Shafiya tidak pernah membayangkan hidupnya akan diputuskan oleh orang-orang yang bahkan tidak mengenalnya.
Satu kejadian membawanya masuk ke lingkaran keluarga Adinata--sebuah dunia di mana keputusan tidak dibuat berdasarkan benar atau salah,
melainkan berdasarkan kepentingan.
Ia hamil. Tanpa suami.
Dan itu cukup untuk menjadikannya bagian dari permainan.
Sagara Deva Adinata tidak mencari cinta. Apalagi ikatan. Ia hanya butuh pewaris
agar posisinya tetap tak tergoyahkan.
Dan Shafiya… adalah variabel yang terlalu berharga untuk dilepaskan.
Di balik kesepakatan yang terlihat seperti solusi,
tersimpan kendali, tekanan, dan rahasia yang tidak pernah benar-benar dijelaskan.
Karena di dunia mereka,
yang dipertaruhkan bukan hanya perasaan--melainkan batas antara dosa… dan pahala.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon najwa aini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 Sidang Keluarga
"Anak itu seperti tidak terima dengan pertengkaran ayah dan ibunya," ujar Raka, sembari mengulas senyum.
Sagara menatapnya sesaat. Datar. Tak ada ekspresi yang bisa dibaca. Tatapan itu lalu berpindah ke Shafiya. Maju selangkah, mendekati.
"Masih nyeri?"
Pertanyaan itu membuat Shafiya membuka mata. Menatap Sagara sedikit lebih lama. "Saya menerima pesan dari Ravendra."
Bukan menjawab, tapi memberitahukan hal lain.
Sagara diam, tidak menyela. Namun ada perubahan tipis di tatapannya.
"Satu kalimat singkat." Shafiya melanjutkan ucapannya. "Sampai ketemu di sidang keluarga." Ia menirukan pesan yang diterimanya dari Ravendra.
Shafiya perlahan duduk tegak. Tangannya menyentuh perutnya yang masih sedikit nyeri. "Maknanya jelas. Kamu lebih paham dari siapapun."
Hening sejenak.
"Dia sudah membaca langkahmu. Manipulasi data." Shafiya mengambil satu tarikan napas. "Dan dia siap membongkarnya di sidang itu."
Raka sedikit mengerutkan alis.
"Nona Shafiya benar, Sagara."
Sagara mengangguk. "Sudah kuperhitungkan."
"Lalu?"
"Tak ada perubahan rencana." Sagara menatap Raka lurus. "Lanjutkan saja bagianmu, Raka."
"Dan kamu." Tatapannya berpindah ke Shafiya. "Tetap seperti jawabanmu kemarin ke Ravendra."
Shafiya menatap belum paham.
"Sesuai kaidahnya. Apa yang ada pada istri adalah milik suami." Sagara mengulang ucapan Shafiya kemarin.
"Jadi, kamu tidak perlu berbohong."
Sagara kemudian menarik langkah, menjauhi.
"Aku akan berangkat ke Adinata Holding," ujarnya ke Raka. Ia melihat penunjuk waktu di pergelangan tangannya. Langkahnya kemudian berbalik. Sampai di ambang pintu ia berhenti.
"Istirahat dengan baik, Elara." Ia mengucapkan itu tanpa menoleh. "Dalam sidang keluarga besok, kamu juga hadir."
...
....
Waktu berlalu. Sidang keluarga digelar di mansion Adinata pagi ini.
Ruangan itu sudah penuh saat Sagara masuk. Ia sendiri. Shafiya datang lima menit sebelumnya bersama Ratri.
Tidak ada sapaan
Tidak ada percakapan.
Hanya tatapan yang hampir semuanya mengarah ke Sagara.
Anjani duduk di kursi utama.
Tegak. Diam.
Di sisi kanan, Ravendra.
Tegak, tenang.
Seolah sudah menunggu.
“Kamu terlambat.” basa-basi formal.
Sagara tetap berjalan.
Lalu berhenti di tengah ruangan.
Tidak duduk.
“Bisa dimulai sekarang."
"Sepertinya dia sangat terburu." Seseorang di sisi kiri Ravendra berbisik. Pandu Adinata--sepupu Sagara.
Anjani mengangkat tangan sedikit.
Sunyipun turun dalam ruangan.
“Kita tidak punya banyak waktu.”
Tatapannya berpindah dari satu wajah ke wajah lain.
“Data sudah beredar.”
Jeda sesaat.
“Dan nama keluarga kita ada di dalamnya.”
Ravendra menyilangkan jari-jarinya.
“Kalau boleh, saya langsung ke inti.”
Anjani tidak menolak.
“Silakan.”
Ravendra berdiri.
Mengambil satu map.
Membukanya tanpa tergesa.
"Untuk memenuhi syarat duduk di kursi Adinata, Sagara memilih jalan punya anak tanpa menikah." Ravendra berhenti sejenak.
Ia mengangguk pelan.
“Dianggap sah. Karena syarat itu hanya anak--bukan pernikahan.”
Tatapannya bergeser.
Singgah sekejap pada Shafiya.
Hanya sekejap.
Perempuan itu tidak bereaksi.
Sejak awal, ia duduk tanpa menoleh pada siapa pun.
Tatapannya lurus ke depan. Ke arah meja.
Kosong--atau terlalu penuh.
Seolah meja di hadapannya menyimpan sesuatu yang belum selesai ia pahami.
"Ariana. Nama perempuan yang dipilih. Disetujui." Ravendra melanjutkan tanpa tergesa. "Inseminasi dilakukan. Tapi, seminggu setelahnya, Ariana meninggal."
Bisik mulai muncul. Tipis.
Lalu melebar.
Cukup riuh hingga Anjani mengangkat tangan.
Sekali.
Dan ruangan kembali sunyi.
Ravendra mengedarkan pandangan. Pelan, terukur. lalu berhenti pada Shafiya. "Ariana kecelakaan, tanggal 13, pukul 23. Enam hari setelah prosedur dilakukan."
Ia meletakkan map itu di atas meja.
Terbuka. Tidak didorong. Tidak ditawarkan. Tapi cukup jelas untuk dibaca siapa pun yang ingin melihat.
"Jadi." Pandu angkat suara. "Kalau Ariana meninggal." Tatapannya lalu beralih ke Shafiya. "Lalu Elara itu siapa?"
Sunyi.
Bukan karena tidak ada jawaban.
Tapi karena semua orang memikirkan hal yang sama.
“Atau…”
Pandu belum selesai.
“Apa dia hanya pengganti yang sengaja disiapkan?”
Bisik kembali naik.
Lebih berani.
Lebih berwarna.
Shafiya menunduk. Jemarinya saling menggenggam. Ia kini mengerti arahnya. Mengerti kenapa pada saat itu Sagara membutuhkan dirinya.
Ravendra masih menatapnya.
Dari semua yang hadir--hanya satu ekspresi itu yang ingin ia baca.
“Sagara.”
Suara Anjani memotong.
Tegas.
Menghentikan semua yang belum sempat diucapkan.
“Apa penjelasanmu?”
Alhamdulillah, final baca bab-bab yg tertinggal. Lanjut, Kak Naj. Sambil ngopi & nongkrong ☕
Keren, Kak Naj...