ajil seorang suami yang ditinggal istrinya meninggal dunia setelah kelahiran anak keduanya.
sampai pada suatu ketika dia berjalan dijalan raya tanpa melihat kanan kiri menyebrang jalan, lalu ia tertabrak kendaraan.
tapi seketika ia berada ditempat dimana keadaan yang jauh dari planet bumi dan bertemu seorang Dewi yang akan memberikan kehidupan dan petualangan baru disdimensi lain diplanet yang bernama ridokan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jilal Suherman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22.3: Kilas Balik - Sangkar Kenangan dan Cahaya Putih Sang Algojo
Dunia berputar dalam pusaran warna merah darah, sebelum akhirnya melebur menjadi sebuah kegelapan yang pekat. Suara rintik embun darah yang jatuh di atas lumut Hutan Embun Darah perlahan memudar, digantikan oleh suara yang sangat familiar namun telah lama hilang dari pendengaran Ajil.
Tik... Tik... Tik...
Bukan lagi suara embun gaib. Itu adalah suara rintik air hujan yang jatuh menimpa atap seng berkarat. Udara yang tadinya berbau belerang dan karat besi seketika berubah. Hidung Ajil menangkap aroma tanah basah, bau minyak goreng murah yang memanaskan wajan, dan keharuman sabun mandi beraroma vanilla dan lavender.
Ajil membuka matanya. Ia tidak lagi berada di Benua Barat Planet Ridokan. Kakinya tidak berpijak pada lumut ajaib, melainkan pada ubin keramik berwarna putih kusam yang beberapa bagiannya sudah retak dan ditambal semen seadanya.
Setelan Malam Abadi Kelas SS yang melindunginya telah lenyap. Sebagai gantinya, ia mengenakan kaus oblong putih yang sudah melar di bagian leher dan celana pendek selutut. Tangannya tidak lagi terbungkus sarung tangan kulit yang mematikan, melainkan kembali menjadi tangan kasar yang dipenuhi kapalan akibat mengangkat semen dan mengaduk pasir di proyek bangunan.
Ia berada di ruang tengah rumah kontrakannya yang sempit di Bumi.
"Mas Ajil? Kok malah ngelamun di situ? Handuknya tolong dijemur di belakang dong, mumpung hujannya sudah mulai reda."
Jantung Ajil seakan berhenti berdetak. Darahnya membeku di pembuluh nadinya.
Suara itu... suara yang sangat lembut, penuh dengan nada omelan kecil yang selalu ia rindukan setiap malam hingga membuatnya nyaris gila.
Ajil memutar tubuhnya dengan kaku. Di ambang pintu dapur yang sempit, berdirilah Ami. Istrinya tercinta. Wanita itu mengenakan daster batik pudar berwarna biru, rambut hitam panjangnya diikat asal-asalan ke atas menggunakan jepit plastik. Di pinggangnya, ia menggendong Dara yang masih bayi, tertidur pulas dengan pipi tembam yang memerah. Sementara di lantai, Arzan kecil sedang sibuk menyusun balok-balok plastik warna-warni menjadi sebuah robot.
"A-Ami...?" panggil Ajil. Suaranya pecah, bergetar hebat. Lutut pria yang mampu meratakan monster Kelas S itu kini terasa seperti agar-agar.
Ami mengerutkan keningnya, berjalan mendekati Ajil dengan tatapan khawatir. Ia menyentuh dahi Ajil dengan punggung tangan kanannya yang bebas. Sentuhan itu... hangatnya kulit itu... terasa begitu absolut dan nyata.
"Mas sakit? Badannya dingin banget," ucap Ami lembut, menatap tepat ke dalam mata Ajil. "Kalau capek, besok izin saja dari proyeknya. Mandor gemuk itu biar aku yang telepon nanti. Mas istirahat saja. Tadi aku bikin sayur sop kesukaan Mas, pakai bakso urat sedikit."
Ajil menatap wajah istrinya. Tidak ada layar retak, tidak ada darah di aspal, tidak ada Kuil Alura.
Logikanya sebagai petualang Kelas S menjerit dengan keras. Ini ilusi! Ini adalah Domain SSS milik Erika Sang Penyihir! Sistem di kedalaman jiwanya berkedip merah tanpa henti, memberikan peringatan bahwa saraf otaknya sedang diretas oleh sihir manipulasi mental tingkat dewa.
Namun, bagaimana seorang pria bisa menolak surga yang telah lama ia tangisi kehilangannya?
Ajil perlahan mengangkat tangannya yang gemetar, menyentuh pipi Ami. Kulitnya selembut sutra. Aroma vanilla dan lavender itu merasuk ke dalam relung jiwanya, membius sisa-sisa kewarasannya. Air mata perlahan menggenang di pelupuk mata hitam Ajil.
"Kalian... kalian nyata..." bisik Ajil parau.
Tiba-tiba, suara merdu Erika menggema di langit-langit rumah kontrakan itu, berbisik layaknya angin yang menyelinap masuk dari celah jendela.
"Mengapa kau harus bertarung di dunia yang bersimbah darah, Wahai Pahlawan?" bujuk suara Erika, nadanya mengandung sihir empati yang sangat kuat. "Di dunia nyata, kau hanyalah seorang algojo yang dibenci dan ditakuti. Tanganmu kotor oleh nyawa makhluk lain. Tubuhmu dipenuhi luka. Tapi di sini... di dalam domainku... kau bisa memiliki keabadian yang damai. Keluargamu hidup. Istrimu tidak pernah mati, dan anak-anakmu menunggumu. Tinggallah di sini selamanya. Lupakan dunia Ridokan, lupakan Bumi yang kejam. Berikan pikiranmu padaku, dan aku akan memberikan surga ini untukmu."
Ajil memejamkan matanya, air mata akhirnya lolos dan membasahi pipinya. Ia menarik Ami ke dalam pelukannya, mendekap erat wanita itu beserta Dara yang ada di gendongannya. Arzan yang melihat ayahnya memeluk ibunya, ikut berdiri dan memeluk kaki Ajil sambil tertawa riang.
"Ayah peluk-peluk Ibu! Arzan ikutan!" seru bocah itu riang.
Sang Algojo Dimensi... pria yang tak pernah gentar menghadapi Naga Api Neraka atau Iblis Bayangan, kini runtuh sepenuhnya di dalam sebuah rumah kontrakan fana yang bocor. Keputusasaan dan cintanya telah menjadi rantai terkuat yang mengikat jiwanya ke dasar lautan ilusi.
Sementara itu, di dunia nyata, di tengah Hutan Embun Darah.
Kubah sihir Tabir Akal Sehat berwarna hijau milik Erina berpendar terang, meledakkan energi suci yang menghantam kabut merah di sekitarnya.
"SADARLAH!" teriak Erina, mengalirkan mana murni ke dalam dada Rino dan Richard.
Kedua petualang itu tersentak hebat, memuntahkan cairan empedu ke atas lumut merah. Mata mereka terbelalak, napas mereka memburu dengan panik. Mereka baru saja ditarik paksa dari neraka pikiran mereka sendiri; Rino yang terus-menerus melihat ibunya mati di depannya, dan Richard yang terjebak dalam rasa bersalah atas kecelakaan di masa lalunya.
"Hah... Hah... Apa yang terjadi?!" Rino memegangi kepalanya yang terasa mau pecah, menatap sekeliling dengan horor. "P-Pohon itu tadi berubah menjadi monster yang memakan ibuku!"
"Itu ilusi! Kalian terjebak dalam kabut Erika!" Erina menjelaskan dengan cepat, keringat dingin membasahi wajah cantiknya. "Aku berhasil menembus manipulasi pikiran kalian karena kalian tidak memiliki perlindungan mental bawaan, jadi sihir penyembuhanku bisa masuk!"
Richard yang masih gemetar buru-buru meraih tombaknya. "T-Tuan Ajil! Di mana beliau?!"
Mereka bertiga menoleh ke arah depan.
Pemandangan di depan mereka membuat darah Rino dan Richard membeku.
Ajil, sang dewa kematian yang mereka puja karena kedinginan dan ketegasannya yang tak tergoyahkan, kini tengah berdiri kaku di tengah kepulan kabut merah yang berputar membentuk kepompong di sekelilingnya.
Namun bukan sihir itu yang membuat mereka terkejut. Melainkan wajah Ajil.
Wajah yang selalu sedatar balok es, yang tak pernah menunjukkan ekspresi kesakitan sedikit pun saat tulangnya patah atau saat tangannya berlumuran darah... wajah itu kini hancur lebur oleh kesedihan.
Ajil menjatuhkan kedua lututnya ke atas tanah berlumut merah dengan suara bruk yang berat. Kedua tangannya terangkat ke depan, seolah sedang memeluk sesuatu di udara kosong. Kepalanya menunduk dalam, bahunya yang lebar dan biasanya kokoh menopang langit, kini bergetar hebat.
Sang Algojo menangis.
Tidak ada suara isakan yang keluar dari mulutnya, hanya air mata deras yang mengalir dalam kebisuan yang teramat menyayat hati. Garis-garis keputusasaan tergambar jelas di wajahnya, menunjukkan kerapuhan jiwa yang selama ini ia sembunyikan rapat-rapat di balik Setelan Malam Abadi dan petir ungunya.
Aura di sekitar Ajil tidak lagi memancarkan gravitasi yang menekan, melainkan memancarkan gelombang resonansi kesedihan yang begitu pekat.
Rino dan Richard, yang baru saja pulih dari ilusi mereka sendiri, merasakan dada mereka seolah diremas oleh tangan tak kasat mata saat terkena resonansi emosi Ajil.
"Dewa-dewa..." bisik Rino parau, air matanya kembali mengalir tanpa bisa ia tahan. Raksasa merah itu menjatuhkan pedangnya, tak sanggup melihat pemandangan di depannya. "Tuan Ajil... penderitaan macam apa yang Anda lihat? Rasa sakit ini... ini seratus kali lipat lebih mengerikan dari api naga. Luka di hatinya... sangat dalam."
Richard menggigit bibirnya hingga berdarah, menundukkan pandangannya. "Dia menggunakan wajah dinginnya untuk menutupi ini semua. Dia mengorbankan segalanya, menanggung semua kebencian, karena di dalam dirinya... dia hanyalah seorang pria yang kehilangan rumahnya."
Namun, yang paling hancur melihat pemandangan itu adalah Erina.
Busur emas di tangan sang High Elf itu terjatuh ke tanah. Tabir sihirnya bergetar tak menentu karena emosinya yang kacau. Erina memandang pria yang dicintainya berlutut tak berdaya, menangisi sebuah ilusi yang tak bisa ia capai.
Ego Erina sebagai ras superior, keangkuhannya sebagai bangsawan elf yang memandang rendah ras manusia, semuanya musnah tak berbekas. Ia melihat sisi paling lemah, paling rapuh, dan paling manusiawi dari Ajil. Dan hal itu tidak membuat Erina menganggapnya lemah. Sebaliknya, hal itu membuatnya semakin mencintai pria ini dengan cinta yang sangat absolut dan putus asa.
"Ajil..." isak Erina pelan, air mata bening mengalir deras membasahi pipi pualamnya. Ia tidak peduli pada racun kabut di sekitarnya. Ia melangkah keluar dari zona aman Tabir Akal Sehat-nya, berlari kecil menghampiri pria yang tengah berlutut itu.
Di kejauhan, dari balik formasi pepohonan merah, Boros sang Panglima Crimson Lion mengintip dengan senyum yang sangat lebar. Jubah Bayangan Pasir menyembunyikan kehadirannya dengan sempurna.
"Bagus... Bagus sekali!" batin Boros kegirangan. "Monster itu telah lumpuh! Sang penyihir telah mematahkan jiwanya. Rino dan Richard terlalu syok untuk bertarung, dan elf itu berlari tanpa perlindungan sihir. Sebentar lagi, mereka semua akan tertidur untuk selamanya. Dan saat itulah aku akan menyelinap masuk ke menara."
Di tengah badai kabut merah, Erina menjatuhkan dirinya berlutut tepat di depan Ajil. Ia menatap wajah tampan pria itu yang kini basah oleh air mata keputusasaan. Kedua tangan Ajil yang memeluk udara kosong terlihat begitu menyedihkan.
"Ajil... kumohon, sadarlah..." bisik Erina merdu, suaranya bergetar oleh tangisan. "Itu bukan kenyataan. Itu hanyalah sangkar yang diciptakan oleh penyihir itu. Kau bilang kau harus kuat untuk pulang. Kau tidak bisa menyerah di sini."
Erina mengulurkan tangan kanannya yang gemetar. Kulit pualamnya yang bersinar perlahan mendekat ke arah wajah Ajil. Ia ingin menghapus air mata di pipi kasar pria itu. Ia ingin membagikan kehangatannya, menarik Ajil kembali dari neraka halusinasinya. Ujung jari telunjuk Erina berjarak hanya satu sentimeter dari kulit pipi Ajil.
Di dalam ilusi...
Ajil masih memeluk Ami erat-erat. Aroma masakan dan rumah kontrakan itu terasa sangat memabukkan. Ia bisa merasakan degup jantung Ami di dadanya. Ia bisa merasakan tangan mungil Arzan yang memeluk betisnya.
"Tidurlah, Suamiku," bisik ilusi Ami di telinganya, suaranya menggemakan nada sihir Erika. "Tidurlah bersamaku di sini. Jangan pergi ke mana-mana lagi. Biarkan dunia luar hancur, asalkan kita bersama."
Ajil memejamkan matanya. Kedamaian ini adalah satu-satunya hal yang ia dambakan sejak malam kecelakaan itu. Ia hanya perlu menyerahkan kesadarannya, dan ia tidak akan pernah perlu lagi bertarung, tidak perlu lagi membantai, tidak perlu lagi merasakan dinginnya kesepian.
Namun... di saat sisa-sisa kewarasannya hampir padam, sebuah notifikasi sistem berkedip sangat redup di sudut terdalam jiwanya. Bukan tentang bahaya, melainkan sebuah notifikasi experience kecil.
Dan bersamaan dengan itu, Ajil merasakan sebuah kejanggalan.
Ami yang asli... Ami yang telah mendampinginya di saat-saat tersulit, yang rela kelaparan demi memberikan jatah makannya untuk Arzan dan Dara... Ami yang memiliki hati malaikat itu, tidak akan pernah memintanya untuk mengabaikan dunia yang sedang hancur. Ami yang asli tahu betapa Ajil menyayangi anak-anaknya di Bumi. Jika Ajil menyerah di sini, terjebak dalam ilusi, maka misi Dewi Lumira akan gagal. Kaisar Iblis akan menginvasi seluruh dimensi, termasuk Bumi. Arzan dan Dara di alam nyata akan terbunuh.
Ajil perlahan membuka matanya. Ia menatap wajah Ami yang tersenyum damai.
Air mata Ajil berhenti mengalir. Sebuah kekosongan yang mengerikan kembali mengambil alih bola matanya.
"Kau bukan dia," bisik Ajil parau.
Ilusi Ami mengerutkan kening. "Mas? Apa maksudmu? Ini aku, Ami-mu."
Ajil melepaskan pelukannya secara perlahan. Tangan kasarnya mengusap pipi ilusi wanita itu, memandanginya dengan penuh kerinduan untuk terakhir kalinya, sebelum rahangnya kembali mengeras layaknya baja.
"Kenangan yang indah diciptakan untuk menjadi pelita di saat kita berjalan di dalam kegelapan," ucap Ajil. Suaranya tidak lagi bergetar. Nada baritonnya kembali memancarkan wibawa absolut seorang dewa kematian, menembus dinding-dinding ilusi rumah kontrakan itu. Ia menatap ke atas, langsung menantang kesadaran Erika yang mengendalikan domain ini.
"Tapi mengubah kenangan suci itu menjadi sebuah sangkar palsu untuk melarikan diri dari kenyataan... adalah sebuah penghinaan terhadap cinta yang sesungguhnya. Istriku yang asli telah mati. Dan aku akan membelah langit dan neraka untuk melindungi darah daging yang ia tinggalkan di dunia nyata. Aku tidak butuh surga palsumu, Penyihir."
Di detik di mana kata-kata mutiara itu terucap, rumah kontrakan, aroma vanilla, dan sosok Ami hancur berkeping-keping menjadi pecahan kaca kristal yang beterbangan, lenyap tertelan kegelapan.
Di dunia nyata.
Ujung jari telunjuk Erina hampir menyentuh air mata di pipi Ajil.
BIP!
Sepasang mata Ajil terbuka dengan sentakan tajam. Hitam kelamnya telah kembali, kali ini dipenuhi oleh kejernihan yang absolut dan tekad yang tak tertembus oleh sihir mana pun di dunia ini. Dinding es di wajahnya kembali terbangun, menyembunyikan seluruh kerapuhannya.
Erina terkesiap, tangannya terhenti di udara.
Sebelum Erina sempat mengucapkan sepatah kata pun, tubuh Ajil memancarkan sebuah aura yang belum pernah ia keluarkan sebelumnya.
Alih-alih Aura Gravitasi Jiwa berwarna hijau pekat yang berat, mematikan, dan menekan tanah hingga hancur... kali ini, tubuh Ajil meledakkan sebuah aura yang benar-benar berbeda.
WUSSSHHH...
Sebuah pendaran cahaya hijau yang sangat lembut, hangat, dan menenangkan menguar dari dalam diri Ajil. Aura hijau itu tidak berdiri sendiri; ia dilapisi oleh sebuah aura putih suci yang berpendar layaknya cahaya bulan purnama yang menyentuh bumi. Aura ini bukan lahir dari kemurkaan, melainkan lahir dari cinta, pengorbanan, dan penerimaan seorang pria terhadap masa lalunya.
Aura hijau berlapis putih itu menyebar dengan sangat cepat, meluas membentuk sebuah kubah raksasa yang menyapu seluruh Hutan Embun Darah dalam radius beberapa kilometer.
Keajaibannya terjadi seketika.
Kabut merah yang beracun dan penuh ilusi langsung menguap, dinetralkan oleh cahaya putih suci Ajil. Pohon-pohon yang daunnya berwarna merah darah perlahan-lahan berubah menjadi daun-daun emas yang bercahaya. Tetesan embun darah yang mengerikan berubah menjadi rintikan air jernih yang memancarkan aroma bunga kehidupan, menyembuhkan tanah yang sakit.
Rino dan Richard yang berada di belakang merasakan aura itu menyapu tubuh mereka. Segala rasa sakit, ketakutan, dan trauma yang tertinggal di pikiran mereka langsung terhapus bersih, digantikan oleh rasa damai yang tak terlukiskan. Mereka berdiri dengan tenaga yang baru.
"I-Ini... aura apa ini?" bisik Erina takjub, membiarkan tangan kanannya turun. Ia merasakan aura putih-hijau itu menyelimuti tubuhnya, menghangatkan jiwanya melebihi sihir High Elf mana pun.
Di udara, proyeksi Erika sang penyihir tersentak mundur. Wajah cantiknya di balik cadar menunjukkan ekspresi syok yang luar biasa. Kabut merah penyusun tubuhnya mulai tercerai-berai oleh cahaya Ajil.
"M-Mustahil!" seru Erika, suaranya tak lagi anggun, melainkan dipenuhi ketidakpercayaan. "Domain Ilusi SSS milikku... dipatahkan hanya dengan pancaran aura murni?! Manusia macam apa kau ini?! Kau tidak menggunakan sihir perlawanan mental, kau... kau menerima penderitaanmu sendiri sebagai sebuah perisai?!"
Ajil perlahan bangkit berdiri. Setelan Malam Abadi miliknya kembali berkibar pelan. Sisa-sisa air mata di pipinya telah menguap bersamaan dengan sirnanya kabut merah. Wajahnya telah kembali menjadi sang algojo yang tak tersentuh emosi, namun ada sebuah kedalaman baru di matanya.
Ia menatap proyeksi Erika yang mulai memudar. "Ilusi murahanmu sudah selesai, Penyihir," ucap Ajil dingin, aura putih-hijaunya perlahan meredup dan kembali masuk ke dalam tubuhnya. "Tunjukkan bentuk aslimu dan serahkan prasasti itu, atau aku akan menghancurkan menaramu beserta seluruh isi hutan ini ke akar-akarnya."
Jauh di balik formasi pepohonan yang kini telah berubah menjadi keemasan, Boros sang Panglima Crimson Lion terjatuh dengan posisi duduk. Tubuhnya gemetar hebat, keringat dingin membasahi seluruh zirahnya.
Jubah Bayangan Pasir-nya masih aktif, namun hatinya dilanda teror yang absolut. Aura putih-hijau yang baru saja dilepaskan Ajil tidak melukainya secara fisik, namun energi suci itu secara tidak langsung mengekspos betapa kotor dan pengecutnya jiwa Boros.
"Pria itu... pria berjaket hitam itu bukan sekadar petarung kuat," batin Boros panik, napasnya tersengal-sengal, mencengkeram dadanya yang berdebar gila. "Dia adalah anomali alam semesta! Mematahkan domain ilusi terkuat di benua barat tanpa merapalkan satu pun mantra sihir?! Apa-apaan aura suci tadi?!"
Keberanian Boros untuk mencuri prasasti menguap tanpa sisa. Namun keserakahannya menahannya untuk lari. Ia memutuskan untuk terus bersembunyi dengan jarak yang lebih jauh, berharap penyihir itu masih memiliki satu kartu as yang mematikan di menaranya.
Di tengah hutan yang kini telah bersih dari ilusi, Ajil melangkah maju. Erina, Rino, dan Richard segera bangkit dan mengambil formasi di belakang sang Pemimpin. Mereka menatap punggung tegap Ajil dengan rasa hormat yang telah berevolusi menjadi sebuah pemujaan absolut. Pria ini tidak hanya tak tertandingi secara fisik, namun jiwanya telah ditempa hingga melampaui kelemahan manusiawi.
Proyeksi Erika tersenyum pasrah sebelum akhirnya menghilang sepenuhnya menjadi kepingan cahaya. "Kau memang pantas memegang takdir dunia ini, Ajil," gema suara penyihir itu memudar. "Menara Ilusi ada di depanmu. Datanglah... jika kau bisa melewati Penjaga Gerbang Asliku."
Ajil tidak merespons. Ia terus berjalan menembus pepohonan emas, membawa kelompoknya semakin dekat ke jantung rahasia Kerajaan Valeria, siap merebut kembali satu bagian dari jalan pulangnya menuju Bumi.