NovelToon NovelToon
Beyond The Contract

Beyond The Contract

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Agatha soul

Akibat jebakan obat di malam perjamuan, Aruna berakhir di ranjang bos besarnya yang dingin, Adrian. Namun, sebuah garis dua di testpack mengubah segalanya. Batasan profesional di atas kertas itu perlahan runtuh saat seorang anak kecil—buah cinta kandung dari malam penuh skandal itu—hadir di antara mereka, memaksa hubungan ini berjalan jauh melampaui batasnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agatha soul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 35

Tidak butuh waktu lama sampai pintu ruanganku kembali terbuka. Aruna muncul dengan napas yang sedikit terengah, tangannya memegang sepasang sendok dan garpu stainless steel yang tampak berkilau.

"Ini, Pak, sendoknya," ujarnya sambil meletakkan alat makan itu di samping kotak bekalnya, lalu kembali duduk di kursi depanku dengan gerakan cepat.

Aku meraih sendok dan garpu itu. Namun, tepat sebelum ujung sendokku menyentuh potongan daging sapi teriyaki buatannya, aku sengaja menjeda gerakanku. Aku mengangkat wajah, menatapnya lurus-lurus dengan pandangan penuh selidik yang sengaja kubuat sedingin mungkin. Aku hanya ingin menjahilinya sedikit.

Melihat keraguanku, Aruna langsung memajukan tubuhnya. "Kenapa, Pak? Tenang saja, saya gak masukin racun atau apa pun selain bumbu dapur kok! Sumpah, Pak, suci bersih!" serunya defensif dengan ekspresi panik yang kelewat jujur.

Aku menyembunyikan senyumku, lalu mulai menyuap potongan daging beserta nasi hangat itu ke dalam mulutku. Begitu lidahku mengecap rasanya, mataku sedikit melebar. Dagingnya luar biasa empuk, dan bumbu teriyakinya meresap sempurna, berpadu pas dengan kesegaran tumis brokolinya. Ini bahkan jauh lebih enak dari yan dibayangkan.

Aku melirik Aruna. Gadis itu sedang menatapku tanpa berkedip. Sepasang mata bulatnya berbinar-binar cerah, dipenuhi binar harap-harap cemas menantikan komentar dari sang bos besar. Imut sekali.

Demi menjaga harga diri dan gengsiku, aku mengunyahnya dengan santai, lalu menelan makanan itu perlahan.

"Bagaimana, Pak?" tanyanya tidak sabaran.

"Lumayan," jawabku singkat, datar, dan tanpa ekspresi.

Detik itu juga, aku bisa melihat dengan jelas bagaimana binar cerah di wajah Aruna langsung padam seketika. Ekspresinya berubah total menjadi sangat kesal. Bibirnya mengerucut sebal, memancarkan aura kecewa yang sangat kentara karena usaha kerasnya sejak subuh hanya dihargai dengan kata lumayan.

Tanpa membalas ucapanku, dia mendengus pelan, lalu dengan gerakan merajuk yang kentara, tangan mungilnya merangsek ke dalam kantong kresek hitam di meja. Dia mengambil satu tahu isi yang masih hangat, lalu menggigitnya dengan kasar tepat di hadapanku. Dia mengunyah dalam diam sambil memalingkan wajahnya ke arah lain, jelas-jelas sedang mogok bicara denganku karena kesal.

Melihat pemandangan itu, jiwa usilku kembali bergejolak. Aku mengulurkan tangan kiriku ke dalam kresek hitam miliknya, mengambil sepotong bakwan yang cukup besar, lalu meletakkannya di atas nasi bekal buatannya. Aku menyuap kombinasi nasi dan gorengan pinggir jalan itu bersamaan.

"Enak," ucapku spontan setelah mengunyah bakwan tersebut.

Mendengar kata enak keluar dari mulutku, wajah Aruna langsung berbalik menatapku dengan kilat binar yang kembali menyala terang. Dia tampak sangat lega dan senang, mengira aku akhirnya mengakui kelezatan masakannya.

Namun, sebelum dia sempat menyombongkan diri, aku langsung menyambung kalimatku dengan wajah tanpa dosa, "Gorengannya enak. Pas tingkat garingnya."

Aku bersumpah seperti bisa mendengar suara ekspektasi Aruna yang patah dan hancur berkeping-keping di udara. Wajah kesalnya kembali dalam versi kuadrat. Matanya menatapku tajam seolah-olah ingin menenggelamkanku ke laut saat itu juga.

"Ih! Tau ah, Pak!"

Saking kesalnya, Aruna langsung menyambar kantong kresek hitam berisi sisa gorengan itu dari hadapanku dengan gerakan cepat. Dia bangkit berdiri dari kursi, menghentakkan kakinya dengan gemas, lalu berjalan cepat menuju sofa kulit di sudut ruangan. Dia mendudukkan dirinya di sana dengan kasar, memunggungi mejaku, dan melanjutkan makan gorengannya sendirian dengan perasaan dongkol yang meluap-luap.

Melihat punggung mungilnya yang sedang merajuk hebat di sana, pertahananku akhirnya runtuh total. Aku tidak bisa lagi menahan diri. Sembari melanjutkan suapan nasi teriyaki buatan sekretarisku yang sebenarnya sangat luar biasa enak ini, aku cuma bisa terkekeh-kekeh sendiri dalam suara rendah, menikmati betapa menggemaskannya seorang Aruna jika sedang mengamuk.

Setelah menghabiskan bekal buatan Aruna sampai butir nasi terakhir yang tentu saja rasanya jauh di atas kata lumayan aku merapikan kotak makan kosong itu dan meletakkannya kembali ke dalam tas kainnya. Sementara itu, di sudut ruangan, sosok yang sejak tadi merajuk sudah mulai tenggelam dalam tumpukan berkas.

Aku kembali ke meja kerjaku, membuka laptop, dan mulai menyelesaikan sisa tugas operasional yang tertunda. Karena semalaman aku sudah lembur habis-habisan, lembar pekerjaanku hari ini sebenarnya tinggal sedikit lagi. Hanya butuh waktu sekitar satu jam sampai seluruh dokumen penting di mejaku selesai kutandatangani dan kuperiksa.

Aku menyandarkan tubuh ke kursi, melirik ke arah sofa.

Aruna tampak sangat kontras denganku. Di depannya, dokumen yang harus diperbaiki masih menumpuk tinggi. Gadis itu terlihat kewalahan. Keningnya berkerut dalam, jemarinya bergerak gelisah membolak-balik halaman berkas, dan sesekali dia memijat pelipisnya sendiri.

Melihatnya bekerja sekeras itu sendirian di hari ini, mendadak ada rasa kasihan yang menyergap hatiku. Lagi pula, ini kan hari libur, dan sebagian dari tugas itu menumpuk juga karena kesalahan sekretarisku dulu.

Aku bangkit dari kursi, melangkah santai melintasi ruangan sepi ini, lalu mendudukkan diriku di sofa yang sama, tepat di sebelah tempatnya duduk.

Begitu tubuhku tenggelam di busa sofa, Aruna langsung menegang. Namun, dasar keras kepala, dia langsung memasang wajah datar, memalingkan muka sedikit, dan berpura-pura tidak tahu kalau bosnya sedang duduk tepat di sampingnya. Dia mendadak sibuk setengah mati membaca selembar kertas, seolah benda itu adalah hal paling menarik di dunia. Dia jelas masih kesal soal makanan tadi.

Aku memperhatikan wajahnya dari samping yang masih ditekuk kesal. "Perlu bantuan?" tawarku pelan, sengaja melembutkan intonasi suaraku. Hening.

Aruna bergeming. Dia mengabaikan pertanyaanku mentah-mentah, hanya membalik halaman berkas di tangannya yang sengaja dikencangkan. Benar-benar aksi mogok bicara yang total.

Aku menahan senyum, lalu memajukan tubuhku sedikit, memperkecil jarak di antara kami. "Aruna," panggilku dengan suara berat, kali ini dengan nada yang lebih tegas tapi tidak membentak.

Mendengar namanya disebut dengan nada seperti itu, pertahanannya runtuh juga. Dia menghembuskan napas pendek, menoleh ke arahku dengan tatapan mata yang masih menyipit kesal.

"Kerjaan Bapak sendiri memangnya sudah beres? Bukannya kerjaannya juga banyak ya, Pak?" sahutnya sinis, mencoba membalikkan keadaan agar aku kembali ke mejaku.

"Sudah. Tinggal sedikit lagi dan bisa saya tinggal," jawabku tenang, bersandar pada sandaran sofa sambil melipat tangan di dada. Aku menatap tumpukan kertas di depannya. "Kamu sudah ngerjain sampai mana?"

Aruna sempat diam beberapa saat, melirikku dengan tatapan ragu sekaligus menimbang-nimbang apakah dia harus menerima bantuan dari bos yang baru saja menistakan masakannya atau tidak. Tapi melihat gunungan dokumen yang harus diterjemahkan dan diperiksa ulang, egonya akhirnya mengalah pada rasa lelah.

Dia menarik napas dalam-dalam, lalu menggeser satu map tebal ke tengah meja. "Ini, Pak... saya baru sampai pasal pengerjaan kontrak Singapura yang bagian klausul pembebasan pajak. Bahasanya hukum banget, saya agak tersendat di bagian analisis pasarnya," akunya dengan suara yang pelan, akhirnya mau berbicara jujur padaku.

Aku mengangguk kecil, langsung meraih map tersebut dan mendekatkan posisiku agar bisa membaca lembar dokumen yang sama dengannya. Rasa kesal di wajahnya perlahan memudar, tergantikan dengan fokus yang kembali menyala, dan aku diam-diam menikmati momen bekerja berdampingan sedekat ini dengannya.

1
Alia Chans
Menulis cerita ini membutuhkan waktu berjam-jam, tetapi satu like mungkin mampu menghapus lelah itu dalam sekejap. Semangat thor nulisnya😍
Agatha soul: terima kasih 🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!