NovelToon NovelToon
Aku Bukan Wanita Simpanan

Aku Bukan Wanita Simpanan

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Lisa1999

Warning Dark Romance ❗❗
Bagi Aluna, Gavin Alvaris Ramadhan adalah iblis yang berwujud manusia. Namun, demi menyelamatkan keluarganya yang hancur, ia terpaksa menyerahkan kebebasannya ke tangan pria itu. Di balik kemewahan yang terlihat menggoda, Aluna harus menghadapi kenyataan pahit: Gavin tidak akan pernah berencana melepaskannya sebelum berhasil menanamkan benihnya dan memiliki Aluna seutuhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa1999, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26 Uang Dari Shena

Setelah sekian lama berada di dalam ruang rawat, Rendra, yang selama ini hanya terdiam, akhirnya mencari alasan untuk membawa Aluna keluar dari sisi tempat tidur Pak Surya.

"Aluna, kejadian ini sangat mendadak, jadi Kakak tidak akan berbelit-belit lagi. Ayah menderita leukemia akut. Masih ada peluang untuk sembuh melalui operasi, tetapi prosedur itu membutuhkan biaya yang sangat besar. Seperti yang kamu tahu sendiri, kondisi perusahaan baru saja mulai membaik dan kita sama sekali tidak punya dana yang mengendap di rekening."

Mendengar penjelasan itu, Aluna tanpa ragu langsung merogoh tasnya, membuka aplikasi perbankan di ponsel, dan mentransfer seluruh sisa gaji yang baru saja ia terima dari tempat kursus Cendekia ke rekening Rendra.

Rendra membuka ponselnya. Keningnya mengernyit dalam saat melihat nominal dana yang masuk.

Dua puluh juta rupiah!

Nominal itu jelas hanya setetes air di tengah lautan untuk biaya medis ayah mereka, jumlah itu masih sangat jauh dari kata cukup.

Secercah keraguan melintas di Mata Rendra, namun ia akhirnya tetap memaksakan diri untuk bersuara, "Biaya keseluruhan untuk operasi dan perawatan intensif bisa menelan biaya lebih dari satu miliar rupiah. Mengapa kamu tidak mencoba meminta bantuan kepada Gavin?"

"Tidak. Aku tidak akan pernah memohon bantuan kepadanya," jawab Aluna tegas. "Jika uang ini tidak cukup, aku akan segera mencari cara lain untuk menambahnya."

"Mencari cara bagaimana? Kepada siapa kamu akan meminjam uang sebanyak itu dalam waktu singkat?" tuntut Rendra skeptis.

Aluna mengepalkan tinjunya erat-erat, menahan gejolak emosi di dadanya, lalu menyahut dengan pendirian kukuh, "Aku bisa meminjamnya dari pemilik tempat kursus.

Jika masih tidak bisa, aku bisa bekerja paruh waktu atau melakukan apa saja. Intinya, aku tidak akan pernah mengemis uang kepada Gavin."

Setelah melontarkan kalimat tersebut, Aluna berbalik dan melangkah kembali masuk ke dalam ruang rawat. Rendra sempat mengulurkan tangan untuk menahan lengannya dan mencoba membujuk kembali, namun usahanya sia-sia.

Rendra mengembuskan napas panjang dengan gusar setelah adiknya menjauh.

"Kenapa dia tidak mau memanfaatkan sumber daya sebesar Gavin? Kenapa malah bersikap keras kepala di saat genting seperti ini? Tindakannya justru semakin memperburuk keadaan," batin Rendra kesal.

Malam harinya, Rendra diam-diam bersembunyi di sudut lorong rumah sakit yang sepi. Dengan kepala tertunduk, ia menghubungi nomor ponsel Gavin.

"Tuan Gavin, maaf mengganggu waktu Anda.

Aluna sebenarnya terlalu sungkan untuk meminta bantuan Anda, tetapi posisi keluarga kami saat ini benar-benar sudah buntu..."

Sementara itu, di kamar pribadinya, Aluna duduk di depan layar laptop. Jarinya sibuk mengklik mouse untuk meninjau berbagai informasi pengumuman lowongan kerja paruh waktu di halaman situs internet.

Ia bergumam lirih pada dirinya sendiri, "Kasir toko buku, jam kerja mulai pukul enam sore sampai dua belas malam, upah per jam seratus ribu rupiah. Jika diakumulasikan bisa mendapat tujuh ratus ribu sehari. Gajinya lumayan, tapi jam kerjanya..." Aluna terdiam sejenak, lalu menggelengkan kepalanya pasrah. "Tidak bisa, terlalu larut malam. Gavin pasti akan curiga."

Setelah dua jam penuh menyortir informasi, Aluna menatap layar yang menampilkan dua draf lamaran kerja paruh waktu daring yang masuk ke emailnya. ekspresi cemas masih tercetak jelas di wajahnya.

Opsi pekerjaan pertama adalah sebagai penerjemah dokumen daring. "Bahasa Inggris ke Bahasa Indonesia, satu juta rupiah per dokumen; Bahasa Jepang atau Prancis ke Bahasa Indonesia, tiga juta rupiah per dokumen."

Opsi pekerjaan kedua adalah sebagai pelayan paruh waktu di sebuah kedai kopi premium. "Jam kerja mulai pukul lima sore sampai delapan malam, upah per jam dua ratus ribu rupiah."

Aluna menatap tajam layar laptopnya, menghitung kembali kalkulasi gaji dan tunjangan yang ditawarkan oleh kedua bidang tersebut. Ia menghela napas berat dengan frustrasi. "Bahkan jika aku memaksakan diri mengambil kelas tambahan mengajar, hasil maksimal yang bisa kukumpulkan hanya sekitar tiga puluh atau empat puluh juta rupiah per bulan."

"Sementara Ayah harus menjalani operasi bulan depan. Total biaya prosedurnya mencapai 1,8 miliar rupiah. Jangankan untuk makan atau minum, mengumpulkan uang itu sendiri butuh waktu berbulan-bulan jika mengandalkan caraku. Apa yang harus kulakukan sekarang?!"

Merasa sangat tertekan dan tidak berdaya, Aluna akhirnya menutupi wajahnya dengan kedua lengan di atas meja dan menangis tersedu-sedu.

Drrt... drrt...

Ponselnya yang tergeletak di samping laptop berdering. Mengira itu adalah panggilan darurat dari pihak rumah sakit, Aluna segera menyeka air matanya dengan cepat dan menggeser tombol jawab.

Namun, begitu sambungan terhubung, suara melengking seorang wanita yang terdengar ceria justru menyapa telinganya. "Aluna sayang! Kamu ke mana saja sih? Aku baru ditinggal ke luar negeri selama sebulan lebih, pas pulang kamu malah susah sekali dihubungi. Jujur sekarang, atau aku tidak mau memaafkanmu!"

Suara itu adalah milik Shena, putri tunggal dari presiden direktur Artha Graha Land Group, sebuah perusahaan properti raksasa di Kota Jakarta. Shena adalah tipe wanita yang jujur, ekspresif, dan sangat membenci ketidakadilan. Ia dan Aluna sudah bersahabat dekat sejak mereka masih kecil.

Mendengar kalimat pembuka yang sangat familiar dari sahabat karibnya itu seketika menghadirkan rasa hangat di hati Aluna. emosinya langsung runtuh, dan ia tidak mampu lagi menahan tangisnya dan langsung pecah di telepon.

"Aluna? Hei, kamu kenapa? Apa ada orang yang mengganggumu? Katakan padaku sekarang, biar aku dan anak-anak buahku yang memberi mereka pelajaran!" Nada suara Shena seketika berubah panik dan cemas mendengar tangisan sahabatnya.

"Shena... aku butuh..."

Aluna sebenarnya berniat memanfaatkan latar belakang keluarga Shena yang kaya raya untuk meminjam dana darurat demi pengobatan ayahnya. Namun, pada detik terakhir, tenggorokannya mendadak tercekat dan ia merasa tidak sanggup untuk meloloskan kalimat pinjaman tersebut karena terbiasa menjaga harga diri keluarganya.

"Aluna, sebenarnya ada masalah apa? Apa terjadi sesuatu yang buruk di rumahmu?" tanya Shena mencoba menebak. "Kita sudah seperti saudara sendiri. Jika ada sesuatu yang membuatmu tidak nyaman untuk mengatakannya, katakan saja langsung."

Dukungan tulus dari Shena perlahan mengembalikan rasa percaya diri Aluna.

Benar, mereka adalah sahabat dekat yang selalu saling membantu. Setelah ragu-graha selama beberapa detik, Aluna akhirnya memberanikan diri untuk bersuara, "Shena... bisakah kamu meminjamkanku sejumlah uang?"

"Tentu saja bisa. Memangnya kamu butuh berapa?"

Aluna sempat tertegun sejenak mendengar respons Shena yang langsung menyetujui permintaannya tanpa banyak tanya. Hatinya didera rasa haru yang luar biasa. Di saat posisinya sedang buntu seperti ini, hanya sahabat sejati yang bersedia mengulurkan tangan tanpa syarat.

"1,2 miliar rupiah." Aluna sudah membuat kalkulasi matang di kepalanya. Ia masih memiliki beberapa koleksi perhiasan dan tas bermerek pemberian Gavin yang bisa ia jual cepat di pasar barang bekas dengan harga miring untuk menutup sisa kekurangannya. Nominal 1,2 miliar dari Shena sudah lebih dari cukup untuk mengamankan jadwal operasi ayahnya.

"Sistem perbankan tidak akan memproses nominal sebesar itu malam ini. Besok pagi-pagi sekali aku akan langsung datang ke bank untuk mentransfer dananya ke rekeningmu. Kamu masih menggunakan nomor kartu bank yang lama, kan?" tanya Shena memastikan.

Aluna mengangguk pelan dengan pandangan kosong, merasa lega sekaligus lelah. "Iya, masih yang lama."

Cklek!

Suara pintu kamar yang dibuka secara mendadak mengejutkan Aluna. Melihat sosok familiar yang melangkah masuk, Aluna secara refleks langsung memutuskan sambungan telepon dan mematikan layar laptopnya tanpa sempat memberikan penjelasan lanjutan kepada Shena.

Saat ia membalikkan tubuhnya dengan tergesa-gesa dari kursi, dahi Aluna langsung membentur keras dada bidang Gavin yang rupanya sudah berdiri tepat di belakangnya.

"Aduh..." Aluna mengernyitkan dahi menahan perih, sembari meloloskan keluhan tidak nyaman dari bibirnya.

Gavin melangkah maju, meraih kedua tangan Aluna, lalu menggunakan ujung jarinya untuk mengusap dahi Aluna yang memerah dengan gerakan lembut. Ia berucap dengan nada menyindir yang khas, "Kamu ini bodoh atau bagaimana? Hanya membalikkan badan saja bisa sampai menabrak dadaku sekeras ini.

Aku benar-benar heran dengan kecerobohanmu."

"Kamu yang tiba-tiba muncul di belakangku tanpa suara, kenapa malah menuduhku bodoh?!" balas Aluna dengan nada frustrasi.

Kondisi emosinya yang sedang tidak stabil dan rasa sakit di dahinya membuatnya membalas ucapan Gavin dengan ketus.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!