Lima tahun menikah, Samira tak pernah dicintai.
Pernikahannya lahir dari kesalahan satu malam bukan dari cinta, melainkan kehamilan yang memaksa Samudra menikahinya.
Ia mencintai sendirian. Bertahan sendirian.
Hingga suatu hari, lelah itu tak bisa lagi ditahan.
“Lepaskan aku, Mas… aku menyerah.”
Karena pernikahan tanpa cinta hanya akan mengajarkan satu hal: kapan seseorang harus berhenti bertahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itz_zara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26. Day-1
Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, akhirnya Samudra dan Samira tiba di kota tujuan mereka. Langit terlihat cerah, dengan angin yang terasa sedikit berbeda dari kota asal—lebih sejuk, lebih segar.
Mobil yang mereka tumpangi kini melaju menuju hotel tempat mereka akan menginap selama beberapa hari ke depan.
Di kursi belakang, Binar masih belum bisa diam. Matanya berbinar-binar sejak tadi, sesekali menempelkan wajahnya ke jendela untuk melihat pemandangan luar.
“Mama, itu apa?” tanyanya menunjuk gedung tinggi yang baru pertama kali ia lihat.
Samira tersenyum.
“Itu hotel juga, sayang.”
“Besar banget…”
“Iya.”
Samira lalu melirik ke arah depan, melihat Samudra yang duduk tegak sambil sesekali memeriksa ponselnya. Wajahnya terlihat serius seperti biasa, meski kali ini tidak sekeras hari-hari sebelumnya.
“Syukurlah selama penerbangan Binar senang banget,” ujar Samira membuka percakapan.
“Dia kalau naik pesawat memang selalu excited.”
Samudra hanya mengangguk kecil.
“Iya, tadi sampai nggak bisa diam.”
Nada suaranya terdengar datar, tapi tidak dingin.
Mobil akhirnya berhenti di depan sebuah hotel berbintang. Bangunan tinggi dengan pintu kaca besar menyambut mereka. Seorang petugas segera datang membantu membuka pintu mobil.
Binar langsung turun lebih dulu dengan wajah penuh rasa penasaran.
“Waah…”
Matanya membulat melihat lobi hotel yang luas dan mewah.
“Bagus banget, Mama…”
Samira tersenyum melihat reaksi putrinya, lalu menggandeng tangannya.
“Iya, tapi jangan lari-lari ya.”
Sementara itu, Samudra turun dari mobil dan langsung berjalan ke belakang untuk mengambil koper. Gerakannya cekatan, tangannya sibuk mengangkat satu per satu barang mereka.
Samira memperhatikannya sekilas.
“Mas, aku bantu ya,” ucapnya.
“Nggak usah,” jawab Samudra singkat.
Ia menutup bagasi, lalu mengambil koper terbesar.
“Mas saja.”
Samira tidak memaksa. Ia sudah terbiasa dengan sikap Samudra yang seperti itu.
Namun entah kenapa, hari ini terasa sedikit berbeda.
Setelah semua barang diturunkan, mereka berjalan masuk ke dalam hotel.
Udara dingin dari AC langsung menyambut. Aroma harum khas lobi hotel membuat suasana terasa nyaman.
Samudra menuju meja resepsionis untuk check-in, sementara Samira duduk di sofa bersama Binar.
“Mama, kita tidur di sini?” tanya Binar pelan.
“Iya.”
“Seru ya…”
Samira tersenyum.
“Iya, seru.”
Beberapa menit kemudian, Samudra kembali dengan kartu kamar di tangannya.
“Kita di lantai 12.”
Samira mengangguk.
Mereka lalu berjalan menuju lift. Binar berdiri di tengah-tengah mereka, menggenggam tangan Samira sambil sesekali menatap angka-angka yang berubah di atas pintu lift.
Ting.
Pintu lift terbuka.
Koridor hotel terlihat panjang dan tenang. Karpet tebal meredam suara langkah mereka.
Saat sampai di depan kamar, Samudra membuka pintu dengan kartu.
Klik.
Pintu terbuka.
Binar langsung berlari kecil masuk.
“Waaah!”
Kamar itu luas, dengan jendela besar yang memperlihatkan pemandangan kota dari ketinggian.
“Ada kasur besar!”
Samira ikut masuk, matanya mengamati sekeliling. Ia terlihat puas, tapi tetap sederhana dalam mengekspresikannya.
“Bagus ya, Mas…”
Samudra meletakkan koper di dekat dinding.
“Iya, lumayan.”
Binar sudah naik ke atas kasur dan melompat kecil.
“Empuk banget!”
“Binar, jangan lompat-lompat,” tegur Samira.
Namun nadanya tidak benar-benar marah.
Samudra memperhatikan itu sekilas, lalu tanpa sadar sudut bibirnya terangkat tipis.
Ia berjalan ke arah jendela, membuka tirai sedikit, lalu menatap keluar.
Kota itu terlihat indah dari atas.
@@@
Sore itu, cahaya matahari mulai meredup, menyisakan warna keemasan yang masuk melalui jendela kamar hotel. Suasana yang tadi terasa hangat perlahan berubah menjadi lebih tenang.
Namun ternyata, rencana tidak selalu berjalan seperti yang dibayangkan.
Samudra berdiri di dekat meja, merapikan jam tangannya sambil sesekali melihat ponsel. Wajahnya kembali menunjukkan sisi profesional yang sejak dulu begitu melekat padanya.
“Hari ini Mas langsung ketemu klien,” ujarnya akhirnya.
Samira yang sedang duduk di tepi kasur langsung menoleh.
“Sekarang, Mas?” tanyanya, sedikit terkejut.
“Iya. Kamu istirahat saja kalau capek. Kalau butuh apa-apa, langsung telepon atau hubungi Mas.”
Samira mengernyit pelan.
“Emangnya harus sekarang? Nggak besok saja? Mas pasti capek, habis perjalanan jauh…”
Dalam hati, Samira tak benar-benar mengerti.
Baru saja mereka sampai, bahkan belum sempat menikmati waktu bersama lalu sore ini langsung bekerja?
Apa pria itu tidak lelah?
Samudra tersenyum tipis, seolah mencoba menenangkan.
“Nggak apa-apa. Kamu tenang saja.”
Nada suaranya ringan, tapi tetap tegas.
Samira terdiam sejenak, lalu bertanya lagi,
“Nanti ke sananya sama Sania?”
Samudra mengangguk.
“Iya. Sania sudah di sana. Jadi Mas harus berangkat sekarang.”
Memang, sejak awal semua agenda perjalanan ini disiapkan oleh Sania mulai dari pertemuan dengan klien sampai pemesanan hotel. Bahkan tanpa disadari, ia juga yang memastikan semuanya berjalan rapi… termasuk perjalanan Samudra bersama keluarga kecilnya.
“Oh… gitu ya,” gumam Samira pelan.
Ia lalu mencoba tersenyum.
“Ya sudah… hati-hati di jalan ya, Mas.”
Samudra mengangguk.
Sebelum benar-benar pergi, ia menghampiri Binar yang sedang duduk di lantai sambil bermain Lego.
“Papa pergi dulu ya, sayang,” ucapnya lembut.
Binar langsung menoleh, lalu berdiri dan memeluk Samudra erat.
“Hati-hati, Pa. Nanti kita jalan-jalan ya…”
Samudra tersenyum kecil, membalas pelukan itu.
“Iya, sayang.”
Ia lalu mengecup kening putrinya dengan lembut.
Setelah itu, ia menoleh ke arah Samira.
“Kalau ada apa-apa, langsung hubungi Mas.”
Samira mengangguk pelan.
“Iya, Mas.”
Suasana sejenak terasa hening.
Samudra berjalan menuju pintu, tangannya sudah memegang gagang pintu.
Namun…
Tiba-tiba ia berhenti.
Samira yang melihat itu sedikit bingung.
“Lho, kenapa Mas? Ada yang ketinggalan?” tanyanya.
Samudra tidak langsung menjawab.
Ia justru berbalik, menatap Samira beberapa detik.
Lalu… perlahan melangkah mendekat.
“Iya,” ujarnya pelan.
“Ada yang ketinggalan.”
Samira semakin bingung.
“Apa—”
Kalimatnya terpotong.
Karena dalam sekejap…
Samudra sudah berdiri di hadapannya.
Dan tanpa memberi waktu untuk berpikir—
Sebuah kecupan mendarat di bibir Samira.
Singkat.
Tapi cukup untuk membuat waktu seolah berhenti.
Mata Samira membulat. Tubuhnya membeku, tidak bergerak sedikit pun.
Detak jantungnya tiba-tiba menjadi tidak beraturan.
Samudra menjauh perlahan, menatapnya dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.
“Ini yang ketinggalan,” ujarnya ringan.
Samira masih belum bisa bereaksi.
Ia hanya diam.
Benar-benar diam.
Sementara itu, Samudra kembali berbalik menuju pintu.
“Ya sudah, Mas berangkat dulu.”
Pintu terbuka.
Dan beberapa detik kemudian… tertutup kembali.
Klik.
Suasana kamar langsung terasa berbeda.
Sunyi.
Samira masih berdiri di tempatnya, tangannya tanpa sadar menyentuh bibirnya sendiri.
Seolah memastikan bahwa yang barusan terjadi… bukan imajinasi.
“Mama?”
Suara Binar membuatnya tersadar.
Samira menoleh cepat.
“Iya, sayang?”
“Mama kenapa? Kok diam saja?”
Samira buru-buru menggeleng, mencoba tersenyum.
“Nggak apa-apa.”
Namun pipinya perlahan memanas.
Dan jantungnya…
Masih belum kembali normal.
@@@
Sementara itu, di dalam mobil menuju tempat pertemuan—
Samudra duduk diam, menatap jalanan di depan.
Namun pikirannya…
Tidak sepenuhnya ada di sana.
Bayangan wajah Samira beberapa menit lalu terus terlintas di kepalanya.
Ekspresi terkejut itu.
Tatapan bingung itu.
Dan bagaimana ia… tidak menolak.
Samudra menghela napas pelan.
Entah sejak kapan…
Ia mulai memperhatikan hal-hal kecil tentang wanita itu.
Tentang bagaimana Samira selalu menyiapkan semuanya tanpa banyak bicara.
Tentang bagaimana ia selalu ada, bahkan saat dirinya sendiri terlalu sibuk untuk menyadari.
Dan barusan…
Ia melakukan sesuatu yang bahkan tidak ia rencanakan.
“Pak?”
Suara seseorang membuatnya tersadar.
Sania.
Wanita itu duduk di sebelahnya, menatap dengan sedikit heran.
“Kita sudah sampai,” ujarnya.
Samudra mengangguk pelan.
“Iya.”
Ia keluar dari mobil, kembali mengenakan ekspresi profesionalnya.
Namun jauh di dalam hati—
Ada sesuatu yang mulai berubah.
Dan untuk pertama kalinya…
Samudra merasa perjalanan ini mungkin akan mengubah lebih banyak hal… dari yang ia bayangkan sebelumnya.
@@@
Hai Semuanya!
Selamat Datang Di Cerita Baru Aku!!!
Mohon maaf kalau alurnya terasa lambat. Aku memang sengaja membuatnya bergaya slow burn supaya setiap detail dan emosi dalam cerita nya bisa lebih terasa.
Jangan lupa like, comment, follow, dan share cerita ini ya!!!
Terima Kasih!