NovelToon NovelToon
Pengantin Paksa Sang Mafia

Pengantin Paksa Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Mafia
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mentari_Senja

Alya Maheswari, gadis sederhana dengan masa lalu kelam, dipaksa menikah dengan Arkan Virello, seorang mafia dingin dan kejam yang tak percaya cinta.

Pernikahan mereka bukan tentang cinta, melainkan perjanjian darah. Namun di balik sikap dingin Arkan, tersembunyi obsesi berbahaya. Dan di balik kepasrahan Alya, tersimpan rahasia yang bisa menghancurkan segalanya.

Ketika cinta mulai tumbuh di antara ancaman, pengkhianatan, dan dendam lama, satu pertanyaan muncul:

Apakah mereka akan saling menyelamatkan, atau justru saling menghancurkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perlindungan yang Aneh

Sejak kejadian penyerangan dua hari lalu, suasana mansion berubah semakin mencekam.

Pengawal berjaga di setiap sudut, pintu otomatis dikunci lebih awal. Bahkan pelayan berbicara dengan suara pelan, seolah takut ada sesuatu yang mengintai dalam gelap.

Dan Arkan, pria itu berubah aneh. Bahkan sangat aneh.

"Aku bilang jangan keluar kamar sendirian."

Suara berat Arkan terdengar dari belakang, hingga membuat Alya menoleh pelan.

Pria itu baru masuk dengan jas hitam yang masih basah terkena hujan, tatapannya tajam seperti biasa. Tetapi malam ini, ada sesuatu yang berbeda di matanya. Seperti ada rasa khawatir dalam diri Arkan.

Alya mengerutkan dahi, "Aku cuma berdiri di sini."

Arkan melepas sarung tangan kulitnya, "Tapi tetap saja."

"Aku bukan tahanan, Arkan."

"Itu belum tentu."

Alya menatap Arkan heran, "Apa maksudmu?"

Arkan mendekat perlahan, hingga berdiri tepat di depannya. Aroma parfum maskulin bercampur air hujan langsung memenuhi hidung Alya.

"Di luar sana, banyak orang yang ingin menyakitimu."

"Kenapa harus menyakitiku, aku bukan siapa-siapa."

Arkan menghela napas pelan, "Itu karena sekarang kamu sudah menjadi istriku, Alya."

Sudah beberapa minggu hidup bersama Arkan, tetapi pria itu hampir tidak pernah mengatakan hal seperti itu secara langsung.

Biasanya Arkan hanya memerintah, mengontrol, dan mengintimidasi. Namun sekarang, cara pria itu memandangnya terasa berbeda.

"Apa karena serangan kemarin?" tanya Alya pelan.

Arkan diam beberapa detik, "Itu bukan serangan biasa."

"Aku juga tahu."

"Kamu tidak tahu apa pun, Alya. Orang-orang itu datang specifically untuk mencarimu."

Tubuh Alya menegang, "Mencariku? Tapi kenapa?"

Arkan tidak menjawab, pria itu justru berjalan menuju meja, lalu menuangkan whiskey ke dalam gelas kristal.

Gerakannya tenang, tetapi rahangnya terlihat mengeras. Alya mulai merasa ada sesuatu yang disembunyikan.

"Arkan."

"Hmm?"

"Sebenarnya apa yang terjadi?"

Seketika suasana menjadi sunyi, hanya ada suara hujan memenuhi ruangan. Lalu Arkan meneguk minumannya sebelum berkata kembali.

"Mulai besok, kamu tidak kuliah dulu."

"Apa?!" ucapnya yang langsung berdiri. "Tidak bisa seenaknya begitu! Sidak skripsiku tinggal..."

"Kamu jangan khawatir, aku akan urus semuanya," potong Arkan cepat.

"Tapi aku tidak butuh diurus olehmu!"

Arkan tersenyum tipis, "Sayangnya aku tidak sedang meminta izin."

Alya mengepalkan tangan kesal, "Kenapa kamu selalu mengatur hidupku?"

"Karena kalau aku lengah sedikit saja, aku bisa kehilanganmu," ucapnya dengan tatapan yang berubah gelap.

Deg.

Napas Alya seakan tertahan, kalimat itu terdengar begitu pelan, tetapi sangat jujur.

Untuk pertama kalinya, Alya melihat ketakutan di mata seorang Arkan Virello.

Mafia dingin yang selama ini tampak tak tersentuh.

"A-Arkan..."

Tiba-tiba pintu kamar terbuka, salah satu anak buah Arkan masuk dengan tergesa.

"Tuan Arkan!"

Tatapan Arkan langsung berubah dingin dan mematikan.

"Ada apa?"

"Kami menemukan penyusup di area belakang mansion," ucap anak buah Arkan.

Arkan langsung berdiri, "Di mana dia sekarang?"

"Sudah tertangkap, Tuan."

Arkan tersenyum sinis, "Bawa ke ruang bawah, sekarang."

"Baik, Tuan."

Pria itu cepat pergi, ruangan kembali sunyi, tetapi suasana berubah mencekam.

Arkan mengambil pistol dari laci meja tanpa ada rasa ragu.

Mata Alya melebar, "Kamu mau apa?"

"Menyelesaikan masalah."

"Apa harus membawa pistol seperti itu?"

Arkan menatapnya datar, "Di duniaku, belas kasihan cuma mempercepat kematian."

Kalimat itu membuat bulu kuduk Alya meremang. Arkan berjalan mendekat, lalu menyerahkan sesuatu padanya. Sebuah benda kecil berwarna hitam.

"Apa ini?"

"Itu GPS tracker."

Alya mengernyit heran, "Untuk apa benda ini? Kenapa di berikan padaku?"

"Jangan banyak tanya, simpan saja di dalam tasmu."

Alya menatap benda itu tak percaya, "Aku bukan anak kecil, Arkan. Jadi jangan berlebihan seperti ini."

Arkan tiba-tiba mencengkram dagunya pelan namun kuat. "Aku tidak akan membiarkan siapa pun mengambilmu dariku."

Jantung Alya berdegup dengan keras, sifat possessive itu seharusnya membuatnya marah. Tetapi anehnya, ada rasa hangat yang muncul di dalam dadanya.

Arkan perlahan melepaskan wajah Alya, "Tidurlah, ini sudah malam."

"Kamu mau ke mana?"

"Aku akan pergi ke ruang bawah."

"Apa untuk menginterogasi orang itu?"

"Ya."

Alya menggigit bibir bawahnya pelan, "Apa... kamu akan membunuhnya?"

Arkan terdiam sesaat, lalu menjawab dengan wajah datar. "Kalau itu perlu, maka aku akan membunuh orang itu. Karena seorang pengkhianat, tidak pantas di biarkan hidup begitu saja."

Setelah berkata seperti itu, Arkan pergi meninggalkan Alya.

Dan untuk pertama kalinya, sejak menikah dengan Arkan Virello, Alya merasa takut kehilangan pria itu.

Ruang bawah mansion terasa dingin dan lembap, lampu redup menggantung di langit-langit beton.

Seorang pria penuh darah duduk terikat di kursi besi, napasnya memburu.

Arkan masuk dengan langkah tenang, tapi tatapan matanya dingin dan mematikan.

"Siapa yang sudah mengirimmu?"

Pria itu tertawa kecil, meski wajahnya sudah babak belur. "Kamu mulai panik, Arkan?"

BUGH!

Pukulan keras menghantam wajah pria itu, hingga kursinya hampir jatuh.

Darah menetes dari sudut bibirnya, Arkan mencengkram rambut pria itu kasar.

"Aku tanya sekali lagi, siapa yang sudah mengirimmu?"

Pria itu menyeringai lemah, "Apa wanita itu sangat penting bagimu?"

Tatapan Arkan berubah gelap, "Jangan berani sentuh dia, atau kamu akan berurusan langsung denganku."

"Oh! Jadi rumor itu benar," pria itu tertawa pelan. "Bos mafia besar jatuh cinta pada istrinya sendiri."

BRAK!

Arkan membanting pria itu ke lantai tanpa ampun, seluruh ruangan mendadak sunyi.

Anak buah Arkan bahkan tak berani bergerak, karena mereka tahu, tatapan seperti itu hanya muncul saat Arkan benar-benar marah.

Pria di lantai batuk darah sambil tertawa kecil, "Kalau begitu, bersiaplah kamu akan kehilangan dia."

Arkan langsung membeku, "Apa maksudmu?'

Namun pria itu hanya tersenyum samar, lalu...

DOR!

Suara tembakan menggema, tubuh pria itu jatuh tak bergerak lagi. Salah satu anak buah Arkan terkejut.

"Tuan?!"

Arkan menurunkan pistolnya, wajahnya terlihat begitu dingin.

"Tingkatkan penjagaan mansion."

"Baik, Tuan."

"Dan jangan biarkan Alya keluar sendirian."

"Siap, Tuan. Kami akan menjaga Nyonya dengan baik."

Arkan berjalan pergi tanpa menoleh lagi, tetapi untuk pertama kalinya, langkah pria itu terlihat sedikit goyah.

Malam semakin larut, Alya masih belum bisa tidur. Saat pintu kamar terbuka perlahan, Arkan masuk kembali. Kini tanpa jas, tanpa pistol di tangan, namun aura gelap itu masih terasa kuat.

"Kenapa kamu belum tidur juga?"

Alya menggeleng, tatapannya turun ke tangan Arkan. Ada darah di sana, dan napas Alya terasa tercekat. "Arkan... apa kamu terluka?"

"Tidak, ini bukan darahku," jawab Arkan cepat.

Jawaban itu justru membuat Alya semakin gelisah, tanpa sadar, Alya berjalan mendekat. "Apa semuanya sudah selesai?"

"Hmm."

"Lalu, apa orang itu..."

Arkan berdecih pelan, "Kenapa kamu bawel sekali? Jangan tanya hal apa pun lagi padaku."

Untuk pertama kalinya, Alya melihat kelelahan nyata di wajah pria itu.

Dan entah kenapa, dadanya terasa begitu sesak.

"Alya."

"Ya, kenapa?"

Arkan menatapnya lama, lalu tiba-tiba menarik tubuh Alya ke dalam pelukannya.

Alya langsung membeku, tubuh Arkan hangat dan kuat, namun malam ini terasa begitu rapuh.

"A-Arkan, kenapa kamu..."

"Diamlah sebentar, aku hanya ingin seperti ini dulu."

Suara pria itu terdengar pelan di dekat telinganya, dan Alya bisa merasakan pelukan itu bukan tentang ancaman, melainkan rasa takut kehilangan.

1
Vie
akhirnya nongol juga kak othtor...... 👍👍
Vie
iiiihhhh.... jadi ikutan tegang.....
Vie
lanjut kak 👍👍👍😊😊😊
Vie
iiihhhh...... aku penasaran banget dengan misteri cerita ini, da rahasia apa sebenarnya antara alya dan arkan.... 🤔🤔🤔🤔 lanjut thor makin seru dan tegang juga... 👍👍👍👍
Vie
sku beneran gak ngerti jalan pikiran si alya.. dia udah tau kemarin ada penyerangan yang menargetkan dirinya, bahkan dia sendiripun ketakutan setengah mati dan setelah semua itu masih menanyakan hal yang berulang2, kenapa semua terjadi, padahal walaupun di tidak mau atau bahkan tidak mengakui peenikahan merek, tapi tetap saja mereka sudah terikat pernikahan, dan itu akan menjadi kelemahan buat Arkan. lama2 aku dongkol juga sam si alya deh... 😡😡😡
Vie
lanjut kak .. 👍👍👍👍
Vie
lanjut kak.... makin seru.... 👍👍👍👍
Vie
lanjut kak.... makin seru... 👍👍👍👍
Vie
lanjut kak.....
Vie
lanjut kak...makin seru..... 👍👍👍
Vie
lanjut kak.... makin seru... 👍👍👍👍
Vie
ya makanya kamu jangan keluar rumah sudah tau tidak aman kan, lebih baik dim manis didalam, daripada celaka kan...
Vie
seru juga ceritanya, gak ngebosenin, menarik..... penasaran sama lanjutanya tetap semangat kak, lanjutkan ceritanya sampai tamat.... 👍🏻👍🏻🤭👍🏻
Vie
nah itu kamu udah tahu kan alya,gak usah diperjelas lagi, daripada nanti ujung2nya berakhir bertengkar, saling menyalahkan dn saling tidak mau mengalah.... 🤭🤭🤭
checangel_
Sampai segitunya 🤧
checangel_
Jauh darimu terasa hampa, tapi membuatmu tetap berada di sampingku membuatku lega ~ Arkan said (dalam hati) 🤭
checangel_
Ada kalanya dunia harus bersuara membela keadilan itu, bukan?🤧
checangel_
Dan tak semudah itu juga untuk membalikkan kertas yang sudah bertinta /Hey/
checangel_
Yang penting bukan imannya ya Alya/Facepalm/
checangel_
Betul, apalagi kalau berpikirnya sudah sampai ke perasaan, bukan pilihan lagi yang menyapa, tapi antara keyakinan dan keraguan yang menggema 🤭
checangel_: Bisa yuk
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!