NovelToon NovelToon
PASHAM

PASHAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horor / Epik Petualangan
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Bp. Juenk

Tio Wirawan, seorang solo climber arogan, tersesat dan terluka parah di Gunung Slamet.

Terisolasi tanpa bantuan, ia berjuang melawan lapar, infeksi, dan dingin yang perlahan merenggut hidupnya.

Namun saat kematian semakin dekat, ia menemukan sesuatu yang mustahil: sebuah desa misterius yang tidak ada di dunia manusia.

Di sana, Tio dihadapkan pada sebuah kebenaran—ia tidak hanya tersesat di gunung, tetapi di antara dua alam.

Ketika ia akhirnya kembali, secara tak masuk akal muncul di kaki Gunung Ciremai, Arya sadar ia telah diberi kesempatan kedua. Tapi sebagian dari dirinya tertinggal di tempat itu—di Pasham, tempat di mana manusia harus tersesat untuk benar-benar menemukan jalan pulang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pelepasan (hari ke 25)

Hari kelima di Desa Tenganan.

Tio duduk di tepi kabut yang menjadi batas desa, memandangi kepekatan putih di depannya. Di belakangnya, suara gamelan malam masih samar terdengar, meski sekarang sudah menjelang pagi. Ia tidak tidur semalaman. Pikirannya terlalu sibuk.

Lima hari di desa ini. Lima hari bersama makhluk-makhluk yang bukan manusia. Lima hari kedamaian yang tidak pernah ia rasakan seumur hidupnya.

Tubuhnya sudah pulih sepenuhnya. Kaki kanannya—yang dulu bengkak infeksi, yang digerogoti tikus, yang nyaris membuatnya mati—kini bisa berjalan normal.

Luka-lukanya tinggal bekas. Wajahnya tidak sekurus dulu, berkat makan teratur dari Mbok Ranti. Ia bahkan merasa lebih sehat dari sebelumnya.

Tapi hatinya... hatinya berkecamuk.

Ia betah di sini. Sangat betah. Tidak ada tekanan, tidak ada tuntutan, tidak ada pengkhianatan. Orang-orang—makhluk-makhluk—di sini baik padanya.

Mereka tidak menanyakan masa lalunya. Tidak menghakimi. Hanya menerima.

Tapi di dalam hatinya yang paling dalam, ada suara yang tak bisa ia matikan. Suara ibunya.

"Kapan kowe mulih, Le?" (Kapan kamu pulang, Nak?)

"Mikir apa, Le?"

Tio menoleh. Ki Jaga berdiri di sampingnya, menatap kabut dengan mata tajam itu. Entah sejak kapan ia ada di sana.

"Mikir mulih, Mbah." (Mikir pulang, Kakek.)

Ki Jaga mengangguk, seolah sudah menduga.

"Wis wayahe?" (Sudah waktunya?)

Tio diam lama. "Aku... aku betah neng kene, Mbah. Tentrem. Ora ono sing ngganggu. Tapi..."

(Aku betah di sini, Kakek. Tentram. Tidak ada yang ganggu. Tapi...)

"Nanging?"

Tio menunduk. "Ibuku neng kono. Bapakku. Sedulurku. Wis rong taun ora ketemu. Wis rong taun aku ngapusi. Wis wayahe aku bali, Mbah. Wis wayahe aku ngadhepi kabeh."

(Ibuku di sana. Bapakku. Keluargaku. Sudah dua tahun tidak bertemu. Sudah dua tahun aku berbohong. Sudah waktunya aku pulang, Kakek. Sudah waktunya aku hadapi semua.)

Ki Jaga tersenyum. Senyum bangga, seperti kakek yang melihat cucunya dewasa.

"Pinter, Le. Kowe ngerti sing bener." (Pintar, Nak. Kamu tahu yang benar.)

Tio menatapnya. "Mbah... kowe gelem nuduhake dalan metu?" (Kakek... kamu mau menunjukkan jalan keluar?)

Ki Jaga mengangguk. "Gelem. Nanging ono siji syarate." (Mau. Tapi ada satu syarat.)

"Syarat apa, Mbah?"

Ki Jaga menatapnya tajam—lebih tajam dari biasanya. "Kowe kudu ninggalake barang seko dunyamu sing isih ono. Kabeh."

(Kamu harus meninggalkan barang dari duniamu yang masih ada. Semua.)

Tio mengerutkan kening. Barang dari dunianya? Apa yang masih ia miliki?

Ia meraba kantong celananya—satu-satunya pakaian yang tersisa, selain kemeja robek yang ia pakai. Dari kantong, ia mengeluarkan benda-benda yang selama ini selalu ia bawa, bahkan saat terlunta di hutan.

Sebuah dompet kulit tua. Isinya sudah tidak ada—uangnya habis, kartu-kartunya mungkin sudah tidak berlaku. Tapi dompet itu pemberian ayahnya saat ia lulus kuliah.

Sudah 6 tahun menemani.

Sebuah cincin perak di jari manis kiri. Bukan cincin tunangan—hanya cincin biasa, hadiah dari ibunya saat ia merantau ke Jakarta.

"Pengeling-eling, Le. Supaya kowe eling omah." (Kenang-kenangan, Nak. Supaya kamu ingat rumah.)

Dan tongkat bambu pemberian Pak Giman. Satu-satunya benda yang benar-benar menyelamatkan nyawanya di hutan.

Tiga benda. Tiga barang dari dunianya. Tiga pengingat tentang siapa dirinya, dari mana ia berasal, dan apa yang telah ia lalui.

"Ini, Mbah? Hanya ini yang tersisa."

Ki Jaga memandangi benda-benda itu. "Kowe ngerti opo tegese barang-barang kuwi?"

(Kamu tahu apa artinya barang-barang itu?)

Tio mengangguk. "Dompet seko bapak. Cincin seko ibu. Tongkat seko wong sing mbiyantu aku."

(Dompet dari ayah. Cincin dari ibu. Tongkat dari orang yang menolongku.)

"Lan tegese kanggo kowe?" (Dan artinya untukmu?)

Tio diam. Ia tidak pernah memikirkan itu. Benda-benda itu hanya... ada. Teman perjalanan. Pengingat.

Ki Jaga melanjutkan, "Barang-barang kuwi ora mung barang, Le. Kuwi tali sing nggandeng kowe karo masa lalumu. Kuwi ego, kuwi identitas, kuwi roso isih nduweni. Kanggo bali, kudu ngeculke kabeh."

(Barang-barang itu bukan hanya barang, Nak. Itu tali yang mengikatmu dengan masa lalumu. Itu ego, itu identitas, itu rasa masih memiliki. Untuk kembali, harus melepas semua.)

Tio memandangi benda-benda di tangannya. Dompet tua, cincin perak, tongkat bambu. Tiga benda sederhana yang menyimpan begitu banyak makna.

"Tapi Mbah... ini pemberian orangtuaku. Ini..."

Ki Jaga mengangkat tangan, menghentikannya.

"Aku ora ngomong kowe lali wong tuomu. Ora ngomong kowe lali sopo sing mbantu. Ning kanggo bali, kudu siap miwiti anyar. Koyo bayi lahir, ora nggowo opo-opo."

(Aku tidak bilang kamu lupa orang tuamu. Tidak bilang kamu lupa yang menolongmu. Tapi untuk kembali, harus siap mulai baru. Seperti bayi lahir, tidak membawa apa-apa.)

Tio terdiam. Bayi lahir. Tidak membawa apa-apa. Memulai hidup baru.

"Kanggo bali neng dunyomu, kudu ngeculke kabeh sing nggandeng kowe neng kene. Ego, wedi, isin, kabeh kudu diculke. Barang-barang kuwi simbol. Yen kowe isih nyekel kuwi, atimu isih neng kene. Ora bakal iso bali tenanan."

(Untuk kembali ke duniamu, harus melepas semua yang mengikatmu di sini. Ego, takut, malu, semua harus dilepas. Barang-barang itu simbol. Kalau kamu masih memegang itu, hatimu masih di sini. Tidak akan bisa kembali sungguhan.)

Matahari mulai naik di ufuk timur, menembus kabut tipis. Desa Tenganan mulai hidup. Suara ayam, suara orang beraktivitas, samar-samar terdengar.

Tio masih duduk di tepi kabut, memandangi tiga benda di tangannya. Air mata mengalir di pipinya.

Dompet ayah. Ayah yang bekerja keras membiayai kuliahnya. Ayah yang selalu bangga padanya. Ayah yang tidak tahu bahwa anaknya sekarang bangkrut, gagal, terlunta.

Cincin ibu. Ibu yang selalu menelepon, selalu bertanya kabar, selalu percaya pada kebohongannya. Ibu yang tidak tahu bahwa anaknya selama dua tahun hanya berpura-pura sukses.

Tongkat Pak Giman. Orang tua di basecamp yang sudah memperingatkannya. Yang memberinya tongkat ini. Yang mungkin sekarang sudah melaporkannya hilang.

"Ini... ini berat, Mbah," isaknya.

Ki Jaga duduk di sampingnya, meletakkan tangan keriput di bahunya.

"Kuwi abot, Le. Nanging kudu. Kanggo urip anyar, kudu mati kanggo sing lawas."

(Itu berat, Nak. Tapi harus. Untuk hidup baru, harus mati untuk yang lama.)

Tio menarik napas panjang. Ia memandangi kabut di depannya, lalu benda-benda di tangannya.

Satu per satu, ia meletakkannya di tanah.

Dompet tua. Cincin perak. Tongkat bambu.

Tiga benda itu tergeletak di batas antara desa dan kabut. Tiga simbol masa lalu yang harus ia tinggalkan.

Ia berdiri, memandanginya lama. Air mata masih mengalir.

"Maturnuwun, Bapak. Maturnuwun, Ibu. Maturnuwun, Pak Giman. Aku... aku bakal bali. Bakal dadi wong anyar."

(Terima kasih, Ayah. Terima kasih, Ibu. Terima kasih, Pak Giman. Aku... aku akan pulang. Akan jadi orang baru.)

Ki Jaga tersenyum. "Wis, Le. Saiki kowe siap." (Sudah, Nak. Sekarang kamu siap.)

Mereka berjalan ke dalam desa, meninggalkan tiga benda itu di tepi kabut. Tio tidak menoleh ke belakang. Ia sudah melepasnya. Sekarang, hanya masa depan yang ada di depannya.

Di gubuk Ki Jaga, Mbok Ranti sudah menyiapkan bekal—makanan sederhana untuk perjalanan. Bukan banyak, tapi cukup. Ia memeluk Tio erat.

"Ati-ati, Le. Mugo-mugo slamet tekan omah." (Hati-hati, Nak. Semoga selamat sampai rumah.)

Tio memeluknya balik. "Maturnuwun, Mbok. Kanggo kabeh." (Terima kasih, Mbok. Untuk semuanya.)

Ki Jaga berdiri di pintu. "Ayo, Le. Dituduhke dalane." (Ayo, Nak. Kutunjukkan jalannya.)

Mereka berjalan melewati desa, melewati pasar yang sepi, melewati rumah-rumah bambu. Penduduk desa melihat mereka lewat—beberapa tersenyum, beberapa mengangguk. Tio merasa seperti berpamitan dengan tetangga lama.

Di ujung desa, kabut lebih tebal dari biasanya. Hampir tidak tembus pandang.

Ki Jaga berhenti. "Ing kene, Le. Kowe kudu mlebu dhewe." (Di sini, Nak. Kamu harus masuk sendiri.)

Tio menatap kabut itu. "Aku mlebu, Mbah? Terus ketemu apa?"

Ki Jaga tersenyum. "Kowe bakal mlaku ing antarane dunya. Iso weruh masa lalu, Iso weruh masa depan, Iso weruh akeh perkoro. Sing penting, ojo noleh mburi. Terus mlaku nganti metu."

(Kamu akan berjalan di antara dunia. Bisa melihat masa lalu, bisa melihat masa depan, bisa melihat banyak hal. Yang penting, jangan menoleh ke belakang. Terus jalan sampai keluar.)

Tio mengangguk. Ia menarik napas panjang.

"Mbah... maturnuwun. Kanggo kabeh." (Kakek... terima kasih. Untuk semuanya.)

Ki Jaga menepuk pundaknya. "Wis, Le. Mlaku. Urip anyar wis nunggu." (Sudah, Nak. Jalan. Hidup baru sudah menunggu.)

Tio melangkah ke dalam kabut. Satu langkah, dua langkah, tiga langkah. Kabut menyelimutinya, dingin, tapi tidak mencekam.

Ia tidak menoleh ke belakang.

Di belakangnya, Ki Jaga masih berdiri, memandangi kabut yang perlahan menutup sosok Tio. Senyum di wajahnya.

"Wis dalane, Le. Wis dalane." (Sudah jalannya, Nak. Sudah jalannya.)

Di tepi desa, di batas antara dunia, tiga benda masih tergeletak di tanah. Dompet tua, cincin perak, tongkat bambu.

Perlahan, benda-benda itu mulai memudar, berubah menjadi kabut, lalu menghilang.

Seperti masa lalu yang harus dilepas.

Seperti hidup lama yang harus mati.

Di dalam kabut, Tio berjalan. Tidak tahu ke mana, tapi ia percaya.

Ia akan pulang.

1
tׁׁׅׅhׁׁׅׅ֮֮ɑׁׅᥣׁׅ֪ɑׁׅׅ
baca sekarang jadi lupa alur😭😭
tׁׁׅׅhׁׁׅׅ֮֮ɑׁׅᥣׁׅ֪ɑׁׅׅ
lanjuut/Determined//Determined/
tׁׁׅׅhׁׁׅׅ֮֮ɑׁׅᥣׁׅ֪ɑׁׅׅ
By the way, Thor, di deskripsi ceritanya kenapa pas paragraf keempat dan seterusnya nama MC-nya jadi Arya, ya? Atau ada dua MC?/Hey/
Bp. Juenk: 🤭 iya nih Kk typo dr tokoh di novel pf yg lain. thanks koreksi nya kakak
total 1 replies
tׁׁׅׅhׁׁׅׅ֮֮ɑׁׅᥣׁׅ֪ɑׁׅׅ
mulai creepy... /Skull/
tׁׁׅׅhׁׁׅׅ֮֮ɑׁׅᥣׁׅ֪ɑׁׅׅ
apa yang kamu tabur, itu yang kamu tuai
한스Hans
Thor paragraf nya bisa di buat agak pendek GK 🤦 kepanjangan 🤦 , udah mampir Thor... mampir ya ke Switch-On 😄🤦
Bp. Juenk: siap. thanks supportnya 🙏
total 1 replies
Halwah 4g
mantap kaaaaa...karya baru lagi..sekrg dengan tema horor mengangkat tema pendakian...💪💪💪 semngat ka
Bp. Juenk: terimakasih Kaka
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!