NovelToon NovelToon
Wanita Miskin Pengganti Nyonya Mahesa

Wanita Miskin Pengganti Nyonya Mahesa

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Diam-Diam Cinta / Duda
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: Quin

Nadira, gadis miskin dari desa, datang ke kota demi biaya pengobatan ibunya. Hidupnya berubah ketika ia menemukan seorang wanita tewas di pinggir jalan dan tanpa sengaja menjadi tersangka pembunuhan karena DNA-nya ditemukan di tubuh korban.

Korban itu adalah Nayla Adiprana, istri Mahesa Adiprana, pengusaha kaya yang dipenuhi duka dan amarah. Sebagai hukuman, Mahesa memaksa Nadira menikah dengannya dan hidup menderita di rumahnya.

Namun seiring waktu, Mahesa mulai melihat ketulusan Nadira yang merawat putranya dengan penuh kasih. Saat benih cinta tumbuh, kebenaran mengejutkan terungkap.

Akankah Nadira memaafkannya atau justru Nadira akan menjauh darinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Quin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 25

Malam sudah berganti pagi. Nadira melakukan aktifitasnya seperti sebelumnya, ia mengurus Keano walaupun ia sedikit telat bangun karena insiden semalam.

Bi Siti yang pengertian tak membangunkannya dan malah duluan mengurus Keano. Bi Siti hanya menunggu Nadira bangun baru kemudian menyerahkan Keano pada Nadira.

" Nadira, tumben hari ini telat bangun. Nadira baik baik saja kan?" tanya bi Siti penasaran.

Nadira tersenyum getir, ia menggendong Keano dalam pelukannya. " Semalam Keano rewel bi, jadi Nadira begadang." bohong Nadira. Ia tak ingin menceritakan kejadian semalam, bahkan luka di lutut dan sikunya ia sembunyikan menggunakan baju dan celana yang panjang. Nadira tahu, jika ia menceritakan semuanya bi Siti pasti akan bersedih. Nadira tidak mau melihat kesedihan bi Siti.

" Kenapa tidak bangunkan bibi, kasian Nadira harus begadang. Lain kali kalau tuan muda rewel lagi tengah malam jangan sungkan bangunkan bibi ya." ujar Bi Siti tersenyum hangat ke arah Nadira.

Nadira membalas dengan mengangguk pelan, tak lama kemudian bi Siti meninggalkan kamar itu.

Nadira berjalan ke luar dari kamar Keano, ia membawa Keano bersamanya. Tujuan Nadira saat ini hanya satu, yaitu menyembunyikan surat untuk bi Siti yang ia tinggalkan di dalam kamarnya.

Nadira meraih kertas terlipat yang terletak di atas meja di kamarnya, kemudian meremasnya menjadi gumpalan lalu membuangnya ke tempat sampah.

Setelah itu ia kembali ke kamar Keano, sudah saatnya bayi itu untuk tidur siang.

Namun saat sedang dalam perjalanan ke kamar Keano, Nadira malah di hadang oleh Arya yang entah kapan pria itu datang dan berada di sana.

Nadira menghentikan langkahnya, ia tak berani menatap manik pria itu. Rasanya ia masih terbayang kata kata pria itu yang juga ingin membunuhnya, bahkan nyawanya menjadi perjanjian bagi dia dan Mahesa.

" Berikan Keano padaku! Aku mau membawanya jalan jalan."

Deg

Nadira mulai ketakutan saat Arya menggendong Keano, pria itu terlihat menatap dengan tatapan kebencian.

" Kamu sangat beruntung karena keponakanku ini menyelamatkan hidupmu! Kamu akan mendapatkan apa yang seharusnya kamu dapatkan suatu hari nanti! Pembunuh!." ujar Arya, kemudian ia pergi meninggalkan Nadira yang masih mematung.

Lagi lagi tudingan kasar Nadira dengar, tudingan yang seharusnya bukan untuknya seolah sudah menjadi makanannya sehari hari. Nadira tidak bisa lagi melakukan apa apa.

Di ruang tamu, Arya sedang meminta izin pada Mahesa untuk membawa Keano keluar jalan jalan. Mahesa mengizinkannya, asalkan mereka bermain di taman kediaman.

Arya sangat gembira, ia membawa Keano pergi dengan senyum kegirangan, sesekali ia mencium pipi keponakannya itu dengan gemes.

Di lain sisi, Mahesa sedang menyeruput teh hangat sambil membaca informasi di tabletnya. Kemudian ia kembali teringat dengan gelang yang ada di dalam tas Nayla.

Mahesa buru buru menghabiskan teh nya, setelah itu ia bergegas ke kantor polisi untuk melihat secara langsung apa saja yang ada di dalam tas Nayla.

***

Nadira menatap keluar jendela dengan tatapan sendu, tak ada harapan lagi untuknya bisa bebas dari kediaman itu. Ia telah menjadi tahanan dan selamanya akan berada di sini, bahkan mungkin saja kematiannya juga berada di sini.

Saat sedang memandang ke luar jendela, Nadira melihat kedekatan Arya dengan Keano. Ternyata Arya sangat menyayangi Keano, dia paman yang baik untuk keponakannya itu.

Tapi Arya merupakan pria yang sama kejamnya dengan Mahesa, mereka sama sama ingin membunuhnya.

Nadira menarik nafas panjang, lagi lagi ketakutan menyerangnya hingga tubuhnya gemetar. Nadira menutup jendela dan duduk di atas ranjang sambil mengusap kepalanya dengan pelan.

" Andai saja ada orang yang bisa membantuku keluar dari masalah ini..." gumam Nadira.

Di tengah kebimbangan yang ia rasakan, pintu kamar Nadira diketuk dari luar. Nadira bergegas membukanya, sosok yang ia lihat kembali membuatnya merinding satu badan.

Arya datang dengan tatapan berbeda, sebelumnya pria itu terlihat sangat senang saat di taman, tapi kali ini pria itu menunjukkan ekspresi penuh kebencian.

" Keano sudah tidur, letakkan dia di ranjangnya! Ingat Nadira! Jangan pernah mencoba untuk menyakiti Keano, kalau sekali saja aku tahu kamu menyakitinya, aku akan langsung mencekikmu hingga...m*ti."

Deg

Tubuh Nadira kembali gemetar bersamaan dengan tudingan dan ancaman yang terus ia terima.

Arya langsung meninggalkan Nadira setelah menyerahkan Keano kepadanya.

Nadira kembali menitikkan air mata, hatinya seolah di himpit sebuah batu besar yang menyesakkan. Orang orang begitu membencinya, tak ada yang melihat sisi baiknya. Tak ada yang percaya padanya.

Dengan linangan air mata, Nadira meletakkan Keano di dalam ranjangnya. Bayi mungil itu sedang tertidur pulas, ia tak tahu apa apa bagaimana rumitnya keadaan di lingkungannya.

Rasanya Nadira ingin kembali menjadi bayi, tidak punya masalah dan beban, hanya ada keceriaan. Tapi itu semua mustahil terjadi.

***

Di sebuah gedung apartemen, seorang pria berusia tiga puluh lima tahun sedang menatap foto kebersamaannya dengan seorang wanita yang tersenyum dengan manis ke arah kamera.

Pria itu membelai foto yang ia pandang dengan perasaan berkecamuk. Gelang di tangannya menghasilkan suara kecil saat tak sengaja bersentuhan dengan bingkai foto.

" Nayla... Jika saja kamu tidak keras kepala, semuanya tak akan jadi begini..."

Pria itu bernama Reno Alvero, pria dengan perawakan tinggi besar serta tato di lehernya membuatnya terlihat sangar.

Reno memiliki sebuah perusahaan yang saat ini sedang berada di ujung tanduk, kebangkrutan sudah menanti di depan mata. Itu semua terjadi karena persaingan bisnis beberapa tahun yang lalu dengan perusahaan Adiprana Group. Saat itu Mahesa meluncurkan sebuah inovasi baru untuk memajukan setiap perusahaan, dan Reno juga melakukan hal yang sama. Tapi, karena Mahesa lebih unggul jadi Reno akhirnya tidak terpilih dan rencananya gagal total. Akibat dari insiden itu, banyak yang tidak berminat lagi untuk membeli apapun dari perusahaan Reno. Kabar tentang kecurangannya saat hari penilaian juga membuat citranya menjadi buruk.

Akhirnya Reno tak punya pilihan selain ganti rugi dan meminta maaf di hadapan publik kepada Mahesa. Tapi, itu semua hanyalah sandiwara, karena baginya Mahesa adalah musuh sesungguhnya dan balas dendam adalah satu satunya.

" Nayla... Walaupun kau sudah tiada, tapi waktu harus tetap berjalan. Aku akan membalaskan dendamku dan akan menghancurkan suamimu itu!!."

Reno meletakkan bingkai foto di tangannya, kemudian ia duduk menghadap ke arah jendela. Segelas minuman keras dan satu batang rokok membuatnya jauh lebih santai.

Selama beberapa minggu ini ia tak pernah keluar dari kamar apartemen itu, tapi setelah mengetahui apa yang sedang terjadi, Reno memutuskan untuk melanjutkan kembali rencananya yang sempat tertunda.

" Mahesa... Kamu sangat ambisius dalam hal apapun. Aku dengar... Kamu juga menikahi wanita yang sudah membunuh istrimu sendiri... Sangat menarik..." Reno menghisap kembali batang rokok yang ada di tangannya sambil tersenyum miring. Pandangannya mengarah pada luar jendela, memperlihatkan gedung gedung pencakar langit dari atas sana.

" Tunggu saja Mahesa, aku akan merebut kembali apa yang sudah kamu ambil!."

1
Emi Sudiarni
kren kak, di tungu kelanjutannya
Emi Sudiarni
lanjut kak...
Quin: ciapp👍🤭
total 1 replies
Emi Sudiarni
entar lo jatuh cinta ama nadira.
Emi Sudiarni
kamu tu mahesa yg peluk anindira🤣🤣
NN
lanjut
Quin: okeyy best👍😍
total 1 replies
Ma Em
Semoga kebenarannya segera terungkap agar Nadira bisa cepat bebas dari siksaan Mahesa , dan bisa pulang kerumah ibunya .
Quin: terimakasih 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!