Menceritakan seorang gadis bernama Zura. Dan Kebingungan Zura kenapa dirinya bisa nyasar ke raga Ziva sang Antagonis di dalam buku novel yang pernah dia baca sebelum nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wilaw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 025
Keheningan perpustakaan lantai dua sore itu terasa begitu pekat, seolah-olah waktu memang sengaja melambat demi menjaga tidur sang "Ratu Mager". Aksa Erlangga masih setia di posisinya, namun pensilnya kini tidak lagi menari di atas kertas. Matanya terpaku pada jam tangan peraknya yang ia letakkan di meja; detiknya berdetak ritmis, mengisi kekosongan di antara deru napas teratur Ziva.
Aksa melirik selimut tipis berwarna biru tua yang ia sampirkan tadi. Ziva sedikit menggeliat, menarik ujung selimut itu hingga menutupi sebagian pipinya yang tadi ia elus di lapangan. Ada rasa aneh yang membuncah di dada Aksa—campuran antara dorongan protektif yang kuat dan ketenangan yang belum pernah ia temukan sebelumnya.
Ia teringat awal-awal perkenalan mereka di sekolah ini. Dulu, Zivanna adalah gangguan. Dia adalah suara bising yang selalu mencari perhatian Reygan di koridor, wangi parfum yang terlalu menyengat, dan drama yang tidak ada habisnya. Namun kini, di depannya, adalah sosok yang berbeda. Ziva yang ini lebih suka keheningan, lebih suka martabak di pinggir jalan daripada makan mahal, dan yang paling penting, Ziva yang ini melihat Aksa bukan sebagai "Pangeran Yayasan", tapi sebagai "Tiang Listrik" yang bisa diajak bicara.
Aksa mengambil kembali buku sketsanya. Di halaman baru, ia mulai menggambar garis-garis tegas—bukan wajah Ziva, melainkan struktur sebuah rumah minimalis dengan jendela-jendela besar yang menghadap ke taman yang tenang. Pondasi, teringat ucapan Kenan di loker tadi. Aksa sadar, struktur hidupnya yang selama ini kaku dan penuh aturan perlahan mulai memiliki ruang baru yang hangat sejak kehadiran gadis ini.
Aksa menutup buku sketsanya perlahan ketika melihat jemari Ziva mulai bergerak kecil di atas meja—pertanda sang "Ratu Mager" mulai terusik dari alam mimpinya.
Jam tangan perak di atas meja menunjukkan waktu istirahat tinggal tersisa lima menit lagi.
Ziva mengerjap, bulu matanya yang lentik bergetar sebelum matanya yang masih sayu terbuka sepenuhnya. Hal pertama yang ia tangkap adalah aroma maskulin yang menenangkan, dan hal kedua adalah sosok Aksa yang sedang menopang dagu dengan satu tangan, menatapnya tanpa kedip.
"Udah bangun?" suara Aksa rendah, getarannya terasa hingga ke dada Ziva.
"Hmm..." Ziva mencoba mengumpulkan nyawa. Ia baru menyadari ada selimut biru tua yang melilit bahunya. "Ini... selimut siapa?"
"Punya perpus. Tadi lo tidur, gue selimutin biar gak kedinginan," jawab Aksa santai.
Ziva merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. Namun, belum sempat ia bangkit sepenuhnya, Aksa tiba-tiba condong ke depan. Meja kayu di antara mereka seolah tidak lagi menjadi penghalang.
Aksa mengulurkan tangannya, bukan untuk mengambil jam tangannya, melainkan untuk merapikan beberapa helai rambut yang menempel di dahi Ziva akibat keringat halus saat tidur. Ujung jarinya sengaja berlama-lama di sana, menyelipkan rambut itu ke belakang telinga Ziva.
Lalu, seolah belum cukup membuat jantung Ziva melakukan maraton di tempat, Aksa sedikit menekan ibu jarinya di sudut bibir Ziva. "Ada bekas merah di sini. Efek tidur di atas lengan sendiri."
Sentuhan itu singkat, tapi tekanan ibu jari Aksa yang hangat membuat Ziva terpaku di kursinya. Wajah mereka hanya berjarak beberapa belas sentimeter. Ziva bisa merasakan napas Aksa yang teratur mengenai pipinya, sementara jantungnya sendiri sudah berdegup kencang seperti drum yang dipukul membabi buta. Dug-dag, dug-dag. Suaranya begitu keras di telinga Ziva hingga ia takut Aksa bisa mendengarnya.
"A-Aks..." Ziva terbata, matanya membelalak kaget. Ia merasa seluruh darah di tubuhnya mendadak berkumpul di pipi.
Aksa menarik tangannya kembali dengan gerakan yang sangat natural, seolah ia baru saja merapikan letak buku, bukan baru saja menyentuh bibir seorang gadis. Ia meraih jam tangan peraknya, memakainya kembali di pergelangan tangan kirinya dengan tenang.
"Ayo balik. Lima menit lagi pelajaran sejarah," ucap Aksa sambil berdiri, mengambil tas punggungnya seolah tidak terjadi apa-apa.
Ziva masih duduk membeku. Dia beneran nggak ngerasa apa-apa? pikir Ziva frustrasi. Ia menatap punggung tegap Aksa yang sudah mulai berjalan menjauh satu langkah. Ekspresi cowok itu datar, kaku, dan dingin seperti biasanya.
Namun, yang tidak diketahui Ziva adalah apa yang terjadi di balik punggung itu.
Begitu Aksa membalikkan badan dan melangkah menjauh dua meter, tangan kanannya yang tadi menyentuh Ziva mendadak mengepal kuat di dalam saku celana. Rahangnya mengeras, mencoba menelan habis rasa gugup yang mendadak menyerangnya.
Shitt, batin Aksa memaki dirinya sendiri. Jantungnya berdebar dua kali lebih cepat dari ritme normalnya. Ada sensasi panas yang menjalar di telapak tangannya. Sentuhan tadi ternyata jauh lebih berdampak pada dirinya daripada yang ia duga.
Aksa sempat melirik sekilas lewat pantulan kaca di pintu perpustakaan. Ia melihat Ziva masih duduk terbengong sambil memegangi sudut bibirnya, wajah gadis itu merah padam seperti tomat matang.
Melihat pemandangan itu, sebuah seringai tipis—sangat tipis hingga nyaris tak terlihat—muncul di sudut bibir Aksa. Itu bukan senyum jahil, melainkan senyum kepemilikan. Sebuah senyum dari seseorang yang baru saja menanamkan "klaim" tanpa perlu banyak kata.
"Zivanna..." gumamnya tanpa suara.
Ia berhenti di depan pintu kaca, menoleh sedikit tanpa benar-benar menatap Ziva. "Buruan. Atau mau gue seret lo?"
Ziva tersentak, segera menyambar tasnya dan berlari kecil menyusul Aksa dengan perasaan yang masih berantakan. "Gue bisa jalan sendiri, Tiang Listrik!"
Mereka berjalan keluar dari perpustakaan. Di koridor, murid-murid kembali berbisik, tapi Ziva tidak lagi mendengarnya. Pikirannya penuh dengan satu pertanyaan: Bagaimana bisa Aksa Erlangga terlihat begitu biasa saja setelah menghancurkan ketenangan jantungnya dalam satu detik?
Ziva tidak tahu, bahwa di balik wajah "robot" itu, Aksa Erlangga sedang mati-matian menjaga agar kakinya tidak lemas hanya karena bayangan wajah sayu Ziva saat ia sentuh tadi.
Sinar matahari siang yang menyengat menembus kaca jendela di selasar lantai dua gedung kelas XII. Empat orang cowok dengan seragam yang sengaja tidak dimasukkan rapi—kecuali satu orang yang selalu tampil proper—sedang berdiri melingkar di depan loker. Suasana di sini jauh lebih berisik daripada keheningan perpustakaan yang baru saja ditinggalkan Aksa.
Vino berulang kali mengecek notifikasi di ponselnya dengan wajah antusias. "Gue barusan dapet info dari anak-anak sebelah. Nanti malam di trek belakang bandara lama ada open race. Hadiahnya lumayan, tapi yang penting gengsinya, cuy. Anak-anak SMA Garuda katanya bakal turun semua."
Bram menyandarkan punggungnya ke loker, tangannya sibuk memutar-mutar kunci motor dengan gantungan sneakers kecil. "Wah, seru tuh. Udah lama juga kita nggak narik gas bareng. Motor gue udah gatel pengen dipanasin."
"Masalahnya, si Bos mau ikut nggak?" celetuk Daren sambil melirik ke arah tangga, menanti sosok yang sedang dibicarakan satu sekolah itu muncul. "Aksa belakangan ini agak susah diprediksi. Biasanya dia yang paling semangat kalau urusan mesin, tapi sekarang fokusnya kayak lagi kegeser ke arah lain."
Kenan, yang sedari tadi hanya diam sambil menyilangkan tangan di depan dada, terkekeh pelan. "Fokus dia nggak cuma kegeser, Ren. Fokus dia lagi 'terpenjara' di perpustakaan lantai dua. Lo kayak nggak tau Aksa aja."
"Iya juga sih," jawab Vino. "Tapi serius, ini blapan gede. Kalau Aksa nggak ikut, Black Eagle kayak sayur kurang garem. Hambar. Kita diskusiin nanti deh pas dia nyampe. Pokoknya kita komporin biar dia mau turun."
Tak lama kemudian, derap langkah kaki yang mantap terdengar menaiki tangga. Aksa muncul dengan wajah datarnya yang legendaris. Namun, bagi teman-temannya yang sudah mengenal cowok itu bertahun-tahun, ada yang berbeda. Cara Aksa berjalan tidak lagi se-kaku biasanya, dan ada binar aneh di matanya yang coba ia sembunyikan dengan kerutan dahi.
"Panjang umur!" seru Bram sambil melambaikan tangan. "Sini lo, Bos! Ada bahasan penting."
Aksa berhenti di depan mereka, melepaskan tas punggungnya dan menyampirkannya di satu bahu. "Apa?"
"Nanti malam, blapan di trek bandara lama. Anak Garuda nantangin. Lo turun, kan?" Vino bertanya dengan mata berbinar-binar penuh harap.
Aksa terdiam sejenak. Biasanya, ia akan langsung mengiyakan. Baginya, kecepatan motor sport-nya di lintasan balap adalah satu-satunya cara untuk melepaskan penat dari segala aturan kaku keluarganya. Namun, memori di perpustakaan tadi—sentuhan jemarinya di bibir Ziva—mendadak terlintas. Ada sesuatu yang jauh lebih menarik daripada sekadar bau aspal dan bensin.
"Gue liat nanti," jawab Aksa singkat, membuat ketiga temannya melongo.
"Liat nanti?" Bram membelalak. "Aksa, lo nggak pernah bilang 'liat nanti' buat blapan! Biasanya lo yang paling duluan nyampe di garis start!"
"Ada urusan," sahut Aksa lagi, kali ini sambil berjalan melewati mereka menuju kelas.
Vino dan Bram hendak mengejar, namun Kenan menahan bahu mereka berdua sambil menggelengkan kepala. Kenan melihat sesuatu yang tidak dilihat yang lain. Ia melihat tangan kanan Aksa yang berkali-kali meremas tali tasnya—tanda bahwa cowok itu sedang gelisah.
"Biarin dulu," bisik Kenan. "Si Bos lagi punya 'balapan' sendiri yang jauh lebih menantang daripada trek bandara."
Di Dalam Kelas XII-IPA 1
Aksa duduk di bangkunya, mengabaikan tatapan kepo murid-murid lain. Ia mengeluarkan ponselnya, menatap kolom chat-nya dengan Ziva. Jarinya ragu-ragu di atas layar.
Apa gue ajak dia aja ya? pikir Aksa.
Membayangkan Ziva duduk di boncengan motornya, memeluk pinggangnya erat saat ia membelah angin malam, entah kenapa terasa jauh lebih mendebarkan daripada memenangkan trofi balap mana pun. Namun di saat yang sama, Aksa mendengus pelan pada dirinya sendiri.
Aksa. Dia itu ratu mager. Mana mau lo ajak ke tempat berisik kayak gitu.
Ia kembali memasukkan ponselnya ke saku dengan gerakan kasar. Seringai kecil yang tadi sempat menghiasi bibirnya di perpustakaan kini berganti dengan rahang yang mengeras. Ia sadar, ia sudah benar-benar terjatuh terlalu dalam. Dan celakanya, ia justru sangat menikmati rasa jatuh itu.
Sementara di Koridor Lantai Bawah...
Ziva sedang berjalan menuju kelas sejarah dengan jantung yang masih berdegup tidak karuan. Di sampingnya, Liana terus memperhatikannya dengan senyum-senyum kecil yang mencurigakan.
"Kak Ziva... kok pipinya masih merah? Di perpus tadi AC-nya mati ya?" goda Liana lembut.
"Li, diem. Atau lo gue suruh balik ke Reygan lagi," ancam Ziva tanpa tenaga, yang justru membuat Liana tertawa renyah.
Ziva mengusap wajahnya yang terasa panas. Ia tidak tahu bahwa nanti malam, ia mungkin akan dipaksa untuk bangun dari "hibernasi" indahnya demi sebuah petualangan di atas aspal yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya.
di tunggu selalu update nya👍
lanjut ya thor... 🤧