorokanku. Hingga tiba-tiba …

“Sayang! Kamu mau ke mana?”

“Aku, mau ke toilet,” ucapku lantas berlalu segera menuju toilet.

Di toilet, aku memuntahkan semua isi lambungku. Aku terduduk lemas di lantai toilet. Hingga tiba-tiba … semuanya gelap.

***

“Sayang! Kamu udah bangun?” suara bariton itu memanggilku lembut. Kubuka mata perlahan. Kurasakan denyut jantungku kembali normal.

“Mas?” panggilku lirih.

“Syukurlah, kamu udah sadar. Maafin aku, ya, Sayang. Gara-gara aku, kamu jadi jatuh pingsan.” Aku terkaget mendengar ucapannya. Apa? Pingsan? Aku bahkan sama sekali tak mengingatnya.

Mas Afwan lantas mengecup keningku lama. Hingga tiba-tiba, sebuah tangisan muncul dari balik pelupuk matanya.

“Mas takut, kalau penolakanmu ini ada hubungannya dengan masa lalu yang masih menghantuimu.”

1
mama Al
Adeline kan di gambarkan berhijab masa minum bir
Larasati: bisa aja kak.. kalau udh kalang kabut dan udh dark pikirannya. hehe
total 1 replies
mama Al
ya udah jangan ngemis sama dia
mama Al
jangan mau!
jangan mau!
Nifatul Masruro Hikari Masaru
karena....
.
Larasati: karenanya bikin gemas ya kak 🤭
total 1 replies
Keke Chris
semangat nulisnya 💪
Larasati: waa kakakku... makkasih ya kak kee 😍
total 1 replies
Tulisan_nic
No, Adelin!


Masih banyak cobaan yang belum kamu cobain,
kamu masih belum merasakan betapa bahagianya saat menang GA, kamu belum merasakan betapa bahagianya CO nol rupiah di tanggal kembar. It's amazing Adelin.🤣

Oke, semoga kamu baca komentarku ini, sebelum lantai dasar gedung itu menerima suara gedebugh mu🔥🔥🔥🔥🔥
Rizkia Mauli
penulisannya sangat bagus, alurnya menegangkan. aku baru baca tiga bab udah kerasa ketegangannya. sangat rekomended bagi yang suka alur menegangkan dan emosional.
Larasati: waaa makasi banyak dek atas ulasannya.. 😍😍 rajin2 mampir ya dek.
total 1 replies
ceefour
Yeayy... So sweet
Larasati: 😍 sweet ya. Alhamdulillah halal.
total 1 replies
ceefour
Waow cepet ya proses nikahnya
Larasati: kalau ustaz gitu main sat set.. hahaha
total 1 replies
Rizkia Mauli
aku merasakan kekecewaan terhadap sosok Adelin, tapi... termasuk wajar gak sih jika diposisi seperti itu sampai sekalut itu dan akhirnya memilih hal buruk terhadap hidupnya? eh kayaknya wajar deh, aku pun pernah di masa tertekan jg melakukan hal bodoh sih hehe
Larasati: wajar dong. kalau memang sudah sekalut itu siapa yaang gak belok dek hehe
total 1 replies
Rizkia Mauli
aku yakin adelin gak akan nerima deh, dari prolog aja mungkin itu baru pertama kalinya dia, jadi... ntah deh hehe
Larasati: hehe ayo bab berikutnya yuk
total 1 replies
Rizkia Mauli
Bugh ini.... apakah... antara benar-benar jatuh atau... suara orang yang datang menolong?
Tulisan_nic
I could feel a quiet kind of fear settling in me as I read 🥲
Larasati: same with me... 🫣
total 1 replies
Tulisan_nic
Kekalutan apa sebegitu merubah seseorang, Adelin, why?
Larasati: emosinya unstable kak /Sob/
total 1 replies
Tulisan_nic
Ikut merasakan, kepedihan dan hancurnya Adelin. Ikut merasakan kejamnya dunia menghujam kehidupan Adelin. Ikut merasakan, detik-detik waktu berhenti saat satu langkah kaki menapaki tempat ketinggian ekstrem.
Akhirnya penasaran dengan kata Bugh di ujung paragraf, apa itu suara tubuh Adelin yang memilih terjun ke bawah sana? atau apa?
Larasati: 🥲 iya kak... kalutnya ya kak jadi adelin
total 1 replies
ceefour
Yah jangan membanting gelas dong
Larasati: terkejut dia 🫣
total 1 replies
ceefour
Lho ada Dimas lagi
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
hadir thor
Larasati: makasi kak sudh hadir 😍
total 1 replies
mama Al
bagus kak
Larasati: makasi ya kak sudah mampir 😍
total 1 replies
ceefour
Yaah... Gimana tuh kelanjutannya?
Larasati: hayo tebak apa selanjutnya ya?
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!