"Aku sudah lelah." desis Ribka menatap lambaian daun jambu di teras samping rumahnya. Sepasang mata milik Raymond melirik ajam.
"Aku lelah, selama ini telah mengalah!" ulang Ribka lagi. "Lelah menjadi lilin yang menerangi duniamu. Sudah saatnya aku pergi, mencari kebahagiaanku sendiri."
Ribka menarik kopernya. Diiringi tatapan sinis dari keluarga suaminya. yang selama ini tidak pernah menghargainya.
Cinta di ujung senja. Perjalanan Ribka mencari kebahagiaannya setelah bercerai dengan suaminya. Berhasilkah Ribka menemukan kebahagiaannya?
"Aku pergi bukan untuk kembali."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Linda Pransiska Manalu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34. Merasa aneh sendiri.
Ledakan tawa Pak Mario membuat semuanya kebingungan. Terlebih Ribka. Dia cemas, itu akibat ulahnya tadi yang memukuli kepala Pak Mario pakai kemoceng. Apa bisa separah itu ya efeknya? Batin Ribka cemas luar biasa.
Sedangkan Mira juga bingung, apakah akan ikutan tertawa atau diam saja. Dan kenapa Bos Tuanya malah tertawa lepas seperti itu. Dan bukannya marah-marah. Hal yang tidak pernah beliau lakukan semenjak istrinya meninggal dunia.
"Mbak Mira, bagaimana ini. Ibu takut sekali." bisik Ribka cemas ke Mira. "Apa karena tadi saya pukuli kepala beliau pakai kemoceng?"
Hampir saja Mira terpingkal kalau saja tidak ingat mereka sedang di depan Bos Tua.
"Bapak, maafkan saya ya. Tadi saya salah paham. Tolong jangan pecat saya ya, Pak." Ribka menangkupkan kedua tangannya. Meminta maaf.
"Ya, sudah. Kali ini saya maafkan. Bisa-bisanya kamu tuduh aku maling di rumahku sendiri. Mira, pergi sana dan kembali keruangan kalian." titah Pak Mario serius.
Tanpa disuruh dua kali, Mira dan rekannya bergegas keluar. Meninggalkan Ribka dengan Bos Tua. Ribka menjadi takut, akan menjadi lampiasan kemarahan Pak Mario.
Setelah semuanya pergi. Pak Mario menatap Ribka dari ujung kaki hingga kepalanya. Ribka tertunduk ketakutan. Terlihat dari jemarinya yang saling bertautan.
"Jadi kamu asisten yang di rekomendasikan Kenny itu? Sungguh perkenalan yang heroik." sindir Pak Mario. Membuat wajah Ribka berubah ubah. Dari merah ke pucat dan sebaliknya.
"Ma-maafkan saya tadi Pak. Saya benar-benar tidak tau. Sebab penampilan Bapak ...." Ribka tidak berani melanjutkan ucapannya.
"Seperti preman ya?" sambung Pak Mario. Ribka semakin menundukkan kepalanya.
"Terus terang baru kamu satu-satunya orang yang berani berkata jujur, tentang penampilan saya. Saya suka itu. Setidaknya kamu tidak berpura-pura di depan saya."
"Saya sengaja tampil seperti ini. Karena saya benci orang-orang munafik. Dan saya banyak melihat orang seperti itu dalam lingkup kehidupan saya. Kalau bukan karena uang atau status saya, mereka pasti sudah meninggalkan saya sejak dulu." Ribka diam mematung. Tidak tau harus berbuat apa. Merasa serba salah jadinya.
"Saya sudah lapar dan haus. Tapi kamu tidak juga mengambilkan sarapan saya. Apa kamu mau menunggu saya pingsan dulu baru dikasih sarapan?" gertak Pak Mario tiba-tiba.
Untuk yang kesekian kalinya Ribka terkaget-kaget oleh ulah Pak Mario. Yang suasana hatinya selalu berubah tiba-tiba.
"Eh, ba-baik Pak. Saya akan ambilkan sarapan Bapak. Apakah kopi atau teh?" Ribka malah memberi pilihan. Kalau Mira ya, pasti menyediakan sesuka hatinya. Kadang kopi kadang teh. Semua sudah disiapkan di atas meja.
Tidak pernah diberi pilihan.
"Hem, kopi saja."
Ribka bergegas menuju meja kecil. Dimana telah tersusun bebeberapa stoples di atas rak.
Tanpa canggung, Ribka menyeduh kopi. Aroma kopi menguar dalam ruangan. Menyegarkan suasana hati Pak Mario. Semua gerak gerik Ribka tidak luput dari perhatian Pak Mario.
"Ini Pak." Ribka meletakkan nampan berisi gelas kopi dan sepotong roti tawar yang telah diolesi slai.
"Terima kasih." Pak Mario mengambil sesendok kopi dan menyicipinya. Pak Mario kaget dengan rasanya. Beda sekali dengan racikan Mira. Padahal kopinya pasti sama. Cuma beda penyajian barangkali. Pak Mario mengulang menyicipi sesendok kopi. Rasanya tetap tidak berubah. Rasa manis dan pahitnya pas.
Namun, Pak Mario diam saja. Terlalu dini memberi pujian. Lagian masih ada sisa rasa kesal di dalam hatinya, atas ulah Ribka tadi.
Setelah selesai sarapan, Pak Mario masuk ke dalam kamarnya. Mencari nomor kontak Kenny.
Pak Mario menunggu beberapa saat setelah menekan tombol panggil. Kenny akhirnya mengangkat ponselnya.
"Ada apa Pa, tumben mengganggu Kenny sepagi ini."
"Dasar anak sialan!" maki Pak Mario kesal. Kenny terbahak di seberang.
"Ada masalah apa, Pa?" ulang Kenny.
"Kamu dapat dimana asisten yang kau rekomendasikan itu, hah!" bentak Pak Mario pada Kenny.
"Kenapa Pa? Papa naksir ya. Baru juga beberapa jam Tante Ribka kerja." ledek Kenny mengerjain papanya.
"Apa lo bilang? Naksir! Dasar setan kecil! Kamu tau tidak, Papa nyaris mati dibuatnya. Digebukin pakai kemoceng dan difitnah jadi maling!" adu Pak Mario kesal.
"Apa!" beliak Kenny kaget. "Papa serius? Masa Tante Ribka sesadis itu." Kenny kembali terbahak. Membayangkan papanya digebukin pakai kemoceng. "Kok bisa ya?"
"Papa mau pecat dia." ancam Pak Mario tiba-tiba. Membuat Kenny kaget.
"Eh, Papa kok gitu. Bisa-bisanya Papa digebukin Tante Ribka pakai kemoceng. Apa Papa menggoda Tante Ribka. Pantasan Papa dihajar."
"Gila! Ngomong apaan sih. Dia teriak bilang Papa maling."
"Hem, Kenny udah bisa tebak. Pasti karena tampilan Papa yang kayak preman. Makanya Pa, lebih rapi dikit tampilannya gimana. Ini persis preman pasar. Yah, orang salah paham lah sama Papa."
Pak Mario tercenung diam beberapa saat. Seolah ragu melanjutkan ucapannya.
"Tapi, kopi hasil racikannya Papa suka. Kalau gak sudah Papa pecat saat itu juga." ucap Pak Mario jujur.
"Oh, Tante Ribka ada nilai plusnya juga ya, Pa. Baguslah, Papa tidak buru-buru memecat Tante Ribka. Kenny yakin Tante Ribka memiliki banyak kelebihan lainnya Pa. Papa buktiin sendiri dah."
"Kamu sudah lama kenal dia ya. Kok kamu seperti tau banyak tentang dia?" kening Pak Mario mengernyit heran.
"Belum lama kok Pa. Tapi Kenny percaya Tante Ribka orangnya baik. Kenny yakin Tante Ribka pasti cocok jadi asisten Papa."
"Lihat saja nanti. Satu kesalahan lagi, Papa akan bertindak tanpa ragu." Pak Mario segera memutus panggilan.
Apa yang sedang aku lakukan? Barusan aku mengadu pada anak nakal itu. Bah! Hal kecil begini kok aku bahas dengan Kenny? Pak Mario membatin.
Kenny juga sedikit bingung. Memandangi ponselnya. Papanya kok bersikap aneh. Tiba-tiba menelponnya dan bercerita tentang ulah Tante Ribka. Biasanya kan gak peduli dengan pendapatnya? Suka ambil keputusan spontan. Dan sesiapapun sulit mencegahnya.
Kali ini kok beda. Padahal kesalahan Tante Ribka sudah cukup fatal. Menuduh papanya maling dan menggebukinya pakai kemoceng. Di rumahnya sendiri? Hahaha, Kenny tidak bisa membayangkan adegan itu, saking di luar logikanya.
Tapi anehnya papanya masih berpikir dua kali untuk memecat Tante Ribka. Apa papanya sudah masuk perangkap yang dia pasang?
Ah terlalu dini menganggap begitu. Tapi jelas sudah, papanya bersikap berbeda.
Pak Mario hendak keluar dari kamarnya. Dia merasa aneh dengan pikirannya sendiri. Terlebih saat melintas di depan cermin besar di kamarnya. Pak Mario kaget melihat bayangan dirinya di dalam cermin.
Astaga! Pantasan saja Ribka menyebutku seperti preman pasar. Rambut gondrong yang tidak sempat disisir. Celana jins yang robek dimana-mana. Dan kaos oblong yang warnanya sudah mulai pudar.
Ribka tidak salah bukan? Tapi kenapa selama ini dia sudah merasa keren dengan penampilannya? Siapa saja yang melihatnya pasti tidak mengira dia adalah Bos. Memiliki banyak cabang perusahaan.
Tiba-tiba Wajah Pak Mario memerah. Malu melihat bayangannya di dalam cermin.***
Dan aku rasa Mirza itu anaknya Raymond dengan Kathy.