Bayangan pernikahan yang bahagia agaknya tidak berlaku untuk Nadia Witama. Gadis seperempat abad itu justru terpaksa menikah dengan pria kasar dan arogan seperti Arya Dirgantara untuk melunasi hutang ayahnya. Bisakah Nadia bertahan dengan sikap Arya? Atau pada akhirnya dia akan menyerah ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25
Sayang?
Kata itu bergema di kepala Arya jauh lebih keras daripada suara di telepon tadi. Hanya satu kata, namun dampaknya seperti pukulan telak yang menghantam dadanya tanpa aba-aba. Arya masih duduk di tepi ranjang kecil Nadia, ponsel gadis itu kini tergeletak di atas meja, layarnya sudah gelap. Namun bayangan nama yang muncul di sana Love dan suara seorang pria yang memanggil istrinya dengan begitu akrab, terus terulang di benaknya.
Tangannya masih menggenggam ponsel Nadia. Layar telah gelap, panggilan terputus, namun rasa panas di dadanya justru semakin membara. Arya menatap benda tipis itu dengan sorot mata gelap, seolah-olah ponsel itu adalah sumber dari segala kegelisahannya malam ini.
Siapa pria itu?
Kenapa memanggil Nadia dengan sebutan yang bahkan terasa lebih intim daripada panggilan yang pernah Arya ucapkan?
Sejak kapan?
Seberapa dekat mereka?
Apakah sebelum pernikahan ini?
Atau masih berlanjut sampai sekarang?
Pertanyaan-pertanyaan itu berloncatan, saling bertabrakan, menimbulkan prasangka-prasangka yang semakin gelap. Untuk pertama kalinya, Arya menyadari satu hal yang mengusik harga dirinya ia sama sekali tidak tahu apa pun tentang kehidupan Nadia sebelum dirinya datang dan memaksakan peran sebagai suami kontrak. Ia tidak tahu siapa teman-temannya, siapa orang yang ia sayangi, siapa yang selama ini menjadi sandaran gadis itu ketika hidupnya terasa terlalu berat.
Dan ketidaktahuan itu… membuat Arya merasa tersingkir.
Dan kini, fakta bahwa ada seseorang yang berani memanggil Nadia “sayang” membuat sesuatu dalam dirinya terasa terusik.
Bukan sekadar marah.
Bukan sekadar cemburu.
Melainkan perasaan asing yang tidak ia kenal, namun sangat tidak ia sukai.
Pintu kamar kos terbuka perlahan. Nadia muncul dengan membawa kantong kecil dari minimarket, wajahnya terlihat sedikit lelah namun tenang. Ia menutup pintu dengan hati-hati, seolah takut mengganggu.
“Maaf membuat Anda menunggu,” ucapnya pelan.
Tidak ada jawaban.
Arya duduk di ranjang kecil itu dengan punggung sedikit bersandar ke dinding. Pandangannya lurus ke depan, kosong namun sarat tekanan, seperti seseorang yang tengah menahan badai di dalam dirinya. Wajahnya dingin, terlalu dingin.
Nadia mengerutkan kening. Ada yang berbeda. Atmosfer di ruangan itu terasa lebih berat dibandingkan saat ia pergi tadi. Namun ia tidak bertanya. Ia sudah terlalu lelah untuk menebak-nebak suasana hati Arya.
Tanpa memedulikan ekspresi laki-laki itu, Nadia langsung menuju dapur kecil. Ia meletakkan kantong belanja, mengeluarkan beberapa bahan sederhana, lalu mulai menyiapkan makanan. Gerakannya cekatan, seolah-olah memasak adalah satu-satunya hal yang membuat pikirannya sedikit tenang.
Sambil menunggu nasi matang, Nadia mengeluarkan satu kotak salad dari kantong minimarket. Ia membawanya ke meja dan meletakkannya di hadapan Arya.
“Saya beli ini,” katanya singkat. “Saya suka. Mungkin Anda juga.”
Arya tidak menggubris.
Sorot matanya tetap gelap, tertuju entah ke mana. Wajahnya bahkan terlihat lebih menyeramkan dibandingkan sebelumnya. Nadia menahan diri untuk tidak mendesah kesal. Ia sudah cukup sering menghadapi sikap seperti ini diam yang menekan, sunyi yang mengintimidasi.
Ia kembali ke dapur, melanjutkan masakannya. Di sela-sela kesibukan itu, ia melirik sekilas ke arah meja dan melihat teh hangat yang tadi ia buat masih utuh, tidak tersentuh.
Pertanyaan Arya meluncur tiba-tiba, dingin dan tajam.
“Berapa yang kamu inginkan?”
Nadia terhenti. Tangannya yang sedang memotong daun bawang membeku di udara.
“Apa?” tanyanya pelan.
Arya menoleh. Tatapannya kini langsung mengarah padanya, menusuk. “Jadi wanitaku,” katanya datar. “Sebutkan harga yang kamu inginkan.”
Nadia meneguk ludah dengan susah payah. Dadanya terasa sesak. Kalimat itu menghantam harga dirinya dengan keras, namun ia memaksa dirinya untuk tetap tenang. Ia meletakkan pisau, menghapus tangannya dengan lap kecil, lalu berbalik menghadap Arya.
“Anda tidak perlu membayar saya,” jawab Nadia, suaranya terkendali meski sedikit bergetar. “Jika beberapa bulan kemudian Anda membebaskan saya, itu sudah cukup.”
Arya menyipitkan mata.
Nadia melanjutkan, kata-katanya mengalir seperti bendungan yang akhirnya jebol. “Uang yang dihilangkan ayah saya memang bukan jumlah kecil. Saya sadar itu. Tapi dengan kemurahan hati Anda, saya berharap suatu hari Anda bisa membebaskan saya. Membiarkanku hidup bebas. Mengejar hidup yang sudah lama saya rencanakan.”
Ia tidak menatap Arya saat berkata demikian. Matanya tertuju pada panci di atas kompor, seolah-olah dengan begitu ia bisa menjaga hatinya tetap utuh.
Nadia kembali berkutat di dapur, namun suaranya masih terdengar jelas. “Mari kita buat kesepakatan. Saya bisa menjadi wanita anda dalam jangka waktu tertentu, tapi saya ingin kebebasan.”
Arya terdiam.
“Saua ingin tetap bekerja di minimarket,” lanjut Nadia. “Tidak ada jaminan anda akan terus memelihara saya sepanjang waktu, mungkin saja nanti anda menemukan wanita lain yang tepat untuk anda. Bukan hwsua miskin dari putri penjahat seperti saya, untuk itu saya ingin tetap bekerja. Setidaknya saya tidak ingin hidup saya berhenti hanya karena pernikahan ini.”
Setiap kata Nadia jatuh dengan tenang, tanpa emosi berlebihan, tanpa tangisan, tanpa drama. Justru ketenangan itulah yang membuat Arya terdiam. Ia tidak menyela. Tidak membentak. Tidak memotong.
Untuk pertama kalinya, ia mendengarkan.
Nadia menghela napas kecil. “ Saya tahu posisi saya. Saya tahu saya sedang bernegosiasi dengan orang yang jauh lebih berkuasa dari saya. Tapi bukankah kita sama-sama manusia? Saya bisa menuruti kemauan anda asalkan anda menjamin kebebasan saya.”
Ia menoleh, menatap Arya dengan keberanian yang ia kumpulkan dari sisa-sisa harga dirinya. “Saya minta maaf jika sikap saya tadi membuat Anda marah.”
Kata maaf itu tulus, tidak dibuat-buat.
Ia kembali ke dapur, lalu bertanya dengan nada yang jauh lebih ringan, seolah-olah percakapan berat barusan tidak pernah terjadi. “Anda suka makanan seperti apa? Manis atau asin?”
Arya mengerutkan kening. “Tidak keduanya.”
Nadia mengangguk singkat, lalu kembali dengan seporsi nasi dan sup bening yang masih mengepul hangat. “Saya buat tanpa penyedap,” katanya. “Lebih ringan untuk perut.”
Arya menatap makanan itu beberapa detik. “Kamu sering melakukannya?”
Nadia terdiam, bingung dengan maksud pertanyaan itu. “Melakukan apa?”
Arya tidak menjawab. Ia hanya menatapnya, seolah sedang menilai sesuatu yang lebih dalam dari sekadar makanan.
“Apa permintaanmu sebenarnya?” tanya Arya akhirnya.
Nadia menghela napas, lalu menjawab jujur. “Saya ingin pekerjaan ini tidak mengganggu pekerjaanku.”
Kening Arya berkerut. “Pekerjaan?”
Nadia mengangguk. “Menjadi istri kontrak Anda adalah pekerjaan bagi saya. Dengan begitu, saya merasa tidak sepenuhnya dirugikan.”
Keheningan menyelimuti ruangan itu. Hanya suara hujan di luar dan detak jam dinding kecil yang menemani.
Arya menatap Nadia lama. Wajahnya tidak lagi sepenuhnya keras, namun juga belum sepenuhnya lunak. Ada sesuatu yang bergerak di balik tatapan itu pertimbangan, konflik, mungkin juga ketertarikan yang tidak ia sadari.
"Kalau begitu…” suara Arya rendah, tegas, dan sarat makna, “lakukan pekerjaan ini dengan tulus.”
Ia mencondongkan tubuh sedikit ke depan, sorot matanya tajam namun terkendali.
“Dan layani aku.”
Kata-kata itu menggantung di udara, berat dan penuh konsekuensi menandai bahwa permainan mereka belum berakhir, dan justru baru saja memasuki babak yang jauh lebih rumit.