Seorang anak yatim yang tumbuh tanpa arah…
kembali sebagai sosok yang tak bisa diabaikan.
Bima pemuda sederhana dengan senyum tenang, pulang ke kampung halamannya setelah bertahun-tahun merantau. Ia hanya ingin hidup damai… membuka tempat latihan, dan menjalani hari seperti orang biasa.
Namun kampung itu… sudah berubah.
Di balik senyapnya desa, kekuasaan gelap mengakar. Orang-orang tak lagi bebas. Ketakutan bersembunyi di setiap sudut.
Dan tanpa ia sadari…
kepulangannya justru mengusik sesuatu yang seharusnya tetap terkubur.
Diserang tanpa alasan. Diawasi tanpa henti.
Bahkan darahnya sendiri… menginginkan kematiannya.
Tapi mereka melakukan satu kesalahan besar.
Mereka mengira Bima masih belum bangkitkan yang ada dalam dirinya.
Padahal…
di balik sikap polosnya, tersembunyi kekuatan yang besar dalam dirinya yang sedang terkunci.
Saat kegelapan mulai bergerak…
dan para pemburu datang mengincar…
Bima tidak lagi berlari.
Ia berdiri.
Dan untuk pertama kalinya, dunia akan melihat kembangkitan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhin Pasker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEBANGKITAN
WUSH!!!
Sosok misterius itu muncul tepat di hadapan Bima.
Tanpa jeda.
Tanpa peringatan.
DUK!!!
Pukulan mereka bertabrakan di udara.
Gelombang tekanan menyebar ke segala arah.
Tanah di bawah kaki mereka… hancur.
Di belakang
“FORMASI!” teriak Andi.
Wahyu langsung mengatur posisi.
“Lingkar luar, lindungi warga!”
Randy dan Dimas bergerak cepat.
Mereka membentuk barisan.
Warga dikumpulkan di tengah.
Bayu berdiri di depan.
Menjadi tameng pertama.
Beberapa orang berpakaian hitam menyerang.
Namun
BRAK!
DUK!
Andi menangkis.
Randy membalas dengan ayunan keras.
Dimas menjatuhkan satu lawan dari belakang.
Wahyu menjaga celah.
Mereka tidak sempurna.
Namun
mereka bertahan.
Kembali ke pusat
Bima dan sosok misterius itu tidak berhenti, Serangan demi serangan.
Cepat.
Keras.
Tanpa celah.
Namun
mata Bima mulai berubah lagi.
Lebih dalam.
Lebih kosong.
Sosok misterius itu menyadarinya.
Ia tersenyum tipis di tengah benturan.
“Ya… itu dia…” gumamnya.
“Mulai muncul…”
DUARR!!!
Benturan besar kembali terjadi.
Namun kali ini
Bima tidak mundur sama sekali.
Sebaliknya sosok misterius itu terdorong.
Satu langkah.
Untuk pertama kalinya ia terlihat terkejut.
“Kau…” bisiknya pelan.
Bima menunduk sedikit.
Napasnya masih tenang.
Namun
urat di lehernya mulai terlihat.
Dan matanya…
perlahan kehilangan warna aslinya.
Di belakang
Bayu melirik ke arah Bima.
“Ada yang salah…” ucapnya pelan.
Andi mengangguk.
“Itu bukan cuma marah…”
Dimas menelan ludah.
“Dia… seperti kehilangan kendali…”
Tiba-tiba
WUSH!!!
Bima menghilang.
Lebih cepat dari sebelumnya.
Lebih liar.
Lebih… tidak teratur.
BRAK!!!
DUK!!!
BRUK!!!
Serangan datang dari segala arah.
Sosok misterius itu menangkis namun mulai kewalahan.
Satu pukulan mengenai bahunya.
Satu lagi di rusuk.
Ia mundur.
Dua langkah.
“Ini… bukan kecepatan biasa…” gumamnya.
Bima muncul di belakangnya.
Tanpa suara.
“Sudah kubilang…” ucapnya dingin.
“Ini akan berakhir.”
DUARR!!!
Satu pukulan telak menghantam tubuh sosok misterius itu terpental.
Menghantam pohon, Pohon itu… patah.
Warga terdiam.
Randy sampai tidak percaya.
“Itu… manusia…?” gumamnya.
Namun
di tengah reruntuhan sosok misterius itu… tertawa.
Pelan.
Lalu semakin keras.
“HAHAHA…”
Ia berdiri perlahan.
Darah mengalir dari mulutnya.
Namun
senyumnya kembali.
Lebih lebar.
Lebih gila.
“Bagus…” katanya.
“Benar-benar bagus…”
Ia menatap Bima.
“Jadi… ini yang mereka takutkan.”
Bima tidak menjawab.
Namun
di dalam dirinya sesuatu mulai retak.
Kilasan…
Api.
Teriakan.
Wajah ibunya.
Darah.
“LARI… BIMA…!!”
Bima memegang kepalanya.
Sedikit.
Namun cukup terlihat.
Sosok misterius itu menyadarinya.
“Ya…” katanya pelan.
“Itu dia…”
“Rasa sakit itu…”
“Biarkan dia keluar.”
“DIAM!!” bentak Bima.
Untuk pertama kalinya emosinya benar-benar meledak.
DUAARRR!!!
Aura Bima meledak lebih besar.
Lebih gelap.
Lebih liar.
Di belakang angin berputar keras.
Warga sampai harus menahan diri.
“Ini… gila…” ucap Wahyu.
Namun
yang lebih mengerikan mata Bima.
Sekarang…
benar-benar berubah.
Sosok misterius itu tersenyum puas.
“Akhirnya…” katanya pelan.
“Aku berhasil membangunkannya…”
Andi terkejut.
“Maksudnya…?”
Sosok misterius itu tertawa kecil.
“Kalian pikir… ini kebetulan?” katanya.
“Semua ini… sudah direncanakan.”
Ia menunjuk ke arah Bima.
“Termasuk… kemarahannya.”
Bima terdiam.
Namun tubuhnya…
masih bergetar.
“Sejak awal…” lanjutnya,
“kami hanya menunggu…”
“sampai dia kehilangan kendali.”
Bayu mengepal tangan.
“Kurang ajar…”
Namun
sebelum mereka sempat bergerak Bima melangkah.
Pelan.
“Kalau ini… yang kalian mau…” ucapnya pelan.
Suaranya berubah.
Lebih berat.
Lebih dalam.
Ia mengangkat kepalanya.
Dan menatap lurus.
“…kalian tidak akan bisa menghentikannya.”
WUSH!!!
Dalam satu kedipan mata Bima sudah di depan sosok misterius itu.
DUAARRR!!!
Benturan berikutnya lebih besar dari sebelumnya.
Lebih menghancurkan.
Tanah pecah.
Udara bergetar.
Dan malam itu benar-benar berubah menjadi medan perang.
Namun di balik semua kekacauan itu…
Pak Kades yang hampir tak sadarkan diri…
berbisik pelan.
“Bima…”
matanya samar,
“jangan… hilang…”
Dan di kejauhan sosok-sosok yang mengamati itu…
kini mulai bergerak.
Salah satu dari mereka berkata pelan,
“Kalau dia sepenuhnya bangkit…”
“kita semua… dalam bahaya.”
Angin berhembus lebih kencang.
Dan cerita ini baru saja memasuki tahap yang jauh lebih berbahaya.