Bayangan pernikahan yang bahagia agaknya tidak berlaku untuk Nadia Witama. Gadis seperempat abad itu justru terpaksa menikah dengan pria kasar dan arogan seperti Arya Dirgantara untuk melunasi hutang ayahnya. Bisakah Nadia bertahan dengan sikap Arya? Atau pada akhirnya dia akan menyerah ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35
Nadia duduk diam di kursi belakang taksi, pandangannya lurus menembus kaca jendela yang memantulkan cahaya lampu kota. Gedung-gedung tinggi berlalu satu per satu, namun pikirannya tertinggal jauh di belakang, terjebak pada potongan-potongan kejadian yang belum juga bisa ia susun dengan rapi. Dadanya masih terasa sesak, bukan hanya karena tangis yang tertahan sejak tadi, tetapi juga karena amarah yang bercampur dengan rasa kehilangan.
“Tolong berhenti di depan gedung itu,” ucap Nadia lirih ketika papan besar bertuliskan DIRGANTARA GROUP mulai terlihat jelas.
Taksi melambat, lalu berhenti tepat di tepi jalan. Sopir menoleh ke belakang, menyebutkan jumlah tagihan. Nadia membayarnya tanpa banyak bicara, lalu membuka pintu belakang dan turun. Udara malam menyambutnya, sedikit dingin, menusuk kulit, seolah ingin menyadarkannya bahwa hari sudah benar-benar berganti.
Begitu pintu taksi tertutup dan kendaraan itu melaju pergi, Nadia berdiri terpaku di tempatnya. Gedung Dirgantara Group menjulang di hadapannya, tinggi, megah, dengan dinding kaca yang memantulkan cahaya lampu seperti cermin raksasa. Gedung itu tampak kokoh, berwibawa, dan jujur saja menakutkan.
Nadia menelan ludah.
Apa yang sedang ia lakukan di sini?
Pertanyaan itu berputar-putar di kepalanya. Ia meremas jemarinya sendiri, merasa sedikit gemetar. Tadi, saat amarah menguasai pikirannya, keputusan ini terasa masuk akal. Ia ingin membalas pengkhianatan Galang dan Clara. Ia ingin keadilan versinya sendiri. Dan entah bagaimana, nama Arya muncul di benaknya sebagai satu-satunya orang yang mungkin memiliki kekuatan untuk membantunya.
Arya.
Suami kontraknya.
Pria yang keberadaannya selalu membuatnya tertekan, namun sekaligus merasa aman dengan cara yang aneh.
Namun kini, setelah benar-benar berdiri di depan gedung ini, Nadia justru merasa ragu. Keraguan itu menjalar perlahan, merayap seperti racun yang melemahkan tekadnya. Ia mulai mempertanyakan keputusannya sendiri. Karena marah, karena terluka, ia justru berpikir untuk meminta bantuan kepada seseorang yang selama ini ingin ia jauhi.
“Kenapa aku harus datang ke tempat ini?” gumamnya pelan.
Ia menatap pintu masuk gedung, lalu menunduk. Perasaan malu tiba-tiba muncul. Malu pada dirinya sendiri. Malu karena merasa begitu putus asa hingga harus datang ke sini. Bukankah selama ini ia selalu berusaha mandiri? Bukankah ia selalu berkata bahwa ia tidak membutuhkan Arya lebih dari sekadar status di atas kertas?
Nadia memutar tubuhnya setengah, berniat pergi. Kakinya melangkah satu langkah ke belakang, lalu berhenti. Kepalanya menunduk, bahunya sedikit merosot.
“Bodoh,” umpatnya dalam hati. “Benar-benar bodoh.”
Ia menyalahkan dirinya sendiri karena tidak berpikir jernih. Emosinya terlalu kacau. Rasa sakit hati terlalu mendominasi. Ia begitu terburu-buru ingin membalas pengkhianatan Galang dan Clara sampai lupa satu hal penting: malam telah tiba sejak dua jam yang lalu.
Jam di ponselnya menunjukkan hampir pukul sembilan malam.
Apa yang harus ia lakukan sekarang?
Kembali ke kos dan menenggelamkan diri dalam kesedihan? Berbaring menatap langit-langit sambil memutar ulang video kejam itu di kepalanya? Atau terus berdiri di sini, ragu, tidak tahu harus maju atau mundur?
Nadia menghela napas panjang. Udara dingin masuk ke paru-parunya, namun tidak cukup untuk menenangkan pikirannya.
Saat itulah seseorang menghampirinya.
“Selamat malam, Nona.”
Nadia terkejut. Ia menoleh dan mendapati seorang petugas keamanan berdiri beberapa langkah darinya. Pria itu mengenakan seragam rapi, wajahnya ramah namun profesional.
“Apakah ada yang bisa saya bantu?” tanya petugas itu sopan. “Apakah Nona sedang mencari seseorang? Sudah cukup larut.”
Nadia membuka mulutnya, hendak menjawab. Namun kata-kata itu tertahan di tenggorokannya. Ia tidak tahu harus berkata apa. Bagaimana mungkin ia mengatakan bahwa ia ingin menemui Arya seseorang dengan kedudukan tinggi di perusahaan ini tanpa janji, tanpa persiapan, hanya berbekal amarah dan keputusasaan?
Ia kembali mencemooh dirinya sendiri dalam hati.
Setelah beberapa detik yang terasa lama, Nadia akhirnya berkata pelan, “Saya… sebenarnya ingin bertemu dengan Tuan Arya.”
Petugas itu mengangguk kecil, mendengarkan dengan penuh perhatian.
“Tapi,” lanjut Nadia cepat, seolah ingin menarik kembali ucapannya, “karena sudah larut, sepertinya ini bukan waktu yang tepat. Saya akan kembali besok.”
Petugas keamanan itu tampak berpikir sejenak, lalu berkata, “Tuan Arya baru saja tiba sekitar lima menit yang lalu, Nona.”
Jantung Nadia berdegup lebih cepat.
“Apakah Nona memiliki janji temu dengan beliau?” tanya petugas itu lagi.
Nadia menggeleng. “Tidak. Saya tidak memiliki janji temu.”
Nada suaranya terdengar yakin, seolah ingin meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia memang tidak seharusnya berada di sini.
“Sayang sekali,” lanjutnya sambil sedikit menunduk sopan. “Kalau begitu, saya akan kembali esok hari. Maaf sudah mengganggu.”
Ia berbalik, berniat meninggalkan tempat itu. Namun langkahnya baru dua langkah ketika seorang petugas keamanan lain menghampiri.
“Permisi,” kata petugas kedua itu. “Apakah Nona adalah wanita yang datang bersama Tuan Rio kemarin?”
Nadia terhenti. Ia berbalik, sedikit terkejut. “Ya,” jawabnya jujur. “Itu saya.”
Kedua petugas keamanan itu saling berpandangan. Tidak ada kata-kata, namun ekspresi mereka seolah berbicara banyak. Mereka jelas mengenali nama Rio, dan fakta bahwa Nadia datang bersama pria itu kemarin tampaknya bukan hal sepele.
Petugas pertama melirik rekannya, lalu memberikan isyarat halus entah dengan gerakan mata atau anggukan kecil yang seolah mengatakan bahwa wanita ini bukan tamu sembarangan.
Nadia memperhatikan mereka dengan perasaan campur aduk. Ia merasa canggung, namun di saat yang sama, kelakuan dua pria itu yang tampak berkomunikasi tanpa suara membuatnya sedikit terhibur. Untuk sesaat, kesedihan di dadanya mereda.
“Ada apa?” tanya Nadia hati-hati.
Petugas yang mengenalinya tersenyum tipis. “Nona tidak perlu membuat janji temu. Saya akan melaporkan bahwa Nona datang.”
Nadia menggeleng cepat. “Tidak perlu,” katanya tegas namun sopan. “Saya benar-benar akan kembali besok. Maaf telah mengganggu.”
Ia menunduk hormat, lalu berbalik lagi dan mulai melangkah menjauhi gedung. Kali ini langkahnya lebih cepat, seolah ingin melarikan diri dari situasi yang membuatnya semakin bingung.
Dalam hati, ia kembali mencemooh keputusannya. Mungkin memang ada jalan lain untuk membalas pengkhianatan Galang dan Clara tanpa meminta bantuan Arya. Ia hanya perlu berpikir lebih jernih, lebih tenang.
Dan satu hal yang paling mengganggunya, ia tidak tahu apa yang akan Arya minta darinya jika ia benar-benar meminta bantuan pria itu. Hubungan mereka sudah cukup rumit tanpa tambahan utang budi atau kesepakatan baru.
Saat itulah sebuah suara memanggil dari kejauhan.
“Nona Nadia!”
Langkah Nadia tidak langsung berhenti. Ia mengira itu hanya ilusi, atau mungkin seseorang memanggil orang lain. Ia terus melangkah, fokus ke depan.
“Nona Nadia!”
Kali ini lebih keras.
Namun Nadia tetap melanjutkan langkahnya, pikirannya terlalu penuh untuk memproses apa pun.
Di belakangnya, seorang pria berlari keluar dari lobi gedung. Napasnya sedikit tersengal ketika ia mengejar wanita itu.
“Nona Nadia!” panggilnya lagi.
Itu Rio.
Karena Nadia tidak menoleh, Rio menghampiri dua petugas keamanan yang tadi berbicara dengannya.
“Lain kali,” kata Rio dengan nada tegas namun terkontrol, “kalau dia datang ke sini, langsung saja antarkan ke saya atau ke dalam. Itu perintah langsung dari Tuan.”
Kedua petugas itu mengangguk cepat, tampak sedikit terkejut namun patuh.
Langkah Nadia akhirnya terhenti.
Ia samar-samar mendengar suara itu. Pelan, tapi cukup jelas untuk membuatnya berhenti. Nadia berbalik perlahan, dan matanya menangkap pemandangan Rio yang sedang berbicara dengan dua petugas tadi.
Dadanya kembali terasa sesak.
Ia berdiri terpaku di tempatnya, tidak bergerak. Malam terasa semakin sunyi, seolah dunia menahan napas menunggu keputusannya.
Apa yang harus ia lakukan sekarang?
Pergi, berpura-pura tidak mendengar apa pun, dan mencari jalan lain sendiri?
Atau masuk ke dalam gedung itu, menemui Arya, dan berbicara langsung dengannya meski ia tidak tahu arah pembicaraan itu akan membawa ke mana?
Nadia menatap gedung Dirgantara Group sekali lagi. Cahaya lampu di dalamnya tampak hangat namun jauh. Sama seperti sosok Arya dalam hidupnya hadir, berpengaruh, namun selalu terasa sulit dijangkau.
Ia mengepalkan tangannya pelan.
Untuk pertama kalinya malam itu, Nadia tidak tahu pilihan mana yang paling ia takuti.