Di bawah langit Jakarta yang lembap dan aroma melati yang pekat, Nikolai Brine tidak pernah menyangka akan menemukan kelemahannya. Sang predator berdarah Dubai-Rusia ini datang ke Indonesia untuk menghancurkan musuh, namun ia justru terpaku pada Clara Marine.
Pertemuan tak terduga itu memicu obsesi liar yang membawa Clara dari hangatnya tanah tropis menuju dinginnya benteng baja di Moskow. Nikolai tidak hanya menculik seorang wanita; ia menculik takdirnya sendiri. Di antara dinding es Rusia, sang mafia yang kejam harus belajar bahwa satu-satunya cara memiliki Clara adalah dengan bertekuk lutut pada kelembutannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Benteng untuk Sang pewaris
Bagi Nikolai Brine, kehamilan Clara bukan sekadar proses biologis; itu adalah proyek pertahanan nasional. Obsesinya yang dulu hanya terpusat pada sang istri, kini bercabang dan menguat ke arah nyawa kecil yang sedang tumbuh di dalam rahim Clara. Jika dulu Nikolai adalah seorang penjaga, kini ia telah menjelma menjadi arsitek dari sebuah benteng hidup.
Bunker di Kamar Bayi
Nikolai mengubah sayap barat mansion menjadi area steril yang lebih aman daripada bank sentral Rusia. Ia tidak hanya memesan boks bayi dari kayu cendana terbaik, tetapi ia secara pribadi mengawasi pemasangan kaca antipeluru di setiap jendela kamar calon anaknya.
"Nikolai, ini kamar bayi, bukan ruang situasi perang," protes Clara saat melihat Nikolai sedang menguji kekuatan pintu baja yang disamarkan dengan lapisan kayu ek yang indah.
Nikolai berbalik, memegang detektor radiasi di tangannya dengan wajah yang sangat serius. "Anakku tidak boleh memiliki satu pun titik lemah di sekitarnya, Clara. Dunia luar penuh dengan bakteri, suara bising, dan orang-orang yang ingin membalas dendam padaku. Di sini, dia akan aman."
Nikolai bahkan menyewa tiga dokter spesialis kandungan dan dua perawat neonatus untuk tinggal di mansion secara permanen. Ia tidak ingin ada keterlambatan satu detik pun jika Clara merasa mulas sedikit saja.
Ayah Siaga dengan "Buku Panduan"
Seorang mafia yang biasanya membaca laporan intelijen, kini terlihat duduk di balkon saat fajar, dengan kacamata baca bertengger di hidungnya, mempelajari buku tentang parenting dan nutrisi ibu hamil. Nikolai menjadi sangat cerewet soal apa yang dikonsumsi Clara.
Setiap pagi, Nikolai akan berlutut di depan Clara, menempelkan telinganya ke perut istrinya meskipun ia tahu janin itu masih terlalu kecil untuk mengeluarkan suara.
"Dengar, kecil," bisik Nikolai dengan suara parau yang biasanya digunakan untuk memberi perintah eksekusi. "Ayahmu sudah menyiapkan segalanya. Kau akan menjadi penguasa, dan tidak akan ada satu pun helai rambutmu yang akan tersentuh oleh kotoran dunia ini."
Clara mengusap rambut Nikolai, merasa tersentuh sekaligus geli melihat sisi "bodoh" suaminya. "Dia masih sangat kecil, Nikolai. Dia hanya butuh ibunya tenang, bukan pasukan khusus di depan pintu kamar."
Obsesi yang Menjaga Jarak
Nikolai menjadi sangat selektif tentang siapa yang boleh berada di ruangan yang sama dengan istrinya. Bahkan Sebastian Reef, orang kepercayaannya selama belasan tahun, kini harus melewati pemeriksaan suhu tubuh dan sanitasi sebelum boleh memberikan laporan di hadapan Clara.
"Tuan, ini laporan mengenai—"
"Berhenti di sana, Sebastian," potong Nikolai tajam sambil menunjuk garis imajiner di lantai. "Kau baru saja kembali dari pelabuhan. Ada aroma bahan bakar dan polusi di pakaianmu. Itu tidak baik untuk paru-paru istri dan anakku. Kirim laporannya lewat tablet saja."
Sebastian hanya bisa mengangguk pasrah. Ia tahu, Nikolai sang "Iblis Dubai" kini telah sepenuhnya takluk di bawah jemari kecil calon anaknya.
Hadiah dari Belanda yang Tercegat
Suatu siang, sebuah kiriman tiba di gerbang mansion. Sebuah paket besar dari Silas Marine berisi mainan kayu tradisional Belanda dan sebuah surat ucapan selamat. Tim keamanan Nikolai segera membawa paket itu ke ruang dekontaminasi.
"Hancurkan," perintah Nikolai dingin saat melihat nama pengirimnya.
"Tapi Nikolai, itu dari kakakku. Dia hanya ingin mengirimkan hadiah untuk keponakannya," Clara mencoba membujuk.
Nikolai berdiri di depan Clara, memegang pundaknya dengan sangat posesif. "Hadiah dari Marine selalu membawa racun, entah itu nyata atau kiasan. Anak kita tidak butuh apa pun dari mereka. Aku akan membelikan seluruh pabrik mainan di Jerman atau Belanda jika kau mau, tapi jangan biarkan masa lalu menyentuh masa depan kita."
Malam itu, Nikolai tidak bisa tidur. Ia terus berjaga di samping Clara, tangannya mengelus perut istrinya dengan perlindungan yang menyesakkan namun penuh cinta. Ia sadar, dengan adanya anak ini, ia memiliki segalanya untuk diperjuangkan, dan segalanya untuk dihancurkan jika ada yang berani mengusik kedamaian mereka.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...