Jingga Ariana menjadi sosok gadis cuek dan anti terhadap makhluk yang namanya laki-laki semenjak dikhianati oleh tunangannya saat dirinya hendak memberikan kejutan ulang tahun.
Langit Putra Ramadhan anak pertama dari Sebastian Putra dan Mutia Arini menjadi sosok mahasiswa yang cuek dan dingin pada wanita, dan kemana-mana selalu ada Bintang di sampingnya.
Akankah takdir menemukan kedua insan muda itu? Kutub ketemu kutub saling tarik menarik ataukah saling tolak menolak?
Cerita ini masih satu rentetan dengan @wanita itu ibu anakku dan Tulisan Tinta Tania.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moena Elsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Bawah Tribun
Grub chat menjadi ramai dan menjadi ajang nggibah jamaah.
Apalagi ada Mega barusan gabung.
"Hai Mega, lo apa kabar? Duniaku sepi tanpa lo" ketik Firman.
"Kalau lo suka kenapa ngebiarin Mega ke Japan bro" balas yang lain.
"Jingga lo di mana? Jelangkung aja kalah sama lo. Muncul duluan, tahunya ngilang aja" teriak Mega di tulisannya.
"Jingga kebelet" balas Firman.
"Numpang lewat" balas Jingga membuat yang lain menambahkan emoji ketawa.
Seru memang jika mereka ngumpul, meski cuman dalam bahasa ketikan.
"Ngopi yuuuk" ajak Firman.
"Ngopinya di planet Mars. Baru gue setuju" tukas Mega.
"Bilang sama Dad lo Mega, suruh minjem roket. Ntar kita berdua kesana" seru Firman.
"Nggak modal lo" olok Jingga.
"Ha...ha...ha...tahu aja lo Jingga. Emang lo yang paling tahu isi hati gue" Firman terbahak.
Obrolan dalam ketikan itu berlangsung sampai malam.
"Udah ah, gue ngantuk nih" kata Mega.
"Baru juga jam tujuh malam" imbuh Jingga.
"Iya, di tempat lo jam tujuh malam. Di sini dini hari tau" jelas Mega.
"Ha...ha...sori-sori aku lupa" tak lupa Jingga menambahkan emoji orang menguap.
"Awas saja lo, kubalas besok pagi" ancam Mega.
Obrolan mulai sepi karena selisih waktu yang lumayan. Jingga pun mulai diserang rasa kantuk.
Dan ancaman Mega benar adanya. Kala Jingga bangun, sudah ada ribuan chat di grub dan semua memanggil Jingga di setiap ketikannya.
"Busyeett...sudah segini banyak chatnya? Mulai dari mana nih bacanya? Mau dilewatin tapi ntar aku ketinggalan info" gumam Jingga bermonolog. Karena kamarnya hanya berisi satu orang.
Belum juga mengetik, ponsel Jingga berdering.
"Halo Yah" sapa Jingga.
Ayah Pramono meminta beralih ke panggilan video.
"Halo Jingga, sudah makan siang belum?" tanya ayah, karena kalau di Indo mungkin sudah jam dua an siang.
"Sarapan aja belum Yah" terang Jingga.
"Jangan telat makan sayang, sampai jam segini belum sarapan" tukas ayah yang lupa jika ada perbedaan waktu antara dirinya dan sang putri.
"Ayah, di sini baru jam enam pagi. Breakfast jam delapan. Ini Jingga mau mandi dulu" ulas Jingga.
Terlihat ayah menepuk jidat, "Sori sis, ayah lupa lagi" membuat Jingga terbahak dan kangen dengan keluarganya.
"Nak, jangan sampai lupa makan ya" nasehat ayah.
"Ayah, jadi kepingin mie instan" seru Jingga.
"Diingetin makan, ingatnya malah mie instan. Mau dipaketin?" tawar ayah.
"Sampai sini terus kapan ayah?" tanya Jingga.
"Bisa bulan depan" kata ayah terbahak.
"Boleh dech yah, satu karton ya?" pinta Jingga manja.
Hampir satu jam Jingga bertelepon dengan ayah dan mama. Dan sampai saat ini Jingga masih berada di atas tempat tidur.
'Jadi mager" gumam Jingga malas untuk beranjak mandi.
Kembali ponsel berbunyi, padahal di grub chat juga ramai dengan acara menggibah.
Jingga menautkan alis saat melihat layar ponsel ada nomor tak dikenal.
Biasanya Jingga malas untuk mengangkat, tapi melihat kode negara yang masuk dan pastinya bukan dari Indo membuat Jingga membuat pengecualian.
"Hello" sapa Jingga.
"Hey, keluar lo. Ngendon aja di asrama. Gue tunggu di depan" seru sang penelpon.
"Sapa nih?" tanya Jingga menimpali.
"Sialan lo. Pake ngelupain gue lagi. Adnan nih Jingga" katanya menjelaskan.
"Sori...sori...tapi gue belum mandi nih. Mau nungguin?" tukas Jingga terkekeh.
"Hadech, baru lo cewek yang gue kenal bolot Jingga" olok Adnan.
"Lama di London tau juga lo istilah bolot" jawab Jingga terkekeh.
"Buruan! Kutunggu lima menit" suruh Adnan.
"Lima belas menit" tawar Jingga.
"Buruan Jingga" suruh Adnan lagi.
Tepat lima belas menit Jingga keluar kamar. Hanya dengan rambut pendek lengkap dengan topi, sepatu sneaker menghias kakinya. Kaos dan celana jeans untuk menutupi tubuhnya yang ramping. Ukuran ideal untuk seorang wanita.
Jingga tekan nomor Adnan yang belum sempat disimpan tadi.
"Lo di mana?" tanya Jingga yang belum melihat keberadaan mobil Adnan kemarin.
"Tunggu bentar" tukas Adnan.
"Sialan lo, sudah buat gue buru-buru" umpat Jingga.
Hampir lima menit Jingga nungguin Adnan. Barulah mobil Adnan muncul di belakang Jingga.
Adnan memandang aneh penampilan Jingga yang tidak sama layaknya cewek lain.
"Kenapa?" tanya Jingga ikut memandangi dirinya.
"Ada yang aneh kah?" imbuh Jingga.
"Ha...ha...banyak yang aneh" seru Adnan terbahak.
"Apa? Perasaan gue biasa aja" tukas Jingga.
"Boleh kusebutin?" ucap Adnan.
Jingga mengangguk, padahal teman yang baru dikenalnya ini bagi Jingga juga aneh.
"Satu, lo kenapa nggak dandan? Kedua baju lo lebih mirip cowok" jelas Adnan.
"Nggak papa, yang penting gue nyaman. Ngapain repot dengerin penilaian orang" sanggah Jingga.
"Heemmmm betul...betul..." Adnan membenarkan.
Baru kali ini dilihatnya cewek langka seperti Jingga.
Cewek biasanya akan tebar pesona, apalagi sudah tahu jika dirinya membawa mobil mewah.
"Jingga, lo dari planet mana sih? Langka banget cewek seperti lo" kata Adnan.
"Lo itu muji gue apa ngolok gue sih" tukas Jingga sebal.
"Ha...ha...sabar Non. Bully itu baik untuk hiburan hati" Adnan malah terbahak.
"Sirkuitnya di mana nih?" tanya Jingga.
"Loe tau nggak nama sirkuit terkenal di sini?" tanya balik Adnan.
Jingga menggeleng.
"Isshhh hidup lo monoton Jingga" olok Adnan kembali.
"Gue nggak hobi nonton balap. Mahal" seru Jingga.
Adnan menyebut sebuah sirkuit yang berada di luar London.
"Berapa jam jarak tempuhnya?" tanya Jingga.
"Dua jam lah kita di jalan" bilang Adnan.
"Mayan jauh juga ya" tukas Jingga.
"Tahu nggak tim yang bakal aku dukung kali ini?" sela Adnan.
Dan lagi-lagi Jingga menggeleng.
"Issshhhh nggak seru lo" imbuh Adnan.
"Emang gue nggak tahu. Terus apa harus pura-pura tahu gitu?" ujar Jingga menimpali.
Setelah selesai breakfast, mereka berdua kembali melanjutkan perjalanan.
"Kak Keenan kenapa nggak diajak bareng sih?" tanya Jingga.
"Mau duduk di mana dia?" seru Adnan.
Jingga lupa, jika mobil yang ditumpanginya adalah mobil dengan dua kursi penumpang.
"Eh iya..." Jingga tertawa menanggapi kealpaannya.
"Keenan sudah sama rombongan naik kereta cepat" berutahu Adnan.
"Kenapa kita nggak bareng aja sama mereka, seru lagi" tukas Jingga.
"Loh, aku ingin berdua sama kamu. Kok kamu malah ingin sama mereka" sungut Adnan.
"Ha...ha...makasih Kak Adnan, mau membersamai diriku" canda Jingga.
Hampir tiga jam barulah mereka sampai di arena sirkuit.
Dengan percaya diri Adnan menggandeng Jingga.
Sementara Jingga masih berusaha menolak.
"Aku takut kamu hilang. Bisa dimarahin aku sama orang tua kamu" kata Adnan beralibi.
"Yang tenang kak, aku mudah dikenalin kok" tukas Jingga bercanda.
Dan kini mereka berdua telah gabung dengan yang lain di tribun.
"Eh, sebenarnya kita dukung tim mana?" sela Jingga kepada Keenan yang sangat semangat menonton.
Mendengar pertanyaan Jingga membuat Keenan tepuk jidat.
"Adnan, kenapa tak lo beritahu Jingga. Tim mana yang akan kita dukung" seru Keenan menyalahkan Adnan.
"Ha...ha...gue lupa kalau Jingga cewek polos jika temanya balapan" ujar Adnan menimpali.
"Sialan lo" umpat Jingga.
"Kita dukung tim nya kak Langit, Jingga. Jingga ku yang cantik" terang Keenan menjelaskan.
"He...he....yang mana?" tanya Jingga masih belum jelas.
"Tuh, start nomor dua" imbuh Adnan ikutan menjelaskan.
"Baiklah" Jingga mulai duduk dengan tenang di tribun tanpa banyak bertanya.
Ini pertama kalinya Jingga ikut menonton balapan dari sirkuitnya langsung.
Di tivi aja selalu dia lewatkan. Karena tak hobi. Hanya kadang nemanin ayah Pramono nonton. Itupun Jingga kebagian ngabisin jajanan yang dibuat mama.
"Kapan mulainya? Keburu lapar ini" oceh Jingga.
Keenan, Adnan dan yang lain hanya bisa tepuk jidat nya masing-masing menghadapi cewek yang menurut mereka aneh ini.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
To be continued, happy reading