NovelToon NovelToon
Pucuk Indah Harapan

Pucuk Indah Harapan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Karir
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Reyanza Rayyan Fahlevy

Cinta tidak selalu datang dengan gemuruh.
Kadang ia tumbuh perlahan—seperti pucuk kecil yang bertahan di antara badai.
Arga adalah pria yang belajar mencintai melalui tanggung jawab. Ia percaya pernikahan bukan tentang romantika yang riuh, melainkan komitmen yang dijaga diam-diam, hari demi hari. Sementara Nara adalah perempuan yang membawa harapan di balik luka masa lalu—ia ingin dicintai sepenuhnya, tanpa ragu dan tanpa setengah hati.
Pertemuan mereka sederhana, namun keputusan untuk menikah mengubah segalanya. Di balik janji suci, ada perbedaan cara berpikir, ketakutan yang tak terucap, dan realitas hidup yang tak selalu sejalan dengan harapan. Mereka belajar bahwa cinta setelah pernikahan bukan hanya tentang saling memiliki, tetapi tentang saling memahami—bahkan ketika kecewa, bahkan ketika lelah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyanza Rayyan Fahlevy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kamu Mau Apa, Nara?

Suasana romantis sate padang tadi langsung nguap begitu mobil Arga berhenti di depan teras. Di sana, sudah terparkir sedan hitam metalik yang plat nomornya dihafal mati sama Arga. Sosok pria paruh baya dengan setelan safari abu-abu berdiri kaku sambil menyilangkan tangan. Pak Surya, ayah Arga, menatap mereka dengan tatapan yang bisa bikin air mendidih jadi es seketika.

"Turun," bisik Arga pendek. Rahangnya mengeras lagi. Mode robot pelindungnya aktif otomatis.

Nara menarik napas panjang, merapikan gaunnya yang sedikit kusut. Begitu mereka berdiri di depan Pak Surya, udara rasanya jadi berat banget.

"Bagus ya, jam segini baru pulang. HP nggak aktif, asisten kamu bilang kamu ada rapat 'perut'. Sejak kapan perusahaan kita jadi warung nasi, Arga?" suara Pak Surya berat, penuh intimidasi.

"Ada apa, Pa? Malam-malam ke sini tanpa kabar?" balas Arga, suaranya tenang tapi dingin.

Pak Surya nggak jawab Arga. Dia malah mengalihkan pandangan tajamnya ke arah Nara. Tatapan yang bikin Nara merasa kayak butiran debu di karpet mahal.

"Nara, masuk ke dalam. Saya mau bicara sama anak saya," perintah Pak Surya.

Nara sempat ragu, dia melirik Arga. Tapi Arga mengangguk pelan, seolah bilang 'nggak apa-apa, gue urus'. Nara akhirnya masuk, tapi dia nggak bener-bener pergi. Dia berdiri di balik tirai tipis dekat jendela ruang tamu, kupingnya dipasang lebar-lebar.

Di luar, perdebatan mulai memanas.

"Kamu pikir Papa nggak tahu soal audit yang kamu lakuin ke keluarga Pratama? Itu rekan bisnis lama kita, Arga! Kamu mau hancurin relasi cuma gara-gara... wanita ini?"

"Nara punya nama, Pa. Dan dia istri saya. Rio sudah keterlaluan, dan itu konsekuensi yang harus dia terima," sahut Arga lantang.

"Istri? Kamu pikir Papa nggak tahu soal kontrak konyol itu? Kamu cuma mau lari dari perjodohan yang Papa atur! Sekarang Papa tanya, kalau permainan ini selesai, kamu mau bawa perusahaan ini ke mana?"

Nara tersentak. Jadi Pak Surya sudah tahu soal kontrak itu? Jantungnya serasa mau copot. Tiba-tiba pintu depan terbuka lebar. Pak Surya masuk dengan langkah besar, langsung menuju ke arah Nara yang masih mematung di dekat jendela.

Pak Surya berhenti tepat di depan Nara. Arga menyusul di belakang, wajahnya panik.

"Sekarang saya tanya langsung sama kamu," Pak Surya menatap Nara dalam-dalam, bukan dengan kemarahan lagi, tapi dengan tatapan menyelidik yang lebih ngeri. "Kamu mau apa, Nara? Uang? Pengakuan? Atau kamu beneran mau hancurin karier anak saya dengan skandal pernikahan palsu ini?"

Nara terdiam. Tenggorokannya mendadak kering kerontang. Dia melirik Arga yang berdiri di belakang ayahnya. Arga menggeleng pelan, wajahnya penuh kecemasan.

"Saya tanya sekali lagi, Nara. Apa tujuan kamu di sini? Jangan bilang ini soal cinta, karena saya tahu persis Arga nggak punya waktu buat hal nggak logis kayak gitu."

Nara menarik napas, mencoba menenangkan gemuruh di dadanya. Dia teringat momen di warung sate tadi, momen dahi yang dikecup, dan rasa aman yang Arga kasih.

"Saya nggak butuh uang Bapak, dan saya nggak mau hancurin Arga," jawab Nara, suaranya pelan tapi tegas. "Tujuan saya di sini awalnya memang kontrak. Tapi kalau Bapak tanya saya mau apa sekarang..."

Nara menjeda kalimatnya, matanya menatap lurus ke mata Pak Surya yang dingin.

"Saya cuma mau Arga ngerasa punya rumah yang bener-bener rumah. Bukan sekadar kantor kedua tempat dia dituntut jadi sempurna terus. Saya mau dia bisa makan sate di pinggir jalan tanpa takut dihakimi ayahnya sendiri."

Hening. Arga terpaku denger omongan Nara. Pak Surya pun sedikit tertegun, seolah nggak menyangka bakal dapet jawaban seberani itu dari wanita yang dia anggap 'pajangan'.

"Kamu pikir kata-kata manis bisa ngerubah segalanya?" Pak Surya mendengus, meski sorot matanya sedikit goyah.

"Nggak bisa, Pa. Tapi kejujuran bisa," potong Arga. Dia maju, berdiri di samping Nara, lalu menggenggam tangan Nara di depan ayahnya sendiri. "Papa boleh nggak suka sama cara saya mulai pernikahan ini. Tapi Papa nggak punya hak buat nanya Nara mau apa. Karena yang saya tahu, saya yang butuh dia di sini. Bukan sebaliknya."

Pak Surya menatap tangan mereka yang bertautan, lalu menatap wajah anaknya yang selama ini selalu patuh tapi sekarang berani melawan demi seorang wanita "berantakan". Tanpa sepatah kata lagi, Pak Surya berbalik dan berjalan keluar dari rumah, meninggalkan suasana yang masih bergetar hebat.

Nara lemas, dia hampir terduduk kalau Arga nggak buru-buru menahan bahunya.

"Gila... jantung gue mau copot, Ga," bisik Nara, keringat dingin keluar di pelipisnya.

Arga nggak jawab. Dia malah narik Nara ke dalam pelukannya, erat banget. "Makasih, Nara. Makasih udah tahu apa yang lo mau... dan makasih udah milih buat tetep di sini."

Di ruang tamu yang sunyi itu, Nara sadar kalau pertanyaan "Kamu mau apa?" sudah terjawab. Dia nggak mau harta atau status. Dia cuma mau tetap di pelukan ini, tempat di mana dia merasa benar-benar hidup.

---

Nara masih bisa ngerasain sisa-sisa getaran di tangannya. Pelukan Arga kerasa makin kencang, seolah-olah kalau dia ngelepasin sedikit aja, Nara bakal ilang ditelan kegelapan teras rumah mereka. Wangi parfum Arga yang biasanya bikin Nara ngerasa formal, sekarang malah jadi satu-satunya hal yang bikin dia ngerasa napasnya balik normal.

"Lo denger kan tadi? Bokap lo... dia tahu soal kontrak itu, Ga," bisik Nara di dada Arga. "Habis ini gimana? Dia pasti nggak bakal diem aja."

Arga ngelepasin pelukannya pelan, tapi tangannya masih nangkring di bahu Nara. Dia natap mata Nara dalem banget, tipe tatapan yang bikin orang tahu kalau dia nggak main-main.

"Biarin dia tahu. Malah bagus," sahut Arga. "Gue capek main petak umpet sama ekspektasi dia. Selama ini gue jadi robot buat menuhin ambisi dia, tapi malem ini gue sadar satu hal."

"Apa?"

"Gue lebih suka dicoret dari warisan daripada kehilangan tumpahan cat di hidup gue," Arga senyum miring, tapi kali ini senyumnya agak getir. "Lo tadi berani banget, Nara. Gue nggak nyangka lo bakal bilang soal 'rumah' di depan Papa. Dia itu paling anti denger kata-kata sentimentil kayak gitu."

Nara narik napas panjang, nyoba buat berdiri tegak lagi. "Ya abisnya gue kesel, Ga! Dia ngelihat lo kayak mesin pencetak duit doang. Padahal lo tuh manusia yang butuh makan sate padang juga, butuh ketawa juga. Gue cuma ngomong apa yang ada di otak gue."

Arga ngeraih tangan Nara, terus mereka jalan pelan ke arah sofa. Rumah yang segede itu mendadak kerasa sunyi banget setelah badai barusan lewat.

"Terus sekarang, lo beneran mau apa, Nara?" tanya Arga lagi. Kali ini nadanya beda. Bukan intimidasi kayak Pak Surya, tapi lebih ke pertanyaan tulus yang minta kepastian. "Setelah Papa tahu semuanya, situasinya nggak bakal gampang. Kita nggak lagi cuma akting buat dapet restu, tapi kita bakal 'perang' sama sistem yang udah Papa bangun puluhan tahun."

Nara diem sebentar. Dia ngelihatin cincin di jarinya yang berkilau kena lampu ruang tamu. Cincin yang awalnya cuma properti sandiwara, sekarang kerasa berat tapi manis.

"Gue mau lo tetep jadi Arga yang barusan, Ga," jawab Nara pelan. "Arga yang berani narik tangan gue di depan bokapnya. Gue nggak peduli soal skandal atau apa pun itu. Gue cuma mau... jangan lepasin tangan gue, seberat apa pun nantinya."

Arga nggak jawab pakai kata-kata. Dia malah narik kepala Nara buat nyender di bahunya. Mereka duduk diem di sofa itu buat waktu yang lama, cuma dengerin suara jam dinding yang berdetak.

"Gue janji," gumam Arga akhirnya. "Besok, kita nggak ke kantor."

"Hah? Terus kerjaan gimana? Audit Rio gimana?" Nara langsung tegak lagi, mode paniknya balik.

"Biar Bayu yang urus. Besok kita butuh 'rehab' mental. Gue mau ajak lo ke satu tempat yang nggak ada urusannya sama bisnis, kontrak, atau Papa," Arga berdiri, terus ngebantu Nara buat berdiri juga. "Sekarang tidur. Lo butuh tenaga buat dengerin gue 'ngaco' besok pagi."

Nara ketawa kecil. Ketegangan tadi perlahan mencair, diganti sama rasa penasaran yang aneh. Pas mereka jalan ke arah kamar masing-masing, Nara sempet berhenti di depan pintunya.

"Ga!"

Arga nengok. "Apa?"

"Makasih udah pilih buat nggak jadi robot malem ini."

Arga cuma ngangguk, terus masuk ke kamarnya dengan senyum yang nggak luntur-luntur. Malem itu, pertanyaan "kamu mau apa?" nggak lagi jadi beban. Karena ternyata, yang mereka mau cuma satu: kebebasan buat saling memiliki tanpa syarat di atas kertas.

---

Nara menutup pintu kamarnya pelan, tapi jantungnya masih aja balapan. Dia nyandar di balik pintu, napasnya masih agak buru-buru. Kata-kata Arga tadi—soal lebih milih kehilangan warisan daripada kehilangan "tumpahan cat"—terus muter di otaknya kayak kaset rusak.

"Gila, Arga... lo beneran udah konslet ya," bisik Nara ke diri sendiri sambil senyum-senyum nggak jelas.

Dia jalan ke arah cermin, ngelihat mukanya yang masih agak sembap gara-gara tegang hadapin Pak Surya tadi. Tapi di balik itu, ada binar yang beda. Bukan lagi Nara yang ragu soal kontrak, tapi Nara yang ngerasa punya "jangkar".

Sementara itu, di kamar sebelah, Arga nggak langsung tidur. Dia berdiri di balkon, natap taman belakang yang gelap. Dia ngeraih HP-nya, terus ngetik pesan singkat buat Bayu.

Arga: Bay, besok kosongin jadwal gue sampai sore. Jangan ada telepon soal kantor, kecuali gedung kita rubuh. Audit Rio tetep jalan, jangan kasih napas. Gue mau 'ilang' bentar sama Nara.

Nggak butuh waktu lama, balesan masuk.

Bayu: Siap Pak! Laksanakan! Akhirnya ya Pak, robotnya butuh dicas pakai cinta. Selamat berlibur, Bos!

Arga cuma dengus pelan baca balesan Bayu yang sok asik itu, tapi dia nggak marah. Dia malah ngerasa beban di pundaknya yang selama ini berat banget, mendadak ringan. Pertanyaan papanya tadi—"Kamu mau apa, Nara?"—sebenernya juga tamparan buat Arga sendiri. Dia baru sadar kalau selama ini dia nggak tahu dia mau apa, sampai Nara dateng dan ngacak-ngacak hidupnya yang terlalu rapi itu.

Besok pagi bakal jadi babak baru. Bukan soal angka, bukan soal saham, tapi soal gimana dia bisa ngejaga senyum wanita yang baru aja bilang mau jadi "rumah" buat dia.

Arga masuk kembali ke kamarnya, ngelepas jam tangan mahalnya dan naruhnya di meja. Dia ngerasa malem ini tidurnya bakal jauh lebih nyenyak, meski besok mungkin papanya bakal kirim pengacara atau blokir semua aksesnya. Dia nggak peduli. Selama ada Nara yang siap numpahin cat di hidupnya, Arga ngerasa dia udah punya segalanya.

Suasana rumah itu makin sunyi, tapi suasananya nggak lagi mencekam kayak pas Pak Surya ada di sana. Ada kehangatan baru yang nyelip di antara celah pintu kamar mereka berdua. Sebuah janji yang nggak tertulis, tapi jauh lebih kuat daripada kontrak seribu halaman yang pernah mereka tanda tanganin.

1
Rayyan Fahlevy
semangat kak
Rayyan Fahlevy
Lanjut kak🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!