Kael Valmont adalah pewaris sekaligus pemimpin muda Shadow Crown, organisasi mafia yang mengendalikan segalanya dari balik bayangan. Dikenal kejam dan tak terkalahkan, tidak ada yang berani mengkhianatinya.
Namun suatu malam, seseorang berhasil menyusup ke dalam organisasinya. Pengkhianatan itu membuat Kael terluka parah dan menghilang tanpa jejak.
Di sebuah desa terpencil bernama Desa Sekar, Hana, seorang dokter muda, menemukan pria misterius yang terdampar di pesisir pantai dalam keadaan sekarat. Tanpa mengetahui identitasnya, Hana berjuang menyelamatkan nyawa pria tersebut.
Saat semua orang mengira ia hanyalah korban biasa, sebuah rahasia perlahan terungkap. Seseorang sedang mencarinya. Bukan untuk menolongnya, melainkan untuk memastikan ia tidak pernah bangun lagi.
Siapa sebenarnya pria misterius yang ditemukan di tepi pantai itu? Dan rahasia apa yang tersembunyi di balik lambang mahkota hitam yang terukir di tubuhnya?
Ketika masa lalu mulai mengejarnya, Desa Sekar yang damai
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Keysa Bom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 23 Tangan yang Terulur
Keheningan yang sempat menyelimuti halaman rumah Bu Ratih setelah gertakan dingin Kael akhirnya pecah. Pak Jono, yang sempat berkeringat dingin, mendadak membusungkan dada kembali.
"Hahaha! Nyawa kami, katamu?" Pak Jono tertawa.
Awalnya pelan, lalu tawanya meledak semakin keras menembus keheningan sore. Beberapa anak buahnya ikut menyeringai, mencoba menutupi rasa ngeri yang sempat hinggap. Sementara puluhan warga yang berdiri menonton di luar pagar hanya bisa saling berpandangan cemas.
"Jadi kau yang mau menyelesaikan utangnya, Pak Guru?" tanya Pak Jono dari ujung kepala sampai kaki dengan tatapan penuh ejekan.
Kael tidak menjawab. Ia hanya berdiri kokoh seperti batu karang, membiarkan rentenir itu mengumbar kesombongannya.
"Sadarkah kau berapa jumlah yang baru kusebutkan tadi?" Pak Jono kembali tertawa sinis sambil mengangkat lembar catatan utang di tangannya tinggi-tinggi. "Ini bukan seratus ribu, Anak Muda! Bukan juga satu juta!"
Kael tetap bergeming, matanya mengunci setiap gerak-gerik pria buncit itu.
"Jumlahnya bahkan lebih besar dari seluruh penghasilan guru honorer desa seperti dirimu selama bertahun-tahun!" bentak Pak Jono, tatapannya semakin meremehkan. "Kau mau membayarnya pakai apa? Pakai kapur tulis?!"
Suasana kembali sunyi senyap. Warga di luar pagar tidak ada yang berani membantah. Meski mereka sangat membenci tabiat Pak Jono, mereka tahu satu hal pasti: jumlah utang itu terlalu besar untuk ukuran warga desa biasa, terlebih bagi seorang Kael yang datang tanpa sepeser pun harta.
.
Kael masih berdiri diam dengan wajah yang teramat tenang. Namun, di balik topeng datarnya, pikiran pria itu bekerja secepat kilat.
"Kalau saja ini terjadi beberapa bulan lalu..." batin Kael, jemarinya di dalam saku celana bergerak pelan.
Satu panggilan telepon ke jaringan Shadow Crown miliknya akan menghancurkan hidup Pak Jono dalam hitungan menit. Jumlah uang sebesar itu bahkan tidak sampai satu persen dari biaya operasional harian pasukannya dulu.
Namun sekarang berbeda. Di Desa Sekar, ia hanyalah Kael pria amnesia yang terdampar di laut dan berprofesi sebagai guru biasa. Ia tidak boleh sembarangan memicu perhatian dunia bawah. Keamanan Rani dan Bu Ratih adalah prioritas utamanya sekarang.
"Nah? Mana uangnya?" tantang Pak Jono lagi.
Ia melangkah semakin dekat, mencoba mengikis wibawa Kael. "Kau bilang akan menyelesaikannya, kan? Kapan?!"
"Aku bilang, beri aku waktu satu minggu," jawab Kael, suaranya tetap rendah dan stabil tanpa riak emosi.
"Minggu depan? Bulan depan? Atau tahun depan?!" Pak Jono mendengus meremehkan.
"Betul bos! Paling-paling dia cuma mau kabur dari desa ini!" sahut si anak buah kerempeng memprovokasi.
Rani yang berdiri di samping Bu Ratih langsung meremas kain pakaian neneknya lebih erat. Wajah gadis kecil itu memias penuh kecemasan, sementara Bu Ratih semakin menundukkan kepala didera rasa bersalah yang teramat dalam karena utang yang disembunyikannya kini menyeret orang lain.
"Tidak perlu menunggu satu minggu."
Sebuah suara perempuan yang tegas tiba-tiba terdengar dari arah gerbang. Semua orang di halaman, termasuk Kael, langsung menoleh ke sumber suara.
Hana berjalan membelah kerumunan warga yang langsung memberi jalan untuknya. Wajah dokter muda itu terlihat sangat tenang, namun langkah kakinya begitu mantap dan penuh percaya diri. Ia berjalan lurus hingga berhenti tepat di samping Kael, lalu membuka tas kerjanya dengan gerakan anggun.
"Apa maksudmu, Dokter?" tanya Pak Jono, alisnya mengkerut dalam seolah tidak suka urusannya diganggu.
Hana tidak langsung menjawab pertanyaan itu. Ia merogoh selembar buku cek berlogo bank swasta internasional yang sangat eksklusif dari dalam tasnya. Dengan gerakan jemari yang tenang, ia menuliskan deretan angka di atas kertas tersebut, membubuhkan tanda tangan, lalu mencabut lembarannya dengan bunyi 'sret' yang renyah.
"Ambil ini," ucap Hana singkat.
Ia mengulurkan lembar cek tersebut tepat di depan dada Pak Jono. Pak Jono menerimanya dengan dahi berkerut bingung. Namun, begitu matanya membaca deretan angka yang tertera di sana, matanya langsung membelalak sempurna dan mulutnya sedikit menganga.
"I-ini..." Suara Pak Jono mendadak tercekat di tenggorokan, tangannya yang memegang kertas kini sedikit bergetar.
Jumlah yang tertulis di sana tidak hanya cukup untuk melunasi utang pokok Bu Ratih, melainkan melipatgandakan nominalnya hingga mampu menutup seluruh bunga sepihak yang dibuat oleh sang rentenir.
Suasana halaman langsung sunyi total. Bahkan suara deburan ombak dari kejauhan kini terdengar jauh lebih jelas di telinga warga. Pak Jono berkedip beberapa kali, mengusap matanya seolah tidak percaya dengan apa yang sedang dilihatnya.
"Ini... ini asli, kan? Kau tidak sedang menipuku, Dokter Hana?!" tanya Pak Jono, suaranya naik satu oktav karena panik sekaligus tidak percaya.
"Kalau kau tidak percaya dengan keabsahannya, silakan cek langsung ke bank cabang utama di kota pelabuhan besok pagi," jawab Hana dengan nada suara yang sangat tenang dan elegan.
Pak Jono langsung menelan ludahnya dengan susah payah. Untuk pertama kalinya sejak menapakkan kaki di halaman rumah itu, wajah sangarnya kehilangan seluruh kesombongan. Ia menatap nominal cek itu bergantian dengan wajah Hana, lalu beralih menatap cek itu lagi.
Nominal sebesar itu sama sekali bukan sesuatu yang bisa dimiliki oleh seorang dokter pegawai negeri biasa di pelosok desa. Beberapa warga di luar pagar mulai saling berbisik dengan raut wajah terkejut.
"Dokter Hana... punya uang sebanyak itu?" bisik salah seorang warga.
"Keluarganya di kota sepertinya bukan orang sembarangan," sahut warga lainnya dengan nada takjub.
Bu Ratih sendiri tampak membeku di tempatnya, menatap lembar cek di tangan Pak Jono dengan pandangan kosong.
"Dokter Hana... apa yang kau lakukan? Saya... saya tidak bisa menerima kebaikan sebesar ini," bisik Bu Ratih parau, air matanya kembali luruh membasahi pipinya yang keriput.
"Tentu saja bisa, Bu," balas Hana.
Ia membalikkan badan, menggenggam lembut tangan Bu Ratih lalu melempar senyum hangat yang menenangkan. "Anggap saja saya sedang membantu keluarga saya sendiri di desa ini."
Mendengar kalimat itu, Bu Ratih kehilangan kata-kata dan hanya bisa menangis haru. Sementara di samping mereka, Kael menoleh perlahan. Tatapan matanya yang tajam jatuh tepat pada profil samping wajah Hana.
Untuk pertama kalinya, Kael menyadari satu hal krusial: dokter desa yang ramah ini ternyata menyimpan rahasia dan latar belakang yang jauh lebih besar daripada yang terlihat selama ini.
Pak Jono berdeham canggung, buru-buru melipat cek mahal itu dan memasukkannya ke dalam saku jaketnya dengan aman. Ia tidak lagi berani bersikap kasar atau menatap rendah orang-orang di halaman tersebut.
"Ehem... kalau begitu, urusan utang piutang di antara kita... sudah lunas dan selesai hari ini," ucap Pak Jono dengan nada bicara yang jauh lebih sopan, meski terdengar dipaksakan.
Kael masih menatapnya lurus. Tatapan mata sedingin es itu membuat Pak Jono refleks mengambil satu langkah mundur lagi demi keselamatan instingnya sendiri.
"Kalau begitu... kami permisi dulu," sambung Pak Jono terburu-buru.
Ia memberikan isyarat kepada anak buahnya untuk segera berbalik. Ketiga rentenir itu melangkah pergi meninggalkan halaman rumah dengan langkah seribu, jauh lebih cepat daripada saat mereka datang mengobrak-abrik gerbang bambu tadi.
Setelah bayangan para rentenir itu sepenuhnya menghilang di belokan jalan setapak, suasana mencekam di halaman rumah perlahan-lahan mencair. Beberapa warga yang menonton mulai mengembuskan napas lega sebelum akhirnya membubarkan diri satu per satu.
"Terima kasih... terima kasih banyak, Dokter Hana... Gusti Allah yang akan membalas kebaikanmu," ucap Bu Ratih berulang kali dengan suara yang pecah.
Ia menggenggam kedua tangan Hana erat-erat, seolah tidak ingin melepaskan pelindung mereka. Hana hanya tersenyum tipis, menepuk punggung tangan wanita tua itu dengan lembut untuk menenangkannya.
Namun, di tengah momen haru itu, mata tajam Kael menangkap sesuatu yang ganjil. Senyum yang terkembang di bibir Hana memang terasa sangat hangat, tetapi ada kilat kesedihan samar dan kehampaan yang sangat dalam tersembunyi di balik matanya.
Seolah uang bernilai fantastis yang baru saja dikeluarkan dari sakunya sama sekali tidak memiliki arti apa pun dalam hidupnya yang sekarang.
Malam harinya, gerimis tipis mulai turun membasahi tanah kering Desa Sekar. Kael berdiri sendirian di beranda rumah panggung, melipat kedua tangannya di dada sambil menatap rintik hujan yang jatuh di halaman yang gelap. Pikirannya terus berputar, kembali pada kejadian mengejutkan sore tadi.
"Hana..." bisik Kael pada diri sendiri, keningnya mengkerut pelan.
Seorang dokter desa yang mendedikasikan hidupnya di tempat terpencil, namun mampu mencairkan dana ratusan juta tanpa ragu sedikit pun. Dan yang paling aneh, tidak ada sedikit pun gurat penyesalan atau beban di wajahnya saat kehilangan aset sebesar itu.
Kael membuang napas pendek melalui hidung, lalu menggelengkan kepalanya perlahan. Selama beberapa bulan ini, ia terlalu fokus untuk menyembunyikan identitas dan masa lalunya sendiri dari orang-orang desa, sampai ia melupakan satu kemungkinan mendasar.
"Ternyata, bukan cuma aku yang punya rahasia besar di tempat ini," batin Kael, pandangannya menembus kegelapan malam ke arah Poskesdes tempat Hana tinggal.
Di dalam rumah panggung yang hangat, Rani sudah tertidur pulas di atas tikar sambil memeluk erat buku gambar kesayangannya. Sementara suara Bu Ratih yang sedang mengaji sayup-sayup terdengar, mengucap syukur atas keselamatan yang mereka terima hari ini.
Namun di luar sana, angin malam berembus semakin kencang, membawa kabut tipis dan teka-teki baru yang mulai tersingkap di bawah langit Desa Sekar.
Siapakah sebenarnya Dokter Hana? Dan masa lalu apa yang sedang coba ia kubur di pulau terpencil ini?
Bersambung....