Dalam kisah ini, seorang mantan aktivis kurus berkacamata bernama Tento dan sahabatnya Perikus, mantan santri absurd yang pernah lari dari pesantren, terjebak dalam konspirasi gelap. Mereka menyelidiki cairan misterius B16 yang disuntikkan ke karyawan pabrik, membawa mereka menyusuri lorong-lorong bawah tanah, desa, pasar, hingga pelabuhan. Di perjalanan, mereka bertemu profesor eksentrik, jurnalis pemberani, dan saksi-saksi yang hilang. Di balik thriller menegangkan ini terjalin humor liar, obrolan soto ayam, dan persahabatan yang tak lekang. Bahasanya jenaka, penuh panca indera, namun juga memaksa merenungkan keadilan. Ini adalah perjalanan menantang dari gang sempit Malang sampai gelapnya pelabuhan, di mana dua orang biasa menghadapi raksasa korporasi demi menyelamatkan nyawa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Timotius Safari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akhir Musim Salju dan Benih Baru
Hujan salju tipis masih turun ketika mereka meninggalkan desa Wehlen keesokan paginya. Udara dingin menempel di kulit, membuat napas mereka keluar seperti asap. Kastil tua di bukit terlihat semakin jauh, tertutup kabut pagi, seolah-olah cerita semalam hanyalah mimpi. Mobil sewaan melaju perlahan menuruni perbukitan, melewati hutan cemara dan rumah-rumah bergaya setengah kayu. Suara radio Jerman memainkan lagu lama, sementara wiper mobil mengusap serpihan salju. Di dalam mobil, mereka terdiam, meresapi apa yang terjadi.
Budi memandangi salju yang menempel di kaca, gemetar karena udara dingin dan adrenalin yang masih tersisa. “Aku masih tidak percaya kita di sini,” katanya pelan. “Kita seperti turis yang tersesat di film.” Rina tertawa pelan. “Ini nyata, Bud,” katanya. “Kita mengambil langkah-langkah gila, tapi ini demi banyak orang.” Perikus menoleh ke belakang kursi, menatap Anna yang duduk di bangku belakang. “Terima kasih, Anna,” katanya. “Tanpa kamu, kita tidak tahu jalan. Bagaimana kamu bisa tahu banyak tentang Klaus?” Anna tersenyum kecil. “Aku jurnalis. Aku mencari tahu. Ayahku pernah jadi korban eksperimen obat di Jerman Timur. Aku berjanji akan menindak. Ketika aku mendengar tentang kalian, aku tahu kalian punya hati,” katanya.
Mereka tiba kembali di Geneva pada malam harinya. Salju sudah berhenti, digantikan oleh hembusan angin dingin. Mereka kembali ke hotel, mandi air panas, mengganti pakaian dengan pakaian yang hangat, lalu turun ke lobi untuk makan. Hotel itu kecil, berbau kayu dan sabun. Restorannya menyajikan sup bawang, rosti, dan fondue. Mereka duduk, menghirup sup hangat, menikmati keju yang meleleh. Budi mencoba mencelupkan roti terlalu banyak, keju menetes ke meja. “Ups,” katanya sambil tertawa. “Keju ini licin.” Mereka tertawa, melepaskan ketegangan.
Esok paginya, mereka kembali ke gedung PBB. Suasana konferensi berubah. Semua orang membicarakan penangkapan Klaus. Peserta konferensi memuji tindakan cepat Interpol, tetapi juga menyoroti peran aktivis. Mereka menghampiri meja Indonesia, menanyakan detail. Profesor menjelaskan apa yang terjadi, menahan beberapa informasi untuk keselamatan. Mereka menandatangani pernyataan bersama yang lebih kuat: menuntut pengawasan ketat, sanksi tegas, dan perlindungan bagi peserta riset. Dr. Elise dari WHO memeluk mereka. “Kami akan mendorong PBB membuat konvensi baru,” katanya. Seorang perwakilan dari Uni Eropa mengundang mereka untuk bicara di Parlemen Eropa di Brussels. “Kami memerlukan suara korban untuk membuat regulasi,” katanya. Mereka tercengang. Dunia membuka pintu.
Namun, kabar lain datang dari Indonesia: Komisi Pemberantasan Korupsi menemukan bukti suap terkait proyek B16 dan B17 ke pejabat tinggi, termasuk tiga anggota DPR dan seorang pejabat kementerian. Mereka menggelar konferensi pers di Jakarta, membacakan nama-nama tersangka. Rakyat marah, tetapi juga lega. “Ini akibat tekanan publik,” kata Profesor. “Kita harus terus.”
Di hari terakhir konferensi, mereka menerima sertifikat penghargaan dari GREC. Mereka berdiri di panggung, menerima plakat kaca, berfoto dengan latar bendera. Tento memegang plakat, mengangkatnya. “Ini bukan untuk kami. Ini untuk korban dan rakyat,” katanya dalam bahasa Indonesia yang diterjemahkan ke dalam lima bahasa. Ruangan terdiam, lalu tepuk tangan. Mereka menggenggam tangan satu sama lain, merasa terangkat.
Waktu di Eropa hampir habis. Mereka memutuskan meluangkan satu hari untuk menikmati kota, sesuatu yang belum sempat mereka lakukan. Mereka berjalan menyusuri Rue du Rhone, melihat etalase jam tangan mewah yang harga satu unitnya bisa membangun beberapa sekolah. Mereka memasuki toko cokelat, mencoba praline, gigitan kecil yang meleleh di mulut. Budi menatap jam Rolex, lalu menatap dompet, tertawa. “Kita lebih suka beli buku,” katanya. Mereka berhenti di pasar bunga, aroma tulip dan lavender menguar. Mereka membeli bunga untuk dibawa pulang, meski tahu akan layu.
Sore itu, mereka menaiki bus kota ke pegunungan Salève di perbatasan. Mereka naik kereta gantung, melihat kota kecil Geneva dari atas. Danau Geneva terlihat seperti cermin, dikelilingi pegunungan. Mereka menghirup udara segar, memejamkan mata. “Ini momen yang berharga,” kata Rina, menatap jauh. “Mungkin kita tidak akan kembali ke sini. Tapi kita telah membawa suara kita ke sini.” Mereka mengangguk. Budi mengambil selfie dengan latar pegunungan, melambai. Di keterangan foto nanti, ia akan menulis, “Dari warung soto ke Swiss.”
Malam harinya, mereka bersiap pulang. Mereka berkemas, mengisi tas dengan buku-buku, cokelat, dan plakat. Mereka mengembalikan kunci kamar, memeluk resepsionis yang sudah menjadi teman. “Auf Wiedersehen,” kata resepsionis. Mereka membalas, “Merci beaucoup.” Pesawat ke Singapura terbang dini hari. Mereka duduk di bangku, memandangi lampu landasan terbang, memikirkan perjalanan pulang. Tento menatap keluar jendela pesawat dengan pikiran yang masih tersisa. Budi menutup mata, merencanakan tidur sepanjang perjalanan. Perikus memegang buku catatan, menulis: “Hari ini, kami belajar bahwa dunia luas, tetapi keadilan harus meluas lebih cepat.”
Di pesawat, mereka berbicara dengan pramugari. “Kalian dari mana?” tanya pramugari. “Indonesia,” jawab mereka. “Apa yang kalian lakukan di Swiss?” Rina menjawab, “Kami datang untuk etika riset.” Pramugari tersenyum. “Semoga kalian membawa kebaikan,” katanya. Mereka tersenyum, lalu tertidur di kursi, mendengarkan dengung mesin, mimpi tentang sawah dan kebun teh.
Transit di Singapura berjalan lancar. Changi Airport lagi-lagi menakjubkan dengan taman indoor; kali ini, mereka sempat bermain di slide besar. Budi meluncur seperti anak kecil, tertawa terbahak-bahak, membuat turis lain menoleh. “Aku merasa muda,” katanya. Mereka membeli beberapa jajanan lokal: roti prata, laksa. Mereka kemudian naik pesawat ke Jakarta. Di pesawat, mereka membaca berita terbaru: “Komisi Hak Asasi Manusia Internasional mengecam pelanggaran riset global.” Artikel itu menyebut nama mereka. Mereka terhenyak. “Kita jadi contoh,” kata Profesor. “Ini tanggung jawab.”
Sesampainya di Jakarta, mereka disambut oleh perwakilan LPSK, jurnalis, dan beberapa aktivis. “Selamat datang, pahlawan,” kata seseorang. Mereka tersenyum, meski lelah. Mereka menghadiri konferensi pers singkat, menceritakan pengalaman di Geneva. Mereka menyebut para korban, menekankan pentingnya reformasi. Media menulis judul: “Dari Soto ke Geneva dan Jerman: Perjuangan Anak Muda Indonesia Menyelamatkan Dunia.”
Mereka kemudian naik kereta kembali ke Malang. Hujan turun, sawah menghijau, gunung Semeru terlihat di kejauhan. Mereka kembali ke rumah kontrakan, meletakkan koper, memeluk Bu Rini, makan soto hangat. Anak-anak tetangga masuk, memeluk mereka. “Kakak pulang!” teriak mereka. Joko, yang sudah bisa berjalan dengan bantuan tongkat, datang. Ia memeluk ayahnya, memeluk Rina. “Kalian hebat,” katanya dengan senyum. Karin mengirim pesan suara, “Terima kasih.”
Keesokan harinya, mereka duduk di warung kopi Pak Mulyono lagi, kali ini berbicara tentang hal-hal sederhana: harga cabai naik, tetangga menikah, motor rusak. Mereka tertawa tentang betapa sedikit yang berubah di rumah. Namun, di kepala mereka, hal-hal besar berputar: undangan ke Brussels, email Anna yang mengatakan Klaus berbicara tentang rekan yang belum tertangkap, laporan Maya tentang B19 yang sudah di laboratorium China, rumor Dr. Singh akan banding, email dari anak di Papua yang meminta mereka berbicara tentang tambang ilegal. Mereka lelah, tetapi tidak bisa berhenti.
Rina berkata, “Kita harus membagi tugas.” Profesor mengangguk. “Benar. Kita perlu tim baru untuk setiap isu. Kita tidak bisa sendiri. Yayasan kita harus berkembang.” Mereka menuliskan daftar orang yang bisa diajak: mahasiswa, dokter, seniman, aktivis lingkungan. Mereka merencanakan membuat pelatihan etika riset untuk kampus-kampus, kampanye digital untuk B19, dan lebih banyak penerangan di desa-desa. Mereka juga ingin istirahat sejenak, menonton film, membaca novel, bermain gitar, menulis puisi.
Sore itu, saat hujan reda, mereka berjalan ke lapangan. Budi membawa bola, mereka bermain sepak bola dengan anak-anak. Pak Hadi duduk, menonton, tersenyum. Profesor berdiri di pinggir lapangan, tertawa ketika Budi jatuh. Rina menendang bola, masuk gawang. Mereka menari kemenangan. Di tengah tawa, telepon berdering. Maya mengirim pesan: “Ada surat dari Parlemen Eropa. Mereka ingin kalian hadir bulan depan. Mereka juga ingin kalian mengunjungi laboratorium di Italia yang pernah menghentikan program sama. Siap?” Mereka menatap telepon, saling pandang, tersenyum. “Siap,” jawab mereka bersamaan.
Hari itu berakhir dengan mereka duduk di pinggir lapangan yang becek, kaki penuh lumpur, tertawa sambil minum es teh. Di langit, pelangi muncul, warna-warni melengkung, seolah menghubungkan segala perjalanan mereka: dari kampung ke ibu kota, dari pulau ke lautan, dari warung kopi ke kastil Jerman. Mereka tahu, di ujung pelangi ada tantangan baru, tetapi ada juga harapan. Mereka merasa siap, selama mereka bersama.