Syahira tidak pernah membayangkan hidupnya akan berubah secepat ini. Dipaksa masuk sebuah Kampus yang menjurus segalanya tentang agama yang diyakininya. ia mengikuti satu keyakinan mengikuti ayahnya. Ia harus menghadapi dunia yang sama sekali asing baginya. Hafalan panjang, kitab tebal dan Dosen,..yang tidak memberi ruang untuk gagal. Masalahnya bukan itu,..melainkan yang menjadi faktor utama adalah ada pada sang Dosen itu sendiri yang mengajarnya yaitu Abang iparnya sendiri. Ditengah tekanan yang terus menumpuk, kedekatan yang tidak seharusnya,..justru malah tumbuh seiring berjalannya waktu. Mereka lupa ada seseorang yang sudah lebih dulu menyimpan luka.
Kakaknya yang bernama Feryal wanita tomboy satu ini yang terlihat kuat tapi sebenarnya ia begitu rapuh telah banyak menyimpan luka sejak dirinya masih kecil. dan ketika sebuah kebenaran akhirnya terkuak, pilihannya harus dibuat, bukan siapa yang paling dicintai melainkan siapa yang tetap dipilih, bahkan setelah semuanya hancur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gurania Zee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 26
Sore mulai beranjak menuju malam ketika Feryal keluar dari kafe. Langit diatas Jakarta berwarna jingga, seolah sengaja melukis perpisahan yang lembut antara siang dan malam. Ia berjalan perlahan menuju mobilnya, akan tetapi langkahnya terasa jauh lebih ringan dibanding saat datang tadi.
Percakapannya dengan sang mama masih terngiang jelas di benaknya. Bukan jawaban mutlak yang ia dapat, melainkan sesuatu yang lebih berharga dari sekedar pemahaman.
Untuk pertama kalinya Feryal merasa tidak perlu terburu-buru menentukan segalanya. Ia hanya perlu jujur pada dirinya sendiri dan memberi ruang bagi hatinya untuk benar benar memahami apa yang diyakininya.
Sesampainya di rumah, suasana terasa hangat aroma masakan dari dapur menyambut kedatangannya, sementara suara televisi terdengar pelan dari ruang keluarga. Fahrizal tengah duduk disofa sambil membaca beberapa berkas, kacamata bertengger diujung hidungnya.
"Sudah pulang?" tanyanya sambil menoleh. Feryal mengangguk, lalu menghampirinya ayahnya. "Sudah, yah."
Fahrizal memperhatikan putrinya beberapa detik. Ada sesuatu yang berbeda dari raut wajah Feryal malam itu. Lebih tenang dan damai.
"Pertemuannya bagaimana?." Feryal duduk disampingnya pelan, seolah memahami tanpa perlu penjelasan panjang.
"Kadang," ujarnya kemudian, "yang kita butuhkan bukan jawaban yang serba pasti, tapi keberanian untuk mendengarkan semua sudut pandang.
Feryal menoleh. Kalimat itu begitu selaras dengan apa yang baru saja ia rasakan. "Bunda bilang, aku tidak harus menjadi salinan siapapun, tidak mama, tidak juga ayah."
Fahrizal tersenyum hangat. "Karena memang begitu seharusnya. Abi dan bunda hanya bisa menunjukkan jalan. Tapi yang akan melangkah adalah kamu sendiri."
Feryal menunduk, meresapi kata kata itu. Selama ini, ia terlalu sibuk memikirkan pilihan mana yang akan membuat semua orang bahagia. Padahal keputusan sebesar itu pada akhirnya harus lahir dari keyakinan pribadinya sendiri.
"Aku masih butuh waktu," katanya jujur.
"Dan itu tidak apa apa." jawab Fahrizal lembut.
"Keputusan terbaik biasanya tidak lahir dari tergesa gesa."
"Malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Feryal merasa benar benar tenang. Ia tidak lagi melihat keyakinan sebagai Medan pertentangan, melainkan sebagai perjalan yang harus ia tempuh dengan kesadaran penuh.
Di kamarnya, sebelum tidur, ia membuka jurnal kecil yang selama ini sering ia gunakan untuk menuliskan hal hal penting. Dengan pena ditangan, ia menulis satu kalimat sederhana.
...Aku sedang belajar mengenali jalan yang benar benar kupilih sendiri....
Setelah menutup jurnal itu, Feryal tersenyum. Perjalanannya mungkin belum sepenuhnya ia temukan. Namun setidaknya kini ia tau, ia sedang berproses ke arah yang tepat.
Ditempat lain, malam juga membawa ketenangan bagi Syahira. Percakapannya dengan Kaizan semakin sering, semakin akrab dan tanpa ia sadari kehadiran pria itu mulai menjadi bagian kecil yang ia nantikan setiap hari.
Sementara itu, Bilal berdiri didepan jendela ruang kerjanya, memandangi langit malam dengan pikiran yang tak kalah penuh. Ada perasaan yang mulai tumbuh, perlahan namun pasti perasaan yang mungkin akan mengubah banyak hal.
Dan diantara semua perjalanan itu, masing masing dari mereka sedang belajar hal yang sama, bahwa hidup bukan tentang memilih jalan yang paling mudah, melainkan jalan yang paling jujur bagi hati dan keyakinan mereka.
Untuk pertama kalinya, ia merasa tidak sedang berdiri di persimpangan yang membingungkan, melainkan di awal sebuah perjalanan yang akan ia pilih sendiri.
Ia duduk beberapa saat di dalam mobil tanpa langsung menyalakan mesin. Jemarinya bertumpu diatas kemudian, sementara pikirannya kembali mengingat setiap kata yang baru saja ia dengar. Tidak ada paksaan, tidak ada tuntutan untuk memilih dengan tergesa. Hanya sebuah pengingat bahwa keyakinan, seperti halnya hidup, adalah perjalanan yang harus ditempuh dengan kesadaran.
Sesampainya dirumah, suasana terasa tenang. Menghadirkan kehangatan yang selalu membuatnya merasa pulang. Saat melangkah masuk, ia mendapati Bilal sedang duduk diruang keluarga dengan sebuah buku terbuka ditangannya. Namun dari caranya memegang buku itu, Feryal tahu suaminya tidak benar benar sedang membaca.
Bilal mengangkat kepala ketika mendengar langkahnya. Tatapan mereka bertemu sesaat. Tidak ada kecanggungan seperti sebelumnya, tetapi masih ada jarak tipis yang belum sepenuhnya terjembatani.
"Bagaimana pertemuanmu?" tanya Bilal akhirnya. Feryal meletakkan tasnya di atas meja, lalu duduk di sofa seberang. "Baik kok." Bilal mengangguk pelan. Ia tampak ingin bertanya lebih jauh, tetapi memilih nunggu.
Inilah waktunya, bukan untuk menyelesaikan semuanya sekaligus akan tetapi untuk memulai kembali. "Aku banyak belajar hari ini," ujarnya. "tentang pilihan. Tentang bagaimana setiap orang punya perjalanan masing masing."
Bilal menutup bukunya kali ini ia berusaha untuk memberikan perhatian penuh pada Feryal. "Dan aku sadar," lanjut Feryal, bahwa selama ini aku terlalu sibuk mempertahankan sudut pandangku sendiri. Sampai lupa bahwa kamu pun punya harapan dan kegelisahanmu sendiri."
Raut wajah Bilal pun melembut, "aku juga begitu. Aku terlalu fokus pada apa yang kupikir terbaik, sampai lupa bahwa keyakinan tidak bisa tumbuh dari tekanan."
Keheningan yang tercipta kali ini terasa berbeda. Bukan dingin seperti biasanya melainkan hangat seperti ruang yang akhirnya terbuka untuk saling memahami satu sama lain.
Feryal tersenyum tipis. "Aku belum punya semua jawabannya sekarang. Tapi aku ingin menemukannya dengan caraku sendiri."
Bilal balas tersenyum, matanya dipenuhi ketulusan saat ini. "Dan aku akan tetap disini Fey, menemanimu bukan untuk menentukan jalanmu lagi, tapi untuk berjalan disamping mu hmm."
Kalimat itu membuat hati Feryal menghangat. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa bahwa mereka kembali berbicara sebagai orang yang saling mencintai, buka dua pihak yang saling mempertahankan egonya masing-masing.
Malam.itu, tidak ada perdebatan panjang. Tidak ada tuntutan untuk segera mencapai kesimpulan. Hanya ada dua hati yang perlahan belajar kembali untuk saling mendengar.
Bilal berdiri dari kursinya, berjalan mendekat ke arah istrinya yang sedang menyisir mengambil baju ganti di dekat almari.
Kerinduannya menyelimuti hari harinya yang selama ini diliputi kegundahan, Berjalan mendekat dan menarik tangan Feryal dan membawanya kedalam pelukannya hingga nafas mereka pun beradu.
"Fey, Abang kangen."
Menghirup aroma tubuh Feryal istrinya yang sudah lama tidak sampai sedekat ini. "Maaf."
Feryal terdiam membeku, feryal pun membiarkan Bilal terhanyut dalam pelukannya. Hanya ditemani nafas yang menderu diiringi detak jantung yang terus berpacu.
Tidak ada perbincangan lagi diantara keduanya, seolah terbawa suasana Bilal pun membelai wajah cantik Feryal yang semakin cantik saja menurutnya dan baru ia sadari setelah sekian lama.
"Fey."
"Hmm."
"Aku ingin memiliki keturunan, apa kamu keberatan?."
Deg. Bak tersambar petir feryal mendengarnya.
Feryal terkesiap dibuatnya, sungguh ucapan dari Bilal tidak pernah ia duga sebelumnya. Keduanya pun hanya saling diam dengan saling menatap lekat dengan membawa pikirannya masing masing.