NovelToon NovelToon
Terjebak Cinta Berondong Tampan

Terjebak Cinta Berondong Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak
Popularitas:9.3k
Nilai: 5
Nama Author: teteh lia

Naraya Pramaswari Dhanubrata, seorang CEO muda yang dikenal dingin dan perfeksionis, terbiasa hidup dalam kemewahan. Di usianya yang terbilang matang, ia tidak lagi benar-benar percaya pada cinta, apalagi hubungan rumit.

Segalanya berubah ketika ia bertemu Sagara, pemuda tampan berusia 24 tahun yang sederhana. Namun, penuh semangat hidup. Berbeda jauh dari dunia Naraya, Sagara menjalani berbagai pekerjaan demi bertahan hidup. Mulai dari montir, ojek online, hingga pekerja paruh waktu. Meski hidupnya keras, Sagara tetap hangat, tulus, dan pantang menyerah.

Pertemuan tak terduga mereka perlahan menyeret Naraya ke dalam dunia yang tak pernah ia bayangkan. Sagara yang gigih, tanpa sadar meruntuhkan dinding hati Naraya yang selama ini terkunci rapat.

Namun, perbedaan status, usia, dan prinsip hidup menjadi tantangan besar bagi keduanya. Belum lagi seseorang dari masa lalu Naraya yang kembali hadir.
Akankah cinta mereka mampu bertahan, atau justru menjadi luka yang tak terhindarkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon teteh lia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12

Motor sagara berhenti pelan di depan titik penjemputan yang tertera di aplikasi.

Begitu melepas helm, ia langsung mengenali sosok wanita yang berdiri tidak jauh dari sana.

Tiwi. Wanita itu tampak sedikit canggung begitu menyadari pengemudi yang datang ternyata benar-benar Sagara lagi. Namun, demi membantu melancarkan rencana atasannya, ia berusaha keras menyembunyikan rasa canggung sekaligus kegugupannya.

Sagara mematikan mesin motornya lalu turun perlahan. "Siang, Mbak Tiwi," sapanya sopan.

"Siang, Mas. Bisa tolong cepat antar saya, kan?" jawab Tiwi buru-buru.

Sagara mengangguk kecil lalu menyodorkan helm cadangan padanya. Tiwi langsung memakainya sebelum naik ke motor.

Tak lama kemudian, motor itu kembali melaju membelah jalanan kota yang mulai ramai menjelang sore. Klakson kendaraan bersahutan di mana-mana, sementara langit perlahan berubah jingga.

Sepanjang perjalanan, Tiwi tampak sibuk melihat ponselnya berkali-kali dengan wajah makin gelisah.

Sagara sempat melirik dari kaca spion kecil motornya. "Ada masalah, Mbak?"

"Ah? N-nggak," jawab Tiwi cepat. Namun, nada suaranya justru terdengar semakin panik.

Beberapa menit kemudian, motor Sagara akhirnya berhenti di depan sebuah butik sekaligus salon ternama di pusat kota.

Tiwi buru-buru turun lalu melepas helmnya. "Makasih, Mas."

Sagara mengangguk kecil sambil mematikan mesin motor. Namun, saat ia hendak membuka aplikasi untuk menyelesaikan pesanan dan menagih ongkos, Tiwi justru menatapnya dengan ekspresi penuh harap.

"Mas ...," panggilnya ragu.

Sagara menoleh. "Iya, Mbak?"

Tiwi menggigit bibir bawahnya sebentar sebelum akhirnya berkata pelan, "Bisa tolong saya sekali lagi?"

Alis Sagara terangkat. "Tolong apa?"

Tiwi melirik gelisah ke arah butik besar di depannya.

****

Nara berdiri tenang di depan cermin besar di apartemennya. Lampu-lampu hangat di sekitar meja rias memantulkan sosoknya dengan jelas. Wanita itu baru saja selesai memoles lipstik nude di bibirnya. Pantulan dirinya yang sudah siap pergi ke pertemuan malam itu tampak sempurna.

Dress hitam elegan dengan membalut tubuh rampingnya dengan pas. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai lembut, sementara anting berlian kecil di telinganya memantulkan cahaya samar setiap kali ia bergerak. Penampilannya jelas terlihat cantik, elegan, dan sulit disentuh.

Nara meletakkan lipstiknya perlahan sebelum menatap pantulan dirinya sendiri beberapa detik lebih lama. Entah kenapa, suasana hatinya justru semakin buruk.

Ia membenci malam seperti ini. Makan malam formal, pertemuan basa-basi. Pria asing yang datang membawa senyum sopan dan latar belakang keluarga sempurna. Semuanya terasa melelahkan.

Ponselnya yang tergeletak di atas meja tiba-tiba bergetar. Nama Tiwi muncul di layar. Ia langsung mengangkat panggilan itu. "Ya, Tiwi?"

Namun, bukannya mendengar jawaban cepat seperti biasa, Tiwi justru terdengar ragu di sebrang sana.

"Nona... Sa-saya berhasil membawa orangnya."

Sudut bibir Nara langsung terangkat. "Baiklah, lakukan sesuai rencana," ucapnya sebelum menutup panggilan itu.

Nara meletakkan kembali ponselnya di atas meja. Tatapannya kembali menelusuri pantulan dirinya di depan cermin besar. Setelah memastikan tidak ada yang kurang, ia meraih tas kecil di sudut meja rias. Senyum tipis menghiasi wajahnya. Berharap rencananya malam ini berjalan lancar.

****

Mobil mewah Nara melaju mulus membelah jalanan kota yang mulai dipenuhi cahaya malam.

Lampu gedung pencakar langit berkilauan di balik jendela mobil, sementara alunan musik pelan memenuhi suasana di dalam kabin.

Jemari Nara mengetuk pelan setir kemudi, pikirannya sibuk menyusun sesuatu. Tatapannya dingin lurus ke depan.

Beberapa saat kemudian, mobil Nara akhirnya memasuki area parkir sebuah restoran mewah di pusat kota. Bangunan bergaya modern klasik itu berdiri megah dengan pencahayaan hangat yang elegan. Beberapa mobil mahal terparkir rapi di depan pintu utama.

Nara turun dari mobilnya perlahan. Kedatangannya langsung disambut seorang pelayan restoran.

"Selamat malam, Nona Nara. Tuan Samudra sudah menunggu di lantai atas."

Nara hanya mengangguk tipis. Hak tinggi miliknya berdetak pelan di atas lantai marmer saat ia berjalan memasuki restoran. Tatapan beberapa orang sempat tertuju padanya.

Ekspresi wajah Nara tetap datar seolah sudah terbiasa menjadi pusat perhatian. Pelayan restoran itu kemudian membawanya menuju area privat di lantai dua.

Semakin mendekat, langkah Nara perlahan melambat. Pintu ruangan privat akhirnya terbuka perlahan.

Seorang pria tampan duduk tenang di kursinya sambil menatap ke arah jendela besar di sampingnya. Jas hitam yang dikenakannya tampak rapi sempurna, sementara aura dingin dan tenang begitu terasa bahkan hanya dari punggungnya saja.

Seolah menyadari kedatangannya, pria itu menoleh. Tatapan mereka akhirnya bertemu.

Ruangan privat itu dipenuhi cahaya hangat dari lampu gantung kristal di langit-langitnya. Nara duduk tenang di kursinya sambil menatap pria yang berada di hadapannya.

Samudra Dirgantara.

Pria itu tampak rapi dalam balutan jas hitam mahal. Wajahnya tenang, dengan sorot mata tahan yang sulit ditebak. Berbeda dari kebanyakan pria yang pernah bertemu dengannya, Samudra tidak terlihat berusaha terlalu keras menarik perhatian. Dan justru itu yang membuat Nara sedikit tertarik.

"Terima kasih sudah datang, Nona Nara," ucap Samudra membuka percakapan.

Nara tersenyum tipis formal. "Bukankah seharusnya saya yang mengatakan itu? Tuan Samudra tentu sangat sibuk."

Samudra terkekeh pelan. "Untuk undangan Keluarga Dhanubrata, sesibuk apa pun saya tetap harus datang."

Jawaban Diplomatis. Nara langsung menyadarinya.

Pelayan datang menuangkan minuman sebelum kembali pergi meninggalkan mereka. Beberapa saat kemudian, mulai mengalir ringan. Tentang bisnis, proyek industri baru Keluarga Dhanubrata, dan sesekali tentang kehidupan pribadi.

Meski begitu, Nara tetap bisa merasakan arah pembicaraan pria itu perlahan mulai bergerak ke tujuan sebenarnya.

"Jujur saja," ujar Samudra santai sambil memutar gelas minumnya pelan, "Saya cukup terkejut Tuan Dhanubrata mengatur Pertemuan ini."

Nara menopang dagunya malas. "Kakek memang suka mencampuri hidup orang lain."

Samudra tersenyum kecil. "Beliau terlihat sangat menyayangi Anda."

"Kadang terlalu berlebihan."

"Karena Anda cucu kesayangannya?"

Nara terkekeh lirih. "Atau karena saya aset keluarga?"

Samudra sedikit terdiam mendengar jawaban itu. Tatapannya jatuh pada wajah Nara beberapa detik lebih lama. "Kalau boleh jujur," ucapnya tenang, "saya rasa Anda bukan tipe wanita yang mudah diatur."

"Tapi saya tetap duduk di sini sekarang."

"Itu benar."

Hening sesaat. Namun, anehnya suasana di antara mereka tidak terasa canggung.

Samudera cukup cerdas menjaga percakapan tetap nyaman tanpa terdengar terlalu agresif. Dan itu membuat Nara teringat ucapan Seokjin siang tadi. Pria di hadapannya berbeda dari pria lain yang pernah bertemu dengannya.

Suara pintu yang diketuk perlahan, mengalihkan fokus keduanya.

"Masuk," ucap Samudra.

Pintu terbuka perlahan. Seorang pria masuk ke dalam ruangan sambil mengenakan setelan jas hitam mahal yang tampak pas di tubuh tegapnya.

Langkah Sagara sempat terhenti sesaat begitu melihat Nara.

Sagara.

Berbeda dengan penampilannya sehari-hari, malam ini pria itu terlihat sangat rapi. Rambutnya tertata, wajah tampannya terlihat jauh lebih tegas, dan jas mahal yang dikenakannya membuat auranya berubah total. Meski begitu, Nara tetap bisa melihat sedikit kecanggungan di mata pria itu. Dan hak itu justru hampir membuatnya tertawa.

Sementara Samudra terlihat sedikit bingung melihat kedatangan pria asing tersebut.

"Nara?" panggil Sagara pelan, seolah meminta penjelasan.

Nara tersenyum tipis, ia berdiri dari duduknya dengan tenang. Lalu tanpa ragu berjalan mendekati Sagara. "Maaf sudah merepotkanmu."

Sagara langsung menegang samar ketika Nara tiba-tiba meraih lengannya dengan akrab.

Tatapan Samudra langsung berpindah dari Nara ke pria di sampingnya. Dan di situlah, sudut bibir Nara perlahan terangkat tipis.

"Perkenalkan," ucap Nara santai. "Ini kekasih saya."

***** bersambung.

1
Kipas muter 8022
terima aje, lumayan
Kipas muter 8022
daripada dibalikin. mending kirim ke gw aja/Facepalm/
Kipas muter 8022
harus'y kirim ke rumah gw
Kipas muter 8022
masalahnya udah jatuh cinta🤣
Bu Dewi
up lagi donk kak😍😍
Teteh Lia: Siap, kak. 🙏
total 1 replies
Aquarius97 🕊️
kalo ini mah montir kece nona 🤭
Sarung bantal90
Nyogok pake motor. 😄
Aquarius97 🕊️
calonnya Sagara tuh bang 🤭
Sarung bantal90
panggilin dokter cinta aja🤣
Sarung bantal90
emosi mulu nenk. lagi pms
Aquarius97 🕊️
sesuai Ama ekspektasi aku sih 🤭
Aquarius97 🕊️
aku langsung kebayang visual seokjin BTS 🤭
Aquarius97 🕊️
kadang emang gitu, ada serigala berbulu domba ...
sitanggang
2 chapter donk... nanggung klw 1 saja
Teteh Lia: Siap, kak. 🙏
total 1 replies
SaturdayNight🌠
pasti yang sabotase, kerna kebongkar
SaturdayNight🌠
koreksi; terdiam
SaturdayNight🌠
lagian lu terlalu ikut campur dan mudah diperdaya
SaturdayNight🌠
disamperin seok jong un, untung lom berangkat, bisa ribut kalo ketemu
SaturdayNight🌠
benul🤣
SaturdayNight🌠
paling dgbukin tahan lain
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!