Aurin Josephine— tidak pernah menyangka, niatnya kabur dari perjodohan yang diatur paman dan bibinya justru menyeretnya ke dalam pernikahan tak terduga dengan pria asing, malam itu.
Gallelio Alastar, seorang CEO dingin yang mati rasa, mengubur perasaannya bersamaan dengan istrinya lima tahun lalu. Pernikahan itu tidak pernah ia inginkan. Bahkan terasa seperti pengkhianatan pada janji yang pernah ia berikan.
Namun di rumah yang sama, di bawah satu atap yang terasa asing, Aurin mulai mengenal sisi lain pria itu.
Dan untuk pertama kalinya, ia bertekad… membuatnya jatuh cinta lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HaluBerkarya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1. Aku bukan barang!
"Nikahkan putra saya, Delon, dengan keponakanmu itu, maka utang tersebut saya anggap lunas!"
Kalimat itu jatuh bagai vonis yang menghancurkan harga diri seseorang.
"Baik... Baik, Pak! Kami akan menikahkan keponakan kami. Terima kasih... terima kasih sudah memberi kami pilihan lain..."
PRANG!
"Aku tidak setuju!"
Suara pecahan gelas dibarengi pekikan lantang itu menggema dari balik tembok dapur hingga memekakkan telinga.
Seorang gadis menatap nanar serpihan kaca di lantai. Wajahnya memerah, tubuhnya gemetar hebat. Tangannya terasa dingin, bukan karena takut, melainkan bentuk pemberontakan yang telah mencapai ambang batasnya.
"Aurin..." Seorang wanita paruh baya berdiri. Wajahnya yang tadi pucat kini memaksakan senyum kikuk pada tamunya. "Permisi, Pak," ujarnya singkat sebelum bergegas menghampiri Aurin.
"Sejak kapan kamu berdiri di sini?" tanya wanita itu, bibi dari gadis bernama Aurin Josephine. Suaranya rendah dan tertahan.
"Sejak Paman dan Bibi membahas utang piutang dan berniat memakai ku untuk menebusnya. Masih waras kalian?" tanya Aurin dengan suara yang bergetar hebat oleh emosi.
Tanpa menunggu jawaban, dia melangkah cepat melewati bibinya yang masih terpaku. Aurin berdiri tegak di hadapan mereka di ruang keluarga.
Di sana ada pamannya, Aryo, duduk bersama seorang pria berwibawa yang Aurin kenali dengan sangat baik. Broto Mahardika, pemilik MD Group. Sosok kaya raya yang menganggap uang adalah segalanya. Dengan uang, dia bisa menyetir siapa pun. Selama ini Aurin pikir itu hanyalah desas-desus, namun sore ini keraguannya sirna setelah mendengar kalimat pria itu.
"Paman, sejak kapan utang ditebus menggunakan nyawa manusia? Aku ini manusia, Paman, bukan barang yang bisa kalian pertaruhkan!" protes gadis itu.
"Aurin... dengar dulu, Sayang." Paman Aryo berdiri. Dia mendekat ke arah keponakannya setelah melempar senyum penuh sungkan pada Pak Broto yang hanya menatap datar.
"Ini bukan dijual. Ini semua demi kebaikan kita," bisiknya lirih pada Aurin. "Ayolah, Sayang. Ini hanya menikah. Kamu juga seharusnya senang karena setidaknya ada orang kaya yang ingin kamu jadi mena—"
"Tidak sudi!" pekik Aurin sambil menepis kasar tangan pamannya. "Menikah dengan putranya yang nakal itu bukan cita-citaku, Paman! Laki-laki dengan perangai buruk tidak pantas menjadi suamiku!"
BRAK!
Meja kaca di hadapan mereka pecah berkeping-keping saat tangan Pak Broto menghantamnya sekuat tenaga. Kejadian itu membuat semua orang, termasuk Aurin, tersentak diam untuk beberapa saat.
Serpihan kaca berhamburan di lantai. Tangan Pak Broto mulai mengeluarkan darah, namun dia tidak peduli. Wajahnya tetap datar tanpa gurat rasa sakit. Hanya ada emosi meluap karena putranya dihina di depan matanya oleh gadis yang dia anggap tidak tahu diri.
"Jangan sekali-kali saya mendengar mulut kotor ini menghina putra saya!" Pak Broto melangkah maju, lalu mencengkeram rahang Aurin dengan kasar.
"Kalau bukan karena permintaan putra saya, saya juga tidak sudi memilih sampah sepertimu untuk bersanding dengan keluarga saya!" Tekanan tangannya semakin kuat hingga wajah Aurin memerah menahan sakit.
"Hentikan, Pak..." pinta Paman Aryo memohon. Dia tidak tega melihat tangan besar itu meremukkan rahang kecil keponakannya.
"Pilihannya hanya dua, mau atau mati!" Pria itu menyentak cengkeramannya hingga wajah Aurin terhempas ke samping.
CUIH!
Aurin meludah tepat di sisi sepatu mahal Pak Broto. Pria itu mengeraskan rahangnya dengan kemarahan yang memuncak, namun Aurin tidak peduli.
"Aku memilih mati! Sekali lagi, MATI!"
"Aurin!" bentak bibinya.
Tanpa menoleh, Aurin langsung berlari menuju kamarnya. Langkah kakinya yang cepat meninggalkan suasana ruang keluarga yang terasa semakin dingin dan mencekam.
...****************...
"Pak, maaf..." Paman Aryo dan Bibi Lula langsung jatuh berlutut di bawah kaki pak Broto.
"Jangan hanya minta maaf! Kembalikan uang saya sejumlah lima miliar itu sekarang juga, atau..."
Pak Broto tersenyum miring. Tatapannya jatuh pada dua orang di hadapannya yang kini mendongak penuh kecemasan. Mereka menunggu kelanjutan kalimat pria itu dengan jantung yang berdentum jauh lebih cepat.
"Atau apa, Pak?"
"Kalian bisa tebak sendiri jawabannya."
Tepat setelah kalimat itu terucap, beberapa pria berpakaian hitam merangsek masuk ke dalam rumah. Wajah-wajah sangar itu tampak mengancam. Mereka membawa botol berisi bensin dan pemantik api yang siap menghanguskan hunian tersebut kapan saja.
"Saya sudah katakan tadi, pilihannya hanya dua. Gadis itu setuju, atau kalian semua mati bersama ludesnya rumah ini!" ancam Pak Broto.
Suaranya tenang namun tajam, menusuk keberanian siapa pun yang mendengar.
"Saya beri waktu semalam. Besok pagi mereka harus menikah, atau kalian harus mati!"
Pak Broto memutar tubuh, melangkah keluar dari rumah dengan wajah angkuh dan datar. Beberapa anak buahnya mengikuti dari belakang dengan langkah tegap.
"Kalian yang lain, pantau rumah ini sampai besok pagi. Pastikan mereka tidak melarikan diri ke mana pun!" perintahnya tegas sebelum masuk ke dalam mobil.
.
.
Paman Aryo dan Bibi Lula bangkit berdiri dengan tubuh gemetar. "Sialan... jalang kecil itu!" desis wanita itu dengan amarah yang meluap. Dia berjalan cepat meninggalkan ruang keluarga menuju kamar Aurin, membawa amarah yang memuncak.
BRAK!
Pintu dibuka dengan kasar. Suara hantamannya memekakkan telinga, memaksa Aurin yang masih duduk di meja belajar untuk menoleh.
"Bibi..."
"Dasar gadis tidak tahu diuntung!" pekik Bibi Lula.
Dia merangsek mendekat, lalu menyentak tubuh kecil Aurin dari kursi dengan kasar hingga gadis itu terjerembap ke lantai.
"Kamu pikir tindakanmu tadi keren, hah?" Rambut panjang gadis itu ditarik paksa hingga tubuhnya terangkat berdiri. Bibi Lula kembali menyeretnya, menyudutkan tubuh Aurin ke pojok ruangan, lalu membenturkan punggungnya ke tembok.
"Bibi tidak pernah mengajarkanmu menjadi anak pembangkang, Aurin. Camkan itu!"
"Kamu tidak punya pilihan! Kamu harus mau menikah dengan putra Pak Broto! Harus!" bentaknya sambil membenturkan kepala Aurin ke dinding beberapa kali.
Lagi-lagi, dalam siksaan yang sudah bukan kali pertama ini, Aurin tidak meneteskan air mata sedikit pun. Rasa sakit ini sudah menjadi makanannya sehari-hari. Selama ini dia memilih diam dan bertahan, namun sore ini, dia benar-benar ingin menjadi pemberontak.
"Hanya menikah! Kamu seharusnya bersyukur karena kamu yang dipilih! Menjadi menantu keluarga Mahardhika itu anugerah yang harus disyukuri, bukan ditolak!"
Aurin terkekeh rendah. Tawa getir yang justru menyulut amarah Bibi Lula semakin menjadi. "Disyukuri? Kalau memang menguntungkan, kenapa harus Aurin, Bibi? Bukankah Bibi punya Clara? Kenapa bukan Clara saja yang dijual dan dijadikan istri si Delon itu?"
PLAK! PLAK!
Tamparan keras mendarat di pipi Aurin.
"Apa kamu tidak dengar ucapan Pak Broto tadi? Itu karena Delon maunya kamu, Aurin! Kamu!"
"Cih... tapi aku yang tidak sudi, Bibi!" balas Aurin berani. Tidak ada lagi ketakutan di matanya terhadap wanita yang kini lebih pantas dia sebut iblis daripada seorang bibi.
"Harus mau! Pokoknya besok pagi kalian menikah, atau kita semua mati!" ujar Bibi Lula sebelum menghempaskan tubuh Aurin ke lantai.
"Jangan berani keluar kamar malam ini!" ancamnya seraya mencabut kunci dari lubangnya. Wanita itu keluar dan mengunci pintu dari luar, mengurung Aurin dalam ruang sempit itu.
"Bibi! Bibi, buka! Aurin tidak mau dan tidak akan pernah mau!" pekik Aurin.
Dia menyeret tubuhnya yang sakit ke arah pintu yang tertutup rapat. Tangannya menggedor kayu itu berulang kali, namun semuanya sia-sia. Pintu itu tetap berdiri kokoh, memutus aksesnya ke dunia luar.
"Sial!" umpat Aurin lirih.
Dia membiarkan tubuhnya yang lemas duduk bersandar pada pintu. Jemarinya perlahan mengusap rembesan darah yang mengalir dari dahi dan hidungnya. Aurin menatap cairan merah di ujung jarinya dengan tangan yang gemetar hebat.
Sebuah senyum kemudian muncul di bibirnya. Senyum getir yang seolah menertawakan kemalangan dirinya sendiri.
"Lemah..." gumamnya pelan tertuju pada dirinya sendiri sebelum akhirnya memejamkan mata, membiarkan kegelapan mulai mengambil alih kesadarannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...