Adelin Azzura tak pernah menyangka hidupnya akan berakhir dalam sebuah pernikahan dengan seorang ustaz bernama Afwan Zaid, setelah masa lalunya ternoda oleh kekerasan seksual dari seorang lelaki asing.
Hidup Adelin yang penuh luka dan drama begitu bertolak belakang dengan cara pandang Afwan yang selalu memegang teguh prinsip Islam, bahwa setiap takdir telah diatur oleh Allah.
Namun Adelin tak pernah benar-benar jujur tentang masa lalunya. Ia memendam trauma itu sendirian.
Sampai akhirnya Afwan mulai dilanda konflik batin ketika Adelin selalu menolak disentuh.
Akankah rumah tangga mereka bertahan?
Ataukah berakhir dengan kalimat cerai yang sering dikaitkan dengan godaan jin dasim?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasatii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 Antara Hasrat dan Trauma
Mas Afwan menatapku heran. Ia menjauh perlahan sambil memasang kembali pakaian dalamnya. Kulihat, raut wajahnya menampilkan tanda tanya. Napasku memburu, kutarik selimut tebal itu. Kututupi tubuhku dengannya. Tiba-tiba sebuah tangisan memenuhi kamar. Tangisanku.
“Sayang! Kamu kenapa menangis?” Saat tangan Mas Afwan hendak menggapai selimutku di balik sana, aku segera merapatkan selimut itu. Aku memejam rapat mataku. Kemudian, sebuah tamparan melesat di pipiku. Lagi … aku menampar diriku sendiri.
“Hey! Sayang! Ada apa? La! Kamu nggak boleh menyakiti diri sendiri,” tegur Mas Afwan seraya menahan tanganku.
“Lepas! Aku layak diperlakukan demikian!” Kuulangi menampar pipiku. Hingga tiba-tiba, Mas Afwan memelukku erat.
“Sudah! Kubilang hentikan!” teriaknya keras. Teriakan itu, spontan menciutkan nyaliku untuk kembali menyakiti diri sendiri. Aku, kini menelan tangisanku sendiri. Menatap nanar tirai jendela di depan yang kini ditiup oleh angin dari ventilasi kamar.
“Kamu udah tenang?” Mas Afwan bertanya pelan. Kemudian menyerahkan segelas air putih yang telah ia sediakan di atas nakas. Aku mengambilnya lantas meneguknya sekali teguk.
“Sayang, tiga kali te ….”
“Aku haus,” selaku.
“Baiklah. Kalau kamu memang lagi capek, kita lanjut besok, ya.”
“Mas!” Aku memanggilnya dengan nada keras. Seolah tak ingin kejadian serupa kembali terjadi.
“Aku lelah. Aku ingin tidur. Mana bajuku?” Mas Afwan lantas memberikan pakaianku kembali.
“Sayang, apa aku tak boleh menjamahmu? Kita dari kemarin belum melakukannya. Apa aku salah? Kita sudah sah bukan?”
Aku tertunduk diam. Sesekali senyum tipis terbit dari bibirku.
“Aku takut, Mas. Aku takut dengan masa laluku yang terbongkar saat pertama kali kau menjamahku. Aku takut mengingatnya lagi. Aku ….”
“Nggak apa. Mungkin lain waktu, saat aku siap,” ucapku kemudian seraya menebar senyum padanya. Kini, pakaian itu kembali terpasang di tubuhku.
“Kalau kamu nggak mau, izinkan aku menciummu. Apa juga nggak boleh?”
Lagi … aku terdiam untuk kesekian kalinya. Kupandangi wajah penuh keheranan itu saat menatapku. Wajahnya, tampan. Tak ada cacat sedikit pun. Harusnya, aku berhasrat dengan suamiku. Tapi … aku tak tahu sebab apa yang membuatku enggan.
Aku mengangguk perlahan. Mempersilakan ia menciumku. Dengan canggung, ia mengucapkan bismillah. Dadaku terasa sesak. Jantungku kian berdetak kencang saat pertama kali bibir kami bertemu. Kupejamkan mata, kubiarkan ciuman itu larut bersamaku malam ini.
Hingga tiba-tiba, sebuah tangan menyentuh sesuatu yang berharga dari tubuhku. Aku berusaha menepisnya. Tapi, tenaganya jauh lebih kuat. Aku mengerang, kurasakan panas dan dingin menjalar di tubuhku dalam satu waktu. Hingga kini, kecupan di bibir merambat menuju leherku. Ia menggigitnya hingga meninggalkan rasa sakit.
Tiba-tiba, tangannya kini hendak menuju sesuatu yang lebih dari itu. Mataku membelalak. Tidak mungkin! Ini bukanlah Mas Afwan yang kukenal. Ia lembut, dan tidak segila ini. Kurasakan perutku seolah diguncang sesuatu. Rasa mual yang kentara terasa menyiksa lambung dan tenggorokanku. Hingga tiba-tiba …
“Sayang! Kamu mau ke mana?”
“Aku, mau ke toilet,” ucapku lantas berlalu segera menuju toilet.
Di toilet, aku memuntahkan semua isi lambungku. Aku terduduk lemas di lantai toilet. Hingga tiba-tiba … semuanya gelap.
***
“Sayang! Kamu udah bangun?” suara bariton itu memanggilku lembut. Kubuka mata perlahan. Kurasakan denyut jantungku kembali normal.
“Mas?” panggilku lirih.
“Syukurlah, kamu udah sadar. Maafin aku, ya, Sayang. Gara-gara aku, kamu jadi jatuh pingsan.” Aku terkaget mendengar ucapannya. Apa? Pingsan? Aku bahkan sama sekali tak mengingatnya.
Mas Afwan lantas mengecup keningku lama. Hingga tiba-tiba, sebuah tangisan muncul dari balik pelupuk matanya.
“Mas takut, kalau penolakanmu ini ada hubungannya dengan masa lalu yang masih menghantuimu.”
jangan mau!
.
Masih banyak cobaan yang belum kamu cobain,
kamu masih belum merasakan betapa bahagianya saat menang GA, kamu belum merasakan betapa bahagianya CO nol rupiah di tanggal kembar. It's amazing Adelin.🤣
Oke, semoga kamu baca komentarku ini, sebelum lantai dasar gedung itu menerima suara gedebugh mu🔥🔥🔥🔥🔥
Akhirnya penasaran dengan kata Bugh di ujung paragraf, apa itu suara tubuh Adelin yang memilih terjun ke bawah sana? atau apa?