"Menikahlah dengan ku dan berikan aku keturunan. Aku akan memberikan semua yang kamu inginkan, termasuk kesejahteraan,"
Anjani tidak menyangka di usianya dua puluh tahun, harus menghadapi tawaran gila dari pria konyol yang dia bantu. Di sisi lain ia ingin memperbaiki hidup, sedangkan di sisi lain ia tidak ingin melakukan hal bodoh itu.
Namun melihat pengorbanannya Arya, keputusan besar akhirnya ia ambil untuk mereka berdua, bersiap menikah dan memberikan Arnold keturunan. Akankah mereka berdua berubah pikiran dan menjalin hubungan tanpa aliansi apapun?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putrichou, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERSENGKONGKOLAN
Tiga pria tengah yang berbeda usia tampak tengah berkumpul di sebuah ruangan yang cukup luas. Suasana sejuk seketika berubah menjadi tegang dan sedikit canggung. Asisten mereka berdiri tak jauh dari para atasan dengan ekspresi bingung.
"Katakan, Nathan." ucap Guntur yang mulai hilang kesabaran. Nathan tertawa pelan dan melirik ke arah Fero yang menatapnya jengah.
"Padahal kita berdua sudah berbaikan, tapi sepertinya Putra mu masih membenci ku." sindir Nathan membuat Fero semakin di buat muak oleh rival Ayahnya itu. Pria itu menyambar gelas wine dan meneguknya hingga tandas.
"Aku sudah melihat konferensi pers mu itu, Nathan." Fero menaruh gelas dan mengeluarkan ponselnya, menunjukkan sesuatu kepada pria itu.
Nathan menaikkan alisnya melihat tayangan persnya sendiri, "Lalu?" tanyanya bingung.
"Kamu tahu kalau keputusan mu itu bisa berdampak pada perkembangan perusahaan," sahut Guntur dengan helaan napas. Walaupun Guntur dan Nathan sudah berteman sejak Sekolah Dasar dan menjadi rival, tapi Guntur sangat mengenal pria payah di hadapannya.
Selain gegabah dan cepat bertindak tampak berpikir dua kali, Nathan memang selalu tepat sasaran namun juga memiliki resiko di setiap langkahnya. Banyak yang menentang keputusan sepihak dari pria itu, termasuk dari para keluarga Airlangga. Cucu kandung dan Putra resmi mereka di singkirkan dan di asingkan, sedangkan Nathan dengan tanpa membicarakan apapun langsung mengangkat pria asing menjadi Putranya.
"Jadi maksud mu, keputusan ku salah?"
"Bukan hanya salah tapi terlalu gegabah, Nathan!" geram seorang Fero, bagaimana dirinya tidak geram melihat tingkah sembrono Nathan?
"Hey! Sopan lah kepada ku bocah!" bentak Nathan menatap sengit Fero yang duduk di hadapannya. Fero berdecih sinis dan menantang Nathan dengan tatapan meremehkan.
"Ayo, kalau mau adu jotos, mungkin mulut mu duluan yang aku pukul!" Fero sudah mengambil ancang-ancang, Berta dengan cepat menahan pria itu untuk tidak membuat ulah.
"Tuan, Nyonya bisa saja mengamuk." hanya dengan menyebut nama Jasmine, Fero seketika terdiam dan berdeham sedikit. Nathan tertawa sinis melihat betapa lucunya tingkah Fero.
"Kalau masih takut istri, jangan berani menantang ku, bocah!"
Guntur memijat keningnya yang berdenyut, ternyata Fero benar-benar duplikat dirinya sewaktu muda, walaupun tak sepenuhnya tapi cukup membuktikan kalau Fero benar-benar darah daging Guntur Halim Darmawangsa.
"Aku melakukan itu agar Arya mau kembali ke kota, lagipula sampai kapan aku menunggu Hendra berubah? Anak itu tidak memikirkan ku dan perusahaan ku, dia memilih pria gemulai itu, Guntur!" ucapan Nathan ada benarnya, Hendra adalah anak semata wayangnya dengan mendiang istrinya. Dan hanya Hendra yang ia harapkan saat itu, tapi harapannya pupus mengetahui anaknya seorang menyimpang.
"Itu bentuk karma nyata karena dirimu sudah berbuat jahat kepada ku,"
Nathan mengangguk membenarkan ucapan Guntur, pria itu bangun dan menatap ke lantai dua, di mana ternyata Arya mendengar perbincangan mereka bertiga sedari tadi.
"Perlu aku ikut bicara, Ayah?"
Guntur dan Fero menadah terkejut, mereka tak menyangka kalau Arya berada di mansion. Arya turun bersama Wira yang mengikutinya, pria itu tersenyum hangat menyapa Ayah mertua dari Anjani.
"Halo Paman Fero dan Kakek Guntur. Selamat datang di kediaman Ayah Nathan,"
Guntur mengaga melihat penampilan Arya yang sangat tampan dari sebelumnya. Wajahnya yang kekar, otot lengan yang menonjol, kemeja hitam yang membuat kulit setengah gosong itu terlihat.
"Kamu di sini?" tanya Guntur setelah itu. Arya mengangguk dan menatap Nathan yang tersenyum miring di belakang sana.
"Nak, kamu harus tahu kalau kami bertiga bersengkongkol menjalani drama." kata Nathan yang mengisyaratkan Arya untuk duduk. "Aku dan Guntur dulu adalah teman sekolah, kami memang rival tapi kami benar-benar tidak memiliki niat jahat."
"Kalau kamu tidak memiliki niat jahat, untuk apa kamu merebut tamu ku hah?!" Guntur menunjuk wajah Nathan dengan gelas wine miliknya, dirinya sangat kesal mendengar ucapan pria di depannya.
Nathan terkekeh geli dan menyeruput minumannya, "C'mon dude, itu bukan permasalahan utama. Lagipula keluarga Darmawangsa dan Airlangga sudah berseteru sedari dulu, aku hanya ingin mereka percaya kalau kita masih berseteru." jelas pria itu melirik Arya yang diam mendengarkan.
"Itu artinya semuanya hasil rekayasa kalian bertiga?"
Nathan, Fero, dan Guntur saling melempar pandangan. "Tidak juga, selebihnya masih ada campur tangan keluarga lain, Nak." jawab Guntur, sekeras apapun mereka menjelaskan tentang kerugian yang mungkin akan di terima dari perseteruan ini, keluarga tak ada yang mengerti.
Jadi semuanya hasil persengkongkolan mereka bertiga?
...****************...
Nathan memberikan sebuah berkas kepada Arya, setalah kepulangan Fero dan Guntur dari kediaman pribadinya, Nathan meminta Wira untuk ikut juga dengannya ke dalam ruang kerja.
"Setidaknya kamu harus tahu tentang ini," Wira hanya melirik dan memperhatikan Arya yang membawa berkas.
"Tuan Nathan, saya mendapatkan laporan kalau Tuan Hendra ...."
"Aku sudah tahu, hanya Arya yang belum mengetahuinya." Wira terdiam mendengarnya, hingga Arya menutup berkas itu dengan perasaan kesal.
"Hendra memalsukan surat kesehatan Tiara?" tanya Arya dengan ekspresi dingin. Walaupun Arya tak mengenal siapa itu Tiara secara pasti, namun ia dapat menerka kalau Tiara masih ada hubungannya dengan Arnold.
Nathan mematikan rokok dan melempar sebuah korek api kepada Wira, pria itu menerimanya dengan senang hati dan menyulut rokok miliknya. "Saya sudah mengamankan orang-orang yang membantu Tuan Hendra, Tuan." kata Wira dengan santai.
Nathan mengangguk dan melirik Arya yang masih kebingungan, "Tiara dan Arnold berteman sejak kecil, dia putri dari Arthur dan Mira. Tiara yang membuat Arjuna tewas di kolam renang, Arnold memiliki trauma sejak kejadian itu, dan Tiara memiliki masalah kejiwaan karena terobsesi dengan Arnold."
Penjelasan singkat dari Nathan membuat Arya semakin terdiam, pria itu merasa tak nyaman mendengar nama Tiara adalah sahabat kecil dari Arnold. Arya takut kalau nyawa Adiknya dalam bahaya karena ulah wanita itu.
"Ayah, apakah pemikiran ku tentang Tiara salah?"
Wira memilih untuk keluar, membiarkan Ayah dan anak itu saling bertukar cerita. Nathan menaikkan alisnya bingung, "Apa?"
"Aku merasa ada satu hal yang Arnold belum ceritakan tentang Tiara," guman pria itu membuat Nathan mengulas senyum. Pria itu mendekati Arya dan menepuk pundaknya pelan.
"Katakan apa itu, Nak?"
Arya bungkam, ia tahu kalau Nathan pasti sudah mengetahui semuanya tentang Tiara. Melihat diamnya Arya, Nathan mengangguk dan terduduk kembali di tempatnya.
"Aku akan menghukum Hendra, atau mungkin membuatnya mempertanggungjawabkan perbuatannya." Nathan tak mengatakan apapun setelah itu, pria itu berkutat kembali dengan berkas pekerjaannya, Arya keluar dengan perasaan kesal.
Ia mengira kalau Hendra akan jera setelah dirinya mengambil semua harta atas namanya, ternyata Arya terlalu memandang remeh Hendra selama ini. Pria itu menatap Wira yang sedang merokok di ruangan terbuka.
"Wira!"
Wira tersentak terkejut dan cengengesan karena kepergok merokok. "Maaf, Tuan. Ada yang perlu saya bantu?"
"Ya, aku memiliki misi untuk mu." kata Arya dengan sinis senyumannya, "rebut ponsel pria itu dan retas."
Wira mematikan rokok dan bergegas pergi, ia harus cepat menyelesaikan tugas yang di berikan oleh Arya. Karena ia mengerti dan paham betul sikap anak dari Nathan itu. Melihat perginya Wira, Arya menarik napas panjang. Dirinya terlalu gegabah meminta Wira melakukan hal itu, Arya jadi teringat dengan pembicaraan ketiga pria tadi.
"Persengkongkolan?" Arya terdiam lama mendengar kalimat itu, yang ia tahu kalau keluarga Darmawangsa dan Airlangga memang sudah berseteru bisnis sedari dulu, dan yang di katakan oleh Guntur juga sama.
Pria itu mengeluarkan ponsel dan segera menelpon seseorang, dirinya harus menemukan jawaban apa perseteruan utama kedua keluarga besar itu termasuk mencari tahu semua masalah yang di sebabkan oleh Hendra.
"Halo, bisa kita bertemu di suatu tempat?"