NovelToon NovelToon
PACAR PALSU, JODOH ASLI

PACAR PALSU, JODOH ASLI

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Romansa / Perjodohan
Popularitas:990
Nilai: 5
Nama Author: Althea Shalmaira

Pacar Palsu, Jodoh Asli

Almira Valencia Pradipta, pewaris Pradipta Corporation, selalu menolak gagasan perjodohan. Baginya, cinta harus dipilih sendiri. Namun hidupnya berubah ketika ia terus-menerus dipertemukan dengan Reynard Arsenio Mahardika, pewaris Mahardika Holdings yang arogan, menyebalkan, dan selalu berhasil memancing emosinya. Lelah menghadapi tekanan keluarga dan gosip yang beredar, mereka sepakat berpura-pura menjadi pasangan agar semua orang berhenti ikut campur. Awalnya hanya sandiwara tanpa perasaan, tetapi semakin lama bersama, batas antara pura-pura dan kenyataan mulai menghilang. Saat benih cinta tumbuh, sebuah rahasia besar terungkap: keluarga mereka ternyata telah menjodohkan mereka sejak lahir. Kini Almira dan Reynard harus memilih, melawan takdir yang telah diatur atau mengikuti suara hati yang tak lagi bisa berbohong.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Althea Shalmaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

25. Dimas

Untuk beberapa detik, tidak ada seorang pun yang bergerak.

Almira dan Reynard berdiri membeku di tempat.

Sementara pria yang selama berminggu-minggu mereka cari berdiri di hadapan mereka seolah tidak pernah menghilang.

Dimas.

Hidup.

Sehat.

Dan terlihat jauh lebih tenang daripada yang seharusnya.

"Ini tidak masuk akal."

gumam Reynard.

Dimas tersenyum tipis.

"Aku mengatakan hal yang sama ketika pertama kali melihat kalian datang."

Almira masih belum sepenuhnya percaya.

Terlalu banyak kemungkinan yang berputar di kepalanya.

Terlalu banyak pertanyaan yang muncul sekaligus.

"Kamu hidup."

katanya akhirnya.

Pertanyaan yang terdengar bodoh.

Namun saat itu hanya itu yang mampu ia ucapkan.

"Sejauh yang aku tahu, iya."

jawab Dimas.

Biasanya Almira akan kesal mendengar jawaban seperti itu.

Namun kali ini ia terlalu terkejut untuk bereaksi.

"Kami mencarimu."

kata Reynard.

"Aku tahu."

"Kami pikir kamu diculik."

Dimas terdiam beberapa saat.

Kemudian berkata,

"Itu tidak sepenuhnya salah."

Keheningan kembali menyelimuti gudang.

Karena jawaban itu justru menimbulkan lebih banyak pertanyaan.

"Apa maksudmu?"

tanya Almira.

Dimas melirik sekeliling.

Memastikan tidak ada orang lain.

Kemudian berjalan mendekat.

"Kalian benar-benar datang sendirian?"

"Tidak."

jawab Reynard jujur.

Dimas mengangguk.

"Bagus."

"Kamu mengharapkan kami cukup bodoh untuk datang tanpa pengamanan?"

tanya Almira.

"Jujur?"

Dimas tersenyum kecil.

"Aku sempat khawatir kalian akan melakukannya."

Untuk pertama kalinya, Almira melihat sedikit sisi manusiawi dalam dirinya.

Karena selama ini Dimas hanya hadir sebagai nama.

Petunjuk.

Korban.

Bukan seseorang yang nyata.

Namun sekarang semuanya berubah.

"Katakan apa yang terjadi."

kata Reynard.

Dimas menarik napas panjang.

Seolah sedang mempersiapkan diri untuk membuka sesuatu yang telah lama ia simpan.

"Tiga minggu lalu."

katanya.

"Aku menemukan lokasi yang terhubung dengan Proyek Aurora."

Almira dan Reynard langsung fokus.

"Lokasi yang sama?"

tanya Reynard.

Dimas mengangguk.

"Aku pikir aku akhirnya menemukan pusat operasi mereka."

"Lalu?"

"Aku salah."

Jawaban itu datang begitu cepat hingga membuat mereka sedikit terkejut.

"Salah?"

ulang Almira.

"Itu bukan pusat operasi."

jawab Dimas.

"Itu umpan."

Bulu kuduk Almira langsung meremang.

Karena itu berarti seseorang memang sengaja membiarkan lokasi tersebut ditemukan.

"Aku masuk ke sana."

lanjut Dimas.

"Dan menemukan sesuatu."

"Apa?"

Dimas terdiam.

Tatapannya berubah.

Lebih gelap.

Lebih berat.

"Sebuah daftar."

Daftar lagi.

Mereka mulai membenci kata itu.

"Daftar apa?"

tanya Reynard.

"Kandidat."

Hening.

"Kandidat untuk apa?"

tanya Almira.

Dimas menatap mereka.

Lalu menjawab pelan.

"Orang-orang yang bisa dimanfaatkan."

Tidak ada yang berbicara.

Karena kalimat itu terdengar jauh lebih mengerikan daripada yang mereka harapkan.

"Dimanfaatkan bagaimana?"

Dimas menghela napas.

"Dalam dunia bisnis."

katanya.

"Semua orang berpikir kekuatan datang dari uang."

"Lalu?"

"Sebagian benar."

Tatapan Dimas berubah.

"Tapi informasi jauh lebih berharga."

Almira teringat penjelasan Arman dan Pradipta.

Tentang pertukaran informasi.

Tentang jaringan rahasia.

Tentang orang-orang berpengaruh.

"Proyek Aurora bukan sekadar organisasi."

kata Dimas.

"Kalau begitu apa?"

"Mesin."

Kata itu menggantung di udara.

"Mesin?"

ulang Reynard.

"Mesin pengaruh."

jawab Dimas.

Ia berjalan beberapa langkah.

Kemudian menunjuk ke arah mereka.

"Mereka mencari orang-orang dengan akses."

"Pejabat."

"Direktur."

"Investor."

"Anak-anak pewaris perusahaan."

Kalimat terakhir itu membuat Almira dan Reynard saling menatap.

Karena keduanya langsung memahami ke mana arah pembicaraan ini.

"Kami?"

tanya Almira.

Dimas tidak langsung menjawab.

Dan itu sudah menjadi jawaban.

"Aku menemukan nama kalian."

katanya akhirnya.

Gudang mendadak terasa jauh lebih dingin.

"Apa?"

suara Reynard terdengar lebih tajam dari biasanya.

"Nama kalian ada dalam daftar."

Almira merasakan dadanya menegang.

"Tidak mungkin."

"Aku berharap begitu."

jawab Dimas.

"Tapi aku melihatnya sendiri."

Keheningan kembali turun.

Untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, mereka tidak lagi berdiri di luar misteri.

Mereka adalah bagian dari misteri itu sendiri.

"Kenapa kami?"

tanya Almira.

"Karena kalian berharga."

Jawaban Dimas datang tanpa ragu.

"Kalian pewaris dua kelompok bisnis besar."

"Kalian punya akses."

"Kalian punya pengaruh."

"Dan yang paling penting..."

Ia berhenti sejenak.

"Kalian punya masa depan."

Kalimat itu membuat Almira merinding.

Karena untuk pertama kalinya, ia merasa sedang dilihat bukan sebagai manusia.

Melainkan sebagai aset.

"Sial."

gumam Reynard.

"Itu juga reaksiku."

jawab Dimas.

Mereka menghabiskan hampir satu jam berikutnya mendengarkan cerita Dimas.

Tentang bagaimana ia menemukan petunjuk demi petunjuk.

Tentang bagaimana ia mulai menyadari bahwa seseorang mengawasinya.

Tentang mobil yang mengikuti.

Tentang email yang diretas.

Tentang telepon misterius di tengah malam.

Dan akhirnya...

Tentang malam ketika ia memutuskan menghilang.

"Aku tidak diculik."

katanya.

"Aku kabur."

Almira berkedip.

"Kabur?"

"Ya."

"Kamu sengaja menghilang?"

"Kalau tidak, aku mungkin tidak akan hidup sampai hari ini."

Tidak ada yang bisa membantah itu.

Karena semakin banyak yang mereka dengar, semakin nyata ancaman yang mereka hadapi.

Namun ada satu hal yang masih mengganjal.

"Kalau begitu kenapa muncul sekarang?"

tanya Reynard.

Dimas terdiam.

Lama.

Terlalu lama.

Kemudian ia menjawab.

"Karena seseorang mulai bergerak lebih cepat."

"Apa maksudnya?"

Dimas membuka tas yang dibawanya.

Lalu mengeluarkan sebuah folder hitam.

Folder yang terlihat sudah usang.

Penuh bekas lipatan.

"Aku menemukan ini dua hari lalu."

katanya.

Almira menerima folder tersebut.

Tangannya langsung membeku ketika membuka halaman pertama.

Karena di sana terdapat foto.

Banyak foto.

Foto dirinya.

Foto Reynard.

Foto mereka bersama.

Di kantor.

Di restoran.

Di acara bisnis.

Bahkan saat berada di Makassar.

Setiap foto memiliki tanggal.

Waktu.

Dan catatan.

Mereka sedang dipantau.

Sudah lama.

"Sial."

gumam Reynard lagi.

Dan kali ini tidak ada seorang pun yang menertawakannya.

Karena situasinya memang seserius itu.

Almira membalik halaman berikutnya.

Lalu berikutnya lagi.

Dan jantungnya langsung berdetak lebih keras.

Karena di salah satu halaman terdapat foto yang baru diambil beberapa hari lalu.

Foto dirinya dan Reynard keluar dari rumah keluarga Mahardika.

Tepat setelah pertemuan dengan orang tua mereka.

Artinya...

"Mereka tahu."

bisiknya.

Dimas mengangguk.

"Mereka tahu kalian sudah dekat dengan kebenaran."

Hening.

Tidak ada yang berbicara.

Karena untuk pertama kalinya, bahaya itu terasa nyata.

Sangat nyata.

Bukan lagi sekadar data di layar.

Bukan lagi daftar nama.

Bukan lagi teori.

Seseorang benar-benar mengawasi mereka.

Dan seseorang itu tidak takut menunjukkan keberadaannya.

Namun sebelum siapa pun sempat berkata apa-apa lagi, suara derit logam terdengar dari luar gudang.

Semua kepala langsung menoleh.

Dimas membeku.

Ekspresinya berubah drastis.

"Tidak."

gumamnya.

"Apa?"

tanya Reynard.

Dimas melangkah cepat menuju salah satu jendela pecah.

Melihat ke luar.

Dan wajahnya langsung pucat.

"Mereka menemukan kita."

Jantung Almira langsung berdegup keras.

"Apa maksudmu?"

Dimas menoleh.

Dan untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, ketakutan terlihat jelas di wajahnya.

"Bukan seharusnya hari ini."

katanya.

"Apa yang bukan seharusnya hari ini?"

teriak Reynard.

Dimas tidak menjawab.

Karena pada saat yang sama, suara mesin kendaraan mulai terdengar dari luar.

Satu.

Dua.

Tiga.

Semakin banyak.

Semakin dekat.

Dan dari celah jendela gudang, Almira melihat beberapa SUV hitam memasuki area kompleks industri.

Perlahan.

Teratur.

Seolah mereka tahu persis ke mana harus pergi.

Mencari satu tempat.

Mencari satu orang.

Atau mungkin...

Mencari tiga orang sekaligus.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!