NovelToon NovelToon
Terbelenggu Takdir

Terbelenggu Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Dokter / Mengubah Takdir
Popularitas:874
Nilai: 5
Nama Author: Cut Asmaul Husna

Kalea tidak sengaja memecahkan kaca mobil mewah milik Raditya di area parkir. Raditya yang marah besar meminta ganti rugi yang sangat mahal. Karena Kalea tidak bisa membayar uang sebanyak itu dalam waktu cepat, Raditya mengancam akan membawanya ke kantor polisi. Namun, Raditya yang sedang pusing karena dipaksa ibunya menikahi Natasha melihat sebuah celah. Raditya akhirnya menawarkan kesepakatan: Kalea bebas dari tuntutan polisi jika mau menjadi pacar pura-puranya.


Hubungan yang awalnya penuh adu mulut dan kebencian ini berubah rumit saat keadaan memaksa mereka terikat dalam pernikahan resmi. Konflik berat pun dimulai. Orang tua Raditya menolak keras menantu yang tidak jelas asal-usulnya. Di sisi lain, keluarga kandung Kalea terus datang mengusik dan membongkar status "anak haram" Kalea demi menjatuhkannya di depan keluarga Raditya.

SALAM DARI AUTHOR 🙏

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut Asmaul Husna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 26 : KEPULANGAN YANG DIRENCANAKAN DAN RIUH KEPALSUAN DI MEJA MAKAN

 Aroma khas antiseptik dan cairan pembersih lantai Rumah Sakit Pusat Harapan Medika perlahan memudar seiring dibukanya pintu kaca ruang rawat VIP lantai tiga siang itu. Jarum jam tepat menunjukkan pukul sebelas lewat tiga puluh menit. Setelah melalui rangkaian pemeriksaan tanda vital dan rekam jantung terakhir oleh tim dokter spesialis vaskular, Ambarwati Baskara akhirnya dinyatakan pulih total dan diperbolehkan untuk pulang ke rumah.

 Suasana di dalam kamar rawat siang itu mendadak riuh rendah, dipenuhi oleh kepalsuan ego yang dibungkus tawa ceria. Natasha Olivia Renata berada di garda terdepan, bergerak lincah ke sana kemari dengan balutan gaun kasual bermerek yang modis. Jemari lentiknya yang dilapisi kutek merah menyala tampak sangat telaten merapikan letak selendang sutra di pundak Ambarwati, lalu membantu wanita paruh baya itu untuk turun dari ranjang pasien dengan gerakan yang sengaja dibuat sangat manja dan penuh perhatian.

"Aduh, Mommy sayang... Hati-hati langkah kakinya ya, pelan-pelan aja, Mom," ucap Natasha dengan nada suara yang sengaja dibuat mendesah lembut, penuh manja laksana seorang menantu idaman yang paling berbakti. "Natasha bener-bener seneng banget hari ini akhirnya Mommy udah bisa pulang ke rumah! Selama tiga hari ini aku tuh sampai nggak bisa tidur tenang di apartemen, kepikiran kondisi jantung Mommy terus, tahu!"

 Ambarwati mengulas sebuah senyuman kemenangan yang sangat lebar di wajah paruh bayanya, mengelus punggung tangan Natasha penuh rasa sayang yang pilih kasih. "Terima kasih banyak ya, Natasha sayang... Kamu itu emang anak yang paling pinter, perhatian, dan selalu tahu cara bikin hati Mommy tenang. Untung ada kamu sama Amanda yang setianya nemenin Mommy dari kemarin, kalau nggak... Mungkin Mommy udah mati kesepian di dalam ruangan kaku ini."

 Amanda Khanza Baskara yang sedang merapikan tas jinjing kecil milik ibunya langsung ikut menyambar percakapan dengan tawa renyah yang centil. "Ih, bener banget kata Mommy! Kak Natasha itu emang juara banget deh urusan perhatian! Amanda juga seneng banget hari ini suasana rumah kita bakal rame lagi. Nggak kayak kemarin, sepi banget kayak kuburan gara-gara Mas Radit sama Mas Dimas kerja terus kalau ditanya!"

 Sementara ketiga wanita itu sibuk saling melempar pujian dan bualan manis yang menguras emosi batin, atmosfer yang bertolak belakang justru ditunjukkan oleh dua bersaudara Baskara. Raditya Evan Baskara dan Dimas Narendra Baskara berdiri mematung di sudut ruangan yang steril. Radit yang mengenakan kemeja formal hitam polosnya yang digulung rapi hingga siku, tampak sibuk memasukkan tumpukan berkas administrasi rumah sakit dan sisa obat-obatan ke dalam tas jinjing besar. Wajah tampannya terkunci sepenuhnya menjadi sangat kaku, datar, dan sedingin es, merapatkan rahang tegasnya menahan geram akibat sandiwara pura-pura putus yang terpaksa dia jalani bersama Kalea demi kesehatan ibunya.

 Di sebelahnya, Dimas memegang koper pakaian ibunya dengan pandangan mata elang yang tidak kalah kosong dan kaku. Pikiran sang rektor muda masih dirongrong oleh kepedihan batin yang teramat sangat mendalam setelah mengetahui fakta kejam bahwa bidadari bermata biru yang dia cintai pada pandangan pertama ternyata adalah cewek rahasia pilihan abangnya sendiri. Kakak beradik itu kompak memilih bungkam seribu bahasa, menolak ikut campur dalam keriuhan palsu tersebut.

"Radit, Dimas! Itu barang-barang Mommy jangan sampai ada yang ketinggalan ya!" tegap Ambarwati dengan nada suara kaku penuh perintah mutlak.

"Udah beres semua, Mom," jawab Radit pendek, suaranya bariton yang berat terdengar sangat datar tanpa ekspresi sepeser pun.

"Ayo, semuanya kita turun ke parkiran sekarang!" seru Amanda riang sambil menggandeng erat lengan Natasha. 

 Rombongan keluarga Baskara akhirnya tiba di area pelataran parkir luas lantai dasar. Setelah Radit dan Dimas memasukkan seluruh koper dan perlengkapan menginap selama dirawat ke dalam bagasi belakang, mereka semua langsung melangkah masuk menduduki kursi di dalam kabin mobil sedan mewah milik Radit.

 Radit mengambil alih kemudi fokus menatap jalanan aspal di depan, sementara Dimas duduk kaku di kursi penumpang depan di sampingnya. Di jok belakang berukuran luas, Ambarwati duduk nyaman diapit oleh Amanda di sisi kiri dan Natasha di sisi kanan yang langsung bergelanyut manja di lengan sutranya. Begitu mobil mewah itu melaju membelah kepadatan jalanan kota Jakarta menuju ke arah perumahan elit, suara keriuhan penuh gosip dari ketiga wanita itu langsung pecah memenuhi ruang kabin yang ber-AC dingin.

"Omong-omong, Kak Natasha..." Amanda membuka suara sambil memajukan tubuhnya, menatap wajah Natasha penuh antusiasme yang gila. "Gimana urusan jadwal pemotretan baju desainer terbaru Kakak minggu depan? Nggak keganggu kan gara-gara Kakak repot jagain Mommy di rumah sakit dua hari ini?"

 Natasha tersenyum sangat manis, mengibaskan rambut pirangnya yang digerai indah dengan gaya ala model papan atas yang memikat. "Aduh, Amanda sayang... Buat urusan Mommy Ambarwati, jadwal modelling-ku di agensi luar negeri sekalipun pasti langsung aku batalin detik itu juga! Bagiku, keselamatan calon ibu mertuaku ini adalah nomor satu di atas segalanya. Butik desainer kamu juga besok aku sempetin mampir ya buat ngecek gaun pengantin terbaru kita, haks!" Natasha sengaja mengeraskan suaranya di bagian akhir kalimat sambil melirik genit ke arah spion tengah mobil, mencoba memancing reaksi dari Radit.

 Radit yang mendengar pancingan dari wanita di belakangnya sama sekali nggak mengalihkan pandangan mata elangnya dari jalan tol. Rahang tegasnya semakin mengeras kaku laksana batu, tangannya mencencang kuat kemudi mobil menahan rasa muak yang luar biasa besar yang mendadak menyerang indra pendengarannya. Dia terus memikirkan Kalea, menolak memberikan panggung sepeser pun buat kegilaan Natasha. Sementara Dimas di sampingnya juga hanya diam membisu seutuhnya, sesekali membuang wajah menatap keluar jendela kaca yang gelap menahan sesak batinnya sendiri.

 Ambarwati yang menyadari ketegangan anak laki-lakinya justru semakin bersorak puas dalam hati. Sifat manipulatifnya merasa di atas angin karena taktik serangan jantung palsunya kemarin sukses memisahkan si perempuan anak haram Kalea dari takdir putranya. Ambarwati mengelus pipi Natasha dengan kelembutan yang sangat pilih kasih. "Duh, Jeng Larasati emang pinter banget ya didik kamu, Natasha. Kamu itu bener-bener definisi menantu idaman keluarga terhormat. Nggak kayak cewek darah kotor gatel dari keluarga Wijaya itu, yang barusan dateng sekali aja udah sukses bikin aib dan mau ngebunuh mommy pakai kata-kata kasarnya! Untung aja sekarang anak saya Radit udah sadar diri dan mutusin hubungan gila itu!"

"Iya, Mom! Amanda setuju banget!" timpal Amanda dengan nada suara yang penuh dengan kalimat menghina dan sinis merendahkan nama Kalea. "Cewek aneh itu emang nggak tahu adat, murahan banget mau memoroti harta keluarga kita! Bagus deh kalau Mas Radit udah lepas dari jeratan kelicikan cewek pembawa sial itu! Amanda bener-bener jijik liat mukanya kemarin di IGD!"

"Udah, Amanda, jangan bahas perempuan sampah itu lagi, bikin pusing kepala Mommy aja," potong Natasha dengan senyuman kelicikannya yang sangat lebar, bersandar manja di bahu Ambarwati. "Yang penting sekarang kita fokus aja nyiapin acara makan malam besar keluarga kita minggu depan buat ngerayain kesembuhan Mommy, ya kan, Mom?"

"Tentu saja, sayang... Nanti Mommy yang atur semuanya," sahut Ambarwati riang.

 Rentetan hasutan keji, dan caci maki yang memojokkan nama Kalea terus berkecamuk riuh dari jok belakang sepanjang perjalanan, membungkus kabin mobil mewah itu dalam hawa beracun, tanpa pernah ketiga wanita itu menyadari kalau di balik diamnya Radit, tersimpan sebuah strategi sandiwara rahasia yang sangat matang bersama Kalea buat menghancurkan ambisi mereka ke depannya.

 Tiga puluh menit berlalu, mobil sedan mewah Radit akhirnya berbelok memasuki pekarangan luas kediaman megah berlantai tiga milik keluarga Baskara. Setelah mobil berhenti dengan sempurna di depan teras, Radit dan Dimas turun terlebih dahulu untuk membukakan pintu dan menurunkan seluruh barang-barang.

 Natasha dan Amanda dengan sangat sigap memapah perlahan tubuh Ambarwati melangkah masuk menembus pintu utama ruang tamu yang luas dan asri. Begitu Ambarwati duduk dengan nyaman di atas sofa beludru kebesarannya, pelayan rumah langsung datang membawakan air minum hangat.

 Ambarwati menatap Natasha yang sedang merapikan bantal sandarannya dengan binar mata yang penuh rasa sayang. "Natasha... Ini udah jam dua belas siang lewat, kamu jangan langsung pulang dulu ya, sayang. Kamu harus tetep tinggal di sini buat ikut makan siang bersama keluarga di rumah Mommy. Kebetulan koki rumah udah masak makanan menu spesial sehat buat kita semua."

 Natasha langsung mengulas sebuah senyuman manis yang sangat lebar, menganggukkan kepalanya dengan gerakan manja yang sangat memikat penuh kepatuhan buatan. "Aduh, dengan senang hati, Mommy sayang... Memang kebetulan aku lagi pengen banget makan bareng Mommy dan Radit siang ini."

 Tidak butuh waktu lama, seluruh jajaran keluarga Baskara bersama Natasha kini sudah duduk melingkar rapi mengelilingi meja makan panjang berbahan kayu jati mewah di ruang makan belakang. Di atas meja, sudah tersaji berbagai menu masakan sehat—mulai dari sup ayam kampung herbal, ikan gurame bakar madu, hingga jus buah segar.

 Suasana makan siang yang seharusnya hangat mendadak kembali didominasi oleh rentetan dialog penuh keriuhan dari Ambarwati, Amanda, dan Natasha. Sementara Radit dan Dimas tetap mengambil posisi diam, menyuap makanan mereka dengan gerakan yang kaku dan lambat.

"Radit," panggil Ambarwati tiba-tiba dengan nada suara kaku penuh wibawa seorang ibu, memecah kesunyian dari sisi meja anak sulungnya. "Kamu dari tadi diam aja, ayo dong diambilin itu ikan guramenya buat calon istrimu, Natasha. Kamu harus belajar perhatian jadi calon suami yang baik mulai sekarang."

 Radit menghentikan gerakan sendoknya sejenak. Sepasang mata elangnya menatap lurus ke arah piring makannya tanpa mendongak, wajah tampannya sedingin es di kutub utara. "Natasha punya tangan sendiri, Mom. Dia bisa ambil makanannya sendiri tanpa perlu aku layani," jawab Radit dengan nada suara bariton yang sangat rendah, datar, kaku, dan terdengar begitu menusuk relung hati.

 Natasha yang mendengar jawaban ketus Radit seketika wajah cantiknya berubah agak kaku canggung, namun dengan kelicikannya yang sudah mendarat di tingkat tertinggi, dia langsung memaksakan sebuah senyuman manisnya yang paling memikat demi mencairkan suasana di depan Ambarwati. "Eh, iya nggak apa-apa kok, Mommy sayang... Radit mungkin masih capek banget setelah seharian ngurus berkas administrasi rumah sakit tadi. Biar Natasha aja yang ambilin sup ayam hangat ini buat Radit, ya." Natasha dengan gerakan centil mengambil mangkok kecil, menuangkan sup, lalu meletakkannya di samping piring Radit sambil menyentuh lembut punggung tangan kekar Radit dengan gerakan mengelus mesra.

 Radit dengan gerakan refleks yang sangat cepat, kasar, dan tidak berperasaan langsung menarik tangannya menjauh dari jangkauan jemari Natasha, membuat sendok di tangan Natasha sempat berdenting kaku di atas meja. TING! Radit menatap Natasha dengan kilatan mata elang yang penuh aura intimidasi mematikan. "Jangan berani-berani menyentuhku lagi dengan tangan kotormu, Natasha! Di sini meja makan, jaga adab moralmu?!" ketus Radit dengan kalimat sarkastik yang tajam.

"Mas Radit!!! Kok bicaranya jahat banget sih sama Kak Natasha?!" bentak Amanda langsung melompat berdiri dari kursinya dengan wajah memerah murka, melemparkan tatapan mata yang sangat sinis membela sekutunya. "Kak Natasha itu udah baik banget mau ngambilin sup buat Mas, kenapa Mas Radit selalu bersikap kejam begitu?! Mas Radit bener-bener nggak menghargai perasaan calon istri sendiri?!"

"Amanda! Cukup! Kamu nggak usah ikut campur urusanku?!" balas Radit lantang dengan suara bariton menggelegar penuh wibawa abang tertua yang membungkam mulut adiknya seketika.

 Ambarwati yang melihat putranya mulai meledakkan emosi langsung meletakkan gelas jusnya dengan sentakan kaku di atas meja, wajah paruh bayanya ditekuk tegang memandang Radit penuh ancaman kepalsuan barunya. "Raditya!!! Kamu bener-bener mau bikin dada Mommy sakit lagi, hah?! Kamu udah berjanji di kemarin kalau kamu bakal menikah sama Natasha, jadi tolong rubah sikap kaku dan ketusmu itu sekarang juga! Jangan sampai Mommy kembali drop karena kelakuan durhakamu?!"

 Mendengar ancaman penyakit jantung yang kembali digunakan ibunya sebagai tameng manipulasi, Radit mengembuskan napas kasar.

 Di seberang meja, Dimas Narendra Baskara yang sejak tadi menyimak perdebatan panas itu mendadak menghentikan gerakan makanannya seutuhnya. Namun perlahan, seulas senyuman tipis yang sangat misterius, dingin, dan sulit diartikan mendadak terukir samar di bibir tampannya. Dimas menatap lurus ke arah piring sup milik Radit, lalu beralih menatap kosong ke arah depan. Entah senyum apa itu... Apakah senyum karena dia merasa lega karena menyadari Radit bener-bener tidak memiliki rasa cinta sepeser pun buat Natasha sehingga dia masih punya peluang emas di luar sana untuk mengejar debaran cinta bidadari bermata birunya, Kalea? Ataukah senyum miris menertawakan jaring takdir cinta segitiga rumah tangga yang kian rumit membelenggu mereka berdua? Hanya Dimas yang tahu isi hati terdalamnya siang itu. 

...****************...

 Sementara rumah keluarga Baskara dipenuhi dengan sandiwara makan siang yang riuh, Fitri Amelia Wijaya justru sedang menata puing-puing kehancuran hatinya. Setelah dua hari mengurung diri di rumah sakit dan fokus pada jadwal operasinya untuk mengalihkan rasa sakit batin, sore ini mentalnya sudah bulat. Sifat kaku dokter spesialisnya kembali tegak berdiri.

 Dengan tangan yang stabil, Fitri merogoh ponselnya lalu menekan nomor pria yang telah mengkhianatinya selama tiga tahun.

 Tut... Tut...

"Halo, ada apa lagi?" sahut suara Fandi Achmad Mahendra di ujung telepon dengan nada suara yang terdengar sangat malas, bosan, dan acuh tak acuh.

 Fitri menarik napas dalam-dalam, menekan seluruh gemuruh sesak di dadanya agar suaranya terdengar sedingin es. "Mas Fandi, aku mau kita ketemu sekarang juga di Cafe Luminia, kafe seberang jalan dekat Rumah Sakit Pusat Harapan Medika. Nggak ada tapi-tapi. Aku tunggu dalam waktu tiga puluh menit."

"Hah, males banget sebenernya. Tapi ya udah deh, biar urusan kita cepet kelar," jawab Fandi ketus sebelum memutus sambungan telepon secara sepihak.

 Tiga puluh menit berlalu, lonceng pintu Cafe Luminia berdenting pelan. Fandi melangkah masuk dengan setelan kasual santai, sisa lebam di wajahnya akibat pukulan Hermawan kemarin masih terlihat samar. Pandangan matanya langsung menangkap sosok Fitri yang sedang duduk sendirian di sudut meja dekat jendela kaca besar yang menghadap langsung ke arah jalanan raya.

 Fandi melangkah angkuh, menarik kursi kayu di hadapan Fitri dengan gerakan kasar, lalu mendudukkan tubuh kekarnya sambil langsung menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Dia menatap Fitri dengan pandangan mata yang sangat datar, kaku, dan tanpa rasa bersalah sedikit pun sepeser pun.

 Fitri mendongak, menatap balik wajah suaminya dengan pandangan mata yang tidak kalah datar, dingin, dan sedingin es di kutub utara. Topeng profesionalitas dokternya mengunci rapat seluruh sisa air mata kepedihan batinnya sore ini.

"Mau ngomong apa lagi kamu, Fitri?" tanya Fandi membuka percakapan dengan nada suara yang merendahkan. "Kalau cuma mau nangis-nangis bombay atau maki-maki aku soal Shinta lagi, mending aku cabut sekarang. Waktuku terlalu berharga buat ngeladenin drama perempuan mandul kayak kamu."

 Mendengar hinaan kata "mandul" keluar lagi dari mulut Fandi, jantung Fitri sempat berdegup kencang menahan perih, namun dia menolak untuk terlihat lemah. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun untuk membalas makian itu, tangan kanan Fitri bergerak tenang membuka tas jinjingnya, mengeluarkan seberkas dokumen kertas tebal berlogo hukum, lalu menghempaskannya ke atas meja kaca tepat di depan dada Fandi.

"Nggak usah banyak bicara, Fandi," ucap Fitri dengan suara yang sangat rendah, tegas, dan menusuk relung hati. "Ini surat gugatan cerai resmi yang udah aku proses lewat pengacara keluarga sejak seminggu yang lalu. Aku mau kamu tanda tangani berkas ini sekarang juga di depan mataku."

 Fandi melirik sekilas ke arah tumpukan kertas tersebut. Raut wajahnya kelihatan sangat biasa saja, datar, tanpa ada rasa panik atau ketakutan kehilangan status sebagai menantu keluarga Wijaya. Dia merogoh saku kemeja kasualnya, mengambil sebuah pulpen logam hitam, lalu dengan gerakan yang sangat cepat dan acuh tak acuh, Fandi langsung menggoreskan tanda tangannya di atas materai lembar terakhir dokumen perceraian mereka.

 Sret... Sret...

 Fandi melemparkan kembali pulpen dan berkas itu ke hadapan Fitri dengan senyuman tipis yang sangat menyebalkan. "Nih, udah aku tanda tangani. Gampang kan? Lagian aku juga udah muak banget hidup numpang di rumah papamu yang sok mengatur itu."

 Fitri merapikan kembali berkas tersebut masuk ke dalam tasnya, lalu berdiri dari kursinya dengan postur tubuh yang sangat tegap dan berwibawa. "Makasih atas kerja samanya, Fandi. Urusan kita selesai dan sampai bertemu di persidangan Pengadilan Agama minggu depan."

 Baru saja Fitri membalikkan tubuhnya bersiap melangkah pergi, suara kekehan sinis yang sangat keras dan dipenuhi ejekan menjijikkan mendadak meledak keluar dari mulut Fandi, menghentikan langkah kaki Fitri seketika.

 Fandi menyandarkan punggungnya di kursi kafe, menatap punggung Fitri dengan pandangan mata mesumnya yang kian liar. "Hahaha... Fitri, Fitri... Kamu beneran pinter ya jadi dokter, tapi urusan membaca isi hati cowok, otakmu itu bener-bener bego banget! Kamu mau tahu nggak satu fakta hukum yang paling menyenangkan kenapa aku sudi bertahan nikah sama kamu selama dua tahun ini?"

 Fitri memutar tubuhnya kembali perlahan, menatap Fandi kaku. "Maksud kamu apa, bajingan?"

 Fandi memajukan tubuh tegapnya ke depan meja, menatap Fitri penuh kemenangan egoisnya yang busuk, lalu melontarkan sebuah rentetan dialog rahasia yang bener-bener meremukkan sisa harga diri Fitri malam ini. "Maksudku... aku sejak awal dari tiga tahun lalu bener-bener NGGAK PERNAH CINTA SAMA KAMU, Fitri sayang! Aku setuju nikah sama kamu murni cuma karena satu alasan gila... yaitu aku pengen bisa TINGGAL SATU RUMAH SAMA KALEA?! Aku pengen punya akses legal buat bisa ngeliat kecantikan Kalea lebih dekat, lebih lama, dan setiap hari di rumah itu?!"

 DEG!!!

 Fitri Amelia Wijaya seketika membeku kaku bagai patung lilin di tengah kafe, matanya melotot sempurna dengan dada yang berdegup kencang menahan rasa syok yang luar biasa dahsyat.

"Hahaha! Kaget ya?!" goda Fandi lagi dengan seringai setannya yang sangat menjijikkan, mengedipkan sebelah matanya mengejek. "Asal kamu tahu, Shinta itu cuma mainan pemuas berahiku aja karena dia murah dan gampang digoda demi bersaing sama kakaknya. Tapi kalau Kalea... Kalea itu obsesi terbesarku, Fitri! Jadi status jandamu besok itu murni karena kebodohanmu sendiri yang nggak bisa jaga suami! Selamat meratapi nasibmu ya, cewek mandul!"

 Fitri menarik sudut bibirnya sinis, menatap Fandi dengan pandangan mata yang dipenuhi rasa muak yang teramat sangat mendalam sebelum akhirnya melangkah lebar keluar menembus pintu kafe dengan tangisan penyesalan yang kian membara di dalam jiwanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!