Maheer Arasyid terjebak dalam wasiat yang terasa seperti kutukan. Kepergian Muzammil, sang kakak yang tewas demi melindunginya dari maut di parkiran rumah sakit, meninggalkan duka sekaligus beban berat: Assel Salsabila.
Bagi Maheer, Assel bukanlah sekadar janda kakaknya, melainkan musuh bebuyutan sejak masa sekolah yang sangat ia benci. Alasan Maheer melarikan diri ke luar negeri bertahun-tahun hanyalah satu: menghindari fakta bahwa wanita "berbisa" itu telah menjadi bagian dari keluarganya.
Kini, demi menunaikan janji terakhir Muzammil dan menjaga senyum kecil Razka Arasyid, Maheer terpaksa mengikat janji suci dengan wanita yang paling ia hindari. Di balik benci yang membara, tersimpan rahasia masa lalu dan luka yang belum sembuh. Bisakah pernikahan yang dibangun di atas rasa bersalah ini berubah menjadi cinta, ataukah dendam lama justru akan menghancurkan segalanya?
Temukan jawabannya dalam kisah pengabdian dan benci yang berujung cinta ini. Dan jangan lupa berikan dukungannya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PENYESALAN SANG IBU.
Gema azan subuh telah lama berlalu, namun sisa kekhusyukan masih terasa di kamar utama. Santi melipat mukenanya dengan gerakan perlahan setelah menyelesaikan bacaan surat Yasin yang ia hadiahkan untuk mendiang putra sulungnya. Matanya kembali tertambat pada foto pernikahan Muzammil yang terpampang di dinding. Senyum lebar putranya dalam foto itu seolah menyapa, memberikan ketenangan yang selama ini tidak pernah Santi rasakan.
"Nak, Mama sudah ridho atas kepergianmu," bisik Santi dengan suara parau namun mantap. "Mama berjanji akan menjaga baik-baik istri dan anakmu. Jadi, sekarang kau bisa tenang di sisi Allah. Semoga kita dipertemukan lagi di surga-Nya nanti."
Santi meletakkan mukenanya di atas meja rias, lalu melangkah keluar kamar. Ia menuruni anak tangga satu per satu, berniat untuk berkeliling melihat-lihat isi mansion yang selama ini ia hindari. Namun, langkahnya terhenti ketika indra pendengarannya menangkap suara kesibukan dari arah dapur. Ada denting spatula dan suara tawa kecil yang familiar.
Saat sampai di ambang pintu dapur, Santi tertegun. Ia melihat Assel sudah berkutat di depan kompor, mengenakan celemek sederhana dengan rambut yang tertutup hijab instan. Mbok Darmi berdiri di sampingnya, sedang memotong bawang dengan cekatan.
"Apa yang sedang kau lakukan, Nak?" tanya Santi sambil menghampiri Assel. "Kenapa kau harus repot-repot memasak sepagi ini? Bukankah di mansion ini banyak pembantu yang bisa melakukannya?"
Santi kemudian mengalihkan pandangannya pada Mbok Darmi dengan tatapan sedikit menegur. "Dan kau Mbok, kenapa kau biarkan majikanmu memasak sendiri di dapur?"
Mbok Darmi tampak gelagapan, namun sebelum ia sempat menjawab, Assel sudah lebih dulu mematikan kompor dan memutar tubuhnya sambil tersenyum lembut.
"Mah, ini bukan salah Mbok Darmi. Ini murni keinginan Assel sendiri," jawab Assel tenang. "Assel tidak masalah jika semua pekerjaan rumah dikerjakan oleh pelayan, tapi tidak untuk urusan memasak."
Santi mengernyitkan dahi. "Memangnya kenapa? Kau kan nyonya di rumah ini, harusnya kau tinggal duduk manis."
"Karena Assel ingin Razka dan Mas Muzammil..." Assel terdiam sesaat, tenggorokannya tiba-tiba terasa tercekat saat menyebut nama almarhum suaminya. Ia menarik napas panjang sebelum melanjutkan. "Maksud Assel, Assel ingin anak dan suami Assel selalu ingat pada rumah. Kata orang tua dulu, masakan seorang ibu akan selalu diingat oleh anak dan suaminya. Seberapa jauh pun mereka pergi, mereka pasti akan pulang karena rindu pada rasa masakan ibunya yang dibumbui dengan cinta."
Mendengar penjelasan Assel, Santi merasa seolah baru saja ditampar oleh kenyataan yang sangat keras. Kalimat itu menghujam jantungnya. Ia langsung teringat pada Maheer yang selama tujuh tahun menetap di luar negeri dan seolah tidak pernah memiliki keinginan untuk pulang, meskipun ia sudah memohon dengan berbagai cara. Maheer baru kembali hanya karena mendengar kabar ibunya sakit parah.
Santi tersadar bahwa selama ini anak-anaknya tumbuh dewasa, ia lebih banyak menghabiskan waktu dengan urusan sosial dan bisnisnya. Ia hampir tidak pernah memegang spatula untuk memasak bagi putra-putranya. Pantas saja Maheer tidak pernah merasa rindu dengan suasana rumah, dan pantas saja Muzammil lebih memilih menghabiskan seluruh waktunya bersama Assel daripada berkunjung ke rumah induk.
Tanpa disadari, percakapan di dapur itu didengar oleh Ridwan dan Maheer yang sudah rapi mengenakan pakaian kerja. Razka pun sudah tampak gagah dengan seragam sekolahnya. Ridwan yang melihat istrinya termenung segera memberi kode pada Razka untuk masuk dan mencairkan suasana.
"Mama! Razka sudah rapi, Ma!" seru bocah kecil itu sambil berlari kecil memeluk pinggang Assel.
Assel dan Santi spontan menoleh. "Hai Omah, kenapa sedih? Omah kangen Papa Razka ya?" tanya Razka dengan kepolosan khas anak-anak.
Santi langsung berlutut dan menggendong cucunya itu dengan erat. "Iya, Sayang. Omah kangen Papa kamu," jawab Santi sambil menyeka air mata yang sempat jatuh di pipinya.
Ridwan dan Maheer melangkah masuk ke ruang makan yang menyatu dengan dapur. Ridwan menghirup aroma udara dengan dalam. "Hmm, wangi nasi uduk ini benar-benar bikin lapar. Sepertinya ada yang masak spesial pagi ini."
Assel tersenyum melihat mertua dan suaminya. "Silakan duduk, Pah, Mah. Nasi uduknya sudah masak dan siap dihidangkan."
Suasana sarapan pagi itu terasa begitu hangat, sebuah pemandangan yang langka terjadi di keluarga Arasyid. Setelah selesai sarapan, Ridwan dan Santi berpamitan untuk pulang ke rumah mereka. Sementara itu, Maheer memutuskan untuk berangkat bersama Razka dalam satu mobil karena ia ingin mengantar keponakannya itu ke sekolah sebelum menuju kantor.
Di dalam mobil perjalanan pulang, Santi hanya terdiam menatap jalanan dari balik jendela. Ridwan yang menyadari perubahan sikap istrinya lantas bertanya dengan nada pelan.
"Ada apa, Mah? Kenapa sejak tadi diam saja?" tanya Ridwan sambil menggenggam tangan istrinya.
Santi menghela napas panjang, matanya tampak berkaca-kaca. "Benar kata Assel, Pah. Masakan seorang ibu akan selalu diingat. Sedangkan Mama, Mama hampir tidak pernah memasak untuk Maheer dan Muzammil. Jadi wajar saja kalau sekarang Mama menuai hasilnya, anak-anak tidak ada yang betah di dekat Mama."
Ridwan mengelus tangan istrinya dengan lembut, mencoba memberikan kekuatan. "Jangan menyalahkan diri sendiri seperti itu. Sekarang belum terlambat untuk berubah. Kau lihat sendiri kan, Assel sudah memaafkan kita. Sekarang tugas kita adalah menjaga hubungan ini agar tetap baik."
Santi mengangguk lemah, namun pikirannya masih tertuju pada ketulusan Assel. Ia menyadari bahwa harta dan kekuasaan yang selama ini ia banggakan tidak ada artinya dibandingkan dengan kehangatan sebuah meja makan yang disiapkan dengan cinta.
Di sisi lain, Maheer yang sedang dalam perjalanan mengantar Razka, diam-diam tersenyum melihat interaksi Razka yang bercerita tanpa henti. Maheer berjanji dalam hati, ia tidak akan membiarkan Assel berjuang sendirian lagi di dapur atau di mana pun. Ia akan memastikan bahwa mulai sekarang, rumah ini akan selalu menjadi tempat pulang yang paling dinanti oleh mereka semua.
"Om Jahat, nanti jemput Razka lagi ya?" pinta Razka saat mobil sampai di depan gerbang sekolah.
Maheer tertawa kecil sambil mengacak rambut Razka. "Panggil Papa Maheer, baru Papa jemput."
Razka hanya menjulurkan lidahnya lalu berlari masuk ke sekolah, meninggalkan Maheer yang menatap punggung kecil itu dengan perasaan haru yang luar biasa. "Huh! Dasar anak kecil, lihat saja nanti, kau pasti akan takluk dengan Papa Maheer," gumamnya sambil tersenyum. Ia sadar, perjalanan untuk benar-benar menjadi 'Papa' bagi Razka dan suami yang layak bagi Assel baru saja dimulai.
Berhasilkah Maheer menggantikan posisi Muzammil di hati Razka sepenuhnya? Ataukah bayang-bayang masa lalu akan tetap menjadi penghalang di antara mereka?
___
Terus dukung Author ya, dan jangan lupa berikan Bintang like dan vote nya ya, terimakasih.
bagus minta cerai aja males punya suami ada demit masa lalu apa lagi hidup di luar kebanyakan jadi teh celup suka keluar masuk lobang lendir
apa aku yg kurang paham agama atau gimana ini??
karena setauku gitu nunggu massa iddah dulu baru menikah