Teratai Di Atas Abu
Setelah Klan Teratai Suci dihancurkan oleh Menara Darah Hitam, Lian Hua menjadi satu-satunya yang selamat dari malam penuh darah itu. Dengan meridian rusak dan bakat yang dianggap rendah, ia tumbuh di tengah hinaan dunia persilatan.
Namun di balik liontin teratai peninggalan klannya, tersembunyi kekuatan kuno yang mampu mengguncang dunia kultivasi.
Di antara dendam, pengkhianatan, dan perang antar sekte, Lian Hua menapaki jalan kultivasi demi mengungkap kebenaran kehancuran klannya—dan membalas semua darah yang telah tertumpah.
Karena bahkan di atas abu kehancuran… teratai tetap bisa mekar kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 15
Teratai Di Atas Abu
Bab 15 — Tinju Pertama
Tiga hari tiga malam hukuman berlalu. Saat para tetua datang ke Halaman Angin Utara untuk melihat hasilnya, mereka tertegun diam. Sosok Lian Hua masih berlutut di tempat yang sama, seluruh tubuhnya tertutup lapisan es tebal, namun ia masih hidup, masih bernapas, dan masih berdiri tegak bagai gunung yang tak tergoyahkan.
Hukuman selesai. Namun bagi banyak orang, ketahanan hidupnya itu bukan tanda kekuatan, melainkan alasan baru untuk mengejek. Mereka menganggapnya hanya makhluk keras kepala yang tak tahu cara mati, tapi tetaplah lemah dan tak berharga. Zhao Feng dan pengikutnya makin berang. Ia berharap pemuda itu mati membeku di sana, namun harapannya pupus. Ia pun bertekad mempermalukan Lian Hua habis-habisan, membuatnya tak berani lagi menampakkan wajah di sekte ini.
Pagi itu, di lapangan latihan utama, ribuan murid berkumpul kembali seperti biasa. Lian Hua baru saja kembali dari gubuknya, wajahnya masih pucat, bajunya masih berbekas sisa salju dan sobekan, namun matanya kini jauh lebih tenang, jauh lebih dalam dari sebelumnya. Ia berjalan menuju sudut paling belakang, hendak mengambil tempatnya seperti biasa.
Namun sebelum ia sempat duduk, Zhao Feng melangkah menghampiri dengan langkah lebar, diiringi gelak tawa para pengikutnya. Ia sengaja berhenti tepat di hadapan Lian Hua, menatap dari atas ke bawah dengan pandangan jijik dan meremehkan.
"Lihatlah siapa yang datang! Si 'pahlawan' yang bertahan di tengah salju," seru Zhao Feng keras-keras, agar terdengar oleh semua orang di lapangan. "Kukira kau sudah mati beku, ternyata kulitmu cukup tebal untuk bertahan hidup. Memang dasar makhluk rendahan, nyawanya pun sekeras sampah jalanan, tak mudah musnah meski diinjak-injak."
Suara tawa riuh terdengar di mana-mana. Banyak murid yang ikut menertawakan, ada yang diam saja, ada yang merasa kasihan tapi tak berani bersuara.
Zhao Feng makin berani. Ia meludah ke samping, lalu menunjuk dada Lian Hua dengan ujung jarinya yang kasar. "Kau pikir dengan bertahan di sana tiga hari, kau jadi hebat? Kau pikir kau bisa disamakan dengan kami? Ingatlah tempatmu, anak kampung tak punya bakat. Kau cuma kutu kecil yang kami biarkan hidup di sini. Kalau aku mau, aku bisa menggilasmu kapan saja, persis seperti saat aku mematahkan pedang kayumu dulu."
Ia mendekatkan wajahnya, suara berbisik namun penuh racun. "Dan ingatlah, apa yang terjadi pada gudang batu roh dulu, itu baru permulaan. Kau pikir tak ada yang tahu siapa yang mengatur semuanya? Tapi apa kau bisa berbuat apa-apa? Tidak! Karena kau lemah, karena kau sampah, dan karena di sini, akulah yang berkuasa. Mulai hari ini, kau harus menunduk setiap kali melihatku, kau harus berjalan memutar jika berpapasan denganku. Kalau tidak, hukuman yang kau terima kemarin akan terasa seperti main-main dibandingkan apa yang akan kulakukan padamu."
Di pinggir lapangan, Gu Qing Cheng menatap dengan napas tertahan. Ia tahu Lian Hua sudah berubah, ia merasakan getaran tenaga aneh dari tubuh pemuda itu sejak ia keluar dari tempat hukuman. Namun ia khawatir, khawatir Lian Hua akan menahan diri lagi, khawatir ia akan diam saja lagi dan membiarkan dirinya diinjak terus-menerus.
Lian Hua berdiri diam. Selama bertahun-tahun, ia sudah terbiasa dengan kata-kata semacam ini. Ia sudah mendengarnya berulang kali, dari mulut banyak orang. Dulu ia diam, karena ia tahu dirinya belum kuat, karena ia tahu amarah takkan berguna tanpa kekuatan. Tapi sekarang...
Di dalam dadanya, tenaga yang telah ia kumpulkan dan padatkan selama hukuman itu berputar deras, panas dan dahsyat. Ia mengingat malam pembantaian klannya, ia mengingat hinaan demi hinaan, ia mengingat jebakan dan tuduhan palsu yang hampir merenggut nyawanya, ia mengingat tiga hari menahan siksaan dingin yang menusuk tulang—semuanya karena orang-orang seperti Zhao Feng, orang-orang yang merasa hebat hanya karena bakat warisan, orang-orang yang suka menindas yang lemah.
Cukup.
Suara itu bergema jelas di dalam hatinya.
Perlahan, Lian Hua mengangkat kepalanya. Tatapannya yang biasanya tenang dan kosong kini berubah drastis. Di balik manik mata hitam itu, menyala api yang dingin dan tajam, seolah bisa membekukan darah siapa saja yang menatapnya. Hawa yang samar namun berat mulai memancar dari tubuhnya, membuat udara di sekitar mereka tiba-tiba terasa berat dan menekan.
Zhao Feng terkejut sejenak, namun segera tertawa sinis lagi. "Apa? Kau berani menatapku seperti itu? Mau apa kau? Mau menyerangku? Coba saja, kalau kau punya nyali! Begitu kau bergerak sedikit saja, aku akan pastikan kau diusir dari sekte ini, atau mati tanpa kuburan!"
Ia membusungkan dada, semakin angkuh, semakin mendekatkan wajahnya, semakin kasar. "Ayo, kalau kau punya nyali... pukullah aku! Tunjukkan apa yang bisa dilakukan sampah sepertimu!"
Kata-kata itu baru saja meluncur dari mulutnya, saat itu juga, pandangan semua orang menjadi kabur sekejap.
Tak ada gerakan persiapan, tak ada suara teriakan, tak ada getaran tenaga dalam yang menyilaukan seperti yang biasa dilakukan pendekar. Lian Hua hanya menggerakkan tangan kanannya dengan tenang, cepat bagai kilat, dan penuh kekuatan yang telah ditempa ribuan kali.
Bukh!
Suara benturan daging yang padat dan berat terdengar nyaring ke seluruh penjuru lapangan.
Satu pukulan sederhana, lurus ke depan, tepat mengenai dada Zhao Feng.
Mata Zhao Feng membelalak sebesar piring. Wajah angkuhnya berubah menjadi ketakutan yang tak terbayangkan. Ia merasakan kekuatan yang luar biasa, berat seperti gunung, keras seperti besi tempa, menghantam dadanya dan merobek segala pertahanan tenaga dalam yang ia bangun. Tubuhnya yang tegap dan terlatih itu terangkat melayang ke udara bagai sepotong jerami ringan, terlempar mundur hingga belasan langkah jauhnya, sebelum akhirnya jatuh terguling ke tanah, berguling beberapa kali dan berhenti diam di kaki para pengikutnya yang ternganga kaku.
Darah segar menyembur dari mulut Zhao Feng. Ia berusaha bangkit, namun tubuhnya lemas tak bertenaga, tulang-tulangnya terasa remuk, napasnya tak bisa keluar masuk dengan lancar. Ia menatap ke arah Lian Hua dengan pandangan tak percaya, rasa sakit dan keterkejutan membuatnya tak mampu bersuara sedikit pun.
Seluruh lapangan latihan hening seketika. Ribuan pasang mata tertuju pada Lian Hua, lalu pada Zhao Feng yang tergeletak tak berdaya di tanah. Tak ada yang berbicara, tak ada yang bergerak. Semua orang seolah tak percaya pada apa yang baru saja mereka saksikan.
Murid sampah yang tenaga spiritualnya dianggap tak ada, yang dianggap tak punya bakat, yang tak pernah berani melawan siapa pun... baru saja mengalahkan murid senior yang berbakat dan kuat itu hanya dengan satu pukulan sederhana.
Lian Hua mengembalikan tangannya ke sisi tubuh dengan tenang. Ia menatap dingin ke arah Zhao Feng yang terbatuk-batuk di tanah, suaranya rendah namun terdengar jelas oleh semua orang yang ada di dekatnya.
"Aku diam selama ini, bukan karena aku lemah. Tapi karena aku sedang menunggu waktu."
Ia berhenti sejenak, hawa dingin dan berwibawa makin menyebar, membuat siapa saja yang mendengarnya bergidik ngeri.
"Hinaan, jebakan, dan ketidakadilan yang kau berikan padaku... hari ini, aku mulai mengambilnya kembali. Ingatlah ini baik-baik: mulai sekarang, siapa pun yang berani menginjak kepalaku... aku akan memastikan mereka takkan pernah sanggup berdiri lagi."
Di pinggir lapangan, Gu Qing Cheng tersenyum tipis, hatinya berdebar kencang bukan karena takut, melainkan karena kekaguman. Ia tahu benar, hari ini bukan sekadar hari di mana seorang murid membalas penghinaan. Hari ini adalah hari di mana sosok yang kelak akan mengguncang dunia persilatan, mulai menampakkan wujud aslinya yang sesungguhnya.