Kematian Tragis Aning membuat desa Kalung Ganu di teror. satu persatu pemuda di temukan mati mengenaskan. ketakutan mulai menyelubungi penduduk desa..
Namun, yang menjadi anda tanya besar siapa pemerkosa dan pembunuh Aning?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tak tentu arah
"Assalamualaikum… Pak Ustadz!" teriak Jaka dan Udin dari depan rumah sambil memapah Daud yang masih belum sadarkan diri.
Tak lama kemudian, terdengar sahutan dari dalam.
"Wa’alaikumsalam…"
Pintu terbuka, dan Bu Salama keluar. Wajahnya langsung berubah kaget saat melihat kondisi Daud.
"Jaka… Udin…" ujarnya.
"Lho, Daud kenapa?" tanyanya cemas.
Jaka menarik napas.
"Maaf, Bu Ustadzah, Pak Ustadznya ada?" Tanya Jaka sopan.
"Ada, lagi ngaji di dalam. Sebentar ya, saya panggil dulu." jawab Bu Salama, lalu segera berbalik masuk ke dalam rumah.
"Pak… Pak… ini Jaka sama Udin. Daud kenapa-kenapa kayaknya." Terdengar suaranya memanggil.
Beberapa saat kemudian, langkah kaki mendekat.
Ustadz Sakari keluar dari dalam rumah, masih memegang tasbih. Wajahnya tenang, tapi langsung berubah serius saat melihat Daud.
"Ada apa ini?" tanyanya.
"Assalamualaikum, Ustadz," sapa Jaka dan Udin.
"Wa’alaikumsalam." Jawab Ustadz Sakari sambil mendekat.
"Dia pingsan, Ustadz." Kata Jaka.
"Waktu ronda," lanjutnya.
"Iya, Ustadz, kami temukan sudah jatuh di jalan." Udin mengangguk cepat.
Ustadz Sakari mengangguk pelan.
"Bawa masuk dulu."
"Iya, Ustadz."
Mereka segera membawa Daud masuk ke dalam rumah.
Ustadz Sakari menggelar tikar di ruang tamu.
"Tidurkan di sini."
Perlahan mereka merebahkan tubuh Daud.
Bu Salama datang membawa segelas air putih.
"Ini, Pak…"
Ustadz Sakari duduk di samping kepala Daud. Tangannya diletakkan pelan di kening Daud.
Dia memejamkan mata. Bibirnya mulai melantunkan ayat-ayat suci dengan suara pelan.
Suasana mendadak hening. Hanya suara bacaan itu yang terdengar.
Jaka dan Udin berdiri di samping, wajah mereka masih tegang. Beberapa saat kemudian, jari Daud bergerak sedikit.
"Jak, dia gerak." Bisik Udin.
Jaka langsung mendekat.
"Dud… Dud…" panggilnya pelan.
Ustadz Sakari meniupkan pelan bacaannya ke telapak tangan, lalu mengusapkannya ke wajah Daud.
"Bismillah…"
Tiba-tiba...
Daud tersentak.
"Haaah!" Matanya terbuka lebar.
Napasnya terengah-engah. Dia langsung duduk setengah bangun dengan wajah penuh ketakutan.
Jaka langsung memegang bahunya.
"Dud… sudah, tenang." Ucap Jaka.
"Iya, kita di rumah Ustadz, sekarang aman." Tambah Udin.
Namun tubuh Daud masih gemetar hebat. Matanya liar menatap sekeliling.
Ustadz Sakari menatap Daud dalam-dalam.
"Apa sebenarnya yang terjadi?" tanyanya pelan namun tegas.
Daud terdiam. Napasnya masih memburu, matanya masih dipenuhi ketakutan.
Jaka melirik ke arah Udin, lalu menghela napas.
"Ustadz… biar saya yang cerita." katanya akhirnya.
Ustadz Sakari mengangguk.
Jaka mulai bercerita dengan suara pelan.
"Tadi waktu ronda, kami istirahat di pos."
"Terus kami dengar suara dari belakang, seperti ada sesuatu."
Udin mengangguk-angguk, wajahnya masih pucat.
"Kami cek ke belakang pos, Ustadz." lanjut Jaka.
"Saat disenter."
Jaka berhenti sejenak, menelan ludah.
"Kami melihat.. Sapri ustadz."
Udin langsung menunduk, seolah tidak berani mengingatnya lagi.
Ustadz Sakari langsung beristighfar.
"Astaghfirullah..."
"Begitu lihat itu, Daud langsung lari, Ustadz." Udin melanjutkan.
"Kami… kami sempat diam di situ… karena takut." Lanjutnya jujur.
"Setelah itu sosok itu hilang, baru kami pergi dan mencari Daud." Kata Udin.
"Ketemunya sudah jatuh di jalan… pingsan." Udin menambahkan dengan suara pelan.
Ustadz Sakari menatap Daud dengan tenang.
"Apa yang kamu lihat, Daud?" Tanyanya pelan.
Daud perlahan mengangkat wajahnya. Matanya penuh ketakutan.
Bibirnya gemetar.
"A… Aning…" ucapnya terbata-bata.
Jaka dan Udin langsung mengernyit.
"Aning?" ulang Jaka.
"Tapi yang kita lihat itu bukan Aning, Dud… itu Sapri." Katanya cepat.
Jaka ikut mengangguk.
"Iya… jelas Sapri. Bukan Aning. Walaupun dia berwujud hantu, aku tetap bisa membedakan mana Aning, mana Sapri. Ujar Udin.
Namun Daud menggeleng pelan.
"Bukan…" suaranya lirih.
"Itu… Aning…" kata Daud.
Suasana langsung hening.
Ustadz Sakari hanya diam memperhatikan.
Sementara Bu Salama, ikut mendengarkan tanpa berkata apa-apa.
Jaka dan Udin saling berpandangan.
Ustadz Sakari akhirnya angkat bicara.
"Sudah…" katanya pelan.
"Untuk malam ini, Kalian istirahat saja di sini."
"Kondisinya Daud tidak memungkinkan untuk pulang malam-malam begini."
Bu Salama ikut menimpali lembut.
"Iya, kasihan juga. Wajahnya masih pucat sekali."
Udin langsung mengangguk cepat.
"Iya, Ustadz, daripada kenapa-kenapa lagi di jalan. Aku juga masih agak takut jika pulang, siapa tau kita mungkin akan ketemu hantu Herman kali ini." Ucap Sapri yang masih meremang jika mengingat kejadian tadi.
"Hushh.." Kata Jaka, karena amit-amit jika melihat hantu dua kali malam ini.
"Karena itu, kita sebaiknya menurut Ustadz saja untuk menginap. Nanti pas sholat subuh kita baru pulang." Kata Udin.
Jaka berpikir sejenak, lalu mengangguk.
"Baik, Ustadz."
Ustadz Sakari lalu berdiri.
"Nanti kalian tidur di ruang depan saja."
"Iya, Ustadz."
Daud masih duduk diam.
Tatapannya kosong.
Namun di dalam pikirannya, wajah Aning itu masih jelas.
Di ruang tamu, ketiganya tidur. Daud sudah terlelap dalam kegelisahannya. Sementara Jaka dan Udin masih terjaga.
Udin berkata pada Jaka. Apa mungkin tadi Daud juga melihat hantu Aning.
Jaka berkata dia tidak tahu.
Udin lalu berkata lagi, kenapa ya akhir-akhir ini banyak sekali kejadian aneh yang terjadi.
Lalu, Jaka menimpali, sesungguhnya hanya Allah tahu, dan Angin serta daun yang bertiup menjadi saksinya. Kita sebagai manusia biasa hanya bisa menunggu petunjuk dari Allah.
Udin tersentak takjub dengan jawaban sahabatnya itu.
"Waah, Jak. Malam ini kamu lebih menyeramkan dari pada hantu Sapri yang kita lihat tadi. Kata Udin.
Jaka langsung melirik Udin dengan wajah datar.
"Bisa saja kamu." Gumamnya pelan.
Udin nyengir kecil.
"Lah, serius ini. Tadi bicaramu sudah seperti orang tua bijak."
Jaka hanya menghela napas, lalu menyandarkan kepalanya ke dinding.
"Bukan sok bijak, Din." Katanya pelan.
"Hanya saja, aku juga bingung harus mikir apa lagi." Semua yang terjadi membuatnya terasa buntu. Pikirannya pun sudah tak jelas harus di fokuskan kemana.
Udin ikut terdiam.
Matanya menatap langit-langit rumah yang redup diterangi lampu kecil.
*****
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan like, komen dan vote bintang lima ya. Terima kasih.