Pertemuan mereka diawali oleh rintik hujan dan aspal basah di sebuah asrama militer. Aura Shenina, gadis kecil dengan imajinasi setinggi langit, harus merasakan perihnya luka demi sebuah tabrakan yang tak disengaja. Di sisi lain, Pradipta Arya, remaja laki-laki yang membawa beban nama besar sang ayah, terikat pada rasa bersalah yang perlahan menjelma menjadi sebuah janji penjagaan yang tak kasat mata.
Waktu berlalu, membawa mereka ke dua dunia yang kontras. Nina meniti sunyi di atas panggung tari dengan gemulainya selendang, sementara Arya menantang maut di belantara hutan dengan senapan di pundak.
Pertemuan kembali di kota budaya, Yogyakarta, menyeret mereka ke dalam pusaran rasa yang lebih dewasa. Namun, saat rindu mulai menemukan muaranya, badai besar datang menghantam pilar terkuat dalam hidup Nina. Di tengah duka yang pekat, sebuah pundak hadir menawarkan perlindungan, namun sekaligus membawa bayang-bayang status sosial yang jurangnya begitu dalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DearlyBoa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Narasi yang Teranyam Indah
Keheningan di kamar pengantin itu mendadak terasa mencekik. Detak jam dinding di sudut ruangan terdengar seperti dentuman palu yang menghantam kesadaran Arya. Ia duduk bersandar pada kepala ranjang, napasnya masih memburu, namun matanya menatap tajam ke arah Maura yang kini merapatkan selimut ke dadanya dengan wajah yang tertunduk malu—atau mungkin, sedang menyembunyikan kilat rencana di matanya.
"Maura... jelaskan padaku," suara Arya rendah, berat oleh kebingungan yang menyesakkan. "Kita sudah menikah berbulan-bulan. Semua orang bilang kita pasangan yang serasi. Tapi kenapa... kenapa kamu masih perawan? Kenapa aku tidak pernah menyentuhmu selama ini?"
Maura menarik napas panjang. Ia tahu ini adalah momen krusial. Jika ia salah bicara, pondasi kepercayaan yang ia bangun sejak Arya sadar dari koma akan runtuh seketika. Namun, Maura adalah wanita yang cerdas. Ia telah menyiapkan skenario ini di kepalanya berkali-kali sejak dokter mendiagnosis Arya dengan amnesia retrograde.
Ia mendongak, matanya berkaca-kaca, memancarkan ekspresi yang terlihat seperti perpaduan antara rasa haru dan pengabdian yang dalam.
"Mas... sebenarnya, pernikahan kita memang terjadi karena perjodohan keluarga besar Sudrajat dan keluargaku," Maura memulai dengan suara yang sengaja dibuat bergetar. Ia meraih tangan Arya, menggenggamnya erat seolah takut pria itu akan terbang jauh.
"Waktu itu, aku masih sangat muda dan idealis. Aku merasa takut masuk ke dalam dunia militer yang kaku. Aku belum siap menjadi istri seorang perwira sehebat kamu," Maura menatap mata Arya, mencoba mencari jejak keraguan di sana. "Tapi kamu... kamu sangat mencintaiku, Mas. Kamu bilang padaku di malam pertama kita, bahwa kamu tidak akan memaksakan apa pun. Kamu bilang kamu bersedia menunggu sampai aku benar-benar siap dan mencintaimu dengan sepenuh hati."
Arya mengernyitkan dahi. "Aku... aku berkata begitu?"
Maura mengangguk mantap, sebuah air mata jatuh tepat pada waktunya. "Iya, Mas. Kamu pria yang sangat terhormat. Kamu selalu menjagaku, melindungiku, bahkan rela tidur di sofa atau pulang larut malam hanya agar aku tidak merasa tertekan dengan keberadaanmu di kamar ini. Kamu memberikan ruang yang begitu besar bagiku untuk bernapas. Kamu bilang, 'Maura, aku akan menunggumu sampai kamu sendiri yang datang memintaku untuk menjadi suamimu seutuhnya"
Arya terdiam. Di dalam kepalanya yang masih sering berdenyut, ia mencoba mencari serpihan memori tentang kalimat-kalimat itu. Namun, yang ada hanyalah kegelapan yang hampa. Ia tidak ingat pernah mencintai Maura sedalam itu, tapi penjelasan Maura terasa masuk akal bagi seorang perwira yang menjunjung tinggi kehormatan.
"Lalu... kenapa sekarang?" tanya Arya lagi, suaranya melembut.
Maura merangkak mendekat, menyandarkan kepalanya di bahu Arya. "Karena saat aku melihatmu terbaring di jalanan itu... saat aku melihatmu koma berhari-hari di rumah sakit, aku menyadari betapa bodohnya aku selama ini. Aku menyadari bahwa aku sudah mencintaimu sejak lama, tapi ego dan ketakutanku menutupinya. Aku takut kehilanganmu sebelum aku sempat menjadi milikmu seutuhnya, Mas."
Maura mendongak, menatap Arya dengan tatapan memohon. "Malam ini... aku melakukannya karena aku ingin menebus waktu yang terbuang. Aku ingin membuktikan bahwa aku siap menjadi istrimu. Tolong jangan ragukan aku, Mas. Kamu adalah pahlawanku, pria yang rela menungguku dengan sabar meski aku dulu begitu dingin padamu."
Arya menatap wajah Maura. Di dalam hatinya yang kosong, ia merasa bersalah. Ia merasa tersentuh oleh cerita Maura. Jika benar ia dulu mencintai wanita ini sedalam itu sampai rela menahan diri, maka ia merasa harus memperlakukan Maura dengan lebih baik sekarang. Ia tidak tahu bahwa narasi yang diceritakan Maura adalah kebalikan dari kenyataan pahit yang terjadi sebelum kecelakaan.
"Maafkan aku, Maura. Aku tidak ingat betapa sabarnya aku dulu," Arya mengusap rambut Maura dengan lembut. "Terima kasih sudah jujur padaku. Aku akan mencoba menjadi suami yang lebih baik lagi untukmu."
Maura tersenyum di dalam dekapan Arya. Sebuah senyum kemenangan yang tersembunyi. Ia telah berhasil memutarbalikkan fakta. Di dalam ceritanya, Arya adalah sang pencinta yang setia, dan dia adalah istri yang baru saja menyadari cintanya. Tidak ada Nina, tidak ada pertengkaran, tidak ada ancaman perceraian. Semuanya telah terhapus oleh amnesia dan kepiawaian Maura dalam merajai drama.
*
Namun, meski Arya telah menerima penjelasan Maura, ada sesuatu yang tetap mengganjal di sudut jiwanya yang paling gelap. Terkadang, di tengah keheningan malam saat Maura sudah terlelap di sampingnya, Arya terbangun dengan perasaan hampa yang luar biasa.
Ada sebuah nama yang seolah ingin meledak dari tenggorokannya, namun ia tidak tahu siapa. Ada aroma melati yang samar-samar sering ia cium dalam mimpinya, namun aroma itu bukan berasal dari parfum mewah yang dipakai Maura.
Suatu sore, Arya duduk di teras belakang rumah dinasnya. Ia memegang sebuah buku catatan militer yang ia temukan di laci mejanya. Ia mencoba menuliskan kembali apa yang ia rasakan.
Semua orang bilang aku beruntung. Istri yang cantik, karier yang cemerlang, orang tua yang bangga. Tapi kenapa aku merasa seperti sedang memerankan peran orang lain?
Arya teringat percakapannya dengan Papi Sudrajat beberapa hari lalu. Papinya tampak ragu saat Arya menanyakan tentang masa lalu mereka sebelum kecelakaan.
"Papi, apa benar aku dan Maura selalu bahagia?" tanya Arya saat itu.
Papi Sudrajat terdiam sejenak, menatap putranya dengan iba. Papi tahu semuanya. Papi tahu tentang Nina, tentang cinta Arya yang murni, dan tentang keterpaksaan Arya menikahi Maura. Namun, melihat kondisi Arya yang masih rentan dan ancaman Mami Lastri yang tidak ingin melihat Arya hancur lagi, Papi memilih untuk bungkam.
"Kalian sedang belajar, Arya. Pernikahan memang butuh proses," jawab Papi diplomatis.
Jawaban itu tidak memuaskan Arya. Ia mulai merasa ada dinding kaca di antara dirinya dan kenyataan. Setiap kali ia menatap foto pernikahannya, ia merasa tidak ada koneksi batin dengan pria berseragam di foto itu.
***
Di belahan bumi lain, Nina sedang duduk di sebuah kafe di pinggiran Amsterdam. Matanya sembab. Keputusannya memutuskan hubungan dengan Julian telah menjadi berita besar di kalangan komunitas tari mereka. Julian tampak sangat hancur, dan Nina merasa seperti monster.
"Nin, kamu benar-benar akan melakukan ini?" tanya Sari yang duduk di hadapannya.
"Aku tidak bisa tinggal di sini lebih lama lagi, Sar. Setiap sudut kota ini mengingatkanku pada kebohonganku pada Julian. Dan setiap berita tentang Arya yang kudapat dari Dimas... itu membunuhku pelan-pelan," Nina menyesap kopinya yang sudah dingin.
"Dimas bilang Arya sudah pulang ke rumah. Dia sedang mencoba menata hidupnya kembali dengan Maura. Dia amnesia, Nin! Dia tidak ingat kamu!" Sari mengingatkan dengan nada gemas.
"Justru karena itu aku harus pulang. Bukan untuk merebutnya, tapi untuk melihatnya dengan mataku sendiri. Aku ingin tahu apakah saat dia melihatku, ada sesuatu yang tergerak di matanya. Aku ingin tahu apakah cinta kami benar-benar sudah dihapus oleh kecelakaan itu ataukah masih ada di suatu tempat di bawah sadarnya," Nina menatap Sari dengan tatapan yang sangat keras kepala.
"Kamu gila, Nina. Maura akan menghancurkanmu. Mami Lastri akan menendangmu keluar bahkan sebelum kamu menyentuh pagar rumahnya."
"Biarlah. Aku sudah kehilangan segalanya, Sar. Aku sudah kehilangan Julian, aku sudah kehilangan kehormatanku karena membalas ciuman suami orang... apa lagi yang harus kutakutkan?"