NovelToon NovelToon
Jerat Nurani

Jerat Nurani

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi
Popularitas:374
Nilai: 5
Nama Author: Si tupai yang merokok

Hino dijebak obat oleh Irmi, kenyataannya Hino sudah punya istri bernama Erni. Bagaimana nasibnya, apakah cerai atau mati?.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Si tupai yang merokok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25. Riset di Atas Ranjang

Dedaunan pohon mangga di samping pagar luar kompleks bergoyang pelan, mengembuskan angin malam yang semakin menggigit permukaan kulit. Di bawah temaram lampu jalan yang kuning kusam, Linda menatap Hino dengan napas yang mulai tersedak oleh rasa mual dan amarah yang berbaur menjadi satu di dalam dadanya. Kalimat pasrah dari mulut kepala toko miskin itu terdengar begitu meremehkan seluruh tatanan logika yang selama ini diagungkan oleh otak intelektualnya.

Plak! Plak!

Dua tamparan keras mendarat berturut-turut di pipi kanan Hino, memecah kesunyian malam larut dengan bunyi yang nyaring. Tangan Linda gemetar hebat setelah melayangkan pukulan tersebut, dadanya kembang kempis menahan luapan frustrasi yang begitu pekat merasuki batinnya. Air mata jengkel mulai mengambang di pelupis matanya yang bengkak.

"Hebat ya kamu, Hino! Hebat sekali!" seru Linda dengan suara yang tertahan dalam bisikan histeris, tawa ketakutan yang hambar lolos dari bibirnya yang pucat. Ia menunjuk wajah Hino dengan jemarinya yang dingin. "Dapat janda kaya pemilik toko, punya istri sah yang cantik di rumah bawah meskipun miskin, dan sekarang... sekarang sang dosen berkelas yang terhormat ini juga ikut kau seret ke dalam kubangan lumpur busukmu?! Kau pikir menghancurkan hidupku itu adalah hal yang lucu, hah?!"

Hino tidak membalas tamparan itu. Ia hanya mengusap sudut bibirnya yang terasa sedikit perih, lalu menatap Linda dengan sepasang mata yang sudah kehilangan seluruh rasa takut ataupun rasa hormat pada status sosial sang dosen. Kepengapan batin selama lima tahun dianggap mandul kini mengkristal menjadi keberanian gelap yang sangat dingin di dalam kepalanya.

Hino melangkah satu senti lebih dekat, menekan posisi berdiri Linda hingga punggung wanita berusia tiga puluh satu tahun itu membentur tiang besi pagar gerbang. Embusan napas Hino yang berat menerpa wajah Linda, mengunci seluruh arogansi akademis yang selama ini menutupi ketakutan sang dosen.

"Kenapa kau harus menangis seolah kau adalah korban yang paling suci di sini, Linda?" bisik Hino, suaranya terdengar begitu lambat namun sarat akan tekanan psikologis yang mencekik batin. Hino menatap lurus ke arah perut Linda yang tersembunyi di balik jaket tebalnya, lalu melemparkan senyuman miring yang sangat menghina. "Bukankah ini yang selama ini kamu mau dengan riset ilmiahmu itu? Kau masuk ke rumah kontrakan ini, merekam pertengkaran rumah tanggaku lewat Risa, dan mengamati kami semua seperti binatang percobaan di laboratorium sosiologimu, kan? Sekarang, setelah eksperimenmu itu tumbuh di dalam rahimmu sendiri, cantumkan namamu juga di dalam draf jurnalmu itu, dan tamparanmu tadi... anggap saja sebagai modal pelengkap kesuksesan riset ilmiahmu!"

Linda terbungkam membatu, seluruh persendian tubuhnya mendadak lemas mendengar serangan balik yang begitu telak dari pria yang selalu ia remehkan sebagai pelayan toko rendahan. Keangkuhan intelektualnya runtuh tak tersisa di bawah bayangan pohon mangga malam ini.

"Hino... kau..." Linda terbata, jemarinya meremas kuat pinggiran jaket tebalnya, mencoba mencari sisa-sisa kekuatan untuk membalas, namun lidahnya benar-benar sudah kelu oleh kenyataan bahwa dia kini telah terikat mati dalam rantai dosa yang sama.

"Aku sudah bilang, aku tidak takut lagi jika harus masuk penjara atau mati di tangan suaminya Hina di seberang jalan sana, Linda," potong Hino dingin, suaranya datar tanpa riak emosi sedikit pun. Ia membalikkan badannya, bersiap menuntun kembali motornya masuk melewati celah gerbang besi yang sudah terbuka. "Esok pagi, silakan ambil alat tes urine itu di dalam kamarmu. Jika hasilnya benar dua garis merah, simpan saja kesombongan dosenmu itu di dalam laci meja kampus, karena mulai besok... kau tidak ada bedanya dengan dua wanita hamil yang sedang saling cakar di lantai bawah."

Linda hanya bisa berdiri terpaku di balik kegelapan pilar gerbang, menatap punggung Hino yang berjalan menjauh menembus koridor bawah yang sunyi. Langkah kaki pria itu terdengar begitu santai namun pasti, meninggalkan sang dosen sendirian meratapi kehancuran karir akademisnya yang kini terkunci rapat di bawah atap rumah kontrakan yang sama.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!