Sequel dari TERIKAT PERNIKAHAN DENGAN KAPTEN CANTIK❗
Kaluna Seraphina Wijaya adalah seorang anggota Korps Wanita Angkatan Darat (Kowad) sekaligus dokter militer yang bercita-cita mengikuti jejak almarhum mamanya sebagai prajurit TNI.
Ia dijodohkan dengan putra dari sahabat orang tuanya, namun ia menolaknya hingga terjadi pertentangan dengan papanya.
Akhirnya, Kaluna menerima perjodohan itu dengan syarat, ia tetap diizinkan menjalankan tugas di Papua.
Di Papua, Kaluna bertemu dengan seorang Kapten bernama Kalvin Natha Wiratama. Di tengah tugas dan kerasnya medan penugasan, perasaan mulai tumbuh di antara mereka.
Namun, ketika Kaluna dihadapkan pada pilihan antara pria yang dijodohkan dengannya dan pria pilihan hatinya sendiri, mampukah ia tetap bertahan pada keputusan keluarga, atau justru memilih cinta yang benar-benar diinginkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutia Kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perhatian Kalvin
Rasa sakit yang Kaluna rasakan berangsur menghilang, berganti dengan rasa kaget.
“Kapten Kalvin?” gumam Kaluna lirih.
Ia berusaha melepaskan genggaman tangan Kalvin, namun bukannya terlepas, pria itu malah terbangun, membuat Kaluna refleks kembali memejamkan mata.
Pandangan Kalvin mengedar. Pria itu pun nampak kaget dengan posisinya saat ini. Rasa lelah membuatnya tanpa sadar tertidur di sana.
Kalvin melirik jam yang melingkar di lengannya. Tak diduga, ia sudah terlelap hampir lima jam lamanya.
Kalvin menatap Kaluna yang masih terpejam. Sudah berjam-jam lamanya, namun Kaluna belum juga sadar. Padahal tadi dokter mengatakan jika keadaan Kaluna tidak terlalu parah.
Kembali Kalvin mengulurkan tangannya mengusap wajah Kaluna. Sontak perlakuan mengejutkan itu membuat Kaluna tak karuan. Degup jantungnya berdebar kencang. Kaluna sangat berharap jika Kalvin tak menyadari ekspresi wajahnya.
“Kenapa kamu belum sadar juga, Lun? Padahal sudah berjam-jam lamanya,” ucap Kalvin lirih.
Tak lagi mampu menahan diri untuk terus bersandiwara, Kaluna akhirnya mulai membuka mata. Namun ia tetap berusaha sealami mungkin agar Kalvin tidak curiga jika ia mengetahui perlakuannya tadi.
“Akkhhh...” Kaluna mengerang lirih, mulai memainkan perannya. Namun nyatanya sikapnya itu malah membuat Kalvin panik. Alhasil pria itu semakin gelisah.
“Kaluna, kamu sudah sadar? Mana yang sakit? Apa yang kamu rasakan?” cecarnya panjang lebar. Mimik wajah Kalvin begitu khawatir, membuat Kaluna salah tingkah sendiri.
“Saya di mana, Kapten?” tanya Kaluna berusaha mengalihkan perhatiannya sendiri.
“Kenapa saya diinfus?” sambungnya.
Mungkin jika tadi tak ada Kalvin di sampingnya, Kaluna sudah berteriak histeris mengingat apa yang ia dan Safira alami. Namun demi menjaga harga diri agar Kalvin tak menilainya lemah, Kaluna tetap berusaha bersikap tenang.
“Kamu di klinik, tadi kamu pingsan,” jelas Kalvin.
Setelahnya ruangan itu kembali hening. Kaluna merasa tak nyaman sebab berada dalam tatapan intens Kapten tampan itu.
Namun akhirnya ia kembali bertanya tak kala mengingat Safira yang ditelanjangi oleh Yohanes dan teman-temannya. Ia yakin jika Yohanes pun melakukan hal yang sama padanya.
“Di mana Safira? Apa dia baik-baik saja?” tanya Kaluna lagi.
“Letda Safira baik-baik saja, sudah sadar sedari sore tadi,” jelas Kalvin.
Obrolan mereka terasa canggung, sebab selama ini keduanya tak pernah bicara sesantai ini.
“Kapten, apa tadi mereka sudah...” Kaluna menggantungkan ucapannya. Ia harus memastikan kondisinya saat ini, namun Kaluna juga malu bertanya pada Kalvin.
Ia memang merasakan nyeri hampir di sekujur tubuhnya, namun ia tak merasakan apa pun di area intinya.
Jadi Kaluna bisa memastikan bahwa Yohanes belum memperkosanya. Lantas bagaimana dengan Safira?
Safira lah yang sudah lebih dulu dilecehkan oleh mereka. Rasanya Kaluna tak akan sanggup jika benar telah terjadi sesuatu pada sahabatnya. Safira pasti akan sangat terpukul, apalagi ia akan menikah setelah kembali dari Papua.
“Mereka tidak melakukan apa pun, hanya...” Kalvin terdiam. Hampir saja ia mengatakan jika Kaluna dan Safira sudah ditelanjangi. Pastilah Kaluna akan syok jika mengetahui itu.
Kaluna mengernyitkan dahi, menatap khawatir pada Kalvin. “Hanya apa?”
“Bukan apa-apa. Yang jelas mereka tidak melakukan apa pun pada kalian,” jelas Kalvin meyakinkan. Ia menenggak air mineral agar bisa mendinginkan kepalanya.
Pertama kalinya dalam hidup, Kalvin melihat area sensitif wanita, dan sialnya otaknya merekam dengan jelas apa yang ia lihat. Jika bisa, ingin sekali Kalvin membuang bayang-bayang mengesalkan itu.
Ucapan Kalvin sedikit membuat Kaluna curiga. “Saya ingat Safira ditelanjangi oleh mereka, dan sepertinya mereka melakukan hal yang sama pada saya. Apa Kapten Kalvin melihat saya telanjang?” tuduh Kaluna.
“Uhuk... uhuk...”
Kalvin tersedak air yang baru saja membasahi kerongkongannya. Ucapan Kaluna membuatnya terbatuk-batuk. Ia tak menyangka jika Kaluna akan berpikir demikian.
“Jangan berpikir macam-macam. Yang terpenting saat ini Letda Kaluna dan Letda Safira selamat.”
Sedikit banyak Kaluna mulai yakin jika Kalvin menyembunyikan sesuatu. Terlepas dari apa pun itu, namun ia memang harus bersyukur karena tak terjadi sesuatu yang akan menghancurkan masa depannya di kemudian hari.
Kaluna menghela napas dalam. “Apapun itu, saya mengucapkan terima kasih karena Kapten telah menolong saya. Jika tidak, mungkin hidup saya akan benar-benar hancur.”
Kaluna tertunduk lesu. Pengalaman ini akan selalu ia ingat dan menjadi cerita dalam sepenggal kisah perjalanan kariernya sebagai perwira TNI.
Raut wajah Kaluna membuat Kalvin kasihan. Pria itu membuang napas kasar. Ingin rasanya Kalvin merengkuh tubuh Kaluna, namun ia tak mau Kaluna berpikir macam-macam.
Pada akhirnya Kalvin hanya bisa membuang jauh keinginannya.
“Apa ada yang nyeri, Letda Kaluna?” tanya Kalvin memutus obrolan mereka tentang peristiwa siang tadi.
“Tidak, hanya pipi saya sedikit kram dan bahu saya sakit,” jawab Kaluna.
“Apa tadi mereka menamparmu?”
Kali ini obrolan mereka lebih santai. Kalvin mulai menanggalkan panggilan formal di antara mereka.
Kaluna mengangguk. Tak terbayang jika papanya sampai tahu apa yang ia alami. Pastilah pria paruh baya itu akan sedih dan kecewa karena Kaluna tak bisa menjaga diri.
Kaluna berharap apa yang terjadi hari ini hanya akan menjadi rahasia yang tidak sampai terdengar oleh sang Papa.
“Apa masih sakit?” tanya Kalvin.
“Sedikit,” sahut Kaluna singkat.
Sedikit aneh ketika dua orang yang biasanya selalu berdebat kini terlihat akur. Perhatian Kalvin sedikit membuat Kaluna terbawa perasaan, apalagi saat mengingat Kalvin menggenggam erat tangannya.
Kaluna menghela napas, berusaha membuang jauh hayalan semunya. Kembali ia teringat akan janji yang sudah dibuat sebelum menginjakkan kaki di Papua.
“Kamu belum makan, Lun. Biar saya cari makan dulu ya,” tawar Kalvin.
Kaluna hanya mengangguk, karena memang ia sangat lapar. Sedari siang ia belum menyantap apa pun.
Walau tidak nafsu, namun Kaluna harus berusaha menjaga stamina dan kesehatannya demi membuat Raynand tak khawatir.
“Mau makan apa?” tanya Kalvin.
“Terserah Kapten saja,” sahut Kaluna.
Kalvin mencebik. Pria itu berlalu keluar seraya menggerutu karena jawaban Kaluna. “Terserah, kalimat apa itu?”
Rasanya Kaluna benar-benar lega kala Kalvin berlalu keluar dari ruangan itu. Keberadaan Kalvin di sana benar-benar membuat kesehatan jantungnya tak aman.
Selalu saja hatinya menjadi gelisah. Ia bukan orang bodoh yang tidak memahami. Hanya saja Kaluna terus menampik dan tidak ingin mengagumi serta dekat dengan laki-laki yang memiliki profesi TNI, seperti perintah papanya.
Apalagi Tina selalu mengingatkan posisinya. Kaluna berharap setelah ini Tina tidak salah paham dan menduga ia mencari kesempatan.
Klinik itu terletak di tempat yang tak terlalu ramai. Wajar saja karena memang dibangun di tengah pedalaman Papua yang penduduknya pun tidak terlalu ramai. Dokter yang ada di sana juga seorang relawan.
Kata “terserah” terus saja terngiang dalam kepala Kalvin. Ia bingung harus membelikan makanan apa untuk Kaluna, sementara di tempat ini tidak ada penjual makanan selain warung kecil sederhana di sekitar klinik.
Untuk pergi ke tempat lain pun terasa tidak mungkin, karena mobil yang mereka tumpangi sudah dibawa Anton kembali, dan esok pagi baru Anton akan datang.
Pada akhirnya Kalvin memutuskan membeli nasi bungkus dengan lauk seadanya dari warung kecil dekat klinik, serta air mineral.
Kalvin membawa apa yang sudah ia beli. Sebelum masuk ke dalam ruang rawat Kaluna, ia menyempatkan mengecek kondisi Safira terlebih dahulu, namun sepertinya wanita itu sudah terlelap, Nakara pun nampak tertidur di kursi tunggu lorong klinik itu.
Ceklek...
Kalvin membuang pandangannya ke arah lain kala melihat Kaluna yang mengangkat sedikit kaos yang dikenakannya, memperlihatkan perut ratanya.
Kedatangan Kalvin membuat Kaluna terkejut. Buru-buru ia menurunkan kaosnya. Ia kira Kalvin akan memakan waktu lama di luar, namun siapa sangka ia cepat kembali.
“Kenapa tidak ketuk pintu dulu?” protes Kaluna.
“Lagian kamu ngapain buka-buka baju segala?” Kalvin masih setia berdiri di ambang pintu, menunggu Kaluna memintanya masuk.
“Ya ngecek lah, barangkali saya sudah dilecehkan. Tapi sepertinya saya tidak kenapa-napa.”
Kalvin menghela napas dalam, tak memperdulikan ucapan Kaluna. Ia bergegas masuk tanpa menunggu wanita itu memintanya.
“Kan saya sudah bilang, kamu saja yang tidak percaya,” sahut Kalvin seraya menyodorkan nasi bungkus itu ke hadapan Kaluna.
“Dimakan dulu!” perintahnya.
Kaluna menerima makanan itu menggunakan tangan kiri, sebab tangan kanannya terasa nyeri akibat cekalan Yohanes dan teman-temannya. Ia pun sedang berpikir bagaimana cara makan dengan satu tangan.
Hingga tiba-tiba Kalvin kembali mengambilnya, membuat Kaluna tertegun. “Biar saya suapi,” tawarnya tanpa ingin dibantah.
izin autor hebat, 🙏🙏
jangan lupa singgah ya ka, dinovel baru ku "Balas Dendam Nyonya Cha" udah update sampai 20 episode, saling suport boleh dong ka🤗