NovelToon NovelToon
Three Princes And The Cat Who Knows Too Much

Three Princes And The Cat Who Knows Too Much

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Epik Petualangan / Keluarga & Kasih Sayang / Penyeberangan Dunia Lain
Popularitas:242
Nilai: 5
Nama Author: Rootea

Rumi terlempar ke dunia otome game yang sedang digandrungi. Tapi, dia bukan tokoh utama wanitanya.... Dia cuma seekor kucing!

Berbekal pengetahuan akan seluruh akhir cerita bersama tiga pangeran, Rumi bertekad mengatur jalur romansa agar semuanya berakhir bahagia.

Namun, kehidupan tidak pernah sesederhana permainan game....

Tiga pangeran berarti tiga jalan hidup. Tiga pilihan. Dan hubungan yang perlahan menghancurkan dari dalam.

Apakah yang dia ketahui masih cukup? Ataukah, pada akhirnya Rumi tidak bisa melakukan apa-apa....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rootea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 22 - Berita Buruk

Ada sebuah cerita populer yang beredar di Kaelros. Dibicarakan cukup sering dalam bisik-bisik yang tidak sepenuhnya ditutupi. Muncul di sana-sini dalam obrolan di waktu santai. Dijadikan cerita untuk menakut-nakuti bocah nakal yang enggan menurut.

Sebagian orang membicarakannya dengan ngeri, sementara sebagian lain terdengar separuh mengagumi. Seiring waktu, bermacam versi bermunculan seperti jamur, mengaburkan kebenaran maupun asal mula kejadian itu sendiri.

Hanya satu hal yang tidak pernah berubah dalam cerita itu—di antara tiga pangeran, Raien adalah yang paling berbahaya. Kekejamannya mengudara ke seluruh penjuru Kaelros, mengiringi gelar pahlawan yang juga melekat di baju zirahnya. Keduanya tidak terbantahkan. Pun jua tidak menihilkan satu sama lain.

Hari itu, Kaelros merayakan kembalinya pasukan dari utara.

Gerbang utama ibu kota begitu ramai. Bendera kekaisaran berkibar di sepanjang jalan besar, melambai di antara sorakan rakyat yang memadati setiap sisi kota. Arak-arakan itu membentang panjang hingga gerbang istana. Alunan musik terdengar dari kejauhan. Bunyi logam dari zirah para prajurit bercampur dengan teriakan yang mengelukan satu nama.

“Pangeran Raien!”

“Pedang Kaelros!”

“Pelindung Negeri!”

Kabar kemenangan pasukan Raien mengatasi masalah di Waymoor menyebar lebih cepat dari lonceng kota. Area perbatasan itu kini berada di bawah pengawasan langsung pasukan garda depan; jaminan untuk keamanan jalur dagang. Kabarnya, sekelompok organisasi fanatik telah diringkus dan menunggu pengadilan istana.

Aku dan Jovienne menyaksikan arak-arakan megah itu dari atas benteng istana.

“Pangeran Raien Sang Pelindung Kekaisaran Kaelros. Rupanya julukan itu bukan omong-kosong.” Jovienne berkomentar seraya bersiul pelan.

Di bawah sana, rakyat menghujani langkah sang pangeran dengan bunga-bunga berwarna cerah. Rombongan pasukan itu masih menyisakan jejak pertarungan dan perjalanan panjang, meski tidak ada kelelahan yang terbaca di wajah sang pangeran.

“Dia benar-benar seperti pahlawan.”

Aku mengangguk-angguk setuju.

Rakyat ibu kota tampak tidak henti-hentinya bersorak mengelukan nama Raien. Biarpun pangeran kedua itu hanya bergerak di atas kudanya, tanpa sedikitpun terlihat ingin menanggapi. Tidak ada lambaian tangan, bahkan seulas senyum pun tidak ada. Wajah tampannya hanya memandang lurus ke depan dengan tatapan tajam

Sungguh khas.

“Langit yang tenang tidak pernah punya dua matahari.”

Di antara desau angin, aku mendengar seseorang berkata.

Kalimat itu diucap halus, nyaris tak terdengar, seolah yang mengujar memang tidak bermaksud untuk menyampaikannya pada siapapun. Jovienne sendiri tampak tidak mendengarnya. Gadis itu masih menatap ke arah sosok tegap Raien di antara iring-iringan dan kibaran bendera Kaelros.

Kalimat itu terdengar acak, sekaligus terasa berat.

Menolehkan kepala, aku separuh mengekspektasi keberadaan seseorang yang kebetulan lewat dan ikut menonton bersama kami. Akan tetapi, yang aku lihat hanya Havren.

Apa tadi... dia yang berbicara?

….apa maksudnya dengan dua matahari?

...*...

...*...

...*...

Waktu masih di Tokyo dulu aku seringkali ketinggalan berita. Terlalu sibuk sampai-sampai mendengarkan berita pagi adalah sebuah kemewahan. Di sini, dengan waktu luang melimpah, menyelinap ke aula singgasana di mana sidang petinggi istana diadakan adalah rutinitas pagi hariku. Seperti menyaksikan berita pagi, aku mendapat kabar teranyar Kaelros dari sana.

Cukup sering menghadiri sidang, lama-lama aku hafal nama-nama penting di Kaelros beserta wewenangnya masing-masing.

Hari ini ada lebih banyak yang hadir. Terlihat beberapa wajah tidak familiar di ruangan itu. Tampaknya ada cukup banyak perwakilan keluarga bangsawan yang datang. Mungkin hari ini adalah sidang besar. Sepertinya ada hal penting yang akan diumumkan atau perlu disampaikan pada kaisar.

Mungkin terkait keberhasilan Pangeran Raien menyelesaikan konflik di Waymoor kemarin.

Atau, mungkin bukan….

Sidang besar itu dibuka dengan laporan seorang bupati dari prefektur barat. Pria itu berdiri di tengah aula dengan wajah tegang.

“Yang Mulia, terdapat dugaan kuat bahwa miasma telah menyebar di wilayah kami,” ia berkata. “Banyak warga jatuh sakit, dan sumber air… tidak lagi layak dikonsumsi. Sementara para tabib tidak dapat menemukan penyebabnya.”

Bisik-bisik langsung menyebar di seluruh aula.

“Wilayah kami juga terdampak.” Lord Grendahl, ayah Althea, tiba-tiba menambahkan. Ia maju satu langkah dari tempatnya berdiri seraya menundukkan kepala sebagai salam. Suaranya terdengar berat.

“Sejumlah besar tanaman rusak sebelum masa panen. Jika ini berlanjut, pasokan pangan untuk istana di tahun ini akan terganggu.”

Seketika aula itu ricuh.

“Dengan segala hormat, Yang Mulia,” Virel, sang kanselir istana turut melangkah maju, suaranya terdengar nyaris tanpa emosi, “apakah kita tidak terlalu terburu-buru menyimpulkan ini sebagai miasma?”

“Wilayah terpencil sering kali melebih-lebihkan keadaan.” Seseorang berkata.

“Atau mungkin,” yang lain menyahut pelan, “ini akibat dari sesuatu yang… tidak seharusnya dilakukan.”

Beberapa kepala menoleh. Lirikan tajam dilempar.

Tuduhan itu tidak diucapkan secara langsung. Namun maknanya jelas. Implikasi halus adanya kesalahan yang telah diperbuat kekaisaran.

Atau bahkan… sang Kaisar sendiri.

“Rakyat menderita,” suara lain memotong, lebih tegas. “Yang menjadi prioritas seharusnya penanganan, bukan saling menuduh.”

“Yang tidak kalah penting,” yang lain membalas dengan suara dingin, “adalah tidak membuang waktu Yang Mulia dengan kepanikan yang belum terbukti.” Yang itu sepertinya Lysarent—paman Caelian.

Debat kusir rupanya bisa terjadi bahkan di hadapan tahta kekaisaran.

Setelah kerusuhan kecil itu, untuk pertama kalinya Kaisar Lucerian bergerak. Hanya pergerakan kecil di atas singgasana, namun cukup untuk membuat seluruh ruangan kembali sunyi. Tatapannya tajam, perlahan menyapu mereka semua—bangsawan, menteri, komandan, hingga putra mahkota.

“Sudah berapa lama?”

Pertanyaan yang sederhana. Namun pejabat yang membawa laporan itu menelan ludah sebelum menjawab,

“Laporan pertama… sekitar tiga bulan yang lalu, Yang Mulia.”

“Dan baru sekarang dibawa ke hadapan kami?”

Tidak ada jawaban. Tanpa diucap, itu adalah sebuah kesalahan.

Keheningan itu pecah oleh suara langkah tergesa dari luar aula. Seorang penjaga masuk dengan napas terengah. Intrusi yang tidak semestinya dilakukan. Tapi toh tetap dilakukan. Penjaga itu berlutut rendah di kaki tangga singgasana.

“Mohon ampun, Yang Mulia—laporan baru dari wilayah barat.”

Kaisar tidak memerintahkannya untuk melanjutkan, namun ia tetap berbicara.

“Desa Norton… seluruh penduduknya jatuh sakit dalam dua hari terakhir.”

Bisikan kembali mengisi ruangan. Lebih keras dari sebelumnya.

“Gejalanya?” Putra Mahkota bertanya.

Sejenak penjaga itu terlihat ragu. “…beberapa dari mereka dilaporkan berbicara sendiri, Yang Mulia.”

Ruangan itu hening. Seluruh pasang mata yang ada di sana tertuju pada si penjaga.

“Dan…” ia menunduk lebih dalam, “menyerang anggota keluarga mereka sendiri.”

Gumam resah memenuhi aula, tidak lagi ditutup-tutupi.

“Ini bukan penyakit biasa….” bisik seseorang, cukup keras untuk didengar yang lain. Tidak ada tanggapan, tidak ada sanggahan. Tidak juga ada yang berani untuk menyebut apa sebenarnya yang mereka hadapi.

“Siapa di antara kalian memiliki usulan yang dapat segera dilaksanakan?”

“Saya mengusulkan pengiriman tim khusus untuk memeriksa lokasi, Yang Mulia. Memahami dengan baik sumber kejadian adalah hal krusial sebelum tindakan lanjut dapat diambil.” Melvaris, sang royal tutor berucap.

“Lakukan.” Perintah Kaisar terdengar. “Pastikan persiapan matang. Kita tidak membutuhkan lebih banyak korban.”

Ketegangan di ruangan itu mereda.

Sejenak kukira masalah itu dianggap selesai—untuk sementara.

Akaj tetapi, sebelum laporan lain dibacakan, seseorang berkata,

“Bila saya diizinkan untuk memberi pendapat, Yang Mulia,” suara itu mengalun lambat; ada nada khas dalam suaranya yang mengingatkanku pada pembacaan sutra. “Kiranya istana dapat mempertimbangkan sedikit bantuan dari kuil suci.” Tanpa perlu melihat, aku tahu yang berbicara adalah Pendeta Agung—aku tidak pernah tahu siapa namanya.

Perhatian seisi ruangan langsung tertuju ke arahnya.

“Apakah kuil suci hendak meminta pengorbanan lain?” Beberapa bangsawan terdengar mencibir.

Tidak ada tanggapan dari si pendeta, tapi udara di ruangan itu kembali tegang.

“Sudah terlalu lama Kaelros tidak berada di bawah perlindungan berkah naga.” Alih-alih pria tua itu berkata.

Tidak ada bantahan yang terdengar. Meski, tidak juga ada yang menyetujui.

Rasanya konyol mendengar segala hal digantungkan pada kekuatan makhluk mitos. Biarpun katanya dulu Kaelros dibangun dengan berkah naga dan bla bla bla; faktanya kan sekarang tidak ada naga. Menjadikan naga sebagai dewa juga terdengar ganjil.

Walau begitu, tampaknya tidak ada yang cukup berani untuk menentang kepercayaan leluhur Kaelros.

“Apa pandanganmu, Pendeta Agung?”

Bahkan kekaisaran sebesar Kaelros masih kental dengan kepercayaan kuno.

Pendeta itu melangkah maju, lalu membungkuk di hadapan singgasana.

“Yang Mulia, mungkin sudah waktunya memastikan bahwa darah yang membawa kekuatan lama… kembali mengalir dalam keluarga kekaisaran.”

Aula itu seketika kembali panas. Seruan terdengar dari sana-sini.

“Apa maksud pernyataan itu?”

“Itu implikasi yang berbahaya—”

“Pengguna sihir hampir tidak tersisa di negeri ini—”

“Hati-hati dengan ucapanmu, Pendeta Agung,” Raien tiba-tiba angkat suara, nadanya tenang, nyaris dingin. “Seseorang dapat mengira kuil suci meragukan legitimasi keluarga kaisar.”

Pendeta itu sontak berlutut. Gerakannya amat terlatih. “Hamba tidak bermaksud melampaui batas,” ucapnya.

“Hanya… bila Yang Mulia berkenan mempertimbangkan…” Ia menunduk lebih dalam, nyaris bersujud, suaranya sedikir teredam, “mungkin sudah waktunya bagi kekaisaran untuk… memperkuat kembali apa yang dahulu menjadi pondasinya. Untuk kejayaan Kaelros hingga masa mendatang.”

Ruangan itu mendadak hening. Keheningan yang menggantung berat.

Tiadanya seorangpun yang berbicara membuat lanjutan perkataan pendeta itu terdengar begitu nyaring, biarpun ia berbicara dengan suara lebih pelan.

“...melalui pernikahan.”

Seolah-olah itu menjelaskan segalanya.

Semua orang di ruangan itu tampak berusaha keras untuk tidak melirik ke arah yang sama. Ke arah seseorang, lebih tepatnya.

Meski tidak ada nama yang disebut, pun tidak ada keputusan yang diambil hari itu, bahkan dari kacamata awamku, jelas tampak sesuatu yang besar sedang bergerak.

Dalam kisah kerajaan manapun, arahnya tidak pernah jauh dari tahta.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!