NovelToon NovelToon
My Little Wife

My Little Wife

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikahmuda
Popularitas:14.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Ziva terpaksa menggantikan posisi kakaknya, Kirana, di pelaminan setelah sebuah kecelakaan tragis merenggut nyawa sang kakak. Ia harus menikah dengan Baskara, pria yang dianggapnya sebagai penyebab kematian Kirana.
Tanpa cinta dan penuh benci, Ziva mengajukan syarat kejam: pernikahan ini hanya formalitas, tanpa sentuhan, dan harus berakhir dalam satu tahun. Di balik senyum palsu di depan tamu undangan, Ziva bersumpah akan membuat hidup "sang pembunuh" itu seperti neraka. Namun, sanggupkah ia menjaga dinding kebenciannya saat takdir terus mengikat mereka dalam duka yang sama?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29

Siang merayap menuju sore di kantor firma finansial tempat Ziva bekerja. Suasana kubikel departemen audit sedang berada di puncak kesibukan. Suara ketikan papan tik yang cepat, dengung mesin fotokopi di sudut ruangan, serta aroma kopi yang sudah mendingin menjadi latar belakang aktivitas mereka.

Ziva sedang dalam mode "serius total". Kacamata anti-radiasinya bertengger manis di hidung, matanya yang tajam menelusuri deretan angka di layar laptop, sementara tangan kirinya membolak-balik berkas laporan fisik dengan ritme yang stabil. Ia mengenakan kemeja biru langit yang disetrika licin—tentu saja hasil kerjanya tadi pagi—yang dipadukan dengan celana kulot hitam.

Di sampingnya, Maya sedang dalam mode sebaliknya. Rekan kerjanya itu sudah menyandarkan punggung ke kursi putarnya, melakukan peregangan ekstrem hingga tulang-tulangnya berbunyi krek.

"Duh, Ziv... pinggang gue rasanya kayak mau copot. Ini laporan audit kenapa nggak abis-abis sih? Gue ngerasa kayak lagi ngerjain skripsi jilid dua tiap hari," keluh Maya sambil memijat tengkuknya sendiri. "Pegal banget, sumpah. Mana besok harus setor ke Pak Heru lagi."

Ziva tidak menoleh, jari-jarinya masih menari lincah di atas keyboard. "Sabar, Kak. Namanya kerja ya gini. Kita harus profesional. Inget cicilan tas baru lo itu, biar semangatnya balik lagi," sahut Ziva datar namun mengandung nada menyemangati.

"Iya sih, tapi—"

Kalimat Maya mendadak terputus di udara. Matanya yang tadinya sayu karena mengantuk tiba-tiba melebar sempurna. Mulutnya menganga kecil saat melihat sesosok pria tinggi tegap dengan seragam polisi lengkap berdiri tepat di belakang kursi Ziva.

Baskara berdiri di sana dengan wibawa yang luar biasa, memegang kantong kertas bermerk toko roti ternama. Begitu melihat Maya hendak berteriak kaget, Baskara segera meletakkan jari telunjuknya di depan bibir, memberikan kode "diam" dengan tatapan mata tajam yang membuat Maya seketika membeku. Maya hanya bisa mengangguk kaku, jantungnya berdegup kencang melihat "Pak Polisi" favorit kantor itu melakukan inspeksi mendadak.

"Kak? Kok diem? Lo keselek biji duren ya?" tanya Ziva heran karena suasana mendadak sunyi senyap. Ia masih terus mengetik, mengira Maya hanya sedang melamun.

Tiba-tiba, Ziva merasakan sebuah tangan menyentuh pundaknya, lalu jari-jari besar itu mulai meremas pelan otot bahunya yang kaku. Pijatannya sangat mantap dan tepat di titik yang pegal.

"Apa sih, Kak, colek-colek. Kerjain laporan lo sana. Jangan manja, gue lagi fokus nih," gerutu Ziva tanpa menoleh. Ia mengira itu adalah tangan Maya yang mencoba bercanda karena bosan.

Tangan itu tidak berhenti, justru mulai memijat tengkuk Ziva dengan teknik yang sangat profesional—mungkin hasil latihan fisik di akademi kepolisian.

"Eh, tapi kok tangan lo kasar banget sih, Kak? Kayak gosokan piring!" cetus Ziva sambil mengerutkan kening. "Lo abis nyuci piring satu batalyon apa gimana? Kok telapak tangan lo banyak kapalan begini?"

Ziva akhirnya merasa ada yang tidak beres. Maya tidak mungkin punya tenaga sekuat ini, dan Maya juga tidak punya tangan yang sebesar dan sehangat ini.

Ziva memutar kursinya dengan cepat. "Kak Maya, lo—"

Ziva membeku. Jantungnya seolah berhenti berdetak saat melihat bukan Maya yang berdiri di sana, melainkan Baskara. Pria itu berdiri dengan senyum tipis yang sangat menjengkelkan sekaligus menawan, masih dengan posisi tangan yang siap memijat lagi.

"Gosokan piring, ya?" tanya Baskara dengan suara baritonnya yang rendah.

Wajah Ziva seketika berubah menjadi semerah tomat matang. Ia melirik ke arah Maya yang sekarang sedang pura-pura sangat sibuk membaca selembar kertas kosong dengan posisi terbalik. Beberapa rekan kantor lainnya mulai curi-curi pandang, bisik-bisik "Ciyee" mulai terdengar dari kubikel sebelah.

"K-Kak Baskara?! Lo ngapain di sini?! Ini kantor, bukan kantor polisi!" seru Ziva dengan suara tertahan, mencoba menjaga martabatnya sebagai analis yang tadinya tampak sangat sangar.

Baskara meletakkan kantong roti di atas meja Ziva. "Aku baru selesai patroli di area dekat sini. Ingat pesanmu semalam kalau kamu mungkin lembur hari ini, jadi aku mampir sebentar."

Baskara kembali mendekat, mengabaikan protes Ziva, dan kembali meletakkan tangannya di pundak istrinya. "Lagipula, tangan 'gosokan piring' ini tadi malam yang bantu kamu cari baju dinas malam di lemari kan? Jadi aku tahu persis bagian mana yang pegal."

Ziva langsung menyambar tangan Baskara dan menurunkannya dengan paksa. "Kak! Jangan bahas itu di sini! Malu tau!" bisiknya dengan nada mengancam.

Baskara terkekeh pelan. Ia membungkuk sedikit, membisikkan sesuatu di telinga Ziva yang hanya bisa didengar oleh gadis itu. "Habiskan rotinya. Aku tunggu di parkiran bawah jam lima sore. Kalau kamu telat satu menit, aku akan naik lagi ke sini dan lanjutin pijatannya di depan Pak Heru."

Ziva melotot. "Lo bener-bener ya! Diktator!"

"Aku polisi, Ziva. Tugasku memastikan semua 'laporan' selesai tepat waktu, termasuk laporan kesehatan istriku," balas Baskara tenang. Ia kemudian mengangguk sopan ke arah Maya yang masih gemetaran. "Mari, Mbak Maya. Titip Ziva sebentar lagi."

Begitu Baskara melangkah pergi dengan langkah tegapnya yang berwibawa, suasana kubikel langsung meledak.

"GILA! ZIVA! Suami lo bener-bener hot banget!" teriak Maya sambil mengguncang-guncang bahu Ziva. "Tangan gosokan piring katanya? Itu tangan pelindung masyarakat, Ziv! Mau dong gue dipijat pake tangan kapalan kayak gitu!"

Ziva menenggelamkan wajahnya di atas meja, menutupi pipinya yang masih membara. "Duh, mampus gue... image gue sebagai analis dingin hancur sudah."

Namun, di balik rasa malunya, Ziva membuka kantong roti itu. Isinya adalah roti gandum kesukaannya dan sebuah catatan kecil di atas struk pembelian: Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri. Aku bangga padamu.

Ziva tersenyum kecil, ia mengambil satu gigitan roti itu sambil kembali menatap layar laptopnya. Rasa pegalnya entah kenapa hilang seketika, digantikan oleh semangat baru yang mekar di hatinya.

***

Lobi kantor pusat firma finansial itu masih tampak sibuk saat Ziva keluar dari pintu lift dengan langkah terburu-buru. Jam di pergelangan tangannya menunjukkan pukul 17.05. Ia telat lima menit dari tenggat waktu "ancaman" yang diberikan Baskara tadi siang di kubikelnya.

Begitu kakinya menyentuh lantai dasar, Ziva langsung mengedarkan pandangan ke arah area parkir VIP yang biasanya disediakan untuk tamu khusus atau operasional. Dan di sana, bersandar pada pintu SUV hitamnya yang mengilap, berdiri sang Inspektur. Baskara tampak masih mengenakan seragam dinasnya, namun topinya sudah ia lepas, diletakkan di atas kap mobil.

"Kak! Lain kali kalau mau ke sini tuh bilang! Bisa jantungan tahu nggak sih gue!" semprot Ziva bahkan sebelum ia sampai tepat di depan suaminya. Napasnya sedikit terengah, wajahnya masih menyisakan rona merah akibat godaan Maya dan rekan-rekan sekantornya selama dua jam terakhir.

Baskara menegakkan tubuhnya, melirik jam tangannya dengan ekspresi datar yang menyebalkan. "Telat lima menit, Ziva. Hampir saja aku naik lagi untuk menjemputmu di depan meja Pak Heru."

"Jangan berani-berani ya!" Ziva menunjuk wajah Baskara dengan telunjuknya, meski ia tahu ancamannya sama sekali tidak menakutkan bagi pria yang biasa menghadapi gembong kriminal itu. "Tadi tuh ada final check sedikit. Lo tahu kan, sidak lo tadi bikin satu lantai heboh? Besok-besok kalau mau kasih roti, kirim lewat ojek online aja, nggak usah pake seragam lengkap begini!"

Baskara hanya mengedikkan bahu pelan, ia mengambil tas kerja Ziva dan membukakan pintu mobil untuk istrinya. "Insting polisi itu selalu ingin memastikan barang buktinya sampai ke tangan yang tepat secara langsung. Masuklah, di luar mulai gerimis."

Ziva masuk ke dalam mobil, diikuti Baskara di kursi kemudi. Namun, alih-alih menyuruh Baskara menyalakan mesin untuk pulang, Ziva justru mengeluarkan ponselnya dan membuka aplikasi perbankan. Matanya berbinar melihat deretan angka yang baru saja masuk ke saldo rekeningnya siang tadi.

"Kak! Liat!" Ziva menyodorkan layar ponselnya tepat di depan wajah Baskara. "Gue gajian pertama kali hari ini! Full satu bulan plus bonus proyek kemarin yang dipuji Pak Heru!"

Baskara menatap layar itu sebentar, lalu beralih menatap wajah Ziva yang tampak sangat bangga. Ada binar kebahagiaan yang murni di mata istrinya, sebuah binar yang membuat Baskara merasa usahanya selama ini untuk mendukung karier Ziva sangatlah setimpal.

"Ikut gue, kita makan besar! Hari ini gue yang traktir. Nggak boleh nolak, nggak boleh protes, dan nggak boleh kaku kayak robot!" seru Ziva dengan penuh semangat. "Gue udah booking tempat di restoran steak yang waktu itu lo bilang kejauhan. Hari ini nggak ada kata jauh!"

Baskara tersenyum tipis, tangannya mulai memutar kunci kontak. "Makan besar? Kamu yakin uang gajimu tidak akan habis dalam satu malam kalau menuruti selera 'makan besar'-mu itu?"

"Ih, sombong banget ya mentang-mentang perwira! Tenang aja, dompet gue aman terkendali. Ayo cepetan, lama banget sih! Nanti keburu macet total dan jam booking-an gue hangus!" Ziva menepuk-nepuk dasbor mobil dengan tidak sabar.

Baskara akhirnya menjalankan mobilnya keluar dari area perkantoran Sudirman. Di sepanjang jalan, Ziva tidak berhenti mengoceh tentang rencana-rencana yang ingin ia lakukan dengan gajinya. Ia ingin membelikan Mama Baskara syal baru, ingin mengirimkan sesuatu untuk peringatan di makam Kirana, dan tentu saja, ingin memanjakan dirinya sendiri.

Restoran yang dipilih Ziva berada di lantai teratas sebuah gedung di daerah Jakarta Selatan. Pemandangannya langsung menghadap ke kerlap-kerlip lampu kota. Suasanya sangat elegan, dengan musik jazz lembut yang mengalun di latar belakang.

Baskara tampak sedikit canggung karena ia masih mengenakan seragam dinasnya di tempat se-formal ini, namun Ziva justru tampak sangat bangga menggandeng lengan suaminya.

"Kak, jangan kaku gitu kenapa sih. Tegang banget kayak mau razia gabungan," bisik Ziva saat mereka diantar menuju meja yang sudah dipesan.

"Tempat ini terlalu tenang, Ziva. Aku merasa semua orang memperhatikan seragamku," sahut Baskara rendah.

"Mereka nggak merhatiin seragam lo, mereka merhatiin betapa gantengnya suami gue kalau lagi nggak melototin orang," canda Ziva yang sukses membuat telinga Baskara memerah seketika.

Ziva memesan dua porsi rib-eye steak dengan kematangan sempurna, ditambah beberapa hidangan pembuka yang tampak sangat menggiurkan. Sepanjang makan malam, Ziva menceritakan detail perjuangannya di kantor—bagaimana ia harus berhadapan dengan rekan kerja yang kompetitif hingga bagaimana rasanya pertama kali melihat namanya tercantum di slip gaji resmi.

Baskara mendengarkan dengan seksama. Ia menyadari bahwa Ziva telah tumbuh menjadi wanita yang sangat mandiri dan kuat.

"Aku bangga padamu, Ziva," ucap Baskara tiba-tiba di tengah sesi makan mereka. Ia meletakkan pisau dan garpunya, menatap Ziva dengan tatapan yang sangat dalam dan tulus. "Kirana pasti juga bangga melihat kamu sekarang."

Mendengar nama kakaknya disebut, mata Ziva sedikit berkaca-kaca, namun ia tersenyum. "Makasih, Kak. Gue rasa... ini semua juga karena lo. Kalau lo nggak sabar ngadepin gue yang labil, mungkin gue nggak bakal bisa sefokus ini."

Ziva meraih tangan Baskara yang ada di atas meja. "Gaji ini mungkin nggak seberapa dibanding tunjangan lo sebagai polisi, tapi buat gue, ini simbol kalau gue bisa berdiri di kaki sendiri sambil tetep ada di samping lo."

Baskara menggenggam tangan Ziva erat. Malam itu, di bawah temaram lampu restoran mewah, bukan hanya rasa lapar mereka yang terpuaskan, tapi juga rasa saling menghargai yang semakin kuat. Ziva menyadari bahwa merayakan kesuksesan bersama Baskara jauh lebih nikmat daripada merayakannya sendirian.

Saat tagihan datang, Ziva dengan gagah berani mengeluarkan kartu debitnya dan membayarnya dengan senyum lebar. Baskara hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah "sombong" istrinya yang menggemaskan itu.

"Selesai! Sekarang ayo pulang, gue mau tunjukin sesuatu lagi di rumah," ajak Ziva sambil menarik tangan Baskara.

"Apa lagi? Jangan bilang kamu beli lingerie baru lagi dengan gajimu?" goda Baskara saat mereka berjalan menuju lift.

Ziva langsung mencubit pinggang Baskara dengan keras. "KAAA-BAAAS! Diem nggak! Itu rahasia!"

Tawa Baskara pecah di dalam lift yang sepi itu. Hari ini adalah hari kemenangan bagi Ziva, dan Baskara merasa menjadi orang paling beruntung karena bisa menjadi bagian dari kemenangan itu. Di balik seragam cokelatnya yang kaku, hatinya telah sepenuhnya luluh oleh analis keuangan berbaju biru langit yang kini sedang asyik memeluk lengannya dengan riang.

1
Mey Latika
kok gantung
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!