Jenna tak sengaja menyelamatkan seorang anak kecil yang terkurung bersamanya di gudang bar. Tak disangka, anak itu merupakan anak kesayangan seorang duda bangsawan.
Sebelumnya, Jenna selalu tersisih dari keluarganya. Kakaknya bahkan membuat kedua orang tua mereka berbalik memusuhinya. Sementara itu, pria yang dulu ia cintai justru berpihak kepada sang kakak.
Kali ini, Jenna tidak berniat mengalah. Ia ingin membalas semua yang telah dialaminya sekaligus mengejar kembali mimpinya menjadi aktris terkenal. Namun, setiap langkahnya selalu dihadang berbagai rencana licik dari kakaknya yang terus berusaha menjatuhkannya.
Saat Jenna perlahan membantu anak sang duda membuka diri dari trauma, pria itu mulai memperhatikannya dengan cara yang berbeda.
Akankah ia jatuh cinta pada Jenna?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Panasnya Hari Ini
“Taruh di sini, ya. Tolong bilang terima kasih ke tuan muda kamu.” Jenna langsung mengirim pesan ke Juju.
Kru terlihat sibuk, tapi sebenarnya diam-diam memperhatikan.
Ternyata cuma… jus?
Aneh.
Tadi dia terlihat terganggu dengan bunga, bahkan berlian pun tidak membuatnya senang. Tapi sekarang, dia terlihat bahagia.
Semua orang mulai berkomentar, “Ternyata bukan cuma uang, harus pakai hati!”
“Iya, itu kan buatan sendiri!”
“aku yakin yang kirim jus menang!”
“aku tetap pilih yang kirim berlian!”
Setelah minum, Jenna kembali semangat bekerja.
Sementara itu, di rumah, Marco mendapat notifikasi.
Dia membuka pesan dari Jenna, dan tersenyum tipis.
“Sayang, makasih jus sama sup kacang hijaunya, enak banget! Sarang haeyo!”
Dia menatap pesan itu lama, lalu memanggil anaknya. “Juju, sini.”
Anak itu tidak merespons.
“Ada pesan dari Tante Jenna.”
Dalam sekejap, Juju berlari dan berusaha mengambil HP.
Marco mengangkatnya. “Panggil aku Daddy dulu.”
Juju menolak keras. Sampai akhirnya hampir menangis, Marco menyerah dan memberikan HP.
Melihat anaknya membaca dengan wajah puas, Marco justru terlihat khawatir. Mungkin karena hidupnya terlalu tenang, Tuhan memberinya ujian ini.
Juju sangat pintar. Enam bulan sudah bisa bicara. Tapi sejak kejadian itu, dia tidak pernah berbicara lagi.
Marco merasa terlambat memperbaiki semuanya. Entah kapan dia bisa mendengar anaknya memanggilnya lagi.
Juju menunjuk tulisan “Sarang haeyo”.
“Itu cuma ungkapan biasa, nggak ada arti khusus,” kata Marco.
“Pfft! Jangan ngajarin kalau nggak ngerti! Itu artinya ‘I love you’ dalam bahasa Korea!” Xander muncul sambil membuat simbol hati.
Juju langsung menatap ayahnya dengan sinis, lalu pergi membuat jus lagi.
Marco sebenarnya tahu banyak bahasa. Tapi tulisan itu tidak ditulis dengan ejaan yang benar.
“Kamu nggak kerja?” tanyanya dingin.
Xander langsung duduk. “Aku punya info penting!”
Marco diam, menunggu.
“Jenna punya banyak pengagum! Tadi di lokasi syuting, ada yang kirim hadiah!”
“Itu jus dari Juju.”
“Iya, tapi sebelum itu ada dua orang lagi! Satu kirim mawar sebanyak itu, satu lagi kirim berlian 10 karat!”
Wajah Marco langsung dingin.
Setidaknya, suasana panas terasa sedikit berkurang.
“Kamu sudah tahu siapa mereka?” tanya Marco dengan nada berbahaya.
Xander mengetuk meja. “Nah itu masalahnya. Bahkan jaringan aku nggak bisa cari tahu. Kita harus tunggu mereka muncul lagi.”
Tatapan Marco cukup untuk membunuh. Menunggu bukan pilihan.
Dia langsung menelepon.
“Hercules, selidiki dua pria yang kirim hadiah di lokasi Syuting!”
Xander terkejut. “Wah, sampai tim rahasia kamu turun tangan!” Jaringan kakaknya memang luar biasa. “Aku sudah bilang, masa lalu Jenna itu rumit. Sekalian selidiki dia juga!” sarannya.
“Gak perlu.” Marco menolak.
Setiap orang punya masa lalu. Dia tidak akan menyentuh bagian yang tidak ingin dia ungkapkan.
...***...
Pukul enam sore, syuting selesai.
Hari ini fokus pada pemeran utama. Jenna hanya muncul di latar, seperti pajangan.
Tapi itu tetap melelahkan. Kostumnya berat, lehernya pegal, kulitnya mulai iritasi. Setelah berganti pakaian dan memakai masker, dia bersiap naik transportasi umum.
Dia belum terkenal, jadi aman.
Saat berjalan, sebuah Maserati hitam berhenti di sampingnya. Jendelanya terbuka.
“Jenna, aku antar pulang,” kata Zergan.
Jenna terdiam.
Mantan lagi…
Apa dia tidak bisa hidup tenang?
“Nggak usah.” Dia terus berjalan.
Tapi mobil itu tetap mengikuti.
“Kita ngobrol, ya?”
Jenna mencibir. “Ngobrol apa? Mau nambah gosip? Mau difoto?”
Zergan mengernyit. Dia tidak terbiasa diperlakukan seperti ini.
“Aku serius.”
Kalau terus di jalan, pasti difoto. Jenna melihat sekitar, lalu masuk ke mobil.
Setengah jam kemudian, mereka ada di ruang privat restoran.
Zergan memesan banyak makanan favoritnya. “Jenna, lama nggak ketemu. Gimana kabar kamu di luar negeri? Aku pernah kirim uang, tapi kamu balikin…”
“Langsung ke inti.” Jenna sibuk mengirim pesan ke Juju.
Zergan akhirnya mengeluarkan cek.
Jenna melirik. 20 M.
“Apa ini?” tanyanya dingin.
“Jangan lakukan sesuatu yang nanti bakal kamu sesali.”
Jenna tersenyum tipis. “Contohnya?”
“Gimana kamu dapat peran itu?” suara Zergan jadi tajam.
“Menurut kamu, aku dapet peran ini gimana?” Jenna menyilangkan tangan dan bersandar santai, membalas dengan pertanyaan.
Kesabaran Zergan tampaknya sudah habis. Dia menepuk meja keras. “Jenna! kamu harusnya lebih tahu dari aku, cewek kayak kamu bisa kena masalah apa di dunia hiburan! Kenapa kamu tetap maksa masuk ke tempat kotor kayak gitu!”
“Cewek kayak aku…” Jenna tersenyum tipis. “Tuan Muda Pratama, hubungan kita apa sih, sampai kamu bisa ngatur hidup aku?”
Kalau itu Jenna yang dulu, dia pasti sudah meledak.
Dulu Zergan selalu bilang dia tidak ingin calon istrinya masuk dunia hiburan. Tapi saat itu Maoy, dia malah mendukung penuh. Sekarang dia malah mengatur hidupnya.
“Jenna, walaupun kita sudah putus, aku masih anggap kamu adik. aku cuma mau bantu. Jangan keras kepala. Ambil uang ini, putusin kontrak dengan Royal, dan keluar dari dunia hiburan,” bujuk Zergan.
“Bantu?” Tatapan Jenna langsung dingin. “Kalau begitu, aku juga ada satu permintaan. Tolong bilang ke keluarga Adiputra yang sebenarnya, dan bersaksi di pengadilan kalau Maoy bayar dua pria buat memperkosa aku. kamu mau bantu?”
Wajah Zergan langsung pucat. “Jenna, aku… kalau aku lakukan itu, hidup Maoy hancur… dan waktu itu dia cuma bisa dituduh percobaan. kamu masuk ke kamar yang salah, dan yang terjadi sama kamu…”
Meski sudah tahu jawabannya, hati Jenna tetap terasa sakit. Dia tertawa sinis. “Jadi maksud kamu, semua kesalahan itu hilang? aku diperkosa karena dibius itu salah aku? Hamil anak haram lalu melahirkan bayi yang mati juga salah aku?”
Zergan mengerutkan kening. “Jenna, bukan begitu maksud aku! aku sama Maoy sudah minta maaf. Selama ini kami juga berusaha menebus. Kenapa kamu nggak bisa melupakan?”
Jenna berdiri dan mengambil tasnya. “Kamu mau aku melupakan semuanya? Coba kamu dulu yang tersenyum sama orang yang memperkosa dan menghamili Maoy, baru minta aku memaafkan!”
Ekspresi Zergan berubah. “Jenna! Gimana bisa kamu ngomong kayak gitu!”
“Baru bayangin aja kamu sudah nggak terima? Jadi kalau bukan kamu yang ngalamin, kamu nggak bisa ngerasain sakitnya? Masih berharap aku maafin? aku bukan orang suci!” Jenna langsung pergi.
Benar-benar sial.
Seharusnya dia tidak buang waktu bicara dengan Zergan. Sampai kehilangan selera makan. Dia harus cepat pulang dan memeluk si kecil untuk menenangkan diri.
...***...
Baru sampai di depan rumah keluarga Alamsyah, dia melihat si kecil berlari ke arahnya. Sepertinya dia sudah menunggu lama di jendela.
Hati Jenna langsung hangat. Dia mencium pipinya dengan penuh semangat.
“Sayang, kamu sudah makan belum? aku kan sudah bilang jangan nunggu aku.”
Si kecil mengangguk dua kali.
“Anak baik!” Jenna mencium lagi.
“Main dulu ya, tante mau mandi dan ganti baju.”
Si kecil mengangguk. Mereka berjalan masuk sambil bergandengan tangan. Dari jendela lantai dua, Marco melihat itu semua dengan wajah muram.
Dia tidak pernah sadar kalau dia bisa secemburu ini. Bahkan pada anaknya sendiri. Jenna mencium anaknya dua kali, sementara dia hanya bisa melihat.
Begitu masuk kamar, hal pertama yang dilakukan Jenna adalah melepas bra. Cuaca panas seperti ini benar-benar menyiksa.
Dia membuka kait di belakang, hampir selesai melepas, saat pintu tiba-tiba terbuka.
“Jenn—”
Marco terdiam.
Tangannya masih di gagang pintu, menatap pemandangan di depannya dengan kaget.