NovelToon NovelToon
Candu Ragamu

Candu Ragamu

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Dark Romance / Obsesi
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Nona Syela

Book #1 of The Walter Brothers Dia pria, pengacara paling licik di New York. Dia wanita, CEO muda yang kehilangan segalanya dalam satu malam. Satu kasus mempertemukan mereka dengan syarat yang tak masuk akal. Emily Cooper hanya ingin memenangkan kembali hak atas hidupnya. Raphael Walter hanya tertarik pada permainan yang membuat tubuhnya panas. "Aku menangkan kasusmu. Tapi kau harus menghiburku di ranjangku." Dalam dunia penuh siasat, tubuh dan kuasa adalah alat tawar. Tapi ketika menyecap panasnya hasrat, dan tiap sentuhan menjadi candu nikmat, siapa yang sebenarnya dikendalikan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Syela, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Run Away (A)

Ceysa buru-buru merapikan selimutnya yang berantakan di atas ranjang, menepuk-nepuk bantal untuk menyigkap debu-debu yang menempel di sana. "Maaf, Nona, sedikit berantakan," katanya, berdiri canggung di samping Emily.

Emily melangkah masuk perlahan, matanya menilik seisi ruangan. Terasa langsung satu hal, yakni betapa kontrasnya tempat ini dibandingkan dengan penthouse pribadinya di Manhattan. Apartemen itu sempit, hanya terdiri dari satu ruang kecil yang merangkap kamar tidur sekaligus ruang tamu.

Dinding kamar tersebut banyak dipenuhi poster dan foto idol pria Korea. Dari pose tersenyum manis, pula yang berpose penuh karisma. Di meja rias, sebuah pigura kecil menampilkan foto grup favorit Ceysa dengan tanda tangan palsu hasil cetakan. Di sudut ruangan, lemari kaca memajang koleksi lightstick yang berpendar di bawah cahaya LED biru keunguan, sementara boneka-boneka idol berjajar di rak buku, sebagian sudah tampak kusam.

Tempat ini benar-benar sangat Ceysa.

Emily menghela napas panjang, seraya tersenyum tipis. "Tidak apa-apa," ucapnya, meski dalam hati ia sadar betapa sederhana ruangan ini. Tempat tidur di tengah ruangan tidak besar, cukup untuk dua orang jika mereka tidur tenang tanpa banyak bergerak.

Ceysa masih merasa janggal. Tak pernah ia bayangkan bos besarnya—wanita mapan dengan selera tinggi—akan menginap di tempat sempit ini. Apalagi alasannya pun membuatnya sedikit tak percaya. Banyak serangga di penthouse sehingga sedang disterilkan. Bukankah Emily bisa memesan kamar hotel bintang lima dalam hitungan menit? Itu tak sulit baginya, bukan?

Kendati mendapat tatapan heran dari sekretarisnya, Emily tetap tenang. Ia tak merasa perlu memberi penjelasan lebih jauh, sebab alasannya pun hanya kedok. Ia memang kabur. Dari Raphael, dari amarah dan permainan gilanya. Sejak tadi ponselnya terus bergetar, menandakan panggilan dari pria itu, hingga akhirnya ia memutuskan mematikan benda itu sepenuhnya. Malam ini, ia hanya ingin hilang sejenak, meski hanya di apartemen mungil itu.

Kini Emily berdiri tepat di depan cermin kecil, memandangi dirinya yang terbungkus kaus longgar milik Ceysa. Rasanya aneh, sepanjang hidupnya ia terbiasa memakai pakaian dengan harga fantasis, yang tentu bahannya berbeda jauh dari yang ia kenakan kini, namun kali ini kain katun sederhana itu justru membuatnya bisa bernapas lebih leluasa.

Ia menoleh, menatap Ceysa yang tengah sibuk menyingkirkan tumpukan sisa makanan dan majalah bergambar wajah pria-pria berparas sempurna di atas meja kecilnya.

"Kau sebegitu tergila-gilanya pada K-pop, ya?"

Ceysa langsung menoleh dengan wajah sumringah. "Tentu saja, Nona. Musiknya, koreografinya, konsep setiap comeback, semuanya selalu membuatku kagum. Favoritku Kim Min-gyu." Ia menunjuk pajangan besar di dinding, foto pria yang ia maksud. "Suaranya saja sudah membuat tubuhku merinding, apalagi senyumnya... ah, dunia rasanya berhenti. Dia terlalu tampan. Tubuhnya juga luar biasa. Tinggi, bahunya lebar, ototnya besar, cocok menjadi sandaran ternyamanku."

Ceysa menghela berlebihan sambil menutup wajah dengan kedua tangannya. "Bayangkan kalau aku bisa duduk di pangkuannya, lalu dia menatapku sambil tersenyum. Mungkin aku langsung pingsan! Kadang aku bahkan bermimpi Min-gyu turun dari panggung, menarik tanganku, lalu membisikkan, I love you.. Arrggghh..'"

Emily menatap Ceysa dengan tatapan horor sekaligus ngeri geli. "Sungguh, kau terdengar seperti remaja baru puber, Ceysa. Jangan lupa, usiamu sudah dua puluh tujuh tahun."

"Biar saja." Ceysa menyunggingkan senyum tanpa rasa malu. "Semua mimpi besar bukankah berawal dari khayalan kecil, Nona? Kalau aku tidak pernah berkhayal, bagaimana mungkin bisa sampai ke kenyataan? Siapa tahu besok aku sungguhan bertemu Min-gyu, lalu dia jatuh cinta padaku dan kami menikah."

Emily tertawa pendek, geleng kepala. "Terlalu banyak drama Korea yang meracuni otakmu."

Ceysa mengangkat bahu. "Tapi mimpi itu gratis, Nona. Dan serius, aku ingin sekali tinggal di Korea Selatan suatu hari nanti."

"Artinya kau berniat meninggalkanku?"

"Bukan begitu," buru-buru Ceysa menepis. "Tapi kalau ada kesempatan dan tawaran kerja bagus di sana, siapa tahu aku ambil."

Emily menyipitkan mata, bibirnya terangkat tipis. "Kalaupun ada kesempatan itu, akan kuputus sebelum kau terima. Aku bisa membayarmu dua kali lipat dari gaji yang mereka tawarkan."

Mata Ceysa melebar, bibirnya terbuka tak percaya. "Serius, Nona? Dua kali lipat?" Ia tergelak, kemudian dengan sengaja mencolek-colek nakal lengan Emily, menggodanya. "Apa Nona sesayang itu padaku sampai tak rela melepas?"

Emily mencibir. "Jangan terlalu percaya diri. Aku hanya malas beradaptasi dengan sekretaris baru. Kau sudah terlalu lama mengenalku, bahkan sejak orang tuaku masih ada." Ia bergegas naik ke tempat tidur untuk beristirahat, namun langkahnya terhenti ketika rasa nyeri tiba-tiba menusuk di bawahnya, sisa perlakuan Raphael tadi, yang sama sekali tak ia sukai. Sialan.

"Nona, tidak apa-apa?" tanya Ceysa cemas.

Emily menarik napas dalam. "No, it's okay," ujarnya pelan, menahan nyeri sebelum akhirnya berbaring di atas ranjang, disusul oleh Ceysa di sebelahnya.

Sudah lewat tengah malam, namun cahaya kota masih menembus tirai tipis di jendela apartemen kecil itu. Dua perempuan berbaring di atas ranjang sempit, bahu mereka saling bersentuhan, mata menatap kosong ke langit-langit. Tak ada suara selain dengung kecil pendingin ruangan.

"...Apa yang Nona suka saat ini?" Pertanyaan Ceysa memecah lamunan, tiba-tiba hingga membuat Emily kontan menoleh dengan mengangkat alis.

Pertanyaan itu terasa aneh di telinga Emily. Ia tertawa kecil. "Kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti itu?"

Ceysa tersenyum remang, menatap langit-langit yang sama. "Entahlah. Aku hanya merasa Nona sudah lama tidak terlihat bahagia. Sejak Tuan Arthur dan Nyonya Eleanor meninggal, Nona berubah. Tidak buruk, tentu saja. Hanya.. berbeda. Aku masih ingat, dulu Nona sering tertawa ceria bercerita tentang buku-buku sejarah yang Nona baca, sering memuji hal-hal kecil. Sekarang Nona selalu serius. Tegas, galak, ambisius. Itu bagus untuk memimpin perusahaan, tapi..." Ia berhenti sejenak, menelan ludah. "Kadang aku merasa kehilangan sosok yang dulu aku kenal."

Tak langsung menjawab, pandangan Emily menerawang kosong menembus langit-langit, bak mencari jawaban di balik cat putih yang mulai mengelupas tersebut.

"Begitulah hidup," ujarnya pelan. "Segala sesuatu terlihat indah di awal, seperti permulaan yang dijanjikan. Kau percaya segalanya akan bertahan lama, kau pikir itu pusat duniamu. Tapi dunia punya caranya sendiri untuk menunjukkan bahwa semua bisa berubah hanya dalam sekejap."

Ceysa diam, mendengarkan dengan seksama.

Emily melanjutkan. "Ketika mereka pergi, aku tidak diberi waktu untuk berduka, Ceysa. Hidup tidak memberiku ruang untuk menangis. Dunia menuntutku berdiri, mengambil alih, memimpin, seolah aku sudah siap. Padahal aku bahkan belum selesai belajar. Tapi aku harus melangkah. Karena kalau aku berhenti, aku akan jatuh. Dan kalau aku jatuh, tidak ada yang akan menolong lagi."

Ia menghela napas panjang, jemarinya memainkan ujung selimut yang berwarna krem. "Jadi kalau kau tanya apa yang aku suka sekarang, aku bahkan tidak tahu. Apa yang aku suka sudah tidak penting lagi. Aku hanya tahu satu hal, aku harus menjaga apa yang mereka tinggalkan. Meneruskan perusahaan, memperkuat nama Cooper. Sampai pada akhirnya mungkin, aku akan mulai menyukainya. Karena itu yang orang tuaku inginkan dariku."

Ceysa menatapnya lirih. "Itu terdengar menyedihkan."

Emily menoleh sedikit, tersenyum tipis. "Bukan sedih. Tapi realistis. Dunia tidak berhenti karena seseorang mati, Ceysa. Dunia hanya menatapmu dan berkata 'giliranmu sekarang'. Dan kalau kau tidak cukup kuat, dunia akan mematahkanmu."

Hening sejenak.

"Apakah Nona merindukan mereka?" tanya Ceysa pelan. "Tuan Arthur dan Nyonya Eleanor."

Pertanyaan itu menggantung lama. Emily menelan ludah, menatap langit-langit tanpa benar-benar melihat apa pun. Sudah lama ia tidak mendengar nama orang tuanya disebut dengan lembut seperti itu.

"Aku..." ia berhenti, menarik napas. "Aku merindukan mereka. Tentu saja. Tapi kadang rindu itu justru membuatku marah. Karena mereka pergi begitu cepat. Karena aku tidak sempat berkata bahwa aku takut. Bahwa aku belum siap."

Nada suaranya menurun. "Mungkin itu sebabnya aku bekerja terlalu keras. Karena aku tidak ingin punya waktu untuk merindukan siapa pun. Aku hanya ingin terus bergerak, agar tidak sempat merasa kehilangan."

Ceysa menggigit bibir, menatap perempuan di sampingnya yang kini tampak begitu manusiawi, jauh dari citra CEO tegas dan lugas yang biasa ia temui di kantor.

"Sudah lama Nona tidak ke makam mereka," ujarnya hati-hati. "Terakhir, mungkin... tiga bulan lalu?"

Emily terdiam. Ia tahu Ceysa benar. Pekerjaan, tekanan dari Andrew, permainan busuk Raphael—semuanya menumpuk seperti batu di atas dadanya, membuat hal-hal sederhana seperti berziarah pun terlupakan.

"Aku akan pergi pekan depan," katanya akhirnya. "Tolong ingatkan."

"Baik, Nona."

Suasana kembali hening. Emily berusaha menutup matanya, mencoba menenangkan pikirannya yang berisik.

"Sekarang tidurlah, Ceysa," ujarnya lembut. "Besok kita masih harus bekerja lebih keras lagi."

Ceysa mengangguk pelan, menarik selimut hingga ke dada. "Selamat malam, Nona."

"Selamat malam," jawab Emily.

Keduanya kembali menatap langit-langit hingga perlahan kantuk menjemput. Waktu bergulir, menelan sisa percakapan mereka yang tertinggal di udara. Hari telah berganti tanggal.

Entah berapa lama Emily tertidur ketika suara ketukan terdengar dari arah pintu. Cukup kuat untuk membuatnya tersentak bangun. Ia mengerjap, pandangannya tertuju pada jam digital di atas nakas, pukul 02.28 dini hari.

1
Mita Paramita
Ralph lagi curhat nih 🤣🤣🤣
Mita Paramita
semangat Emily 💪 Ralph terlalu memaksa kn Emily jadi takut 🤣🤣🤣 lanjut Thor 💪💪💪
Nona Syela: Wkwk iya nih Raphael mau enaknya doang
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
Nona Syela: Okay😍
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Thor semangat nulisnya 🔥🔥🔥 ceritanya bagus
Nona Syela: Thank you kak semoga betah😍
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
Nona Syela: 😍💪 siap
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Thor double up 💪💪💪
Nona Syela: 😍💪 Thank you kak
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
Nona Syela: Siap kak 😍💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!