Seorang pria muda, yang menyukai wanita lebih tua darinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dutta Story_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
-
Waktu terus berjalan.
Tepat pukul sebelas lewat, saat jam pelajaran pertama berakhir, Laras sudah berada di kantin. dia duduk sendirian. Biasanya dia lebih suka pergi ke restoran,
tetapi suasana hatinya sedang hancur berantakan karena Arif yang tak memberi kabar. Di meja itu, dia merenung hingga pemilik kantin datang membawakan pesanan dan menaruhnya di atas meja. Laras masih terdiam,
Langkah Gea terhenti di depan meja yang ditempati Laras. dia pun duduk dan bertanya, "Tumben nggak ke resto?" tanyanya,
"Malas. Lo juga kenapa nggak ke sana?" Laras bertanya balik, perlahan mengalihkan tatapnya ke gea,
"gue, lagi malas ajah, Ngomong-ngomong, lo ada masalah apa, sih? Gue perhatiin aneh banget. Apa gara-gara semalam?" tanya Gea dengan alis terangkat.
Laras menghela napas. "Bukan, cuma gue merasa aneh ajah sama Arif. hari ini dia nggak masuk sekolah, dia juga nggak ngasih kabar," ucapnya sambil perlahan mengambil sendok dan garpu.
"Positif saja, mungkin dia lagi sibuk."
"mungkin, eumm semalam dia bilang papanya pulang. Apa jangan-jangan karena itu?"
"Bisa jadi. Memang kenapa, sih? Santai saja kali. Lagian gue percaya sama Arif, dia nggak mungkin menduakan orang yang dia sayang,"
"Kok lo bisa percaya, sih?"
"Ya bisa, karena udah lama temenan sama dia. Lagian dia itu orangnya baik."
"Tapi aku rasa seperti ada sesuatu."
"udah, tenangin dulu aja, Yakin sama kata hati, kalau dia nggak seperti orang lain, " Gea lalu berdiri. "Gue pesan makan dulu, ya," ucapnya lalu berlalu menuju kasir.
"ya," Laras sambil menganggukkan kepalanya
***
Sementara itu, Arif sedang duduk berdampingan dengan papa dan mama tirinya di ruang tamu. Arif hanya terdiam dengan pikiran yang terus mencari jalan keluar. Bahkan saat papanya berbicara tentang urusan bisnis, Arif sama sekali tidak mendengarkan.
"Papa mau, Setelah lulus sekolah nanti, Papa mau wariskan sebagian perusahaan Papa sama kamu," ucap papanya dengan senyuman.
"Aku nggak mau apa-apa, Pa," jawab Arif mengalihkan tatapan ke papanya, lalu ke arah mama tirinya.
"Kenapa bicara begitu?" tanya papanya heran karena Arif menolak begitu saja.
"Bukan begitu, Pa. Aku belum kepikiran. Aku punya tujuan sendiri, bukan untuk melanjutkan apa yang Papa punya, tapi aku ingin membangun dari awal agar lebih paham dan lebih luas." Arif berdiri, menghela napas, dan kembali berbicara, "Aku ngantuk, Pa. Mau tidur dulu," ucapnya lalu melangkah pergi.
"Arif, semalam kamu begadang?" tanya papanya menatap kepergian arif.
"Enggak, Pa," jawab Arif tanpa menghentikan langkahnya.
Pak Wiguna merasa bingung. dia mengalihkan pandangan ke Yuli. "Aneh banget. Di luar sana banyak yang ingin hidup tenang," ucapnya.
"udah, Pa. Kita nggak bisa samakan dia dengan orang lain. mama rasa, Arif lebih ingin memulai dari nol, bukan dari atas tanpa dia pahami lebih dalam, Coba papa berikan jalan bukan mewariskan." ucap Bu Yuli menatap Pak Wiguna.
sesaat pak Wiguna, terdiam tanpa sedikit kata, bahkan dalam pikirannya berkata, "kalau mau dia begitu, papa bakalan support dan bantu dia agar berkembang," Gunamanya dalam hati, lalu dia berbicara, "Iya Bu, papa ngerti, kalau mau nya begitu papa bakalan ajarkan dulu agar lebih paham," Jawabnya dengan senyuman,
"Nah, iya papa, mama setuju,"
sementara itu, Arif menutup pintu kamarnya. dia melangkah dan duduk di pinggir ranjang. Perlahan dia membaringkan dirinya,
dengan tatapannya tertuju ke langit-langit kamar, ingatannya kembali pada momen semalam bersama Sasa. Senyum tipis muncul di wajahnya. dia baru pertama kali merasakan hal seperti itu. Bayangan, sentuhan, dan bisikan Sasa terus datang menghantui isi pikirannya.
Tiba-tiba pikiran itu lenyap saat dia teringat Laras. dia langsung duduk dan mengambil ponsel dari saku. Begitu ponsel menyala, terlihat banyak notifikasi pesan yang masuk dari Laras. Arif membukanya.
~Laras: Kamu ke mana, sih?
~Laras: Aku sedih banget.
~Laras: Kenapa kamu nggak sekolah?
Laras sudah mengirim pesan beberapa kali dalam waktu yang berbeda. Arif menghela napas, lalu membalas pesan itu,
~Arif: Maaf sayang, hari ini aku sibuk banget bareng Papa sama Mama.
Arif berhenti mengetik. dia mencoba mencari solusi dan mempertimbangkan keputusan yang harus diambil.
"Argh, bingung banget. Apa aku jauhin dia saja dan lebih fokus sama Sasa? Tapi gimana kalau Sasa tahu aku dekat sama anaknya?" gumamnya dalam hati.
Tak lama, notifikasi masuk ke telepon genggamnya. Pesan dari Laras.
~Laras: Kenapa susah banget sih balesnya?
~Laras: Aku nggak penting ya di hidupmu?
~Arif: Bukan begitu sayang, aku sibuk jadi nggak sempat kabarin kamu.
~Laras: Yasudah, aku maafin. Tapi lain kali kalau sibuk kabarin, biar aku nggak nyariin kamu.
~Arif: makasih sayang, lain kali aku kabarin.
~Arif: Nanti aku chat lagi ya, sayang.
~Laras: Ya. awas kalau kamu gak kabarin aku,
Arif mematikan ponselnya dan meletakkannya di atas ranjang. Pikirannya kembali kacau.
"Bingung, jirr. Dua-duanya cantik, walaupun beda usia. Masalahnya kenapa Laras anaknya Sasa?" gumamnya. "Aku harus memilih satu di antara mereka. Aku rasa Sasa lebih cantik, baik, dan dewasa. Tapi Laras juga cantik dan setia. Kalau aku menyukai Sasa, aku harus gimana sama Laras?"
Tiba-tiba Arif terdiam dan tersenyum. dia menemukan solusi. Dia kembali mengambil telepon genggamnya, lalu dia membuka aplikasi percakapan dan mengirim pesan.
~Arif: Laras.
~Laras: Kok panggil nama, sih?
~Arif: Maaf, aku mau jujur dengan hubungan kita.
~Laras: Kenapa?
~Arif: maaf, Aku nggak bisa lanjut. Papa suruh aku buat nggak pacaran. Maaf, ya.
~Laras: ...
Arif menatap pesan balasan dari Laras dengan bingung. dia mematikan ponsel dan meletakkannya kembali di atas ranjang.
***
Sementara itu, setelah pelajaran di sekolah usai, Laras mengemas tasnya dengan perasaan tidak menentu, dia berdiri dan melangkah keluar kelas. Langkahnya terasa lemas setelah menerima pesan dari Arif.
Di teras sekolah, dia menghentikan langkahnya, menghela napas, lalu duduk di kursi. dia mengambil telepon genggam, lalu kembali membaca pesan dari Arif.
"Kenapa, sih? Baru beberapa hari pacaran, sekarang malah udahan," gumamnya dalam hati.
Gea yang melihat Laras langsung menghampiri dan duduk di sampingnya. "Lo kenapa?" tanyanya.
"Nggak ada apa-apa," jawab Laras tanpa menatap Gea.
"Kalau gue lihat-lihat, lo kayak lagi ada masalah besar. Jujur saja, cerita sama gue." Gea menggeser duduknya dan mengelus bahu Laras.
"Gue putus sama Arif," jawabnya pelan.
"Lho, kok bisa?" Gea terkejut.
"Arif chat begitu. Aku nggak nyangka, baru beberapa hari pacaran tapi malah begini."
"udah, sabar dulu. Gue yakin pasti ada alasannya."
"Hmm."
"sabar ya Laras, kalau gue pulang duluan, ya," Gea lalu berdiri.
"Iya, hati-hati," jawab Laras.
Laras masih duduk, menatap punggung Gea yang menjauh. dia kembali menunduk tatapan ke telepon di tangannya, lalu memesan taksi online untuk pulang,