Masa remaja Andini, seorang gadis SMA yang ceria, seharusnya dihabiskan dengan mengerjakan PR, tertawa bersama teman-teman, dan menikmati masa muda yang bebas. Namun, takdir berkata lain. Sebuah perjodohan mendadak menyeretnya ke dalam ikatan pernikahan yang tidak pernah ia bayangkan, dengan pria yang berada di dunia yang sangat jauh berbeda dari dunianya.
Charles, seorang CEO muda yang dikenal dengan reputasi "es berjalan". Baginya, hidup adalah tentang keuntungan, strategi, dan kesempurnaan. Ia tidak pernah menginginkan pernikahan ini baginya, Andini hanyalah tanggung jawab yang harus ia jaga demi memenuhi wasiat sang kakek.
Di sekolah, Andini adalah siswi biasa yang berusaha menjalani hari dengan tenang. Namun di balik pintu apartemen mewah, ia adalah istri dari pria yang paling disegani sekaligus ditakuti di dunia bisnis. Pernikahan ini harus dirahasiakan rapat-rapat; satu kesalahan kecil bisa menghancurkan reputasi Charles dan masa depan sekolah Andini...?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selenium Alchemy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 27
sementara itu dikediaman Charles dan Andini
Aroma tumisan bawang putih dan lada hitam yang baru saja kuangkat dari wajan seharusnya membawa kehangatan di ruang makan malam ini. Namun, piring-piring porselen yang tertata rapi di atas meja marmer itu justru terasa seperti ornamen bisu yang mempertegas kekakuan di antara kami. Charles duduk di kepala meja, perlahan melonggarkan kancing manset kemeja putihnya yang sudah digulung hingga ke siku. Gerakannya sangat tenang, terukur, dan dingin—ciri khas yang selalu muncul setiap kali ia sedang menahan sesuatu yang bergejolak di dalam kepalanya.
Aku meletakkan mangkuk sup di tengah meja, lalu duduk di kursiku. Keheningan di antara kami malam ini terasa berbeda dengan keheningan setelah badai Vivian kemarin. Ini bukan keheningan yang melindungi, melainkan keheningan yang dipenuhi oleh ketegangan tak kasat mata yang siap meledak kapan saja.
"Kau tidak menyentuh makananmu, Andini," suara Charles memecah keheningan, rendah dan datar tanpa ekspresi. Ia sendiri bahkan belum menyendok nasi ke piringnya. Matanya yang tajam menatapku lurus-lurus, seolah sedang membaca setiap baris kecemasan yang tertulis di wajahku.
Aku menghela napas pelan, meletakkan sendok yang sejak tadi hanya kumainkan di tepi piring. "Bagaimana aku bisa makan dengan tenang, Charles, kalau kau memutus kontrak Kak Reyhan secara sepihak seperti itu? Dia ke sini dikirim oleh yayasan untuk bekerja, bukan untuk diintimidasi."
Charles menyandarkan punggungnya ke kursi, melipat kedua tangannya di atas dada. Tatapannya mendadak berubah menjadi sedingin es yang paling pekat. "Aku tidak mengintimidasinya. Aku hanya menyingkirkan gangguan dari rumahku. Dan kurasa aku sudah menjelaskan alasanku tadi siang."
"Tapi cara yang kau gunakan salah!" suaraku mulai meninggi, egoku sebagai remaja yang merasa haknya dikebiri mulai memberontak. "Kau tidak bisa memecat orang begitu saja hanya karena dia mengenal masa laluku! Kak Reyhan adalah orang baik, dia hanya terkejut melihat keadaanku sekarang. Dia tidak berniat buruk."
"Orang baik tidak akan menginterogasi istri orang lain di dalam rumah suaminya sendiri, Andini," potong Charles, suaranya naik satu oktav, memotong kalimatku dengan ketegasan yang mutlak. "Dia mempertanyakan otoritas dan keputusanku untuk melindungimu. Dia menuduhku membangun sangkar emas untukmu. Apa menurutmu itu tindakan yang sopan dari seorang guru privat profesional?"
"Dia bicara begitu karena dia peduli padaku!" balasku, berdiri dari kursi karena tidak tahan dengan tekanan auranya. "Dia tahu bagaimana perjuanganku dulu saat Bapak masih ada! Dia adalah bagian dari duniaku yang dulu, duniaku yang jujur dan apa adanya, bukan dunia yang penuh dengan kontrak, pengacara, dan kelicikan seperti duniarmu ini!"
Kata-kata itu lolos begitu saja dari mulutku tanpa sempat kusaring. Begitu kalimat terakhir itu menggema di langit-langit ruang makan, aku langsung menyesalinya.
Charles terdiam. Tubuhnya membeku, dan untuk beberapa detik, aku melihat sekelebat kilatan luka di matanya yang tajam—sebuah ekspresi yang sangat langka dari seorang Charles Utama. Ia perlahan bangkit berdiri dari kursinya. Tinggi badannya yang menjulang seolah menelan seluruh ruang di antara kami, memberikan tekanan psikologis yang membuatku otomatis mundur satu langkah.
"Duniaku yang penuh kelicikan, katamu?" Charles berbisik, namun suaranya yang rendah justru terasa lebih mengerikan daripada bentakan. Ia berjalan memutari meja, melangkah perlahan menghampiriku. "Andini, jika bukan karena dunia 'licik' yang kupunya ini, saat ini kau mungkin sedang menangis di jalanan karena rumahmu disita oleh bank. Jika bukan karena kekuasaan yang kau benci ini, kau mungkin sudah didekam di lembaga perlindungan anak karena ulah Vivian. Aku menggunakan seluruh tameng yang kumiliki untuk memastikan kau bisa duduk dengan aman di sini, memasak, dan menulis ceritamu. Dan sekarang kau menyebut duniaku kotor di depan pria dari masa lalumu?"
Air mata yang sejak tadi kutahan akhirnya jatuh membasahi pipiku. Rasa bersalah dan rasa kesal bercampur menjadi satu di dalam dadaku. "Aku tidak bermaksud menghina perlindunganmu, Charles... Aku sangat berterima kasih atas semua yang kau lakukan. Tapi kau tidak memberiku ruang untuk bernapas! Setiap kali ada hal dari masa laluku yang muncul, kau langsung menghancurkannya. Kau memecat Kak Reyhan bukan karena dia tidak profesional, tapi karena kau cemburu pada masa laluku!"
Charles menghentikan langkahnya tepat dua jengkal di depanku. Jarak yang begitu dekat membuatku bisa mencium aroma kayu cendana dari tubuhnya yang kini terasa menyesakkan. Ia menatapku dengan intensitas yang begitu tinggi, seolah sedang mencari tahu sejauh mana anak perempuan di depannya ini bisa memahaminya.
"Cemburu?" Charles terkekeh getir, sebuah tawa tanpa rasa humor yang terdengar sangat masam. "Kau pikir aku cemburu pada seorang pemuda yang hanya bisa menulis puisi di bawah pohon sementara duniamu runtuh? Tidak, Andini. Aku tidak cemburu. Aku marah."
Ia meraih pundakku dengan kedua tangannya, tidak keras, namun cukup kuat untuk mengunci pergerakanku agar aku terus menatap matanya. "Aku marah karena saat melihatnya datang, aku melihat keraguan di matamu. Kau melihatnya seolah dia adalah pahlawan yang datang dari masa lalu untuk menyelamatkanmu dari 'sangkar' ini. Kau melupakan semua malam yang kita lewati bersama di apartemen ini. Kau melupakan bagaimana aku menggenggam tanganmu saat kau ketakutan menghadapi polisi semalam."
Napas Charles memburu, pertahanan "Gunung Es" yang selama ini ia agungkan benar-benar runtuh malam ini di depanku. Di balik sosok CEO yang angkuh, aku melihat seorang pria yang sedang ketakutan kehilangan satu-satunya kehangatan yang baru saja ia temukan di dalam hidupnya yang dingin.
"Aku tidak ingin kau melihat ke belakang, Andini," ucap Charles lagi, suaranya mendadak melunak, berubah menjadi sebuah permohonan yang teramat dalam. "Masa lalumu bersama pria itu sudah selesai. Kau adalah istriku sekarang. Aku tidak akan membiarkan siapa pun, termasuk cinta pertamamu, membawa keraguan ke dalam rumah yang sedang kubangun bersamamu. Jika kau menganggap ini sebagai sangkar emas, maka aku akan memastikan sangkar ini adalah tempat paling aman yang pernah ada di dunia ini."
Aku menatap Charles yang kini menundukkan kepalanya, menyandarkan keningnya di atas bahuku. Bahunya yang tegap tampak sedikit turun, menunjukkan betapa lelahnya dia menghadapi seluruh tekanan ini—dari dewan direksi, dari Vivian, dan sekarang... dariku, seseorang yang seharusnya ia lindungi namun justru memberikan luka baru padanya.
Melihat kerapuhannya yang tersembunyi, amarahku seketika surut, digantikan oleh rasa sesak yang teramat sangat di dalam dada. Aku salah. Aku telah membandingkan ketulusan perlindungan Charles dengan idealisme masa muda Reyhan yang tidak lagi relevan dengan kenyataan hidupku. Charles tidak sedang mengekangku; ia sedang ketakutan karena ia tahu betapa kejamnya dunia luar, dan ia tidak ingin aku kembali terluka.
Perlahan, aku mengangkat kedua tanganku, ragu-ragu sejenak sebelum akhirnya memberanikan diri untuk melingkarkannya di pinggang tegap Charles. Aku memeluknya erat, menyandarkan pipiku di dada bidangnya, mendengarkan detak jantungnya yang berpacu cepat karena sisa emosi tadi.
"Maafkan aku, Charles," bisikku di sela tangisku, meremas kain kemejanya di bagian punggung. "Aku salah. Aku tidak bermaksud menyebut duniamu kotor. Aku hanya... aku hanya terkejut karena semuanya terjadi begitu cepat. Aku tidak pernah menganggap tempat ini sebagai sangkar. Ini adalah rumahku sekarang. Rumah tempat aku pulang."
Charles tidak langsung menjawab. Namun, aku bisa merasakan tubuhnya yang tegang perlahan-lahan mulai rileks. Lengannya bergerak melingkari punggungku, memelukku dengan kekuatan yang begitu masif, seolah-olah ia sedang menegaskan kembali bahwa aku adalah poros dari seluruh kehidupannya saat ini.
"Jangan pernah katakan itu lagi, Andini," bisik Charles tepat di telingaku, suaranya bergetar penuh kelegaan. "Jangan pernah sebut dirimu sebagai tahanan di sini. Aku melepaskan egoku, meruntuhkan seluruh batasan hidupku, hanya untuk memastikan kau memiliki tempat untuk bersandar. Tetaplah di sini, di sampingku."
Malam itu, di ruang makan yang kembali sunyi, perdebatan tentang Reyhan akhirnya menyisakan sebuah pemahaman baru di antara kami. Retakan di dinding es Charles malam ini justru menunjukkan padaku apa yang ada di dalam hatinya yang paling dalam: bukan sekadar rasa tanggung jawab atas sebuah wasiat, melainkan rasa kepemilikan dan keinginan untuk menjaga yang telah bertransformasi menjadi sesuatu yang jauh lebih besar. Di dalam dekapannya, aku tahu bahwa bayang-bayang dari masa lalu tidak akan pernah bisa menggantikan jangkar kokoh yang kini menahanku di masa kini.
silahkan like dan komentar yah. Agar author bisa tambah semangat buat update. Salam sayang semuanya...🥰🥰🥰