NovelToon NovelToon
Bukan Sekedar Pengganti

Bukan Sekedar Pengganti

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:19.5k
Nilai: 5
Nama Author: Triyani

Setelah bertahun-tahun diabaikan dan dibuang, akhirnya Alisa pun kembali kerumah Ayahnya, Pak Ali. Mirisnya, kepulangan Alisa bukan untuk kembali jadi putrinya. Melainkan untuk dijadikan pengantin pengganti untuk Kakak sambungnya, Marisa.

Dan Alisa diharuskan langsung bercerai setelah Marisa kembali. Lalu, bagaimana jadi nya, jika Harlan menolak berpisah dan lebih memilih Alisa untuk tetap menjadi istrinya?

Lalu, apa yang akan dilakukan Ibu Yuni dan juga Marisa untuk merebut kembali posisi Alisa?

Saksikan kisahnya disini….

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Triyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab.25

“Ada apa? Ada sesuatu yang mengganggumu?” tanya Harlan saat menyadari jika istrinya tampak sedikit murung.

Alisa tersentak kecil, menatap Harlan dengan tatapan yang tak biasa.

“Ada apa? Katakan padaku, apa ada yang mengganggu pikiranmu?” desak Harlan saat tak ada jawaban dari Alisa.

“Eemm… tadi pagi, ada telepon dari rumah utama. Sabtu malam, kita diminta datang untuk makan malam di sana.” jawab Alisa. Penuh dengan kehati-hatian.

Harlan menghela nafas panjang, seolah ada beban tanggung jawab yang belum ia selesaikan.

Tiga bulan telah berlalu sejak ia membawa Alisa ke rumah utama keluarga Argantara. Dan sejak saat itu, dengan alasan kesibukan, Harlan kerap menolak semua undangan dari rumah utama.

Kini… sepertinya, Harlan sudah tidak bisa mengelak lagi. Mau atau tidak, ia harus memenuhi undangan itu, sebelum sang Kakek marah besar kepadanya dan juga kepada Alisa.

Harlan terdiam cukup lama setelah mendengar itu.

Tatapannya yang tadi hangat perlahan berubah menjadi lebih serius. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi, lalu mengusap wajahnya pelan, seolah sedang menimbang sesuatu yang cukup berat.

“Tadi, siapa yang menghubungimu?” tanyanya akhirnya membuka suara.

“Dari Mama. Beliau bilang… ini permintaan langsung dari Kakek.” jawabnya pelan dengan kepala yang sedikit menunduk.

Hening. Nama itu saja sudah cukup untuk menjelaskan semuanya. Harlan menarik nafas dalam, lalu menghembuskannya perlahan.

“Aku sudah menduga… mereka tidak akan diam saja dan semua ini pasti akan terjadi.” gumamnya.

Alisa tidak langsung menimpali. Jemarinya kembali saling bertaut di atas meja, kebiasaan yang selalu muncul setiap kali ia merasa gugup ataupun takut.

“Haruskah… kita kembali absen?” tanyanya, hati-hati.

Harlan langsung menggeleng. Kali ini, keduanya tidak bisa lagi menghindar. Mereka sudah terlalu lama menunda dan menghindar dari pertemuan keluarga itu.

“Tidak usah. Kita datang saja. Kita tidak bisa terus menghindar. Jika seperti ini terus, maka, Kakek akan turun tangan langsung dan itu… tidak akan baik.” jawabnya tegas, tapi tetap tenang.

Alisa menelan ludah. Ia tahu betul maksud dari undangan makan malam itu. Ini bukan hanya soal makan bersama.

Tapi… ada hal yang harus mereka berikan sebagai bukti kalau mereka serius menjalani pernikahan itu. Namun sayangnya, sampai detik ini, hal yang mereka minta itu belum bisa Alisa dan Harlan lakukan.

“Baiklah kalau begitu… aku akan menyiapkan semuanya.” jawab Alisa pelan.

Harlan menatap Alisa. Kali ini lebih dalam lagi.

“Tenanglah. Tidak akan terjadi apa-apa. Percaya padaku.” ujarnya mantap.

Jawaban itu membuat dada Alisa terasa sedikit tenang. Karena jujur, ketegangan saat pertama kali datang ke rumah utama itu, cukup membuatnya merasa takut.

***

Sabtu malam.

Alisa berdiri tepat di depan cermin, memandangi bayangannya sendiri.

Pikirannya kembali melayang pada pertemuan terakhir di rumah utama. Tatapan dingin, kata-kata yang mengintimidasi, hingga tekanan halus yang cukup membuatnya merasa… gugup dan takut.

Perlahan pintu kamar terbuka pelan. Harlan masuk, lalu berhenti sejenak saat melihat Alisa yang sedang berdiri diam di depan cermin.

Detik kemudian, Harlan kembali melangkah, mendekat ke arah Alisa, lalu berdiri tepat di belakang istrinya itu.

“Ada apa? Apa yang kamu pikirkan?” tanyanya, memegang kedua pundak Alisa, menatap pantulan mereka berdua di cermin. Membuat ia tersentak, lalu bangun dari lamunannya.

“Ya ampun, Mas. Bikin kaget saja,”

“Lagi mikirin apa sih? Sampe gak sadar kalau suaminya masuk.”

Alisa tidak langsung menjawab membuat suasana hening sejenak. Lalu, tanpa banyak kata, Harlan menurunkan kedua tangannya, lalu ia belitkannya di tubuh Alisa.

Pelukan hangat itu cukup membuat Alisa kaget, tapi itu juga membuat Alisa merasa tenang dan merasa tidak sendirian.

“Jangan takut… ada aku disamping kamu.” bisiknya tepat di telinga Alisa.

Alisa menatap bayangan Harlan di cermin. Perlahan, ia pun mengangguk.

“Iya, Mas,”

“Kalau begitu. Kita pergi sekarang. Kita tidak boleh terlambat,”

“Iya, Mas. Ayo.”

Harlan mengurai pelukannya, menggandeng tangan Alisa, lalu membawanya keluar dari apartemen.

***

Mobil yang mereka tumpangi melaju tenang menembus jalanan ibu kota yang mulai dipenuhi cahaya lampu malam.

Tidak banyak percakapan di antara mereka. Hanya sesekali Harlan menggenggam tangan Alisa, seolah memberi kekuatan tanpa kata.

Sekitar tiga puluh menit kemudian, mobil itu pun memasuki kawasan rumah utama keluarga Argantara.

Gerbang besar terbuka perlahan. Lampu taman yang tertata rapi menyala terang, memperlihatkan kemewahan rumah yang berdiri megah di tengah lahan yang luas.

Alisa menarik nafas dalam. Perasaan yang dulu sempat ia rasakan… kini kembali datang. Tegang. Canggung. Dan… sedikit takut.

Mobil sengaja Harlan berhentikan tepat di depan pintu utama. Setelah mematikan mesin mobil, Harlan bergegas turun, lalu berjalan cepat ke sisi lain mobil itu.

Dengan sigap Harlan membukakan pintu mobil, lalu mengulurkan tangan kepada Alisa.

Seperti biasa, Alisa akan menyambut uluran tangan itu dengan senang hati. Keduanya berjalan berdampingan memasuki rumah itu.

***

Suasana di dalam rumah sudah ramai. Beberapa anggota keluarga tampak sudah berkumpul di ruang tengah. Percakapan pelan terdengar, namun seketika mereda saat Harlan dan Alisa masuk.

Beberapa pasang mata langsung tertuju pada pasangan baru itu. Membuat Alisa semakin dilanda perasaan gugup dan takut.

“Akhirnya… kalian datang juga.” ucap salah seorang dari mereka.

Suara itu terdengar, memecah keheningan yang sesat menyelimuti ruangan. Sontak, semua orang langsung menoleh ke arah pintu penghubung antara ruang tamu dan ruang tengah.

Pandangan Harlan langsung kepada seorang pria baya yang duduk di kursi utama dengan tongkat di tangannya. Tatapannya masih tajam. Sama seperti sejak terakhir kali Alisa melihatnya.

Harlan sedikit menunduk hormat. Lalu berjalan mendekat, mengulurkan tangan untuk menyalami pria baya itu, diikuti oleh Alisa.

“Maaf, Kek. Kami terlambat.” jawab Harlan singkat.

Usai menyalami semua semua orang yang ada di ruangan itu. Harlan pun duduk di ujung kursi panjang yang masih kosong. Diikuti oleh Alisa yang juga ikut duduk setelah menyalami semua orang.

Kakek tidak langsung menjawab. Tatapannya beralih dari Harlan… lalu berhenti cukup lama pada Alisa.

Hening beberapa detik. Sampai akhirnya, Bu Hesti memberi instruksi untuk pindah ke ruang makan karena makanan untuk makan malam, malam ini sudah siap.

Tak lama, semua orang mulai bangkit dari duduknya dan mengambil tempat masing-masing di meja makan yang berukuran cukup besar itu. Dan makan malam pun dimulai.

Awalnya, suasana terlihat normal. Beberapa percakapan ringan terdengar. Tentang bisnis, tentang pekerjaan, dan hal-hal umum lainnya.

Namun Alisa tahu… itu hanya basa-basi semata. Karena sesekali ia bisa merasakan jika orang-orang yang ada disana, kerap mencuri pandang ke arahnya..

Meski merasa tidak nyaman, namun Alisa mencoba tetap tenang. Sesekali tersenyum kaku, sisanya ia habiskan dengan menunduk, fokus pada makanannya.

Harlan yang ada di samping Alisa cukup menyadari ketidak nyamanan sang istri. Sehingga, sesekali pria itu akan menyentuh tangan istrinya di bawah meja.

Seperti sedang memberi isyarat. Kalau ia ada di sana, disamping Alisa dan akan selalu ada untuknya. Dan itu cukup membuat Alisa merasa tenang.

Sampai akhirnya… Suara sendok yang diletakkan pelan di atas piring terdengar. Seperti komando tak tertulis, semua percakapan langsung berhenti dan semua orang pun berhenti bergerak.

Menunggu dengan tenang, apa yang akan dibicarakan oleh Kakek Dewa selanjutnya.

“Sudah tiga bulan sejak kalian menikah. Adakah yang ingin kalian sampaikan kepada kami?” tanyanya, to the point.

1
Eva Karmita
enakkan Alisa Harlan 🤭😊😁 mkanya jgn di tunda" semoga cepat dapat momongan
Eva Karmita: pengen cepat dapat ponakan onlien aku 😩😂😂😂😂
total 3 replies
Ida Sriwidodo
Astaghfirullah.. Pak Ali.. Pak Alii..
Masa lebih milih anak sambung daripada anak kandung sii.. 😬😬😤😤
Bersyukur Harlan waras n ganti nama mempelai wanitanya.. 😵‍💫😵‍💫
Ida Sriwidodo
Baru mampiirr..
Ijab kabul dengan nama wanita lain?
Ngga SAH atuh ijab kabulnya 😱😱
Ini pegimana konsepnya?
Masa seorang ayah kandung tega menjerumuskan anak perempuannya ke lembah zina?? 😱😱😤😤
Teh Yen
akhirnya yaaah 🤗🤗
Nia nurhayati
goll juga kan khir nyaa🤣🤣🤣
Alim
akhirnya
Uba Muhammad Al-varo
wanita itu pasti si Marisa saudara tirinya Alisa yang kabur di hari pernikahannya dengan Harlan,tapi ucapan Marisa yang terlalu percaya diri mau balik ke Harlan jangan harap bisa balik yang ada Harlan dan keluarga besarnya marah ke kamu Marisa karena perbuatan mu yang telah menghjna mereka
Teh Yen
owh owh tidak semudah itu yah Alisa d Harlan sudah menjadi suami istri seutuhnya kalau beberapa bln yg lalu kamu kembali nya mungkin masih ada harapan kalau sekarang tentu saja tidak ,😏 jangan bermimpi terlalu tinggi nanti jatuh sakit hehe
Oma Gavin
baru juga mau bahagia sudah ada ulet bulu gatel mau mendekat
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Uba Muhammad Al-varo
akhirnya pertahanan Harlan luluh juga, setelah sekian lama menahan hasrat ke Alisa sekarang Harlan udah mulai berani menjamah Alisa tapi masih harus menunggu update kembali, apa mereka mau melanjutkan atau berhenti 🤔🤔🤔
Teh Yen
nah kan bener kata Tante Hani kamu harus mulai duluan alisha liat suamimu mau juga kan hihii
Lusi Hariyani
gaspoolll harlan...
Oma Gavin
semoga segera hamil sehingga harlen dan keluarga nya makin sayang sama alisa
Uba Muhammad Al-varo
Alisa....../Joyful//Joyful//Joyful//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Eva Karmita
huuuaaaaa ..😩😩😩 kenapa di gantung otor penasaran ini 🤭🤭🤣🤣🤣
Teh Yen
hahaa ketauan deh smoga yg didoakan kluarga segera terjadi biar segera tumbuh Harlan junior yah smngta Alisa kamu pasti bisa merobohkan Harlan dengan lingerie itu hihi 😁
Yuni Ngsih
Authooor ceritramu bgs cuma yg pertama ku ngenes sm si Marisa kasian sm Alisya yg tdk tau apa langsung suruh kawin ,tinggal jg sm Neneknya bkn sm Bpnya yg mokondo itu smg ceritra ini bisa membawa Alisya ke yg lebih baik ...semangat
🌸 Triyani 🌸: makasih kak 🙏🤗
total 1 replies
Uba Muhammad Al-varo
sebegitu kaku dan dinginnya sikap Harlan ke wanita atau istrinya karena belum pernah pacaran🤔🤔🤔
ayolah Harlan, Alisa saling ngobrol,saling pandang mata siapa tahu udah ada cinta
Teh Yen
bener tuh kata Tante
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!