NovelToon NovelToon
Aku Kembali Bukan Untuk Mencintaimu Tapi Menghancurkanmu

Aku Kembali Bukan Untuk Mencintaimu Tapi Menghancurkanmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Balas Dendam / Nikah Kontrak
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ilza_

Dulu, Alena percaya bahwa cinta bisa mengalahkan segalanya—bahkan kesombongan seorang pria yang dingin dan tak tersentuh seperti Arkan. Ia menyerahkan hati, harga diri, bahkan masa depannya demi pernikahan yang ternyata hanya dianggap sebagai kesalahan oleh suaminya sendiri.
Di hari ia kehilangan segalanya, Alena tidak hanya diusir dari rumah—ia juga dikhianati, dipermalukan, dan ditinggalkan dalam kehancuran yang nyaris merenggut nyawanya.
Namun, takdir belum selesai menulis kisahnya.
Lima tahun kemudian, Alena kembali.
Bukan sebagai wanita lemah yang dulu diremehkan, melainkan sebagai sosok baru—misterius, elegan, dan berkuasa. Di balik senyumnya yang tenang, tersimpan rencana yang telah ia bangun dengan sabar: menghancurkan satu per satu kehidupan
orang-orang yang pernah menjatuhkannya… termasuk Arkan.
Ketika Arkan kembali bertemu dengan wanita yang dulu ia buang, ada sesuatu yang berubah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34 — MONSTER ITU MULAI MASUK KE KEPALAKU

Ruangan langsung sunyi total.

Hanya suara video yang masih berjalan di tablet.

Dan suara napasku sendiri yang mulai tidak teratur.

The Founder menatap kamera dengan tenang.

Terlalu tenang.

“Ayahmu tidak akan bisa menghentikan sistem itu.”

Aku mengepalkan tangan pelan.

“Dia sendiri tidak pernah berhasil mengendalikan ciptaannya.”

Tatapan pria itu berubah lebih tajam sekarang.

“Tapi aku bisa.”

“Bohong.”

Bisikku pelan.

Namun anehnya—

dadaku justru terasa tidak nyaman.

Karena sebagian kecil dari pikiranku…

mulai mempertanyakan sesuatu.

Bagaimana kalau dia benar?

Sial.

Aku langsung membuang pikiran itu jauh-jauh.

“Aku tahu kamu mulai melihat fragmen data.”

Lanjut The Founder.

“Dan itu baru permulaan.”

Kilatan di kepalaku langsung muncul lagi.

Monitor.

Kode merah.

Suara alarm.

Aku refleks memegang pelipis.

“Alena?”

Suara Arkan langsung terdengar dekat.

Aku mengangkat tangan pelan.

Memberi tanda aku masih sadar.

Video itu terus berjalan.

“Kalau sinkronisasi mencapai tahap akhir…”

The Founder tersenyum kecil.

“…otakmu akan kolaps.”

Ibunya Arkan langsung memalingkan wajah.

Seolah tidak tahan mendengarnya.

“Tapi kamu masih bisa diselamatkan.”

Tatapannya terasa seperti menembus layar.

“Datanglah kepadaku.”

Aku langsung tertawa kecil.

Pahit.

“Psikopat.”

The Founder tetap tenang.

“Ayahmu membuatmu jadi wadah.”

Tatapannya berubah dingin.

“Tapi aku bisa membuatmu jadi sesuatu yang jauh lebih besar.”

Dan kalimat berikutnya—

membuat seluruh tubuhku membeku.

“Kamu bahkan belum tahu siapa dirimu sebenarnya, Alena.”

Video berhenti.

Sunyi.

Aku menatap layar kosong beberapa detik.

Lalu—

“Brengsek.”

Aku melempar tablet itu ke sofa.

“Dia masuk ke kepalaku.”

“Apa maksudnya?” tanya Leon.

Aku memegang kepala pelan.

“Cara dia bicara…”

Napasku terasa berat.

“…seolah dia tahu apa yang aku lihat.”

Ayahku langsung terlihat makin pucat.

“Karena kemungkinan dia memang tahu.”

Aku langsung menoleh cepat.

“Apa?”

Pria itu terlihat ragu.

Lalu akhirnya bicara pelan.

“Sistem itu dibuat dari jaringan lama milik The Circle.”

“Lalu?”

“Kalau The Founder masih punya akses inti…”

Tatapannya turun.

“…dia mungkin bisa membaca perkembangan sinkronisasi dari jauh.”

Dadaku langsung terasa dingin.

Tidak.

Jadi sekarang monster itu benar-benar bisa masuk ke hidupku kapan saja?

“Aku capek…”

Bisikku pelan.

Dan itu bukan sekadar lelah fisik.

Aku benar-benar lelah.

Semua terasa terlalu besar.

Aku bahkan mulai takut tidur.

Karena setiap kali menutup mata—

potongan-potongan aneh itu muncul lagi.

“Aku perlu udara.”

Aku berdiri perlahan.

“Alena.”

Suara Arkan langsung terdengar.

“Aku cuma mau keluar sebentar.”

Dia terlihat ragu.

Tapi akhirnya mengangguk kecil.

“Aku ikut.”

“Terserah.”

Kami naik ke lantai atas gudang.

Tempat itu gelap dan dingin.

Hujan masih turun di luar.

Aku berdiri dekat jendela besar yang setengah pecah.

Menatap kota dari kejauhan.

Lampu-lampu malam terlihat samar di tengah hujan.

Normal.

Tenang.

Lucu sekali.

Di luar sana orang-orang masih hidup biasa.

Sementara hidupku seperti bom waktu.

“Masih sakit?”

Suara Arkan terdengar pelan di belakangku.

“Yang mana?”

Aku tertawa kecil.

“Kepala?”

“Sedikit.”

Padahal sebenarnya lebih dari sedikit.

Arkan berdiri di sampingku sekarang.

Diam.

Dan anehnya—

diam bersamanya tidak pernah terasa canggung.

“Aku benci lihat kamu kayak gini.”

Katanya tiba-tiba.

Aku menoleh pelan.

“Kayak gimana?”

Tatapannya lurus ke depan.

“Takut.”

Dadaku langsung terasa aneh.

Karena dia benar.

Aku takut.

Sangat takut.

Bukan cuma soal mati.

Tapi soal kehilangan diriku sendiri.

“Kalau aku lupa semuanya nanti…”

Suaraku pelan.

Arkan langsung menoleh cepat.

“Jangan ngomong begitu lagi.”

“Tapi kalau itu terjadi?”

Sunyi beberapa detik.

Hujan terdengar makin deras.

Lalu—

“Aku bakal bikin kamu jatuh cinta lagi sama aku.”

Aku langsung menatapnya.

Pria itu tetap serius.

“Apa?”

Aku hampir tertawa.

“Aku serius.”

Tatapannya membuat dadaku makin kacau.

“Kalau kamu lupa semua hal tentang kita…”

Dia mendekat sedikit.

“…aku bakal mulai semuanya dari awal.”

Sial.

Kenapa dia harus ngomong begitu sekarang?

Aku langsung memalingkan wajah.

Karena mataku mulai panas lagi.

“Jangan romantis pas hidup kita lagi berantakan begini.”

“Aku tidak romantis.”

Aku langsung mendengus kecil.

“Kamu literally baru bilang mau bikin aku jatuh cinta dua kali.”

Dan akhirnya—

untuk pertama kalinya malam itu—

Arkan tertawa kecil.

Pelan.

Suara itu anehnya membuat dadaku hangat.

Aku menatapnya beberapa detik.

Lalu tanpa sadar—

aku bicara pelan.

“Kalau nanti aku berubah…”

Ekspresinya langsung serius lagi.

“Alena—”

“Dengerin dulu.”

Aku menatapnya lurus.

“Kalau nanti aku mulai kehilangan diri sendiri…”

Tanganku mengepal pelan.

“…jangan biarin mereka pakai aku.”

Sunyi.

Tatapan Arkan langsung berubah.

“Aku serius.”

“Tidak akan sampai begitu.”

“Janji sama aku.”

Dia diam.

Dan diamnya membuatku makin takut.

“Arkan.”

Pria itu akhirnya menghembuskan napas kasar.

“Aku benci janji beginian.”

“Tapi janji.”

Tatapannya turun sebentar.

Seolah berperang dengan dirinya sendiri.

Lalu—

“Aku janji.”

Dadaku langsung terasa sesak.

Karena aku tahu—

janji itu berarti…

kalau suatu hari aku benar-benar hilang—

dia mungkin harus menghentikanku sendiri.

Tiba-tiba—

rasa nyeri menusuk kepalaku lagi.

Lebih parah dari sebelumnya.

Aku langsung memegang jendela.

“Alena!”

Arkan menangkap tubuhku cepat.

Kilatan lain muncul.

Ruangan putih.

Monitor.

Suara alarm.

Lalu—

kali ini aku melihat sesuatu yang berbeda.

Seorang pria kecil duduk di sudut ruangan.

Anak laki-laki.

Sendirian.

Wajahnya samar.

Tapi aku bisa merasakan emosinya.

Kesepian.

Marah.

Dingin.

Dan saat anak itu menoleh—

dadaku langsung membeku.

Karena matanya…

sama seperti The Founder.

Aku langsung tersentak sadar.

Napas memburu.

“APA YANG KAMU LIHAT?”

Suara Arkan terdengar panik.

Aku menatap kosong ke depan.

“Dia…”

Bisikku pelan.

“Siapa?”

Tanganku mulai dingin.

Karena untuk pertama kalinya—

aku sadar sesuatu yang mengerikan.

Aku tidak cuma melihat data.

Aku mulai melihat ingatan seseorang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!