NovelToon NovelToon
Sistem Rebahan Tak Terkalahkan

Sistem Rebahan Tak Terkalahkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Komedi / Sistem / Reinkarnasi
Popularitas:8.4k
Nilai: 5
Nama Author: Irzad

Lin Fan, seorang pekerja kantoran yang tewas karena kelelahan bekerja (tipes dan lembur), bereinkarnasi ke Benua Langit Azure sebagai murid rendahan di Sekte Awan Mengalir. Saat dia bersumpah untuk tidak pernah bekerja keras lagi di kehidupan keduanya, "Sistem Kemunculan Pemalas" aktif. Semakin malas dan santai dia, semakin kuat kultivasinya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irzad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

Cahaya matahari pagi yang keemasan menembus turun melalui "Jendela Kekosongan" di atap Dapur Luar, menyoroti partikel-partikel debu yang menari lambat di udara. Di bawah payung energi tak kasat mata yang menolak segala bentuk kotoran dan cuaca buruk, Lin Fan berbaring di atas Kursi Goyang Energi Qi-nya.

Jubah Penolak Gangguan yang membalut tubuhnya telah ia nonaktifkan sebagian, hanya cukup untuk membiarkan siluet tubuhnya terlihat samar-samar seperti pantulan bayangan di atas air yang tenang. Ia baru saja menyadari satu hal krusial setelah menghabiskan berminggu-minggu tidur di atas kursi goyang: senyaman apa pun sebuah kursi, ia tetaplah sebuah kursi. Anatomi manusia—terutama anatomi seorang pemalas sejati—membutuhkan permukaan horizontal yang luas dan datar sesekali untuk mempraktikkan gaya tidur 'bintang laut' yang merentangkan keempat anggota badan secara maksimal.

Lin Fan mengusap dagunya dengan lambat. Matanya melirik ke arah Cincin Spasial perak kusam yang melingkar di jari telunjuknya. Tiga puluh persen dari total kekayaan Sekte Awan Mengalir beristirahat dengan damai di dalam cincin sekecil itu.

*Uang tidak memiliki arti jika tidak diubah menjadi kenyamanan,* filosofi batin Lin Fan bergema. *Batu roh tingkat tinggi? Itu cuma batu bercahaya. Pedang pusaka? Itu cuma pemotong sayur yang *overpriced*. Aku butuh kasur. Kasur raksasa yang bisa menelan tubuhku hidup-hidup.*

"Koki Wang," panggil Lin Fan. Suaranya serak dan pelan, namun berkat keheningan sakral yang kini diterapkan secara ketat di Dapur Luar, panggilan itu terdengar sejelas dentang lonceng kuil.

Wang Ta, yang sedang memotong teratai salju dengan gerakan pergelangan tangan selembut sapuan kuas kaligrafi, langsung menghentikan aktivitasnya. Ia meletakkan pisaunya tanpa suara, mengelap tangannya pada celemek putih bersihnya, dan berjalan mengambang menuju sudut barat laut.

"Hamba di sini, Master Lin," bisik Wang Ta, berlutut tepat di luar batas tirai sutra biru. Matanya menatap siluet Lin Fan yang berkedip-kedip, dipenuhi oleh rasa takjub yang tak pernah pudar. "Apakah Anda membutuhkan kaldu sarapan untuk melumasi tenggorokan Anda setelah semalaman menyelami lautan ketiadaan?"

"Tidak, kaldu nanti saja," gumam Lin Fan, menyandarkan kepalanya ke bantal. Ia mengangkat tangannya yang terpasang cincin spasial. Dengan sebuah jentikan jari yang sangat loyo, Lin Fan memutuskan ikatan spiritual sementaranya pada cincin itu dan melemparnya melewati celah tirai.

*Tring.*

Cincin perak kusam itu mendarat tepat di depan lutut Wang Ta, berputar beberapa kali sebelum berhenti dengan bunyi dentingan halus.

Wang Ta menelan ludah. Matanya membelalak. Ia mengenali cincin itu. Itu adalah Cincin Spasial tingkat tinggi yang kemarin dibawa oleh Su Qingxue, cincin yang berisi upeti sumber daya dari Pemimpin Sekte!

"M-Master Lin... ini..." tangan Wang Ta bergetar di udara, tidak berani menyentuh benda yang setara dengan nyawa jutaan pelayan itu.

"Bawa cincin itu ke tempat di mana sekte ini menyimpan atau membeli perabotan," perintah Lin Fan, menguap panjang hingga matanya berair. "Aku bosan tidur dengan punggung melengkung. Beli sebuah tempat tidur. Harus sangat besar. Harus sangat datar. Dan yang paling penting... harus selembut awan. Jangan bawa kembali ranjang kayu keras yang diukir naga atau semacamnya. Aku ingin sesuatu yang membuatku merasa seperti tenggelam ke dalam tumpukan kapas surgawi. Gunakan uang di dalam cincin itu sesukamu, sisanya kau simpan untuk dana kas dapur."

Wang Ta terkesiap hingga nyaris tersedak ludahnya sendiri. *Sisanya untuk kas dapur?!* Di dalam cincin itu terdapat jutaan batu roh! Master Lin baru saja menyerahkan kekayaan setara dengan sebuah kerajaan hanya untuk... membeli tempat tidur?

Namun, otak Wang Ta yang sudah terkalibrasi oleh fanatisme segera mencari makna tersembunyi. *Tempat tidur yang selembut awan... Tenggelam ke dalam kapas surgawi... Ah! Master Lin baru saja mencapai Alam Pendirian Fondasi! Tubuh fana-nya mulai bertransisi! Kursi goyang ini tidak lagi mampu menampung 'Tubuh Transparan Dao' miliknya karena energinya terlalu kaku! Beliau membutuhkan medium yang meniru tekstur awan kosmik untuk memfasilitasi pernapasan ruang hampanya!*

"Hamba mengerti, Master Lin!" suara Wang Ta bergetar oleh emosi haru. Ia meraih cincin itu dengan kedua tangannya seolah sedang memegang jantung dewa. "Hamba akan pergi ke Paviliun Harta Karun Langit di Puncak Utama sekarang juga! Hamba tidak akan kembali sebelum menemukan 'Altar Awan' yang layak menopang wujud surgawi Anda!"

"Jangan sebut itu altar, itu terdengar seperti kau akan mengorbankanku. Sebut saja kasur," ralat Lin Fan malas, menarik selimutnya kembali menutupi wajah. "Dan tolong, jangan berisik saat mengangkutnya kemari nanti. Pergilah."

Wang Ta bersujud tiga kali hingga dahinya membentur lantai batu. Ia lalu bangkit berdiri, dadanya membusung dengan kebanggaan yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya. Ia, seorang Koki Kepala dari kasta terendah, baru saja diberi mandat untuk memegang perbendaharaan sekte demi memenuhi kebutuhan spiritual sang Eksistensi Kosong!

Dengan langkah lebar yang penuh wibawa, Wang Ta meninggalkan Dapur Luar, mendaki ribuan anak tangga batu yang berkelok-kelok menuju Puncak Utama.

Paviliun Harta Karun Langit adalah bangunan paling dijaga ketat di seluruh Sekte Awan Mengalir. Bangunan itu berbentuk pagoda segi delapan yang menjulang tinggi, terbuat dari pualam hitam dan dihiasi oleh ribuan formasi pelindung yang bersinar keemasan. Di sinilah semua artefak langka, bahan obat tingkat dewa, dan material pusaka diperjualbelikan serta disimpan.

Di lantai dasar yang menyerupai balai lelang raksasa, Tetua Jin sedang duduk di balik meja pualam merahnya. Tetua Jin adalah Kepala Logistik dan Perbendaharaan Sekte. Pria itu sangat kurus, dengan mata setajam elang dan kumis tipis yang menjuntai. Di tangannya, ia selalu memegang sebuah sempoa giok hijau, menghitung setiap sen pengeluaran sekte dengan kekejaman seorang rentenir. Baginya, satu batu roh yang terbuang sia-sia adalah kejahatan terhadap langit.

Suasana di paviliun itu sedang sibuk oleh puluhan murid dalam yang menukarkan poin kontribusi mereka dengan pil atau senjata.

Tiba-tiba, suara langkah sepatu bot yang berat dan diseret mengganggu keharmonisan gemerincing koin di sana. Tetua Jin mengangkat pandangannya dari sempoa. Alisnya berkerut dalam penuh ketidaksukaan.

Wang Ta, dengan celemek putih yang membungkus perut buncitnya dan bau samar kaldu ayam yang masih menempel di rambutnya, melangkah masuk dengan dada membusung layaknya seorang jenderal pemenang perang.

"Pelayan Dapur Luar?" tegur Tetua Jin dengan suara dingin dan melengking, membuat beberapa murid dalam menoleh. "Apa yang membawamu ke mari, Wang Ta? Apakah kau tersesat? Tempat pengambilan karung gandum ada di lereng bawah, bukan di Paviliun Harta Karun!"

Wang Ta tidak gentar sedikit pun. Biasanya, berhadapan dengan Tetua Jin akan membuat lututnya lemas, namun hari ini, ia membawa mandat dari langit itu sendiri.

1
abyman😊😊😊
🤣🤣🤣💪
abyman😊😊😊
🤣🤣🤣🤭
Gege
idenya keren tiduran saja bisa ngalahin para ahli...epic dan apik..
Gege
temanya menarik..makin malas makin sakti...belom lagi hadiah hadiah yang diluar nalar... nabok nyilih tangan menang tanpo ngasorake sugih tanpo kerjo...🤣
ikyar
bagus lucu
rinn
🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!