NovelToon NovelToon
TUMBAL DI TANAH PENGABDIAN

TUMBAL DI TANAH PENGABDIAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horror Thriller-Horror / Tumbal
Popularitas:178
Nilai: 5
Nama Author: S. N. Aida

Sekelompok mahasiswa mengikuti KKN di Desa Wanasari, desa terpencil yang tak tercatat di peta digital. Siang hari tampak normal; malam hari dipenuhi bisikan, mimpi cabul yang terasa nyata, dan aturan ganjil yang justru mengundang pelanggaran.

Nara Ayudia, ketua KKN yang rasional, berusaha menjaga jarak emosional. Namun satu per satu anggota berubah. Raka digoda sosok perempuan dari sumur lewat mimpi; Lala menjadi sensual dan agresif saat malam tanpa ingatan; Siska disiksa lewat godaan yang bertabrakan dengan imannya; Dion menemukan jurnalnya terisi catatan ritual yang tak pernah ia tulis; Bima mengalami teror fisik paling awal.

Warga desa selalu ramah—dan selalu setengah jujur. Larangan dilanggar. Hubungan menjadi intim, obsesif, dan merusak. Kematian pertama membuka tabir: desa hidup dari tumbal.

Menjelang malam ke-37, terungkap bahwa tumbal terakhir haruslah pemimpin—yang paling kuat menahan diri, namun menyimpan hasrat terdalam. Pilihan desa jatuh pada Nara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. N. Aida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25 — TUBUH SEBAGAI WADAH

Cahaya putih susu yang menyinari ruang tengah Joglo belum juga meredup. Cahaya itu tidak memiliki sumber yang jelas; ia memancar dari partikel udara itu sendiri, meniadakan bayangan, menelanjangi setiap sudut gelap, dan memaksa mata untuk terus terbuka karena kelopak mata pun tak mampu memblokir intensitasnya.

​Di bawah sorot "lampu bedah" gaib ini, kondisi Lala terlihat semakin mengerikan.

​Gadis yang sebelumnya tampil dominan sebagai Nyai—sosok yang menari di atas bara api dan mengejek kematian Raka—kini berdiri terhuyung di dekat tiang kayu. Pesonanya luntur. Wajahnya yang cantik dan glowing mulai menunjukkan tanda-tanda kerusakan struktural.

​"Gerah..." desis Lala.

​Tangannya meremas dada. Bukan dengan gerakan menggoda, melainkan mencengkeram kain dasternya dengan kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Napasnya tersengal, pendek dan cepat, seperti orang yang paru-parunya menyempit mendadak.

​"Sempit..." rintihnya lagi. "Bajunya sempit banget."

​Nara, yang masih terguncang setelah melihat Siska "dimasuki" bayangannya sendiri, menoleh ke arah Lala.

​"La?" panggil Nara hati-hati. "Lo kenapa?"

​Lala tidak menjawab. Ia mulai menarik-narik kerah dasternya. Krek. Kain tipis itu robek sedikit. Tapi Lala tidak berhenti di situ. Kuku-kukunya yang panjang—yang ia banggakan sebagai senjata barunya—kini menancap ke kulit lehernya sendiri.

​Sret.

​Goresan merah muncul di leher jenjang Lala. Darah menetes.

​Tapi darah itu tidak jatuh ke lantai. Di bawah cahaya tanpa bayangan ini, darah Lala terlihat... menguap. Sebelum menyentuh ubin, tetesan darah itu berubah menjadi asap hitam tipis yang langsung hilang di udara.

​"Panas!" jerit Lala tiba-tiba.

​Ia mulai menggaruk.

​Bukan garukan gatal biasa. Lala menggaruk lengan, leher, dan wajahnya dengan brutal. Ia seperti ingin mengelupas kulitnya sendiri. Gerakannya panik, matanya melotot liar ke kiri dan ke kanan, seolah ia sedang mencari jalan keluar dari tubuhnya sendiri.

​"Dion, liat Lala!" seru Nara.

​Dion, yang sedang berjongkok mengamati Siska yang katatonik, menoleh. Matanya membelalak di balik kacamata retaknya.

​"Dia... dia overload," bisik Dion.

​"Overload apa?!"

​"Wadahnya kekecilan," Dion berdiri, mundur menjauh. "Energi yang masuk ke badan Lala terlalu gede, Nar. Jiwa Nyai atau Ibu Ratu itu... itu entitas purba. Energinya ribuan tahun. Badan manusia biasa nggak didesain buat nampung tegangan setinggi itu."

​Lala menjerit lagi. Kali ini suaranya pecah. Terdengar dua suara yang bertabrakan di tenggorokannya. Suara cempreng Lala yang asli, beradu dengan suara berat wanita tua yang marah.

​"DIAM! JANGAN MERONTA!" bentak suara wanita tua itu dari mulut Lala.

​"Sakit! Sakit, Nek! Tulangku mau patah!" balas suara Lala yang asli, menangis.

​Tubuh Lala mulai kejang. Sendi-sendinya berbunyi.

​KREK.

​Bahu kiri Lala turun drastis. Terlepas dari engselnya.

​KLAK.

​Siku kanannya memutar ke arah yang salah.

​Lala—sang manusia—sedang disiksa dari dalam. Tulang-tulangnya dipaksa menyesuaikan diri dengan "postur" penghuni barunya yang mungkin lebih besar atau tidak berbentuk manusia.

​"Tolongin dia, Nar!" teriak Dion, tapi kakinya sendiri terpaku ketakutan.

​Nara tidak bisa diam saja. Meski Lala telah berkhianat, melihat teman sendiri tubuhnya dipatah-patahkan oleh setan adalah horor yang tak bisa diterima akal sehat.

​Nara berlari mendekat. "Lala! Lawan, La! Usir dia keluar!"

​Nara mencoba memegang tangan Lala yang sedang mencakar pipinya sendiri hingga robek.

​Panas.

​Kulit Lala panasnya bukan main. Rasanya seperti memegang panci mendidih. Nara reflek menarik tangannya kembali. Telapak tangan Nara melepuh seketika.

​"Jangan sentuh..." bisik Lala (yang asli). Matanya menatap Nara, penuh air mata darah. "Nara... lari... dia mau meledak..."

​"Apa yang meledak?!"

​"Aku..." isak Lala. "Aku bocor... isinya tumpah..."

​Lala tiba-tiba membenturkan kepalanya sendiri ke tiang kayu jati.

​DUG!

​Keras sekali. Darah segar mengucur dari dahinya, mengalir menutupi mata kirinya.

​DUG!

​Lagi.

​DUG!

​"Berhenti, La!" Nara menjerit, nekat memeluk tubuh Lala dari belakang untuk menahannya, mengabaikan rasa panas yang membakar kulitnya. "Dion! Bantu pegangin!"

​Dion maju, membantu menahan kaki Lala yang menendang-nendang liar.

​Mereka bergumul di lantai. Lala meronta dengan kekuatan sepuluh orang laki-laki. Nara terlempar ke samping, bibirnya pecah terbentur siku Lala. Dion terpental menabrak meja.

​Lala berdiri lagi. Wajahnya sudah hancur penuh darah dan memar. Tapi dia tersenyum.

​Senyum itu... senyum sang Nyai.

​"Anak nakal," desis Nyai lewat mulut Lala yang bengkak. "Dikasih kehormatan malah ngelawan. Kalau wadahnya rusak, ya dijahit lagi."

​Tangan Lala bergerak mengambil pecahan gelas bekas Raka minum tadi.

​Tanpa ragu, Lala mulai mengiris lengannya sendiri.

​Sreeet...

​Daging lengan itu terbuka.

​Tapi Lala tidak menjerit kesakitan. Dia justru mendesah nikmat.

​Lalu, hal yang paling mengerikan terjadi.

​Lala memasukkan tangannya yang lain ke dalam luka robekan di lengannya itu. Jari-jarinya merogoh ke dalam daging, mencari sesuatu di antara otot dan tulang.

​"Apa yang dia lakuin..." Dion mau muntah.

​Lala menarik sesuatu dari dalam lengannya sendiri.

​Sebuah susuk.

​Jarum emas kecil, berkilau di bawah cahaya putih ruangan.

​Lala membuang jarum itu ke lantai. Ting.

​Lalu dia merogoh lagi. Kali ini di dagunya. Dia merobek kulit dagunya, menarik jarum emas lain.

​Lalu di pipi. Di payudara. Di pinggul.

​Lala mulai membedah dirinya sendiri, mengeluarkan benda-benda asing yang ditanam di tubuhnya.

​"Susuk..." gumam Nara horor. "Dia pake susuk?"

​"Bukan dia yang pasang," kata Dion, matanya liar mengamati jarum-jarum emas yang bertebaran di lantai. "Itu pasak. Itu paku. Warga desa... atau dukun itu... masang itu di badan Lala buat ngunci roh itu biar nggak lepas."

​"Terus kenapa dicabutin?"

​"Karena rohnya udah nggak butuh dikunci," jawab Dion gemetar. "Rohnya udah nyatu. Susuk itu sekarang malah ngeganggi. Bikin 'baju'-nya kekecilan."

​Lala terus melukai dirinya. Darah membanjiri daster putihnya. Ia terlihat seperti korban pembantaian yang masih berjalan.

​Setelah jarum terakhir—yang ditarik dari kelopak matanya—dibuang, Lala berhenti.

​Tubuhnya yang tadi kejang-kejang, tiba-tiba rileks. Bahunya yang lepas engsel, berbunyi KRAK keras dan kembali ke posisi semula. Luka-luka robekan di kulitnya... menutup.

​Bukan sembuh. Tapi menutup seperti tanah liat yang ditekan. Dagingnya menyatu kembali, meninggalkan bekas parut keloid yang tebal dan jelek.

​Kecantikan Lala hilang total.

​Wajahnya kini penuh bekas luka yang menonjol, kulitnya yang tadinya halus kini bertekstur kasar seperti kulit pohon. Matanya tidak lagi simetris. Mulutnya miring.

​Lala telah berubah menjadi monster Frankenstein versi kearifan lokal.

​Dia menatap Nara dan Dion.

​"Ah... lega," kata Lala. Suaranya berat, parau, dan berwibawa. Tidak ada lagi jejak Lala si mahasiswi genit. "Bajunya sudah dilonggarkan. Sekarang bisa napas."

​Lala meraba wajahnya yang rusak parah itu dengan bangga.

​"Jelek ya?" tanya Lala sambil terkekeh. "Nggak apa-apa. Kulit manusia itu cuma bungkus permen. Yang penting rasanya."

​Nara mundur sampai punggungnya menempel tembok. Ia memegang pisau dapurnya erat-erat, tapi tangannya gemetar.

​"Balikin temen gue..." bisik Nara.

​Lala memiringkan kepala. "Teman? Temanmu sudah tidur, Nara. Dia capek. Dia nyerahin kemudi sama Ibu."

​Lala melangkah mendekat. Setiap langkahnya meninggalkan jejak lendir hitam di lantai.

​"Kamu tau kenapa Lala dipilih jadi wadah pertama?" tanya sosok itu.

​Nara menggeleng kaku.

​"Karena dia kosong," jelas sosok itu. "Dia cantik, dia populer, tapi dalemnya kosong. Dia butuh pengakuan. Dia butuh dipuji. Dia butuh diperhatiin. Hati yang bolong kayak gitu... gampang banget dimasukin. Tinggal dikasih mimpi basah dikit, dikasih janji kecantikan abadi... dia langsung buka pintu lebar-lebar."

​Sosok itu berhenti satu meter di depan Nara. Bau anyir darah dan bau melati busuk menguar dari tubuhnya.

​"Beda sama kamu, Nara," lanjutnya. Jari Lala yang kotor menyentuh ujung pisau Nara, menurunkannya pelan-pelan. "Kamu penuh. Penuh amarah. Penuh ego. Penuh trauma."

​Mata hitam itu menatap tajam ke manik mata Nara.

​"Wadah yang penuh harus dikuras dulu sebelum bisa diisi."

​Nara menepis tangan Lala. "Gue nggak bakal biarin lo nguras gue."

​"Oh, prosesnya sudah mulai kok," Lala tersenyum lebar hingga jahitan luka di pipinya robek lagi. Darah menetes ke bibir. "Liat sekelilingmu. Raka mati. Bima mati. Siska gila. Dion bentar lagi patah. Kamu sendirian, Sayang. Kesepian itu... itu keran pembuangannya."

​Tiba-tiba, Siska yang tergeletak di lantai mulai bergerak.

​Siska bangun.

​Gerakannya sama kakunya dengan Lala. Tapi mata Siska... mata itu masih menangis.

​"Nara..." panggil Siska lirih.

​Lala menoleh ke Siska, tampak kesal. "Ck. Yang satu ini berisik. Belum tuntas bersih-bersihnya."

​Lala berjalan menghampiri Siska, menjambak jilbab gadis itu, memaksanya mendongak.

​"Ayo, Mbak Alim," perintah Lala kejam. "Muntahin semuanya. Jangan ada yang disisain. Tuhanmu nggak nerima barang cacat, tapi kami nerima sampah."

​Siska menatap Nara dengan tatapan memohon. Mulutnya terbuka.

​Nara mengira Siska akan berteriak minta tolong.

​Tapi tidak.

​Siska mulai tertawa.

​Tawanya pelan, lalu makin keras. Tawa yang sumbang dan menyakitkan. Dan dari mulut Siska, bukan muntahan fisik yang keluar. Tapi kata-kata.

​Kata-kata kotor. Aib. Rahasia. Dosa.

​Siska mulai meracau.

​"Gue benci sholat..." racau Siska sambil tertawa menangis. "Gue benci harus pura-pura suci... Gue iri sama Lala yang bebas... Gue sebenernya pengen Raka dari dulu... Gue seneng pas Raka nyentuh gue... Gue seneng..."

​"SISKA! SADAR!" teriak Nara.

​"Biarin!" potong Lala, menatap Siska dengan puas. "Dengerin, Nara. Dengerin betapa busuknya temen-temen suci kamu. Ini wajah asli manusia kalau nggak ada bayangan yang nutupi."

​Siska terus meracau, memuntahkan semua sisi gelap yang ia pendam seumur hidup. Setiap pengakuan dosa membuat tubuhnya semakin kurus, seolah dosa-dosa itu adalah daging yang menopang badannya selama ini.

​Dion menutup telinganya. "Gue nggak mau denger... gue nggak mau denger..."

​Nara berdiri di tengah ruang tengah yang terang benderang itu, dikelilingi oleh monster berwajah sahabatnya dan sahabat yang sedang menghancurkan dirinya sendiri.

​Lala benar. Proses pengurasan sedang terjadi.

​Bukan darah Nara yang dikuras. Tapi kepercayaannya. Kepercayaannya pada persahabatan, pada kebaikan manusia, pada harapan.

​Dan saat gelas kepercayaannya kosong nanti... Ibu Ratu akan menuangkan dirinya masuk.

​Lala menatap Nara dan mengedipkan sebelah matanya yang bengkak.

​"Siapin tisu, Bu Ketua. Giliran Siska buka kartu."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!