NovelToon NovelToon
Darah Di Bukit Manoreh

Darah Di Bukit Manoreh

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Istana/Kuno / Anak Genius
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Maya Melinda Damayanty

Mereka menyebutnya perempuan api dari Bukit Menoreh.
Putri seorang punggawa sakti yang tumbuh bersama pedang dan dendam.
Saat kematian ayahnya menyeretnya ke dalam pusaran perang dan kesalahpahaman, Srikandi percaya kerajaan telah mengkhianati darah ayahnya.
Namun semakin jauh ia melangkah… semakin ia sadar bahwa luka manusia tak pernah sesederhana hitam dan putih.
Terlebih ketika hatinya justru jatuh pada lelaki yang tak mungkin ia miliki.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya Melinda Damayanty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PANEN DAN SELIMUT MISTERI

Pagi hari yang cerah, seluruh petani turun ke sawah-sawah mereka. Padi-padi yang menguning mulai dituai karena hari ini adalah panen besar yang ditunggu semua masyarakat setelah enam bulan masa tanam.

Namun, berita penemuan mayat di hutan karet sebelah selatan desa Tiro. Masih menguar di udara layaknya berita tak henti-hentinya dibicarakan beberapa warga.

Kesalahan terbesar para petugas yang memakamkan mayat, tidak melaporkan pada pemangku menteri terkait.

Hingga berita itu sampai ke telinga Prabu Laksa.

"Kangmas ... Tenangkan dirimu," ujar Sandika lirih mengelus lengan suaminya yang menegang.

"Ini tidak bisa dibiarkan Nyimas. Berani sekali mereka tidak melaporkan masalah ini ke aula istana!" ujar Prabu geram.

"Tapi semua masalah tidak akan selesai dengan amarah, Kangmas," ujar Sandika menenangkan.

Prabu Laksa yang terbakar amarah terdiam. Ia adalah raja, tapi ada para pemangku menyepelekan hal ini. Ia berhak marah.

Namun kata-kata istrinya benar adanya. Kemarahan tidak akan menyelesaikan apapun.

"Kau benar Nyimas," ujarnya dengan nada tenang.

Sandika memeluk tubuh pria yang sangat ia cintai segenap jiwa raganya.

"Kangmas ... Kau tau kenapa aku memilihmu walau ditentang kakekku?" ujar Sandika mengingat awal Prabu meminangnya.

Prabu Laksa menatap istrinya. Benar, dulu ia ditolak mentah-mentah oleh kakek sang istri, karena ia dari kerajaan kecil belum sebesar sekarang.

"Iya. .. Sampai sekarang aku masih penasaran Nyimas. Padahal aku ingat, banyak raja-raja besar hendak meminangmu waktu itu. Bahkan mereka membawakan tahta di hadapanmu?" ujar pria itu juga bertanya.

"Karena ketika aku menghaturkan kembang dan doa ke sang hyang Widhi. Hatiku bergetar saat menyebut namamu," jawab Sandika jujur, ia mengeratkan pelukannya.

Prabu Laksa membalas pelukan istrinya. Ia juga butuh pelukan itu untuk menenangkan dirinya.

"Terimakasih telah memilihku, Nyimas. Aku sangat tersanjung akan kejujuranmu," sahut Prabu lembut.

"Baiklah, kangmas," Sandika mengurai pelukannya.

"Apa mau saran dari istrimu tentang masalah mayat itu?" lanjutnya bertanya begitu hati-hati.

"Katakan Nyimas. Aku akan mendengarkan!" sahut Prabu.

"Buat lah kelompok kecil yang murni. Beri tugas pada mereka untuk menyelidiki kasus temuan mayat itu. Aku yakin, ada sesuatu di sana, sampai-sampai mereka abai melaporkan hal sepenting ini," ujar Sandika mengutarakan pikirannya.

"Itu saran yang sangat luar biasa Nyimas Ratu!" sahut Prabu Laksa kagum.

"Pantas para Adipati tua istana, begitu segan denganmu. Ternyata pikiranmu sangat cemerlang!" puji Prabu bangga.

Sandika tersipu malu, ia memang sering dipuji. Tapi mendengar pujian yang keluar dari mulut suaminya.. Membuat hatinya berbunga-bunga.

"Terimakasih atas pujiannya, Baginda Raja!" ujarnya.

"Panembahan Pondohan datang menghadap Sri Baginda Raja!" seru kasim membuat dua insan yang sedang menghangatkan diri melepas pelukan mereka.

"Baik, aku akan mendatangi Ki Pondohan!" ujar Prabu melangkah meninggalkan ratuhya di area kepuntren putri bersama dayang-dayang.

Setelah menerima laporan dari Pondohan perkara penempatan Sakta di pelabuhan istana. Prabu Laksa didampingi beberapa abdi dalem dan menteri pangan keluar untuk mengunjungi para petani yang memanen padinya.

Mereka berjalan kaki, tidak ada iringan kencana kerajaan dalam perjalanan mengelilingi desa. Prabu Laksa panas-panasan menemui rakyatnya.

Anak-anak berlarian mendekatinya ketika ia melewati jalanan setapak.

"Raja! Raja!"

Prabu Laksa tersenyum, bahkan mengelus kepala-kepala dengan wajah polos nan suci itu.

"Laja! Lihat. Aku bisa bikin keltas ini telbang!" seru salah seorang anak ingusan.

"Coba perlihatkan cah lanang!" suruh Prabu dengan penuh kasih sayang.

Bocah itu melipat kertas sedemikian rupa. Lalu setelah jadi sebuah bentuk, ia lalu mengambil kertas dan mengayunnya pelan dan melepaskan lipatan kertas itu ....

Wus! Lipatan kertas itu terbang, Prabu Laksa bertepuk tangan. Ia merogoh lipatan ikat pinggangnya dan mengambil gulali yang selalu ia bawa untuk dibagikan pada para bocah.

"Ini untukmu!" ujarnya dengan nada bangga pada sang bocah.

Anak itu tersenyum dengan wajah cerah. Semua anak lainnya menatap sang raja dengan penuh harap. Prabu Laksa terkekeh, ia kembali merogoh lipatan ikat pinggangnya dan membagikan gulali pada semua anak.

Anak-anak itu pun bersorak sambil melompat kegirangan. Prabu Laksa tersenyum lebar melihat keceriaan anak-anak yang masih polos.

"Baiklah, aku pamit ya bocah!" ujarnya.

Prabu Laksa melanjutkan perjalanannya diikuti teriakan tawa para bocah.

Ketika sampai di persawahan, para petani langsung bersujud saat melihat kedatangan raja mereka.

"Sri Baginda Raja, suatu penghormatan kami!" ujar salah satu tetua desa.

"Katakan bagaimana hasil kalian?" tanya Prabu Laksa.

"Panen tahun ini sangat bagus Prabu Raja. Bahkan bisa memenuhi lumbung padi. Kita bisa bertahan di musim paceklik dua bulan lagi!" jawab Tetua desa yakin.

"Bagus, setelah ini. Tanam umbi dan palawija agar tetap menggemburkan tanah. Setelah masa paceklik, kita juga akan menghadapi musik kemarau panjang! Kita masih butuh banyak pasokan makanan!" ujar Prabu Laksa memberi perintah.

"Daulat Prabu!" sahut Tetua desa.

Sementara di lereng, Srikandi menuai sendiri padi miliknya. Dua puluh petak sawah ia kerjakan sendirian tanpa henti. Rukmi sudah pergi sejak pagi, kemungkinan bibinya itu sedang mengawasi orang-orang suruhan yang ia bayar untuk memanen padinya.

Hingga matahari sudah melewati hari, Srikandi baru saja menyelesaikan pekerjaannya.

Semua padi telah dituai tinggal dipisahkan dari tangkai dan dijemur. Srikandi tak mau bersantai, ia langsung mengerjakan semuanya. Jika bersantai dan menunda, ia yakin pekerjaannya tak akan pernah selesai.

Setelah ia memisahkan padi dari batangnya, Srikandi menjemurnya di tengah-tengah terik matahari.

Peluh membanjiri, bajunya basah oleh keringat. Srikandi menenggang kendi berisi air. Rasa sejuk langsung mengalir ke tenggorokannya yang kering.

"Hhhhh ...," helaan nafasnya terdengar.

Ia mendudukkan dirinya di balai bambu. Mengistirahatkan dirinya dari penat.

"Mayat tercabik ...," gumamnya pelan.

"Hutan karet di selatan desa Tiro, setahuku tidak ada binatang buas. Jikapun ada, kemungkinan hanya ular berbisa ...," gumamnya pelan.

Analisis Srikandi yang tajam mulai bekerja di sela-sela rasa lelahnya. Sebagai gadis yang tumbuh besar di lereng Menoreh dan sering menjelajahi hutan untuk mencari kayu atau berburu, ia tahu betul seluk-beluk alam di sekitarnya.

Hutan karet di selatan Desa Tiro adalah area sadapan yang sering dilalui manusia. Mustahil ada harimau atau macan kumbang yang bersarang di sana tanpa disadari oleh para petani karet.

"Kejadian itu bertepatan setelah Kangmas Danar menang judi di sana. Siapa yang dicabik binatang itu?' gumamnya bertanya.

"Sri!' suara yang sudah berhari-hari ini menganggu ketenangan Srikandi.

Bibinya Rukmi datang membawa bakul nasi dan lauk pauk di gendongannya. Mata Srikandi membelalak tak percaya.

"Sri ... Ayo makan!" teriak Rukmi mengajak lalu meletakkan bakul bawaannya.

Srikandi masuk ke dalam rumah, aroma masakan tercium begitu menggugah selera.

"Angin apa Bibi baik padaku?" tanya Srikandi tentu curiga.

Tangan Rukmi yang hendak mengambil centong kayu mendadak berhenti. Ia menatap keponakannya yang memandanginya penuh kecurigaan.

Ia menghela nafas panjang, jujur dirinya masih sedikit takut.

"Ini adalah hasil dari isi kantung koinmu," akunya jujur walau terdengar lirih sangat lirih sampai seperti bisikan angin.

"Ayo jangan banyak tanya. Makan!" gertak Rukmi garang pada keponakannya itu.

"Kangmas Doko?" tanya Srikandi saat ia duduk.

"Kangmasmu tadi sudah makan lalu pergi lagi!" jawab Rukmi lalu menyendoki nasi ke piring tanah liat milik Srikandi.

"Bi ... Memangnya Sri Baginda Raja mengancammu seperti apa ...."

"Cerewet. Makan!"

Bersambung.

Yah ....

Next?

1
Deyuni12
lanjut
Deyuni12
galak banget nh si Rukmi,sleper juga nh
Deyuni12
nyari kesempatan Mulu nh Rukmi
Anita Barus
penasaran lanjut
Anita Barus
serem juga KLO sampai sda acara menjulatin darah gitu gitu
vania larasati
lanjut
Anita Barus
maki seru lanjut Thor
Anita Barus
Srikandi punya bibi yg unik serakah kepo cerewet .juga rada cengeng .
Anita Barus
bibi Rukmi yg serakah seperti kera ternyata🙏 masih bisa menangis juga ya
Anita Barus
nah Lo sakta rakus di usir kan Lo 5thn di pengasingan jauh dr istri anak dan gundik kapok mu sampai kapan 🤣🤣🤣🤣🤣pake ngusik hak Srikandi
Anita Barus
ternyata bibi Rukmi dan suaminya sama serakah nya ingin menguasai upeti.ki abda tapi kocak juga ya waktu bi Rukmi. dan putra semata wayang nya yg gemulai merajah kebun milik Srikandi .sampai.jatuh dan putra gemulai nya Doko menangis pulang kerumah nya 🤣🤣🤣🤣🤣
Anita Barus
walau windu benci dgn bayi Ki sabda TDK masalah Ki sabda dan paman sengko pasti melindungi sang anak
Benny Badaruddin
kasihan sekali tapi untung nya dia dari kecil sudah ditempa menjadi gadis yg kuat oleh ayahandanya
Benny Badaruddin
apakah Srikandi tau kalo ayahnya FFR
vania larasati
lanjut
Eni Istiarsi
pas episode sebelumnya disebutkan kalo Nyi Padan Laran beraroma bunga kantil udah feeling kalo sosoknya memang sepertinya tidak biasa
vania larasati
lanjut
Benny Badaruddin
keren
Deyuni12
hiiii
nyi padan serem akh
lanjut
Anita Barus
windu...windu. berharalmemanasi Ki abda Ter nyata kiabda malah senang dan memberi selamat PD mempelai 🤣🤣🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!