andi dikejar waktu mengungkapkan siapa pelaku teror yang menyebabkan kematian di berbgai tempat...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SOPYAN KAMALGrab, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 27
Aku segera melangkah masuk ke rumah. Hampir empat hari aku tidak pulang. Bau rumah sendiri menyambutku, campuran debu, sabun lantai, dan udara sore yang lembap. Ratna keluar dari arah samping rumah. Ia mengenakan daster dan jilbab, sapu masih di tangannya. Sepertinya ia hendak membersihkan halaman.
Begitu melihatku, Ratna berlari kecil ke gerbang dan membukakannya. Aku menginjak pedal gas perlahan, memarkirkan mobil di halaman. Setelah memastikan mobil terkunci, aku turun. Sekilas aku menangkap raut panik di wajahnya, tetapi itu cepat menghilang. Ia menghampiriku, menunduk, dan mengulurkan tangan untuk mencium tanganku.
“Mas belum mandi, ya. Bau banget,” katanya setengah mengeluh.
Aku sebenarnya sudah ingin bertanya tentang kemeja baru yang kupakai. Tentang kancing-kancing aneh itu. Namun belum sempat aku membuka mulut, Ratna menyelaku.
“Mandi dulu sana, Mas. Bau banget,” katanya lagi, lebih tegas.
Aku mengangguk. Tubuhku sendiri memang tidak nyaman. Aku duduk di teras, melepas sepatu. Seperti biasa, Ratna membantu membukanya. Seberapa pun ia marah atau lelah, urusan kecil seperti itu tak pernah ia lewatkan. Hal-hal sederhana yang membuatku sering lupa bahwa rumah ini adalah tempat paling aman yang kumiliki.
Aku masuk ke dalam. Di ruang tengah, Tiara duduk di lantai sambil menggambar. Andika memegang tablet. Sekilas aku melihat layar tablet itu menampilkan kamera pengawas kota. Jantungku berdegup, tetapi aku menahan diri.
Keduanya hendak berlari menghampiriku, namun Ratna menahan mereka. “Biarkan ayah mandi dulu,” katanya.
Nada suaranya posesif, lebih dari biasanya. Aku melangkah ke kamar mandi dengan kepala penuh pertanyaan. Siapa remaja ber-hoodie yang keluar dari rumahku. Mengapa ada alat penyadap di bajuku. Dan mengapa setelah benda-benda itu kutemukan, teror seolah berhenti.
Butuh sekitar sepuluh menit membersihkan diri. Air dingin mengalir, membawa sedikit rasa lega. Saat keluar, Ratna sudah menyiapkan pakaian ganti di atas ranjang. Aku hendak memakainya ketika pintu terbuka. Ratna masuk, menutup pintu, lalu menguncinya.
Ia mendekat dan memelukku tanpa berkata apa-apa. Empat hari terpisah, tekanan pekerjaan, dan ketegangan yang belum sepenuhnya hilang membuat tubuhku kaku. Pelukannya mengendurkan semuanya.
“Mas, aku kangen,” bisiknya.
Aku tak menjawab. Ada banyak hal yang ingin kutanyakan, tetapi pelukan itu terlalu hangat. Tiga hari ini bekerja dalam tekanan hebat membuat badan dan pikiranku terasa lelah, dan pelukan Ratna membuatku semakin tegang dan tentu saja aku butuh pelepasan agar otot-ototku mengendur.
Ada yang aneh. Ratna seolah berlama-lama seperti mengulur waktu. Aku curiga, tapi permainan ini terlalu menyenangkan hingga aku tenggelam dalam pergumulan.
Sungguh sangat melelahkan sehingga aku akhirnya tertidur, benar-benar melelahkan. Terbangun karena azan magrib, aku mandi dan menunaikan salat magrib dan terlihat Andika sedang menonton televisi.
“Yah, sepertinya teror sudah berakhir,” kata Andika.
Tentu saja aku mengerutkan dahi. Bukankah dari awal Andika yang selalu menyuruhku waspada, tapi kali ini dia malah mengatakan kalau teror sudah berakhir. Aku malah curiga sekarang apa dia sedang mengamankan seseorang.
Aku melangkah menuju mobilku. Aku akan mengambil baju kemeja yang kemarin aku pakai. Dan sialnya tidak ada. Aku mencoba mengingat letak kemeja itu. Aku mengingat betul kalau kemeja itu sudah aku masukkan ke bagasi, dibungkus dengan kresek hitam, tapi sekarang tidak ada. Kembali ke dalam kamar, aku merogoh saku celana dan tiga benda itu sudah aku temukan.
Keluar dari kamar, Ratna dan Andika masih melihat televisi. Aku datang menghampiri mereka. Duduk di depan mereka.
“Sayang, kenapa kamu menaruh alat penyadap di kemejaku?” Langsung saja tanpa basa-basi aku tanyakan. Aku ingin melihat reaksi mereka berdua.
Reaksinya terlihat kaget dan seolah tidak tahu apa-apa.
“Hanya sebuah kancing, Mas. Kenapa disebut penyadap?” ucap Ratna sambil melihat tiga benda itu.
“Ayah curiga sama kami kalau kami terlibat dalam teror ini,” dan Andika juga tanpa basa-basi menebak isi pikiranku.
Aku memang curiga, dan kecurigaan itu tidak bisa lagi kusimpan. Pertanyaan ini harus kutanyakan sekarang, apa pun risikonya.
“Dari mana kamu tahu kalau kode 172 itu teror?” tanyaku sambil menatap Andika tajam. Tatapanku tak kugeser sedikit pun, berharap ada reaksi sekecil apa pun dari wajahnya. Dan sayangnya, Andika tak menunjukkan reaksi apa pun.
“Kamu mencurigai Andika, Mas?” Ratna cepat menyela. Nada suaranya defensif, seperti refleks seorang ibu yang ingin melindungi anaknya.
Aku mengembuskan napas kasar. Dadaku terasa sesak. Aku menoleh ke arah kamar Tiara. Kosong.
“Tiara ke mana?” tanyaku.
“Tiara tadi mau main ke Oma Nina,” jawab Andika cepat.
Aku mengernyit. Tiara memang dekat dengan ibu angkatku dan sering menginap, sebuah alasan yang masuk akal, tapi tidak dengan kali ini. Aku mulai curiga pada apa pun yang diucapkan oleh Ratna dan Andika.
“Ayah kenapa tidak percaya sama kami?” ucap Andika. Ia berdiri sedikit mendekat, seolah ingin menghentikan gerakanku. Sikap itu justru membuat kecurigaanku menguat.
Aku mengurungkan niat untuk menelepon ibu angkatku. Aku mulai curiga mereka sedang mengamankan Tiara.
“Karena kalian juga tidak jujur sama Ayah,” kataku tegas. “Ayah tahu kalian pasti tahu soal tiga benda ini.”
Aku mengacungkan tiga kancing ke hadapan mereka. Ratna dan Andika sama-sama menatap benda itu, terlalu tenang untuk situasi seperti ini.
“Mas, kamu capek. Kamu kelelahan,” ujar Ratna mencoba menenangkan. “Aku dan Andika tidak tahu-menahu soal hal begituan.”
Aku tertawa pendek, hambar. “Kenapa ibu dan anak yang biasanya tidak pernah sepakat, sekarang malah kompak?”
Ratna terdiam.
“Lalu perempuan yang datang tadi itu siapa?” tanyaku. “Apa dia Nirmala?”
“Dia bukan Nirmala, Yah,” jawab Andika cepat.
“Kalau begitu siapa?” desakku.
“Dia Marlina,” kata Andika.
“Marlina anaknya Bu Lusi?” tanyaku memastikan.
“Iya,” jawab Andika.
“Bukan,” jawab Ratna.
Mereka menjawab bersamaan dengan jawaban yang berbeda, membuat kecuriganku semakin kuat.
“Kalian berbohong pada Ayah,” kataku pelan tapi menekan. “Sekarang jawab jujur. Apa kalian tahu soal kode 172?”
Ratna menghela napas panjang, lalu suaranya meninggi. “Astagfirullah, Mas. Kenapa kamu menuduh kami seperti ini? Kami tidak terlibat. Kalau teror itu makin menjadi dan kalian tidak bisa menemukan pelakunya, itu bukan salah kami. Itu salah kalian yang tidak sigap.”
Aku tertegun. Bukan hanya karena kata-katanya, tetapi karena ia menyerang institusiku.
“Jangan melebar,” kataku dingin. “Jawab pertanyaanku. Dari mana asal tiga benda ini, dan sebenarnya siapa perempuan itu?”
Aku menatap mereka bergantian. Jika mereka terlibat, ini bukan lagi urusan keluarga. Ini sudah menyentuh pengkhianatan pada negara.
Belum sempat aku melanjutkan interogasi, pintu rumah tiba-tiba didobrak keras hingga engselnya berderit. Suara sepatu menghantam lantai terdengar beruntun.
“Jangan ada yang bergerak,” bentak seorang lelaki.
Aku menoleh. Seorang pria berseragam loreng berdiri di depanku. Wajahnya tertutup helm taktis, senapan AK47 diarahkan lurus ke dadaku. Dari perlengkapannya, aku tahu ini bukan kepolisian. Ini militer.
“Ada apa ini?” tanyaku berusaha tetap tenang, meski jantungku berdegup kencang.
“Anda diduga terlibat kelompok teror dan penyadapan keamanan negara. Ini pelanggaran berat,” ucapnya dingin. Di dadanya tertera nama Barito.
“Saya tidak mengerti,” jawabku.
“Cukup. Ikut kami sekarang.”
Beberapa orang langsung membekuku. Tanganku ditarik ke belakang. Aku menoleh ke Ratna dan Andika. Anehnya, mereka tidak panik. Wajah mereka terlalu tenang.
Aku tidak melawan. Aku takut satu gerakan saja bisa melukai mereka.