NovelToon NovelToon
Antagonis Milik Sang Duke

Antagonis Milik Sang Duke

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Transmigrasi / Obsesi
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Rembulan Pagi

Lily mati akibat kanker usus setelah hidupnya habis hanya untuk bekerja. Begitu membuka mata, ia telah menjadi Luvya Vounwad, gadis 12 tahun yang nantinya ditakdirkan menjadi antagonis tragis dalam novel yang pernah dibacanya. Ia bertekad mengubah alur agar tidak berakhir mati mengenaskan seperti nasib asli Luvya.

​Namun, saat Luvya mulai bergerak mengubah nasibnya, Kael muncul sebagai anomali. Bukannya menjadi kakak angkat yang mewarisi gelar ayahnya, ia justru hadir sebagai Duke Grandwick yang berkuasa dan sangat terobsesi pada Luvya. Naskah yang ia tahu kini hancur total. Di tengah jalan cerita yang berantakan, bagaimanakah cara Luvya merubah segalanya demi mendapatkan kehidupan yang lebih baik?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rembulan Pagi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26. Riset Sihir

Hari-hari setelah pesta topeng di kediaman Grand Duke Lindman berlalu seperti aliran air yang tenang. Segala ketegangan malam itu seolah terkunci rapat di balik topeng yang kini tersimpan di dasar lemari. Kehidupan kembali ke rutinitas semula, Luvya yang sibuk membantu Profesor Hedelon di laboratorium, dan Sellia yang mulai menunjukkan bakat luar biasanya di akademi.

​Luvya benar-benar menikmati masa-masa ini. Di sini, ia merasa seperti sedang menempuh pendidikan di sekolah menengah tanpa ada intimidasi atau rasa takut. Ia mendapatkan makanan yang enak, tempat tinggal yang sangat layak, dan lingkungan yang menghargainya.

​"Luvya, kau tahu? Aku bisa mengubah warna rambutku secara tiba-tiba!" seru Sellia suatu pagi dengan mata berbinar, memamerkan kemajuan sihir transformasinya yang pesat.

​Atau di lain waktu, Sellia akan menghampirinya dengan antusiasme yang sama. "Luvya, akan ada pameran barang-barang sihir kuno minggu depan. Kau mau ikut melihatnya?"

​Bahkan tawaran Sellia semakin beragam dan menarik. "Luvya, kita akan ada kunjungan ke lapangan untuk melihat Wyvern langka! Katanya mereka baru saja dibawa dari pegunungan utara."

​Hingga puncaknya, Sellia memberikan tawaran yang paling besar. "Luvya, setelah tahun ini selesai dan waktu libur tiba, keluarga Lindman mengundang kita untuk menginap. Apakah kau mau ikut?"

​Luvya hanya bisa menanggapi sebisanya dengan senyum tipis. Dalam hati, ia merasa sangat bersyukur. Kehidupan ini seolah-olah menjadi sangkar burung terbaik yang pernah ia miliki. Ia tidak lagi memiliki ambisi besar untuk menjadi pusat perhatian atau menguasai apa pun. Satu-satunya tujuannya adalah bertahan hidup dengan tenang.

​Namun, ketenangan itu mendadak retak saat suatu pagi Profesor Hedelon datang dengan wajah yang sangat sulit diartikan sambil menggenggam surat kabar terbaru. Seluruh akademi mendadak heboh. Bisik-bisik memenuhi setiap sudut koridor.

​Luvya ikut membaca baris demi baris berita utama yang tercetak tebal di halaman depan. Jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat.

BERITA PERTAMA: Duke Vounwad Telah Gugur di Medan Perang!

BERITA KEDUA: Duke Vounwad Diduga Melakukan Kasus Penganiayaan Terhadap Putrinya yang Telah Hilang.

BERITA KETIGA: Putranya, Kael, yang Dikenal Sebagai Hantu Pedang, Menyatakan Keluar dari Keluarga Vounwad dan Membangun Otoritasnya Sendiri.

Luvya mematung. Jantungnya berdegup kencang karena rasa bingung yang luar biasa. Ini salah, ini benar-benar salah! batinnya berteriak.

​Dalam novel aslinya, Duke Vounwad seharusnya mati jauh lebih lama lagi, dan itu pun karena dikhianati saat pemberontakan, bukan gugur secepat ini. Dan yang paling tidak masuk akal adalah Kael. Sebagai kakak angkat Luvya, Kael seharusnya tetap menyandang nama Vounwad dan menjadi senjata paling setia milik keluarga itu hingga akhir hayatnya.

​Kenapa dia keluar? Kenapa dia membangun otoritas sendiri? Luvya merasa mual. Alur ceritanya melenceng jauh hanya karena aku tidak menjadi antagonis lagi!

​"Hahaha! Akhirnya!" Profesor Hedelon tertawa puas, memecah lamunan Luvya. "Dewa telah membalas pria bejat itu. Tapi, kasihan ya putrinya? Disiksa lalu dibuang sampai hilang. Benar-benar ayah yang tidak punya hati."

​Luvya hanya bisa menunduk dalam, tangannya meremas ujung pakaiannya. Ia merasa ngeri. Jika alur novel sudah tidak bisa dijadikan patokan lagi, maka ia tidak tahu bahaya apa yang menantinya di depan.

Melihat Luvya yang terdiam cukup lama dengan kerutan di dahi, Profesor Hedelon menurunkan surat kabarnya dan menatap asistennya itu dengan saksama.

​"Ada apa, Luvya? Kau terlihat seperti baru saja melihat hantu setelah membaca berita itu," tanya Profesor dengan nada menyelidik namun tetap ramah.

​Luvya tersentak, segera menarik kembali kesadarannya yang sempat melayang ke arah Kael dan plot novel yang berantakan. Ia memaksakan sebuah senyum tipis untuk menutupi kegelisahannya. "Ah, tidak apa-apa, Profesor. Saya hanya sedikit terkejut melihat berita sebesar ini muncul secara tiba-tiba di pagi hari."

​Profesor Hedelon manggut-manggut, menerima alasan itu. Ia kemudian melipat surat kabarnya dan mengetukkan jemarinya ke meja dengan penuh semangat.

​"Yah, lupakan sejenak tentang keluarga Vounwad yang hancur itu. Ada hal yang lebih penting," ucap Profesor Hedelon dengan mata yang berbinar. "Aku baru saja mendapat kabar dari Profesor Ozon, profesor tertinggi di negara ini. Kami akan mengadakan riset sihir besar di Pegunungan Utara untuk meneliti sisa-sisa energi kuno di sana."

​Luvya mendengarkan dengan saksama. Nama Profesor Ozon bukan sembarang nama, dia adalah puncak dari segala pengetahuan sihir di benua ini.

​"Karena ini riset lapangan yang panjang, aku butuh asisten yang cekatan. Jika kau berkenan, apakah kau ingin ikut bersamaku ke sana?" tawar sang Profesor.

​Mata Luvya seketika membelalak, namun kali ini bukan karena rasa takut. Rasa antusias menyambar dirinya. "Pegunungan Utara? Bersama Profesor Ozon? Sa–saya boleh ikut, Profesor?"

​"Tentu saja. Kau adalah asistenku yang paling bisa diandalkan belakangan ini," jawab Hedelon bangga.

​Luvya tidak bisa menyembunyikan binar kebahagiaannya. Baginya, ini bukan sekadar riset, tapi semacam study tour mewah! Menjauh dari ibu kota yang sedang panas karena berita kematian Duke Vounwad dan perubahan sikap Kael adalah pilihan terbaik saat ini. Di Pegunungan Utara yang dingin dan terpencil, ia bisa belajar banyak hal sambil menikmati pemandangan alam, jauh dari jangkauan plot novel yang mulai menggila.

​"Saya sangat ingin ikut, Profesor! Terima kasih atas kesempatannya!" seru Luvya penuh semangat.

​Ya, ini dia, batin Luvya lega. Mari pergi sejauh mungkin dari konflik keluarga Vounwad. Aku akan bersembunyi di balik dinginnya salju utara sambil belajar sihir tingkat tinggi.

​Luvya tidak tahu, bahwa terkadang di tempat yang paling terpencil sekalipun, takdir memiliki cara unik untuk menariknya kembali ke pusat badai. Namun untuk saat ini, ia hanya ingin menikmati perannya sebagai mahasiswa yang sedang melakukan perjalanan studi yang menyenangkan.

......................

Hari yang dinanti pun tiba. Udara pagi yang segar menyambut keberangkatan mereka menuju Pegunungan Utara. Kali ini, rombongan tidak menggunakan kereta kuda yang nyaman, melainkan menunggangi kuda masing-masing agar lebih fleksibel melewati medan pegunungan yang terjal.

​Luvya melirik ke arah rekan perjalanannya. Selain Profesor Hedelon, ada Profesor Ozon—sang penyihir agung—beserta dua asisten pribadinya, Tuan Mark dan Nona Bianca. Dari cara mereka memegang kendali kuda, Luvya tahu mereka adalah penyihir hebat yang juga terlatih secara fisik.

​Luvya mengelus leher kudanya dengan bangga. Ia jadi teringat masa-masa sulit saat pertama kali belajar berkuda.

​"Ah, sialan!" umpatnya kala itu saat terjerembap ke tanah.

"Aduh, kakiku... Aduh, punggungku!" keluhnya berkali-kali setiap kali tubuhnya pegal-pegal karena guncangan pelana.

​Namun sekarang, jerih payahnya terbayar. Ia bisa duduk tegak di atas pelana, menyeimbangkan tubuhnya dengan sempurna mengikuti irama langkah kaki kudanya. Latihan panjang dan melelahkan itu akhirnya membuahkan hasil.

​Di tengah perjalanan, Profesor Ozon membuka suara, suaranya berat namun penuh wibawa. "Kau tahu apa yang paling menarik dari sistem di akademi sihir ini, Hedelon?"

​Profesor Hedelon tertawa kecil. "Tentu saja riset tanaman sihirnya yang tidak ada habisnya."

​Ozon ikut tertawa, namun ia menggeleng. "Yeah, itu memang bidangmu. Tapi yang benar-benar unik adalah cara kita dipanggil. Di akademi ini, kita dipanggil berdasarkan nama kita, bukan nama keluarga."

​Luvya memasang telinga. Ia mulai memahami struktur sosial di dunia ini melalui penjelasan sang penyihir agung.

​"Karena yang memiliki sihir adalah diri kita sendiri, bukan leluhur kita," lanjut Ozon. "Keluarga kita belum tentu mampu menyandang kekuatan itu, mereka hanya menyandang kekuasaan. Hanya di jalan sihir, kau adalah kau. Bukan sekadar bayang-bayang nama keluarga."

​Luvya tertegun. Penjelasan itu masuk akal bagi pengamatannya selama ini. Di luar sana, orang-orang berkuasa selalu dilabeli dengan nama marga mereka. Duke Vounwad, misalnya. Nama 'Vounwad' adalah beban sekaligus kebanggaan yang diturunkan, namun jarang ada yang berani menyebut nama aslinya, Ilyas.

​Begitu juga dengan Arken. Statusnya sebagai Putra Mahkota membuatnya tak tersentuh; memanggil namanya secara langsung adalah bentuk ketidaksopanan yang fatal. Orang-orang hanya mengenalnya sebagai 'Pangeran' atau 'Yang Mulia'.

​Namun di dunia sihir, identitas individu jauh lebih dihargai daripada gelar turun-temurun. Petinggi sihir wajib dikenal dengan nama mereka sendiri sebagai bentuk pengakuan atas kapasitas sihir yang mereka capai dengan usaha sendiri.

​“Hanya di sihir kau adalah kau,” gumam Luvya dalam hati.

​Kalimat itu terasa sangat membebaskan baginya. Di akademi ini, ia bukan lagi Luvya sang "Putri Vounwad yang terbuang", melainkan hanya Luvya—asisten Profesor yang sedang belajar. Identitas barunya ini adalah pelindung sekaligus kebebasan yang ia cari.

​"Jadi, Luvya," panggil Nona Bianca yang berkuda di sampingnya, membuyarkan lamunan gadis itu. "Siap untuk melihat apa yang tersembunyi di balik salju Utara?"

​Luvya tersenyum lebar, menatap puncak gunung yang mulai terlihat memutih di cakrawala. "Sangat siap, Nona Bianca."

1
Susilowati Jais
semangat up thor🥰🥰
kiu kiu
updatenya lebih banyakin thor...biar enggak keburu habis ngebacanya.nunggu lagi besok besok...
Rembulan Pagi: terima kasih atas masukannya kak 🙏
total 1 replies
kiu kiu
wowww...lucius mulai tergetar hatinya melihat luvya.hingga ingin berdansa dgnya.apa ini tanda tanda thor...jodoh utk luvya di depan mata.🤭🤭🤭🤭😍😍
aku
siapa??? 🤔
kiu kiu
wow...semakin menarik thor..
kiu kiu
bagus thor..ceritanya semakin menarik.semoga luvya menjadi seorang penyihir jenius...
aku
kenapa gk jujur aja liv, klo duke yg buang kamu. pasti paman dn ponakan itu bakal ngerti, nah jd sekutu dh kalian. bs jd kamu malah dilindungi 😁😁
Rembulan Pagi: sifatnya Luvya memang susah percaya kak, akibat masa lalunya🤭
total 1 replies
kiu kiu
mantap thor...buat semua terkagum dg kepintaran luvya thor.agar nasib luvya tidak hancur.gara gara duke sialan itu.
Rembulan Pagi
Silakan mampir bagi yang suka cerita fantasi bertema kerajaan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!