Shafiya Elara Hanum, namanya. Ia tidak pernah menyangka hidupnya akan berakhir dalam sebuah pernikahan dengan pria yang tak pernah benar-benar menjadi suaminya.
Ia adalah putri seorang kiai.
Dibesarkan dengan kehormatan dan batasan.
Namun satu kesalahan yang tidak ia lakukan, telah merenggut segalanya. Pernikahannya batal. Nama baik keluarganya ikut hancur, dan ia pun terseret ke dalam ikatan dengan SAGARA ADINATA.
Pewaris tunggal keluarga Adinata.
Seorang pria yang dingin. Tegas. Dan tidak percaya pada pernikahan.
Mereka menikah tanpa cinta.
Tanpa keinginan. Tanpa sentuhan.
Namun satu hal mengikat mereka--Seorang anak yang tumbuh di rahim Shafiya…
anak yang bahkan tidak pernah mereka rencanakan.
Di balik hubungan yang datar dan penuh jarak, rahasia demi rahasia mulai terkuak.
Dan perlahan, batas yang mereka jaga mulai goyah.
Mampukah mereka bertahan dalam pernikahan yang bukan hanya sekedar kesepakatan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon najwa aini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 Suara Adzan Itu
Sagara terbiasa menyampaikan banyak hal lewat tatapan. kemarahan. Kekecewaan. Atau hanya sekedar pertanyaan.
Namun tak semua orang paham atau mampu membaca maksud tatapannya. Termasuk Shafiya kali ini. Ia tak memcoba memahami. Ia hanya tahu kalau tatapan itu tidak untuk dilawan. Terlalu tajam. Terlalu menghunjam.
Dan ia belum siap berdiri di dalamnya.
Untungnya getaran ponsel merampas jeda yang tajam itu. Mengalihkan tatapan Sagara dari Shafiya.
Sagara tak perlu melihat layar lebih dulu--seolah sudah tahu siapa yang meneleponnya.
"Permisi. Saya keluar dulu." Kata pamit yang tak mengarah pada siapa pun di ruangan itu. Dan ia tak menunggu jawaban untuk melangkah keluar.
Karena waktu sudah menjelang Maghrib, Shafiya juga pamit untuk ke kamarnya. Sedangkan kiai sholih dan Nyai Hamidah sepertinya sudah memutuskan untuk solat Maghrib dulu di pesantren Darun najah, sebelum kembali ke kediaman.
"Shafa." Kiai Fakih memanggil Shafiya, sebelum putrinya itu keluar.
"Iya, Abi."
"Jangan keburu pulang dulu. Abi masih ada hal yang ingin disampaikan padamu, dan suamimu."
Shafiya mengangguk. "Baik, Bi."
"Persilakan suamimu istirahat dulu, Nak. Perjalanan kalian cukup jauh. Dia pasti lelah." Kiai solih menambahkan.
Shafiya tersenyum sambil mengangguk. Sementara nyai Hamidah mengiringi semua itu dengan senyum hangat.
..
Shafiya sudah berdiri hampir satu menit di sana--di depan pintu yang menuju ruang tamu pria. Dan sudah beberapa bait shalawat dari santri di masjid--menjelang adzan maghrib yang ia ikuti dalam hati. Tapi, sampai saat ini ia belum mendapat kepastian apakah Sagara ada di ruang tamu itu atau tidak.
Tak ada suara dari dalamnya. Dan hal yang cukup tabu bila Shafiya harus melihat sendiri ke sana--khawatirnya lagi ada tamu lain.
Hingga seorang santri putra melintas dengan sopan tak jauh di sisi ruangan. Sepertinya ia petugas baru. Shafiya baru melihat wajahnya.
"Kang santri, boleh minta tolong?" Shafiya memanggil sopan.
Santri itu bergegas mendekat. Berdiri dengan kepala menunduk di depan Shafiya. "Dalem, Ning."
"Tolong diliat. Ada suami saya gak di ruang tamu."
Si santri mengangguk. Ia segera masuk ke ruang tamu. Hanya sebentar lalu kembali lagi. "Ada dua orang tamunya Kiai. Tapi--"
Ia memotong ucapannya sendiri dengan ragu.
Shafiya menunggu lanjutan kalimat itu.
"Tapi saya ndak tau, suaminya ning Shafiya--yang mana." Santri itu melanjutkan dengan nada takut-takut.
Oh. Akibat menikah diam-diam ya seperti ini. Ada santri yang tidak tau pada suami ning nya sendiri. Tapi Shafiya memaklumi. Ia mengangguk.
"Gak papa. Terima kasih bantuannya."
Santri itu mengangguk dan berlalu.
Shafiya menghela napas pelan.
Sagara tak ditemukan di rumahnya yang tak begitu luas? Ini aneh. Kalau Shafiya hilang di Adinata Residence 3, itu wajar. Rumah itu sangat luas, banyak koridor yang bisa menelannya diam-diam.
Tapi kediaman kiai Fakih tak seluas itu. Tak ada sekat tersembunyi. Tapi ia tak menemukan Sagara di sana. Kecuali ruang tamu laki-laki itu, yang masih jadi area cukup terlarang untuk ia datangi.
Shafiya ingat untuk menelepon Sagara saja. Itu cara paling cepat dan tepat saat ini. Tapi masalahnya ia tidak tahu nomor ponsel Sagara. Bahkan nomor Agam juga tidak.
Shafiya terdiam.
Hal sesederhana nomor ponsel saja, ternyata ia tidak punya.
Mereka sudah tinggal dalam satu atap.
Namun hal mendasar seperti itu--tidak pernah benar-benar ada.
Shafiya menurunkan pandangannya.
Suara lantunan shalawat kembali terdengar. Lebih dekat. Lebih panjang. Artinya saat adzan Maghrib hampir menjelang.
Langkah-langkah santri kian terdengar mulai mengarah ke masjid.
Ritmenya berubah lebih cepat.
Shafiya menahan langkahnya beberapa detik. Sekedar menimbang.
Dan keputusan itu akhirnya ia ambil.
Ia membawa langkahnya ke ruang tamu laki-laki itu. Tidak masuk sepenuhnya. Hanya berdiri di ambang pintu.
“Mas… Sagara ada di sini?” Bertanya tidak terlalu pelan.
Di dalam, percakapan sempat terhenti.
Lalu terdengar suara kursi bergeser pelan.
“Ya.”
Jawaban itu datang. Dari suara yang dikenal. Suara Sagara.
“Saya tunggu di luar.”
Ia mundur satu langkah dan melangkah menjauh.
Beberapa detik kemudian terdengar langkah kaki mendekat dari dalam.
Sagara keluar.
Tatapannya langsung jatuh pada Shafiya.
“Ada apa?” tanyanya singkat.
"Kamar untuk beristirahat sudah saya siapkan."
Sagara mengangguk.
Shafiya melangkah lebih dulu menuju ke sebuah kamar. Sagara mengikuti beberapa langkah di belakangnya.
Pintu kamar itu dibuka. Ruangannya tidak begitu luas. Tapi bersih dan rapi. Sagara menatap sekilas. "Ini kamar siapa?"
"Kamar saya."
"Ada kamar tamu?"
"Ada. Untuk mas Agam dan supir."
"Saya di sana saja." Sagara memutuskan dengan cepat. Shafiya diam.
Saat itu suara adzan di masjid terdengar.
Shafiya menunduk.
Sagara menatapnya.
Shafiya tetap diam. Membiarkan suara panggilan ibadah maghrib itu menguasai ruang dengarnya. Fokusnya. Hatinya. Dan menjawab dengan doa yang sudah masyhur diajarkan.
Beberapa saat ketika ia mendongak. Dilihatnya Sagara menatap tanpa jeda. Tanpa kata.
“Ada suara adzan,” kata Shafiya pelan.
Kalimat itu terhenti di sana.
Suara adzan kian memenuhi ruang.
Dan dalam ajaran yang ia pegang, itu bukan saat untuk melanjutkan percakapan.
Ada adab yang harus dijaga.
Mendengar. Menjawab dalam hati.
Mengikuti setiap lafaznya.
Shafiya menundukkan sedikit kepalanya.
Membiarkan kalimat yang belum selesai itu… tetap tertahan.
Setelah beberapa saat, suara Adzan itu selesai.
"Itu suara Ilzam." Kalimat Sagara itu jatuh tepat di akhir suara adzan.
Shafiya terhenyak. Lalu menggeleng. Tapi kalimat itu memaksanya membuka kembali memori yang hampir tertutup. Memang mirip. Seperti suara gus Ilzam saat melantunkan adzan. Tapi mustahil. Kalau lelaki itu ada di masjid saat ini.
Shafiya memilih jalan aman. Menurutnya, banyak santri di Di Darun najah yang punya suara cukup bagus dan pandai mengumandangkan adzan. Itu pasti salah satu dari mereka.
Tapi ucapan Sagara kemudian. Membuat Shafiya terdiam.
“Saya barusan ketemu.” Tidak ada nada khusus. Tidak ada penekanan. Hanya sekedar disampaikan.
“Dia pamit mau adzan," katanya lagi.
Shafiya diam.
Tatapannya tidak lagi sama.
Sagara memperhatikannya sebentar.
“Kamu bisa memastikan sendiri," ucapnya ringan.
Tanpa dorongan atau emosi.
Namun justru karena itu--terasa lebih dalam. Seolah bukan sekadar memberi pilihan.Tapi… membuka sesuatu yang sebelumnya sudah tertutup.
Sagara tidak menunggu jawaban.
Ia berbalik. Dan berjalan pergi.
Meninggalkan Shafiya di tempatnya yang masih memikirkan kalimat Sagara itu hanya kalimat biasa tanpa makna, atau ada hal lain.
Tepat di langkah ketiga Sagara. Shafiya menahan dengan ucapannya.
"Sebentar, Mas."
Sagara berhenti. Menoleh. Namun tidak memangkas jarak.
"Saya sholat Maghrib dulu. Di sini." Shafiya berkata pelan. Dia memilih sholat sendiri di kamar. Tidak sholat jamaah di masjid. Juga tidak perlu untuk memastikan apapun.
"Setelah itu," kata Shafiya lagi. "kita temui abi. Beliau mau bicara."
Sagara mengangguk, dan kembali teruskan langkahnya tanpa menambahkan apa pun.