menceritakan seorang raja kehidupan yang tertarik dengan sang ratu kematian yang dia baca di sebuah buku legenda sang ratu kematian yang sangat cantik dan dingin
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon leona athena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 26 : perpisahan yang penuh semangat dan cinta
Perjalanan pulang berlangsung dengan cepat dan menyenangkan. Selama di perjalanan, wajah Xavier tidak pernah lepas dari senyum bahagia. Ia terus menyentuh kalung ber batu ungu yang tergantung di lehernya, merasakan kehangatan dan kekuatan yang terpancar darinya, serta teringat akan segala hal indah yang baru saja ia alami. Rasa rindu sudah mulai muncul di hatinya, meski ia baru saja berpisah dari Elara. Ia tidak sabar menunggu hari di mana mereka akan bersatu selamanya.
Ketika rombongan itu tiba di wilayah Kerajaan Cahaya, matahari baru saja mulai terbit, menerangi seluruh negeri dengan cahayanya yang hangat dan cerah. Begitu mereka mendekati istana, terlihat banyak orang yang sudah berkumpul dan menunggu di depan gerbang. Ada para penasihat, pemuka masyarakat, dan juga rakyat biasa yang penasaran dan ingin menyambut kepulangan raja mereka. Mereka sudah menunggu sejak semalam, karena mereka tahu betapa pentingnya perjalanan ini bagi Xavier dan bagi masa depan kerajaan mereka.
Begitu Xavier dan rombongannya turun dan berjalan masuk, mereka langsung disambut dengan sorakan dan ucapan selamat yang meriah. Wajah semua orang dipenuhi rasa senang dan rasa hormat. Namun, rasa penasaran mereka juga tidak bisa disembunyikan. Segera setelah semuanya tenang, banyak dari mereka yang mulai mengajukan pertanyaan, ingin mengetahui apa yang telah terjadi dan seperti apa tempat yang selama ini dianggap sebagai tempat yang gelap dan menakutkan itu.
"Baginda, bagaimana keadaan di sana? Seperti apa Kerajaan Obsidian Impire yang selama ini hanya kita dengar dari cerita-cerita kuno?" tanya salah seorang penasihat dengan rasa ingin tahu yang besar.
"Benar, Baginda," sambung yang lain. "Dan apa saja makhluk yang tinggal di sana? Apakah mereka benar-benar menakutkan seperti yang dikatakan orang-orang dahulu?"
"Dan yang paling penting... bagaimana keadaan Ratu Elara? Apakah ia benar-benar seperti yang digambarkan, sosok yang dingin dan menakutkan?" tanya seseorang lagi dengan hati-hati.
Mendengar pertanyaan-pertanyaan itu, senyum Xavier makin melebar. Ia hanya tersenyum melihat rasa penasaran mereka, dan tidak langsung menjawab satu per satu pertanyaan itu. Ia tahu, apa yang ia rasakan dan lihat tidak bisa dijelaskan hanya dengan kata-kata saja, karena keindahan dan kebaikan yang ada di sana jauh lebih dalam dari apa pun yang bisa diceritakan.
"Kalian akan mengetahuinya sendiri nanti, saat hari perayaan kita tiba," jawabnya dengan nada yang ceria dan penuh harapan. "Yang bisa aku katakan sekarang adalah, tempat itu indah, damai, dan penuh dengan kehidupan. Semua yang ada di sana adalah baik dan setia, dan sang Ratu... ia adalah orang yang paling lembut, baik hati, dan indah yang pernah aku kenal. Semua anggapan dan cerita yang ada selama ini hanyalah kesalahpahaman belaka."
Setelah menjawab sekilas, Xavier melangkah pergi dengan langkah yang ringan dan penuh semangat, meninggalkan mereka yang masih merasa penasaran namun juga ikut merasakan kebahagiaan yang terpancar dari raja mereka.
Begitu sampai di kamarnya, Xavier tidak beristirahat sedikit pun. Semangatnya begitu membara, dan pikirannya dipenuhi dengan berbagai rencana dan persiapan yang harus ia lakukan. Ia segera duduk di meja kerjanya, mengambil kertas-kertas kosong dan pena, lalu mulai menggambar dan menulis dengan cepat dan penuh perhatian.
Selama perjalanan pulang, ia sudah memikirkan semuanya dengan matang. Ia ingat bahwa pernikahan mereka akan dilaksanakan di dua tempat yang berbeda, dan ia ingin semuanya sempurna dan sesuai dengan keinginan dan ciri khas dari masing-masing tempat. Ia ingin Elara merasa nyaman dan dicintai, di mana pun mereka berada.
Untuk pernikahan yang akan dilaksanakan di kerajaannya sendiri, ia menggambar gaun pengantin berwarna putih bersih, melambangkan kesucian, cahaya, dan kehidupan yang menjadi ciri dari tempat tinggalnya. Namun, ia tidak membuatnya polos saja. Ia menghiasinya dengan motif-motif yang terinspirasi dari hal-hal yang disukai Elara—ada ukiran yang menyerupai bintang dan bulan, serta sulaman yang terlihat seperti kilauan kristal, agar gaun itu tetap mencerminkan kepribadian dan keindahan sang Ratu. Ia ingin Elara tetap menjadi dirinya sendiri, sekaligus juga menjadi bagian dari dunianya.
Sedangkan untuk pernikahan di Kerajaan Obsidian Impire, ia menggambar gaun berwarna hitam pekat, sesuai dengan keinginan Elara dan ciri khas kerajaannya. Namun gaun itu akan dihiasi dengan benang emas dan perak, serta ornamen yang menyerupai sinar matahari dan bunga-bunga indah dari kerajaannya, sebagai tanda bahwa ia dan dunianya juga telah bersatu dengan Elara dan dunianya. Ia ingin kedua gaun itu menjadi bukti nyata bahwa perbedaan mereka bukanlah hal yang memisahkan, melainkan hal yang membuat mereka menjadi lebih lengkap dan indah.
Ia menggambar dengan penuh perasaan, membayangkan bagaimana Elara akan terlihat saat mengenakan gaun-gaun itu, dan setiap kali ia membayangkannya, senyum bahagia selalu muncul di wajahnya. Ia ingin segalanya dibuat dengan tangannya sendiri, karena baginya, hal-hal yang dibuat dengan cinta dan perhatian akan memiliki nilai yang jauh lebih berharga daripada apa pun yang bisa dibeli atau dibuat oleh orang lain.
Setelah selesai membuat desainnya, ia segera memanggil para pembantu dan penasihat istana, dan memberikan perintah-perintah dengan jelas dan tegas.
"Segera siapkan dan cetak undangan pernikahan kita," ucapnya. "Kirimkan ke seluruh wilayah di dalam dan di luar kerajaan, kepada para pemimpin daerah, keluarga, teman, dan semua orang yang ingin kita undang untuk merayakan hari bahagia kita ini. Pastikan semuanya tersampaikan dengan baik dan tepat waktu."
Para pembantu segera bergerak melaksanakan perintah itu, bekerja dengan cepat dan teratur.
Kemudian, Xavier juga memanggil para tukang kebun yang ahli dan berpengalaman.
"Aku ingin seluruh taman dan halaman istana dihias dan diisi dengan berbagai jenis bunga yang berwarna-warni," perintahnya dengan semangat. "Tanamkan semua jenis bunga yang sering aku bawa dan berikan pada Elara—bunga mawar, lili, bunga matahari, dan semua jenis lainnya. Susunlah sedemikian rupa sehingga terlihat indah, cerah, dan menyenangkan. Ini adalah kali pertama Elara akan datang dan tinggal di kerajaanku, dan aku ingin ia merasa senang, betah, dan merasakan bahwa tempat ini juga menjadi rumah baginya, sama seperti tempat asalnya sendiri."
Para tukang kebun pun segera mulai bekerja, menggali tanah, menanam, dan menyusun bunga-bunga itu dengan penuh ketelitian dan kesungguhan. Seluruh bagian taman yang tadinya sudah indah, kini menjadi semakin indah dan penuh warna, seolah alam pun ikut bersiap menyambut kedatangan tamu teristimewa itu.
Dan tidak berhenti di situ saja, Xavier juga memanggil para koki terbaik yang ada di kerajaannya.
"Pelajari dan kuasai cara membuat semua makanan dan minuman yang disukai Elara dan orang-orang di kerajaannya," ucapnya. "Carilah cara membuatnya yang terbaik, dan pastikan rasanya sesuai dengan apa yang mereka kenal dan sukai. Aku ingin saat mereka datang ke sini, mereka bisa merasakan kenyamanan dan kehangatan, seolah mereka tidak pernah meninggalkan rumah mereka sendiri."
Para koki pun segera berusaha mencari tahu, mempelajari, dan mencoba membuat berbagai jenis masakan baru, bekerja sampai larut malam demi memastikan semuanya berjalan dengan baik.
Seluruh istana kini menjadi sangat sibuk dan ramai, namun kesibukan itu tidak terasa melelahkan sama sekali. Sebaliknya, suasana di mana-mana dipenuhi dengan rasa senang, semangat, dan kebahagiaan. Semua orang yang bekerja dan bergerak di sana bisa merasakan kebahagiaan yang terpancar dari diri Raja mereka, dan perasaan itu menular ke seluruh hati mereka. Mereka pun ikut merasa senang dan bangga bisa berperan serta dalam mempersiapkan hari yang istimewa ini.
Xavier terus berkeliling mengawasi dan memberikan petunjuk, memastikan bahwa semuanya berjalan sesuai dengan rencana dan keinginannya. Ia tidak merasa lelah sedikit pun, karena baginya, melakukan semua ini adalah hal yang paling menyenangkan dan berharga. Setiap langkah yang ia ambil, setiap hal yang ia persiapkan, semuanya dilakukan dengan penuh cinta dan rasa sayang untuk orang yang ia cintai.
Malam itu, cahaya terang menyala di seluruh sudut istana Kerajaan Cahaya. Semua orang bekerja sama dengan satu tujuan, yaitu menciptakan perayaan yang akan menjadi kenangan terindah bagi kedua kerajaan dan bagi semua orang yang terlibat di dalamnya. Dan di tengah semua itu, hati Xavier dipenuhi dengan rasa syukur dan harapan, karena ia tahu, hari yang ia nanti-nantikan itu semakin dekat, dan kehidupan yang penuh kebahagiaan kini sudah menanti di depannya.
Bersambung...