Soren Ravensdale-seorang assassin yang tak pernah gagal menjalankan misinya kini harus menerima kenyataan pahit ketika sahabat yang ia percaya-Vera, justru mengkhianatinya. Bukan hanya itu, Vera juga terlibat dalam pembunuhan adik angkatnya, Ellian Sorrel dan ternyata semua telah direncanakan atas perintah langsung dari ketua mereka sendiri.
Janji bahwa keluarga para anggota akan aman ... ternyata hanyalah kebohongan.
Dengan luka tembak di perutnya, Soren memilih mengakhiri hidupnya dengan kepercayaannya yang hancur dan terjun ke dasar jurang. Namun bukannya mati, ia justru terbangun di tubuh seorang gadis rapuh dengan wajah yang sangat mirip dengannya.
Yang kini statusnya adalah menjadi istri seorang Letnan Kolonel yang dingin dan penuh rahasia.
Dari seorang assassin menjadi seorang istri, apakah Soren benar-benar bisa berhenti dari dunia yang sudah menelan hidupnya atau justru kehidupan barunya hanya akan menyeretnya kembali ke lingkaran kejahatan yang lebih gelap?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luo Aige, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Budak
Pagi di Valdoria belum benar-benar ramai saat mobil hitam itu berbelok meninggalkan jalan utama. Langit masih pucat dengan sisa kabut tipis yang menggantung rendah di antara bangunan-bangunan kota. Beberapa toko baru mulai membuka pintu kayu mereka, sementara para pekerja dan pedagang lewat membawa keranjang di bahu dengan wajah lelah yang belum sepenuhnya bangun.
Aveline mengurangi kecepatan mobil ketika memasuki kawasan timur laut distrik militer. Lingkungan itu tidak semewah Silvercrest, tetapi jauh lebih rapi dibanding daerah pelabuhan atau distrik selatan. Rumah-rumah perwira berdiri berjajar dengan halaman kecil dan pagar besi hitam yang tingginya hampir seragam. Tidak terlalu besar, namun cukup untuk menunjukkan status pemiliknya sebagai bagian dari militer Valdoria.
Tatapan Aveline bergerak singkat ke arah nomor rumah yang tertulis di kertas sebelum akhirnya menghentikan mobil cukup jauh dari tujuan.
Liora yang sejak tadi diam langsung menoleh. “Rumah Kapten Roland?”
“Ya.”
“Kenapa berhenti di sini, Nona? Rumahnya masih di depan.”
Aveline mematikan mesin mobil tanpa terburu-buru. “Aku tidak mau dia melihat kendaraan markas.”
Liora langsung diam.
Mobil militer hitam seperti yang mereka gunakan memang cukup dikenal di sekitar distrik itu. Jika Roland melihatnya berhenti tepat di depan rumah, ia akan langsung tahu siapa yang datang bahkan sebelum pintu diketuk.
Aveline membuka pintu mobil.
“Kau tetap di sini.”
Liora refleks ikut membuka sabuk pengamannya. “Saya ikut turun—”
“Tidak.”
Suara Aveline datar, tetapi cukup membuat Liora berhenti bergerak.
“Kalau ada orang lewat, bilang mobil mogok.”
Liora tampak ragu beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk pelan. “Baik, Nona.”
Aveline menutup pintu mobil dan berjalan menyusuri trotoar batu dengan langkah tenang. Mantel hitam panjang yang ia kenakan bergerak pelan tertiup udara pagi. Jalan di kawasan itu cukup sunyi. Hanya terdengar suara sapu dari seorang wanita tua yang sedang membersihkan halaman rumah di ujung jalan dan bunyi roda gerobak kecil yang melintas tidak jauh dari sana.
Rumah Roland berada di sisi kiri deretan jalan, tidak terlalu besar tetapi terlihat kokoh. Dindingnya berwarna abu terang dengan pagar besi pendek yang membatasi halaman depan. Tidak ada penjaga pribadi ataupun pelayan yang berlalu-lalang. Namun beberapa pot tanaman di dekat teras terlihat dirawat cukup baik, dan jendela rumah bagian depan terbuka sedikit, memperlihatkan tirai putih yang bergerak pelan terkena angin pagi.
Aveline berhenti di depan pagar beberapa detik.
Di sisi rumah tampak tongkat kayu bersandar dekat dinding teras.
Matanya turun sebentar ke sana sebelum akhirnya ia membuka pagar kecil itu dan berjalan menuju pintu utama.
Tok, tok.
Tidak ada jawaban selama beberapa detik.
Lalu terdengar langkah berat dari dalam rumah. Lambat dan sedikit terseret.
Kunci pintu diputar kasar sebelum pintu terbuka setengah.
Roland Krüger berdiri di sana dengan wajah yang langsung berubah kaku begitu melihat siapa yang datang.
Rambut cokelat gelapnya tampak sedikit berantakan. Ia mengenakan kemeja rumah berwarna gelap dengan lengan yang digulung sampai siku, sementara kaki kanannya masih diperban cukup tebal hingga ke bawah lutut. Tubuhnya bertumpu pada tongkat kayu di samping pintu.
Beberapa detik berlalu tanpa sapaan.
Tatapan Roland bergerak naik turun memperhatikan Aveline, lalu rahangnya mengeras tipis.
“Lady Aveline.”
Nada suaranya datar. Tidak sopan, tetapi juga tidak cukup kasar untuk dianggap penghinaan terang-terangan.
Aveline membalas tatapannya tanpa perubahan wajah. “Kapten Roland.”
Roland tidak mempersilahkannya masuk. “Ada perlu apa pagi-pagi begini?”
“Aku dengar kau terluka.”
“Dan?”
“William cukup memperhatikan kondisi bawahannya.”
Roland mengeluarkan tawa pendek tanpa humor. “Kalau Tuan Kolonel benar-benar ingin menjenguk saya, seharusnya beliau datang sendiri. Bukan mengirim ....” Tatapannya turun sebentar ke arah Aveline. “Seseorang yang bahkan tidak paham urusan militer.”
Jemari Aveline langsung mengencang di balik mantel.
Untuk sesaat, Soren hampir terbawa refleks lama yang jauh lebih kasar dibanding sekadar tatapan dingin. Rahangnya mengeras samar, sementara kuku jarinya menekan telapak tangan sendiri cukup kuat hingga nyaris meninggalkan bekas.
Namun wajahnya tetap tenang.
Roland jelas masih memandangnya sebagai anak selir Marquis Edmund yang hanya ‘beruntung’ dinikahi William. Bukan seseorang yang pantas ikut campur urusan markas ataupun penyelidikan militer.
Aveline menahan napas pendek sebelum akhirnya berkata pelan, “Kalau kau masih sanggup menghina orang pagi-pagi begini, berarti kondisimu belum terlalu buruk.”
Roland mendecakkan lidah pelan. “Aku tidak punya waktu untuk basa-basi.”
“Bagus. Aku juga tidak suka membuang waktu.”
Sebelum Roland sempat menutup pintu, Aveline melangkah masuk begitu saja.
“Hey—”
Roland langsung memegang sisi pintu dengan wajah kesal. “Apa yang sebenarnya ingin kau lakukan?”
Aveline tidak menjawab. Matanya justru bergerak cepat mengamati ruang tamu rumah itu. Meja kayu kecil di dekat sofa dipenuhi beberapa botol obat dan gulungan perban. Aroma antiseptik masih cukup kuat di udara. Di sisi kursi terdapat tongkat cadangan dan sepasang sepatu bot militer yang belum dibersihkan sempurna.
Tanah kering masih menempel di sela bagian bawahnya.
Aveline berjalan mendekat.
Roland mulai kehilangan kesabaran. “Lady Aveline.”
“Kaki kananmu?”
“Bukan urusanmu.”
Aveline akhirnya menoleh langsung padanya. “Duduk.”
Roland menatapnya tidak percaya. “Apa?”
“Duduk.”
Nada suara wanita itu tetap tenang, tetapi cukup dingin untuk membuat udara di ruangan terasa lebih berat.
Roland tertawa pendek lagi. “Kau pikir aku akan menurut?”
Aveline melangkah mendekat tanpa bicara panjang. Tangannya tiba-tiba menarik tongkat Roland menjauh sebelum pria itu sempat bereaksi penuh.
“Brengsek—”
Tubuh Roland kehilangan tumpuan dan refleks duduk keras di sofa dengan wajah langsung berubah menahan nyeri.
“Apa kau sudah gila?!”
Aveline sama sekali tidak peduli pada bentakannya. Ia justru berjongkok di depan kaki kanan Roland dan langsung memegang bagian perban tanpa meminta izin.
Roland refleks menarik kaki itu ke belakang. “Jangan sentuh— ahh!”
Suara tertahan keluar dari tenggorokannya saat Aveline menekan bagian samping luka cukup keras untuk memeriksa bentuk cedera di bawah perban.
Tatapannya menyipit sedikit.
Bukan luka tembak.
Ia mengenali luka tembakan dengan terlalu baik untuk salah menilai. Luka di kaki Roland jauh lebih panjang dan kasar di bagian samping betis, seperti robekan akibat logam tajam atau serpihan keras saat kecelakaan lapangan. Bekas bengkaknya juga tidak sesuai dengan luka peluru baru.
Roland mencengkeram sandaran sofa dengan napas kasar. “Sialan ... apa yang sedang kau lakukan?!”
Aveline tidak langsung menjawab.
Untuk pertama kalinya sejak datang, muncul sedikit keraguan di matanya.
Kalau Roland bukan pria yang ditembak di klub malam itu ... berarti dugaannya salah.
Atau ada orang lain yang menyembunyikan cedera.
Roland mendorong tangan Aveline kasar menjauh. “Sudah selesai?!”
Aveline berdiri perlahan.
Roland menatapnya penuh amarah. “Aku bersumpah akan melaporkan ini pada Tuan Kolonel. Kau masuk tanpa izin, menyentuh lukaku seperti orang sinting—”
“Silakan.” Jawaban Aveline memotong kalimatnya begitu saja.
Roland terlihat makin kesal. “Kau pikir Tuan Kolonel akan membela tindakan seperti ini?”
Namun Aveline sudah berbalik menuju pintu tanpa minat melanjutkan percakapan.
“Dasar wanita gila!”
Langkahnya tidak berhenti.
“Kalau bukan karena Tuan Kolonel, tidak ada yang akan membiarkanmu masuk ke lingkungan militer!”
Aveline tetap berjalan keluar rumah tanpa menoleh sedikit pun.
Roland masih mengumpat dari dalam rumah saat pintu ditutup keras di belakangnya.
Udara pagi terasa lebih dingin ketika Aveline kembali menyusuri jalan menuju tempat mobil diparkir. Wajahnya tetap tenang, tetapi pikirannya bergerak jauh lebih cepat dibanding sebelumnya.
Roland bukan orangnya.
Setidaknya bukan pria bertopeng yang berhasil lolos malam itu.
Namun ada sesuatu yang masih mengganggu pikirannya. Terutama fakta bahwa jalur konvoi, pelabuhan, dan orang-orang yang terlibat di sekitar Grimhaven terus mengarah pada lingkaran yang sama.
Liora langsung membuka pintu sedikit begitu melihat Aveline kembali.
“Nona?” Gadis itu cepat memperhatikan wajahnya. “Bagaimana?”
Aveline masuk ke kursi pengemudi tanpa menjawab langsung.
Liora menunggu beberapa detik sebelum akhirnya bertanya pelan, “Kita akan ke mana sekarang, Nona?”
Aveline menatap jalan depan cukup lama. Pikirannya sempat bergerak pada satu nama wilayah lain.
Eldervale.
Namun hanya sesaat. Tatapannya kembali dingin ketika tangannya memutar kunci mesin mobil.
“Velmire.”
~oo0oo~
Mobil hitam itu bergerak pelan memasuki wilayah Velmire ketika matahari mulai naik lebih tinggi di atas Valdoria. Namun cahaya pagi sama sekali tidak membuat daerah itu terlihat lebih nyaman. Semakin jauh mereka masuk, jalanan justru tampak makin sempit dan padat. Bangunan-bangunan tua berdiri rapat tanpa jarak, sebagian cat dindingnya sudah mengelupas, sementara papan-papan kayu berisi nama penginapan, rumah minum, dan club malam masih tergantung miring di atas pintu.
Beberapa tempat bahkan belum benar-benar tutup meski pagi sudah datang.
Lampu kuning redup masih menyala dari balik jendela. Asap rokok keluar dari celah pintu yang terbuka sedikit. Di pinggir jalan, beberapa pria duduk sambil bermain kartu dengan botol alkohol murah di meja kecil yang kotor. Ada yang tertawa terlalu keras, ada pula yang hanya diam sambil menatap orang lewat dengan mata merah karena kurang tidur.
Liora duduk kaku di kursi penumpang.
Sejak mereka memasuki Velmire, gadis itu hampir tidak berani melihat lurus terlalu lama. Tatapannya bergerak gelisah ke kanan dan kiri jendela mobil. Cara berpakaian orang-orang di sana berbeda jauh dari Silvercrest ataupun pusat Valdoria. Banyak perempuan mengenakan gaun ketat dengan bahu terbuka dan riasan yang mulai luntur setelah semalaman bekerja. Sebagian duduk di depan pintu club sambil merokok dengan wajah lelah, sementara beberapa pria berpakaian kasar berjalan tanpa menutupi bekas luka ataupun tato di lengan mereka.
Bahkan suara orang berbicara di Velmire terasa berbeda. Lebih keras, lebih kasar dan tidak ada yang benar-benar menjaga nada bicara.
“Nona ....” Suara Liora terdengar pelan. “Tempat ini benar-benar buruk.”
Aveline tidak menjawab.
Tatapannya tetap lurus ke jalan depan sambil satu tangannya memegang kemudi dengan tenang. Matanya bergerak pelan mengamati setiap sudut jalan, gang sempit, dan orang-orang yang berdiri terlalu lama memperhatikan kendaraan mereka.
Mobil asing jelas menarik perhatian di Velmire. Beberapa orang sampai berhenti bicara saat kendaraan hitam itu lewat. Namun Aveline tetap melaju tanpa perubahan ekspresi.
Lalu tiba-tiba ... suara benturan kecil membuat Aveline langsung menginjak rem mendadak.
Tubuh Liora terdorong ke depan sampai tangannya refleks menahan dashboard. “Nona?!”
Di depan mobil, seorang gadis muda jatuh terduduk di jalan batu. Napasnya terdengar kacau.
Usianya masih sangat muda, mungkin sekitar delapan belas tahun. Rambut pirangnya berantakan, sebagian menempel di wajah karena keringat. Gaunnya kusut dan sedikit robek di bagian lengan, sementara salah satu lututnya lecet akibat jatuh terlalu keras.
Namun yang aneh, gadis itu sama sekali tidak tampak peduli dirinya baru saja tertabrak.
Ia justru buru-buru bangkit sambil menoleh panik ke belakang.
Aveline memperhatikan arah tatapannya sesaat sebelum gadis itu langsung mendekati sisi mobil dan mengetuk kaca jendela dengan tangan gemetar.
“Tolong ...,” ujarnya dengan suara pecah karena panik. “Tolong aku ....”
Liora refleks menegang.
Gadis itu terus mengetuk kaca sambil menangis. “Tolong bawa aku pergi dari sini, kumohon.”
Aveline masih diam.
Tatapannya turun sebentar pada tangan gadis itu yang gemetar hebat sebelum kembali melihat ke arah gang sempit tempat gadis tadi muncul.
Liora menelan ludah kecil. Meski kasihan, wajahnya mulai terlihat takut.
“Nona,” katanya pelan. “Jangan buka pintunya. Tempat seperti ini berbahaya. Bisa saja jebakan.”
Gadis itu makin panik saat mendengar suara langkah dari belakang.
“Kumohon, tolong aku ....”
Namun sebelum Aveline menjawab, dua pria bertubuh besar keluar dari gang sempit tadi.
Langkah mereka cepat.
Salah satunya langsung mencengkeram lengan gadis itu kasar.
“Nah. Ketemu juga.”
“Lepaskan aku!” Gadis itu langsung memberontak sambil menangis lebih keras. “Aku tidak ingin kembali!”
Pria satunya ikut menarik tubuhnya tanpa peduli tubuh kecilnya hampir jatuh lagi.
“Diam!”
“Aku tidak mau! Aku tidak mau kembali ke sana!”
Tubuh itu benar-benar diseret di atas jalan batu karena ia menolak berjalan. Tangannya sempat mencengkeram sisi mobil beberapa detik sebelum akhirnya melepaskannya secara terpaksa.
Seketika Lioramenahan napas.
Sementara itu, dua pria tadi sempat melirik ke dalam mobil. Tatapan mereka tajam dan penuh curiga.
Mobil asing yang nyaris tak pernah melintas di Velmire.
Namun ketika melihat Aveline tetap diam di balik kemudi tanpa turun ataupun membuka pintu, kewaspadaan mereka perlahan menurun.
Aveline kembali menjalankan mobil pelan. Dari kaca spion, Aveline masih bisa melihat tubuh gadis itu diseret menuju salah satu bangunan besar di ujung jalan. Tangisannya terdengar makin keras.
Namun yang paling membuat suasana terasa buruk justru orang-orang di sekitar mereka.
Tidak ada yang membantu ataupun mencoba menghentikan.
Beberapa hanya melihat sebentar sebelum kembali minum, merokok, atau melanjutkan permainan kartu seolah jeritan seperti itu sudah biasa terdengar setiap hari di Velmire.
Tangisan gadis tadi akhirnya menghilang setelah pintu bangunan besar itu ditutup keras.
Dan tepat beberapa detik setelahnya ... Aveline mengerem mendadak lagi.
Liora langsung menoleh cepat. “Nona?”
Aveline memutar kemudi tanpa banyak bicara. Mobil berhenti tidak jauh dari bangunan tempat gadis tadi dibawa masuk.
Aveline membuka sabuk pengaman.
Liora langsung panik. “Nona, tunggu— tempat itu berbahaya.”
“Aku tahu.”
“Kalau mereka sadar kita mengikuti—”
Aveline menoleh singkat padanya.
“Kunci pintu mobil sampai aku kembali.”
“Nona—”
“Dan jangan keluar satu langkah pun.”
Nada suaranya tenang, tetapi cukup dingin untuk membuat Liora berhenti membantah.
Gadis pelayan itu menggenggam ujung mantelnya dengan cemas sebelum akhirnya mengangguk pelan. “Baik, Nona.”
Aveline keluar dari mobil tanpa tergesa.
Udara Velmire terasa lebih berat begitu ia berdiri di tengah jalanan itu. Beberapa pria langsung melirik saat melihat seorang wanita berpakaian rapi berjalan sendirian di daerah seperti ini.
Namun Aveline tidak memperdulikan tatapan mereka.
Langkahnya tenang melewati lalu lalang orang sebelum akhirnya berhenti di depan bangunan tempat gadis yang ia tabrak dibawa masuk.
Dari luar, tempat itu terlihat seperti rumah judi tua.
Papan kayunya besar dan kusam, sementara suara tawa, dentingan koin, dan musik pelan terdengar dari dalam. Pintu utamanya terbuka setengah, memperlihatkan ruangan luas dengan meja-meja judi, asap rokok, dan beberapa perempuan yang duduk menemani para pelanggan.
Perempuan juga berjudi di sana.
Beberapa terlihat bermain kartu sambil tertawa keras, sementara yang lain hanya duduk di pangkuan pria-pria mabuk sambil menuangkan alkohol.
Aveline melangkah masuk, sepasang mata langsung menoleh. Sebab, orang seperti dirinya terlalu mencolok di tempat seperti itu.
Belum sampai lima langkah, seorang wanita berusia sekitar lima puluhan berjalan mendekat. Tubuhnya masih cukup tegap, meski garis usia di wajahnya terlihat jelas. Gaun merah gelap yang dikenakannya tampak mahal dibanding orang-orang lain di sana, dan matanya bergerak tajam memperhatikan Aveline dari ujung kepala sampai kaki.
Senyum tipis muncul di sudut bibirnya. Namun senyum itu terasa lebih sinis dibanding ramah.
“Sepertinya kita kedatangan tamu asing.”
Aveline menatapnya datar.
Wanita itu melanjutkan sambil menyilangkan tangan di depan dada. “Jarang ada wanita seperti Anda masuk ke tempat ini sendirian.” Tatapannya turun sebentar ke mantel Aveline. “Apalagi pagi-pagi begini.”
“Aku hanya ingin melihat-lihat.”
“Velmire bukan tempat wisata.”
“Kalau begitu tempatmu cukup ramai untuk sesuatu yang bukan wisata.”
Wanita itu tertawa pendek.
“Lidah Anda cukup tajam.” Tatapannya menyipit sedikit. “Jadi? Mau apa di sini?”
Sebelum Aveline menjawab, suara gaduh tiba-tiba terdengar dari lantai atas.
Brak.
Disusul suara benda jatuh. Aveline refleks mengangkat pandangan ke arah balkon kayu di lantai dua.
“Tolong ... jangan—!”
Tubuhnya berhenti sepersekian detik. Ia mengenali suara itu. Suara gadis yang tadi ditabraknya.
Tatapan wanita di depannya langsung berubah tipis sebelum senyumnya kembali dipaksakan. Namun Aveline sudah lebih dulu mengalihkan pandangan dan berjalan santai ke salah satu meja judi.
“Permainan apa saja yang ada di sini?”
Wanita itu tampak sedikit bingung dengan perubahan arah pembicaraan yang mendadak.
“Kartu, dadu, taruhan uang.” Ia menyipitkan mata. “Kenapa? Anda mau bermain?”
“Mungkin.”
Wanita itu tertawa kecil sambil memandang Aveline penuh penilaian. “Anda terlihat cukup suci untuk tempat seperti ini.”
“Apa itu masalah?”
“Biasanya orang seperti Anda hanya datang untuk melihat sebentar lalu pergi.”
“Aku tidak suka datang tanpa membawa sesuatu.”
“Dan apa yang Anda bawa?” tanya wanita itu sinis. “Anda yakin sanggup bertaruh di tempat ini?”
Aveline mengeluarkan kunci mobil dari sakunya lalu meletakkannya pelan di atas meja.
“Aku membawa sebuah mobil.”
Beberapa orang di sekitar mulai memperhatikan. Tatapan wanita itu langsung turun ke arah kunci mobil tersebut.
Aveline melanjutkan dengan nada tenang.
“Kalau aku menang ....” Matanya bergerak pelan ke arah lantai atas. “Aku mau mengambil gadis yang baru saja kutabrak.”
Ruangan itu mendadak terasa lebih sunyi beberapa detik.
“Untuk apa?” tanya wanita itu pelan.
Aveline menatapnya lurus.
“Menjadikannya budak.”
Raut wajah wanita itu langsung berubah. Matanya refleks bergerak cepat ke arah lantai atas.
Dan kali ini Aveline melihat jelas reaksi itu.
.
.
.
Bersambung