NovelToon NovelToon
Penulis Terjebak; Tolong, Karakter Gue Ngamuk

Penulis Terjebak; Tolong, Karakter Gue Ngamuk

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Romansa Fantasi / Transmigrasi
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ananda Anggit

"Dewa Penulis... kenapa Kau bikin kami hidup, tapi gak kasih kami arti?" — Lord Valgus, Penyihir Jahat

Gue Leon, dan gue yang bikin dunia ini. Gue yang nulis siapa hidup, siapa mati, siapa kuat, siapa lemah. Tapi gue ngelakuinnya santai banget, asal ketik aja di keyboard. Buat gue, ini cuma cerita hiburan doang.

Sampai akhirnya gue malah terjebak masuk ke dalam cerita itu sendiri.

Ternyata, jadi penulis itu gak enak ya kalau ceritanya sendiri berantakan. Kerajaan megah tapi bentuknya aneh, tokoh-tokohnya punya perasaan sendiri di luar naskah, terus musuh utama malah pengen bunuh gue karena ngerasa hidupnya cuma dipermainkan.

Sekarang gue gak cuma nulis cerita lagi. Gue harus hidup di dalamnya, benerin semua kesalahan gue, dan bikin akhir cerita yang adil buat mereka... sebelum gue dihukum sama karya gue sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ananda Anggit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 26. penyebab leon koma

Esok harinya, di malam hari suasana di rumah terasa lebih tenang. Setelah makan malam, Leon memutuskan untuk duduk kembali di teras, ditemani Dimas, Raka, dan Bimo yang masih betah mengobrol sebelum pulang. Angin malam berhembus sejuk, membawa aroma bunga melati yang tumbuh di sudut halaman.

Setelah hening sejenak, Dimas menatap Leon dengan pandangan yang berubah, tidak lagi santai seperti sebelumnya. Ia menghela napas panjang seolah sedang mengumpulkan keberanian untuk membuka sesuatu yang selama ini disimpan rapat-rapat.

“Leon… sebenarnya ada satu hal yang belum pernah kita ceritakan ke lo, bahkan ke orang tua lo pun kita minta diam dulu sampai lo benar-benar pulih,” ucap Dimas pelan, membuat Leon langsung menoleh dengan perasaan was-was.

Jantung Leon berdegup kencang. Selama ini ia hanya tahu bahwa ia terbaring koma, tapi tidak pernah tahu apa penyebabnya. Orang tuanya selalu menghindari pertanyaan itu, seolah takut membangkitkan kenangan buruk.

“Apa maksud lo? Apa yang sebenarnya terjadi sampai gue bisa koma selama lima tahun?” tanya Leon dengan suara yang sedikit bergetar.

Raka dan Bimo saling berpandangan, lalu Raka melanjutkan dengan nada berat:

“Malam itu, tepat lima tahun yang lalu, kita berempat habis pulang dari tempat nongkrong biasa. Malam hujan deras, jalanan licin dan sepi. Kita berjalan beriringan, sampai tiba di tikungan jalan yang agak gelap. Di situlah semuanya terjadi.”

Raka berhenti sejenak, menelan ludah seolah menahan rasa sakit saat mengingat kejadian itu.

“Tiba-tiba ada mobil yang melaju kencang tanpa menyalakan lampu, keluar dari tikungan dengan kecepatan tinggi. yang mengendarai terlihat tidak sadarkan diri, mungkin mabuk atau mengantuk. Kita semua terkejut dan berusaha lari, tapi lo yang berdiri paling depan dan mendorong kita bertiga menjauh sebelum akhirnya lo sendiri terhantam keras dan terpental jauh ke parit pinggir jalan.”

Mendengar itu, tubuh Leon terasa kaku. Sesuatu mulai terasa berdenyut samar di kepalanya, kilasan bayangan yang kabur mulai muncul suara teriakan, cahaya lampu yang menyilaukan, rasa sakit yang luar biasa, lalu kegelapan total.

“Kenapa… kenapa gue nggak ingat sama sekali?” gumamnya pelan.

“Karena benturannya sangat keras, Leon,” jawab Bimo dengan suara serak. “Dokter bilang bagian otak yang mengatur ingatan sempat tertekan hebat, dan kemungkinan besar ingatan soal kejadian itu sengaja ‘ditutup’ oleh alam bawah sadar lo sendiri agar lo tidak merasakan trauma yang terlalu berat. Selama ini kita hanya diberi tahu bahwa lo dalam kondisi kritis, nyawa lo melayang-layang di ujung tanduk. Bahkan sempat dinyatakan tidak ada harapan, tapi bokap dan nyokap lo nggak pernah menyerah, membayar semua biaya perawatan sampai habis tabungan mereka hanya demi melihat lo bangun lagi.”

Dimas mengepalkan tangannya kuat-kuat, matanya memerah menahan amarah yang selama ini dipendam.

“Dan yang lebih parah lagi… orang yang nabrak lo itu bukan orang sembarangan. Dia anak dari pengusaha kaya yang punya banyak koneksi. Begitu kecelakaan itu terjadi, dia langsung dibawa pergi oleh orang-orangnya, dan kasusnya sengaja ditutup-tutupi. Polisi sempat kesulitan melacaknya karena bukti-bukti perlahan menghilang, saksi mata takut berbicara, dan mereka menawarkan uang damai dalam jumlah besar dengan syarat keluarga lo tidak melanjutkan kasus ini.”

Leon tertegun, perasaan campur aduk meledak di dadanya,kaget, marah, sekaligus sedih. Ia baru sadar bahwa bukan hanya tubuhnya yang terhenti selama lima tahun, tapi juga ada ketidakadilan yang terjadi di balik semua itu.

“Jadi selama ini, orang yang bikin gue terbaring bertahun-tahun itu masih bebas berkeliaran?” tanya Leon dengan nada dingin yang membuat suasananya terasa semakin tegang.

“Belum bisa dipastikan,” jawab Dimas. “Setelah kejadian itu, dia dikabarkan pergi ke luar negeri untuk ‘berobat’, padahal jelas-jelas hanya lari dari tanggung jawab. Kita sempat mencoba mencari informasi, tapi selalu terhalang tembok yang kuat. Bahkan kalau kita berani melapor, mereka bisa saja memutarbalikkan fakta dan menyalahkan kita.”

Leon meremas gagang kursi dengan erat, jari-jarinya memutih. Di satu sisi, ia bersyukur bisa kembali dan memiliki kehidupan lagi, tapi di sisi lain, ada rasa tidak terima yang membara di hatinya. Lima tahun waktu yang terlewat, kesedihan orang tuanya, ketidakpastian masa depan semua itu terjadi karena kelalaian seseorang yang seolah bisa lepas dari hukum hanya karena punya uang dan kekuasaan.

“Gue ngerti kenapa nyokap dan bokap nggak mau cerita,” kata Leon akhirnya, suaranya sudah lebih tenang tapi penuh ketegasan. “Mereka takut gue akan marah berlebihan, memaksakan diri, dan malah membuat kondisi kesehatan gue memburuk lagi.”

“Iya, itulah alasannya,” sambung Raka. “Mereka hanya ingin lo pulih sepenuhnya, tanpa memikirkan hal-hal yang bisa menyakiti hati lo. Tapi sekarang lo sudah sadar, lo berhak tahu kebenarannya. Kita akan mendukung lo apa pun keputusan yang lo ambil, tapi ingat! kesehatan lo tetap yang paling utama.”

Leon menunduk, memandang buku catatan yang tergeletak di pangkuannya. Di dalam hatinya, dua kekuatan bertemu keinginan untuk hidup tenang dan melanjutkan kisah yang baru dimulai, serta dorongan untuk memperjuangkan keadilan agar kejadian serupa tidak menimpa orang lain.

“Terima kasih sudah jujur cerita semuanya,” ucap Leon sambil mengangkat wajahnya, matanya kini bersinar dengan tekad yang baru. “Gue nggak akan gegabah. Tapi sekarang gue tahu kenapa gue harus kembali. Ini bukan cuma soal hidup lagi, tapi juga soal menyelesaikan apa yang belum selesai.”

Malam itu, Leon tidak bisa tidur nyenyak. Ia memegang buku catatannya erat-erat, menyadari bahwa di dunia nyata ini pun, ia kini memiliki sebuah cerita baru yang harus diperjuangkan ... cerita tentang keadilan, kebenaran, dan keberanian untuk melawan ketidakadilan, sama seperti yang pernah ia lakukan di dunia yang ia ciptakan sendiri.

1
Sarah
Sejauh ini ceritanya udah bagus kok. Paling bagian alur yang kerasa kurang srek di Si Reza dengan “Mempelajari sihir”-nya yang masih sulit dibayangkan. Sama Si Bimo yang mendadak malah jadi calon villain. Tapi sisanya udah nice. 👍
Ananda Anggit: makasih ka koreksinya🙏😁
total 1 replies
Sarah
Eee... jujur, aku sendiri emang rada kurang srek sama Si Bimo yang mendadak villain ini. Soalnya... gini loh, in real life... cerita tentang Leon dan dunia ceritanya aja terasa tidak masuk akal bagi orang-orang. Meskipun, untuk orang tua Leon, masih lebih mudah percaya karena ya... mereka ortunya. Untuk temen-temennya ini nihh, pasti bakal susah bagi mereka untuk percaya. Leon harus menunjukkan sesuatu yang bisa jadi bukti dia beneran ke sana baru mereka percaya. Ya... mungkin buku catatan itu. Tapi kalaupun temen-temennya percaya, mereka pasti masih sulit membayangkan. Dan kalaupun pengen ke dunia itu... pasti lebih ke baru sekadar “Penasaran” aja “Dunia ciptaan Leon tuh... kayak gimana sih?” ketimbang langsung “Niat gelap pengen masuk ke dunia itu dan jadi berkuasa” dan itu pun meski temennya penasaran sama dunia itu kalau memang beneran ada, ya... mereka pasti gak bakal langsung kepikiran buat cari jalan ke sana-lah. Karena... ini cerita yang sulit dipercaya, Leon sendiri pun gak bener-bener tahu cara bolak-balik ke dunia itu, jadi gimana dia bisa kepikiran mau masuk dunia itu coba?Kurang realistis aja gitu....
kecuali kalau Si Bimo udah di ajak ke dunia menakjubkan itu jadi dia punya niat mau berkuasa. 😶
Sarah
Nah, lebih baik tentang masa mempelajari ilmu gaib dan sihir itu ditunjukkan, gimana asal-muasalnya dia tahu tentang hal itu, prosesnya gimana, pas dia masukin leon ke dunia ceritanya itu gimana... soalnya kalau gak ada flashback kerasa kurang aja dan sulit dibayangkan. Aku berharap author mempertimbangkan saranku ini.
Sarah: Satu hal lagi, kerasa agak tiba-tiba juga sih. Rada maksa dikit... dikit... aja. Tentang alasan dia pindah dunia itu Si Reza. Tapi bisa terasa lebih baik kalau kita dilihat prosesnya dari mulai tahu tentang sihir, belajar, terus cara dia mindahin jiwa Leon. Kalau tiba-tiba gini mendadak banget dan kurang masuk akal.
total 1 replies
Sarah
Ughh, dalem banget lagi pertanyaannya...
Sarah
Wah... rupanya dia masih memiliki seseorang di dunia asal. Ini pasti jadi akhir arc 1 nih. 😮
Sarah
Aku rasa... aku sepemikiran tentang, “Menciptakan dunia yang cukup kuat untuk terus bercerita meski pena sudah diletakkan”
Di real life... kalau kita baca cerita, ceritanya bagus. Tokohnya hidup. Pokoknya bagus lah. Itu pasti pas udah ada kata “Tamat/End/Selesai” itu sebagai pembaca kita masih bisa membayangkan kehidupan mereka setelah itu. Itu ’kan definisi sebenarnya dari “Menciptakan dunia yang cukup kuat untuk terus bercerita meski pena sudah diletakkan”. Karena penulis udah gak lanjutin ceritanya lagi, tapi kita bisa membayangkan kalau gimana kehidupan tokoh-tokoh di cerita yang kita baca setelah itu. Makanya ceritanya gak pernah benar-benar berakhir meskipun ceritanya dah ada label “Tamat”.
Ya enggak? Karena kita gak mungkin masuk novel kayak Leon dan membebaskan aturan dunia cerita itu kan makanya ceritanya tidak pernah benar-benar berakhir. Wkwkwk. 😁
Sarah
Aku sering penasaran, apa dia gak punya siapa-siapa dan hidupnya hampa atau tersiksa banget yah di dunia modern sampai bisa gampang banget bilang iya untuk tinggal di sana tanpa pikir panjang.
Sarah
Udah mulai gak inget dunia modern kah?
Rafi Hafizh
bagus ceritanya 👍
Ananda Anggit
🤭🤭
Ananda Anggit
siap ka, terimakasih saran nya 😁🙏
Sarah
Ya kalau dateng... kalau gak ada yang dateng? Basi dong. /Sweat/
Sarah
Aku juga sudah menduganya. 😂
Sarah
Aduhhh, Leon dipuji mulu tiap bab sama heroine nya ini. 😁
Sarah
Ceritanya lucu banget. 😁
Sarah
Kalau nama awalannya harus huruf kapital yah, “Leon”
Sarah
Ketika catatan penulis yang biasa ada di dalam kurung di tengah-tengah cerita jalan... beneran masuk ke cerita. 😂
Sarah
Bagus, cuma... ini pov orang ketiga (narator) sama pov orang pertama (Leon alias MC) yang konsisten yah. Kalau mau ganti pov tandain dulu. Biar gak bikin bingung. Atau tandain kata kayak “Pikirnya”, “Batinnya”, “Ucapnya dalam hati” untuk nunjukkin apa yang ada di otak Leon.
Ananda Anggit: iya sekali lagi makasih ya kak 😁
total 3 replies
Ananda Anggit
😍💪💪
Rafi Hafizh
semangat author 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!