Sinopsis
Di Alam Fana, hukum rimba adalah satu-satunya kebenaran. Lin Chen, murid pelataran luar Sekte Pedang Awan, menyadari kenyataan pahit ini sejak hari pertama. Bakatnya pas-pasan, sumber dayanya selalu dirampas, dan nyawanya tak lebih berharga dari rumput liar. Saat maut hampir merenggutnya di ujung tebing, sebuah anomali tanpa asal-usul bangkit di dalam benaknya: Sistem Pilihan Takdir.
Sistem ini menolak memberikan kekuatan instan. Setiap krisis hanya akan memunculkan tiga jalur pilihan di matanya, masing-masing membawa risiko dan hadiah yang berbeda. Hadiah tersebut bukanlah pil dewa yang langsung membuatnya kebal, melainkan teknik dasar, petunjuk tersembunyi, atau sekadar kesempatan bertahan hidup sesaat. Semuanya menuntut Lin Chen untuk memeras keringat, darah, dan akalnya sendiri. Dari kerasnya Alam Fana, merangkak naik menuju kemegahan Dunia Tengah para immortal hingga akhirnya mengincar keabadian sejati di alam dewa , Lin Chen mengukir jalannya selangkah demi selang
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 20 pukulan melampaui batas dan pelarian di antara debu Bintang
Hening yang mematikan menyelimuti Ngarai Tulang Hitam. Udara terasa membeku di bawah tekanan aura Hei Feng, pemimpin pemulung gurun yang telah mencapai Tahap True Immortal Awal. Bagi penghuni Dunia Tengah, ini adalah tahap di mana seorang praktisi mulai benar-benar menyentuh hukum alam. Bagi Lin Chen, tekanan ini terasa seolah-olah seluruh langit Dunia Tengah sedang runtuh tepat di atas ubun-ubunnya.
Lin Chen berlutut dengan satu kaki, tangannya yang masih utuh menancap ke pasir kelabu untuk menahan tubuhnya agar tidak tersungkur sepenuhnya. Darah merembes dari pori-pori kulitnya, bukan karena luka fisik, melainkan karena tekanan udara yang berusaha meremukkan organ dalamnya.
Di hadapannya, Hei Feng melangkah perlahan. Setiap langkahnya menciptakan riak energi yang menghancurkan batu-batu kecil di sekitarnya menjadi debu. Matanya yang sipit menatap Lin Chen dengan kombinasi rasa jijik dan sedikit ketertarikan.
"Seorang Ascender dari alam rendah, masih memiliki nyali untuk tidak bersujud?" suara Hei Feng rendah, namun bergetar dengan kekuatan yang membuat telinga Lin Chen berdenging. "Tubuh fisikmu... ada sesuatu yang aneh. Kau telah memadukan energi fana dengan esensi api bumi. Sayangnya, di hadapan seorang True Immortal, kau tak lebih dari sebatang lilin di tengah badai."
Dua pemulung yang tersisa, melihat majikan mereka telah turun tangan, tertawa dengan keji. Mereka mengangkat golok, siap menebas leher Lin Chen yang terkunci.
Tepat pada saat kritis itu, layar cahaya biru transparan berpendar di tengah penglihatan Lin Chen yang mulai kabur oleh darah.
**[Situasi Kepunahan Terdeteksi: Penindasan True Immortal.]**
**[Musuh: Hei Feng (Tahap True Immortal Awal). Kondisi Pengguna: Kerusakan Meridian 70%.]**
**[Silakan tentukan jalan bertahan hidup Anda:]**
**[Pilihan 1: Aktifkan seluruh energi Dantian untuk meledakkan diri (Self-Detonation).
Hadiah: Anda mati dengan membawa serta dua pemulung rendah. Hei Feng hanya akan menderita luka ringan. Tidak ada masa depan.]**
**[Pilihan 2: Gunakan 'Akar Tanah Besi' untuk membatu seluruh tubuh secara permanen.
Hadiah: Anda menjadi patung batu yang tak bisa dihancurkan selama 100 tahun. Jiwa Anda akan terjebak dalam kegelapan abadi hingga energi Anda habis dan Anda hancur.]**
**[Pilihan 3: Bakar esensi 'Akar Tanah Besi' dan fusi energi vulkanik untuk menciptakan 'Ledakan Kehampaan' sesaat. Gunakan lengan kanan yang hancur sebagai medium pelontar energi sisa.
Hadiah: Anda mendapatkan kekuatan setara True Immortal selama 3 detik. Risiko: Patahnya seluruh tulang di lengan kanan secara permanen dan penurunan tingkat kultivasi satu tingkat. Keberhasilan pelarian: 80%.]**
Lin Chen tidak perlu berpikir dua kali. Di dunia yang kejam ini, kehilangan sedikit kultivasi atau menderita cacat fisik jauh lebih baik daripada kehilangan nyawa atau menjadi budak abadi. Matanya yang merah menatap Hei Feng dengan kebuasan yang tak tergoyahkan.
"Tiga detik..." bisik Lin Chen di dalam hatinya. "Itu sudah cukup."
Ia memilih Pilihan 3.
Seketika, rasa sakit yang jauh lebih mengerikan dari apa yang ia alami di Kawah Vulkanik meledak di dalam tubuhnya. 'Akar Tanah Besi' yang baru saja menyatu dengan sumsum tulangnya mulai terbakar habis, melepaskan energi tanah purba yang luar biasa masif. Energi ini bertemu dengan sisa-sisa api bumi, menciptakan reaksi berantai yang membuat darah Lin Chen mendidih.
"ARGHHHHH!"
Lin Chen meraung. Raungan itu begitu kuat hingga memecah tekanan aura Hei Feng. Cahaya merah pijar mulai merembes keluar dari balik balutan kain di lengan kanannya yang hancur. Lengan yang tadinya terkulai lemas itu tiba-tiba terangkat, diselimuti oleh aura hitam dan merah yang memutar udara di sekitarnya.
Senyum Hei Feng menghilang. Matanya membelalak ketakutan saat ia merasakan fluktuasi energi yang tiba-tiba melampaui batas kewajaran. "Apa?! Bagaimana mungkin seorang sampah tingkat lima—"
Lin Chen tidak memberinya waktu untuk menyelesaikan kalimatnya.
Dalam hitungan detik pertama dari tiga detik kemuliaannya, Lin Chen menjejakkan kakinya ke tanah. *Langkah Bayangan Berat* yang dipicu oleh energi True Immortal menciptakan ledakan sonik yang menghancurkan seluruh ngarai. Tanah melesak sedalam lima meter.
Lin Chen muncul tepat di depan wajah Hei Feng. Lengan kanannya yang hancur, kini dipenuhi oleh energi destruktif yang tak stabil, meluncur maju.
"Pukulan... Kehampaan!"
*BOOOOOOMM!*
Ledakan itu tidak menghasilkan suara tajam, melainkan dentuman rendah yang menggetarkan jiwa. Tinju Lin Chen menghantam telapak tangan Hei Feng yang mencoba menangkis. Benturan itu menciptakan gelombang kejut yang menyapu seluruh perkemahan pemulung. Tenda-tenda kulit terbang menjadi serpihan, dan dua pemulung di dekat mereka hancur menjadi kabut darah seketika.
Hei Feng memuntahkan darah emas keemasan. Tubuhnya terlempar mundur, menabrak dinding tebing ngarai hingga menciptakan retakan raksasa sepanjang seratus meter. Lengan sang True Immortal itu patah, dan wajahnya dipenuhi ketakutan yang murni. Ia tidak percaya bahwa serangan sesingkat itu bisa melukainya separah ini.
Detik kedua.
Lin Chen tidak mengejar Hei Feng. Ia tahu ia tidak bisa membunuh seorang True Immortal dalam kondisi ini. Ia berbalik, melesat ke arah tebing tempat Shen Yu dan keluarganya bersembunyi. Dengan gerakan cepat yang bahkan tak bisa diikuti mata, ia menyambar pinggang Shen Yu dan menarik dua orang anggota keluarga Shen yang paling dekat.
Detik ketiga.
Sirkulasi energinya mulai runtuh. Lengan kanannya mengeluarkan suara *KRAK* yang memuakkan saat tulangnya hancur menjadi debu di bawah tekanan energinya sendiri. Lin Chen menggertakkan giginya hingga hancur, menggunakan sisa momentum terakhir untuk melesat keluar dari Ngarai Tulang Hitam, masuk ke dalam badai debu bintang yang mulai mengamuk di luar.
*Wussss!*
Begitu tiga detik berakhir, Lin Chen jatuh tersungkur di tengah padang pasir kelabu, bermil-mil jauhnya dari ngarai. Ia memuntahkan darah dalam jumlah besar, dan cahaya merah di matanya padam. Kultivasinya merosot tajam dari Tingkat Empat Puncak kembali ke Tingkat Empat Awal. Lengan kanannya kini benar-benar hanya berupa daging yang menggantung tanpa tulang yang utuh.
Shen Yu, yang masih terguncang, segera bangkit dan memeluk ayahnya yang selamat. Ia menoleh ke arah Lin Chen yang terkapar di pasir.
"Tuan Lin Chen!" jerit Shen Yu. Ia berlari menghampiri, air mata mengalir deras. Ia melihat kondisi Lin Chen yang jauh lebih buruk dari sebelumnya. Pemuda ini telah membakar esensi hidupnya demi menyelamatkan mereka.
Ayah Shen Yu, seorang pria paruh baya bernama Shen Chang, mendekat dengan gemetar. Sebagai seorang praktisi tingkat rendah di Dunia Tengah, ia tahu betul apa yang baru saja disaksikannya. Seorang praktisi muda telah melukai seorang True Immortal.
"Yu-er... siapa dia? Bagaimana mungkin ada orang yang memiliki kekuatan sedahsyat itu di tingkatannya?" tanya Shen Chang dengan suara parau.
"Dia adalah penyelamat kita, Ayah. Jangan banyak bicara, kita harus membantunya!" balas Shen Yu. Ia segera mengeluarkan botol giok berisi sisa-sisa Salep Akar Giok terakhir miliknya dan mengoleskannya ke tubuh Lin Chen yang penuh luka bakar.
Tiga hari kemudian.
Lin Chen perlahan membuka matanya. Ia mendapati dirinya berada di dalam sebuah gerobak kayu yang bergerak lambat. Suara derit roda kayu dan aroma obat-obatan yang kuat menyambutnya.
Ia mencoba menggerakkan lengan kanannya, namun tidak ada respon. Lengan itu dibebat dengan kayu penyangga dan kain tebal, terasa mati rasa sepenuhnya. Ia bisa merasakan meridian di lengannya hancur total, tidak ada aliran Qi yang bisa melewatinya lagi.
"Sistem..." bisik Lin Chen lemah.
Layar biru muncul, namun warnanya sedikit redup, mencerminkan kondisi vitalitasnya yang menurun.
**[Status: Tahap Kondensasi Qi Tingkat 4 Awal (Menurun).]**
**[Kondisi Fisik: Cacat Lengan Kanan (Rusak Permanen tanpa intervensi tingkat tinggi).]**
**[Pencapaian: Melukai True Immortal. Reputasi di Gurun Debu Bintang meningkat.]**
Lin Chen menghembuskan napas panjang. Cacat permanen? Di dunia kultivasi, kata itu adalah hukuman mati bagi sebagian besar orang. Namun bagi Lin Chen, ini hanyalah hambatan lain. Jika ia bisa memodifikasi tubuhnya dengan esensi api bumi, ia pasti bisa menemukan cara untuk menumbuhkan kembali atau mengganti lengannya dengan sesuatu yang lebih kuat.
Pintu gerobak terbuka. Shen Yu masuk dengan membawa semangkuk bubur herbal yang hangat. Melihat Lin Chen sudah bangun, wajahnya yang kusam seketika cerah.
"Tuan Lin Chen! Kau akhirnya bangun!" seru Shen Yu. Ia duduk di samping Lin Chen dan membantunya duduk bersandar. "Kita sudah berada di pinggiran Kota Batu Hitam. Ayahku telah mengatur identitas rahasia untukmu sebagai kerabat jauh keluarga Shen yang terluka akibat serangan monster."
Lin Chen meminum bubur itu perlahan. Rasa hangatnya mulai menenangkan meridiannya yang lelah. "Hei Feng... apakah dia mengejar?"
Shen Yu menggelengkan kepala. "Pukulanmu hari itu... itu menjadi legenda di antara para tawanan. Ayahku bilang Hei Feng terluka parah dan kehilangan kredibilitasnya di ngarai. Ia kemungkinan besar sedang bersembunyi untuk memulihkan diri. Tapi, Fraksi Pemulung Gurun lainnya pasti akan mencari tahu siapa yang melakukan itu."
Lin Chen menatap lengan kanannya yang lumpuh. "Identitas rahasia itu bagus. Aku butuh waktu untuk memulihkan diri dan mencari cara memperbaiki lengan ini."
"Keluarga Shen akan melakukan segalanya untukmu, Tuan," janji Shen Yu dengan tulus. "Di Kota Batu Hitam, kami memiliki akses ke beberapa buku kuno tentang restorasi tubuh. Meskipun keluarga kami hanya klan kecil, kami memiliki koneksi di pasar gelap."
Lin Chen mengangguk. Kota Batu Hitam akan menjadi panggung barunya. Di sana, ia tidak lagi memiliki perlindungan sistem sekte. Ia adalah seorang Ascender cacat yang dicari oleh True Immortal.
Saat gerobak melintasi gerbang kota yang terbuat dari batu obsidian hitam besar, Lin Chen melihat keluar melalui celah kain. Kota itu terlihat kasar, dipenuhi oleh bangunan batu yang menjulang tinggi dan langit yang selalu tertutup debu bintang. Orang-orang di sini memiliki aura yang jauh lebih kuat dan lebih keras daripada di Alam Fana.
"Dunia Tengah..." gumam Lin Chen. "Aku baru saja mulai."
Ia memejamkan mata, memutar *Napas Karang Esensi* yang kini terasa lebih stabil meskipun kultivasinya menurun. Penderitaan hari ini adalah pondasi bagi kekuatan esok hari. Jika tangan kanannya hancur, maka ia akan menempa tangan kirinya menjadi senjata yang lebih mematikan. Sang Iblis tidak akan berhenti hanya karena kehilangan satu anggota tubuh; ia akan merangkak kembali dari abu kehancuran untuk membakar langit Dunia Tengah.
**[Misi Baru Terdeteksi: Restorasi Lengan Iblis.]**
**[Tujuan: Temukan Esensi Logam Abadi di kedalaman Tambang Batu Hitam.]**
**[Hadiah: Transformasi Lengan Logam Abadi, Terobosan Tahap Kondensasi Qi Tingkat 6.]**
Lin Chen tersenyum tipis di balik luka-lukanya. Permainan baru saja dimulai. Di Kota Batu Hitam, legenda sang Iblis yang baru saja naik dari alam bawah akan segera ditulis dengan tinta darah dan baja.